Hati yang Patah

Hati yang Patah
Genggaman Erat


__ADS_3

Saat makanan sudah matang dan dihidangkan di meja makan, Hana berjalan ke arah ruang keluarga berniat untuk memanggil Ibu dan Revan.


Namun langkahnya terhenti saat ia tak sengaja mendengar percakapan antara Ibu dan juga Revan.


"Kebahagiaan anak dan cucu Ibu itu nomer satu nak Revan. Hana dan Jihan berhak bahagia. Anak Ibu sudah meninggalkan berlian demi mengejar pecahan beling. Jadi, ibu harap kamu tidak seperti anak Ibu nantinya!" kata Ibu.


" Jadi, Ibu sudah merestui kalau misalnya saya melamar Hana?"


Hana tak mendengar jawaban dari Ibu dalam beberapa saat, hingga akhirnya suara Revan kembali terdengar.


" Terima kasih bu, Revan janji!, Revan akan menjaga Hana dan Jihan di samping Revan dengan baik."


" Ibu percaya sama kamu."


Mendengar pembicaraan mereka membuat Hana menyandarkan punggungnya di tembok. Hana lagi- lagi memikirkan tentang kesungguhan Revan untuk menikahinya.


" Apakah aku harus menerimanya Ya Allah?". Hana bergumam didalam hati. Setelah itu Hana menetralkan ekspresinya dan berjalan kearah ruang keluarga.


" Makanannya sudah siap Bu, Mas Revan. Ayo, kita makan."


Revan dan Ibu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja makan.


Mereka menyantap makan malam yang sangat enak malam itu. Hana memasak makan malam yang banyak karena ada tamu yang tak di undang. Selama makan malam mereka isi dengan perbincangan hangat. Senyum tak pernah lepas dari wajah Revan.


Setelah selesai makan malam tak lama setelah itu Revan pamit ingin pulang. Hana mengantar Revan sampai di depan. Saat sudah sampai di dekat mobil, Revan menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Hana.


" Terima kasih yah."


" Untuk?"


" Untuk... untuk makan malamnya yang sangat enak. Kamu memang calon istri terbaik!" Revan berbicara sambil mengangkat dua jempolnya.


" Mas Revan apaan sih."


Revan tersenyum melihat ekspresi Hana.


" Emang iya kan, kamu seharusnya bahagia dong karena bisa di puji oleh orang sesempurna aku." Katanya membanggakan diri.


Hana memutar bola matanya jengah karena malas meladeni kepedean Revan yang semakin tinggi.

__ADS_1


" Iyain aja dah, apa maunya Mas Revan."


" Apa? maksud kamu, kamu mau iyain kalau kamu jadi istri aku. Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya."


Hana langsung melotokan matanya kearah Revan.


" Maksud aku bukan itu Mas Revan."


" Jadi, maksud kamu apa dong?" Revan bertanya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Hana.


" Ih, Mas Revan apaan sih. Udah ah, Hana jadi malas ngomong sama Mas Revan. Mending sekarang Mas Revan balik badan dan segera pulang."


Hana berusaha menarik lengan Revan dan mendorongnya menuju mobil. Tiba-tiba, Revan melepaskan pegangan Hana di lengannya dan menggenggam tangan Hana erat. Hana tersentak karena tangannya tiba tiba digenggam erat oleh Revan.


Hana terhenti dan menatap ke arah tangannya setelah itu menatap ke arah Revan. Revan menatap dengan dalam kearah mata Hana. Malihat tatapan Revan membuat Hana menelan ludah kasar.


" Dengerin aku, aku tidak pernah berdusta saat berbicara. Walaupun terdengar seperti lelucon, tetapi itu memang ungkapan isi hati aku Hana. Aku tipe orang yang tidak suka basa- basi sama orang lain. Apalagi sama wanita. Aku ngelakuin itu hanya sama kamu."


Hana tak mampu berkata- kata saat ini. Jujur saja, jantungnya berdetak dua kali lipat saat mendengar pengakuan Revan.


Revan juga tak lagi berbicara, ia masih menggenggam tangan Hana dan menatapnya dalam diam. Hingga tiba-tiba ia tersenyum dan mengelus-elus kepala Hana.


Hana hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Revan melepaskan pegangan tangannya dan berjalan kearah mobilnya. Saat sudah berada di dalam mobil, ia memandang sebentar kearah Hana lalu setelah itu, barulah ia menyalakan mobilnya dan berlalu dari sana.


Hana menatap kearah tangannya yang tadi digenggam oleh Revan. Ia memegang dadanya yang berdetak kencang mendapat perlakuan seperti itu dari Revan.


Setelah itu, Hana kembali ke dalam rumah. Ia menuju kearah ruang keluarga dan duduk di samping Ibu.


" Nak Revan sudah pulang?"


" Iya, Bu. Baru saja."


" Nak Revan orangnya baik yah!"


" Ya, seperti itulah Bu. Mas Revan memang baik." Hana hanya menjawab seadanya karena masih memikirkan perkataan Revan tadi. Ibu yang mengerti akan perubahan sikap Hana segera mencari topik lain.


" Kira-kira kapan nak, Ibu bisa bertemu dengan anak nakal itu?. Ibu mau bertemu dia sebelum Ibu balik ke kampung."

__ADS_1


" Kok, Ibu udah bicara balik kampung. Ibu kan baru beberapa hari disini. Hana juga masih kangen sama Ibu. Nanti aja yah, pulangnya. Hana janji akan secepatnya mempertemukan Ibu sama Mas Arlan."


Ibu menggenggam tangan Hana.


" Maafin Ibu karena baru beberapa hari sudah mau balik lagi, tapi Ibu tidak bisa lama- lama nak. Kamu kan tahu sendiri Ibu punya kebun yang harus diurus, jadi Ibu nggak bisa lama disini."


Hana sangat sedih dan tidak ingin Ibu kembali lagi ke kampung karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu kalau hanya tinggal sendiri disana.


Hana menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya. Melihat ekspresi Hana membuat Ibu menarik nafas panjang. Tak lama setelah itu, Hana kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum kearah Ibu.


" Aku ngerti Bu. Tapi Hana harap, selama Ibu di sana jangan segan-segan hubungin Hana yah, jujur aja Hana sangat khawatir kalau Ibu tinggal di kampung sendirian."


Ibu membalas dengan senyum akan ucapan Hana.


" Ibu pasti akan baik- baik saja nak. Nggak usah takut, kan ada Allah yang selalu jagain Ibu."


Hana tersadar akan ucapan Ibu. Benar kata Ibu, ada Allah yang akan selalu berada di samping hambanya.


" Yaudah, kalau memang itu maunya Ibu. Hana hanya bisa mendukung apapun keputusan Ibu. Jadi, secepatnya akan Hana usahakan agar Ibu bisa bertemu dengan Mas Arlan."


" Terima kasih nak."


" Sama-sama Bu."


Karena malam semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Hana membawa Jihan yang sudah tertidur di dalam gendongannya menuju ke arah kamarnya.


Hana meletakkan anaknya di kasur dan ia mematikan lampu kamar. Setelah itu, ia menyalakan lampu tidur dan tidur disamping anaknya.


Hana menatap langit-langit kamar dan kembali memikirkan cara mempertemukan Ibu dengan Arlan nantinya. Lama ia memikirkan itu, saat sudah sudah menemukan jawabannya segera ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.


Sebenarnya ia sangat malas untuk mengirimi Arlan pesan, namun ia harus melakukan itu untuk memenuhi janjinya dengan Ibu.


Dan pesan itu pun akhirnya terkirim ke nomer Arlan. Tak membutuhkan waktu lama, Arlan sudah membalas pesan Hana dan mengatakan akan bertemu dengannya di kafe dekat kantor Hana besok.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😘😘


Jangan lupa like and vote nya kk.

__ADS_1


Salam story from By_me...


__ADS_2