Hati yang Patah

Hati yang Patah
Lagi-Lagi Pake Syarat


__ADS_3

"Mari, om. Makasih sama kantongnya, OM...." Ucapnya sengaja memperjelas akhir katanya tadi.


Ia tekekeh saat mendapati wajah kesal lelaki tadi. Namun detik berikutnya, jantungnya berdetak kencang saat Raga berjalan kearahnya dengan tatapan seakan ingin mengulitinya.


Dewi fortuna seakan berpihak padanya, ada taksi yang berhenti di depannya dan menyelamatkannya dari lelaki tadi. Karena terburu-buru dan ketakutan jangan sampai ia di dapat oleh lelaki tadi, ia pun tidak sempat menyimpan barang-barangnya di bagasi mobil dan menyimpannya di jok belakang pengemudi taksi.


"Selamat, selamat." Ucapnya saat taksi sudah jalan dan meninggalkan Raga di belakang. Saat taksi sudah jalan, Ana kembali menengok ke belakang melihat lelaki yang hampir membuatnya jantungan. Saat ia menengok Raga ke belakang, Raga terlihat sangat kesal dan mengepalkan tangannya. Ana yang melihatnya seketika terkekeh. Rasa kesalnya karena ulah Raga tadi dapat terbayarkan dengan melihat ekspesi Raga yang tidak terima di panggil dengan sebutan om.


"Apes banget lo Ana, ketemu sama om-om arogan dan sombong kayak tadi!" Ana bergumam pelan mengucapkannya sambil menggelengkan kepalanya. Ia berharap tidak bertemu lagi dengan lelaki tadi, lelaki dingin dan arogan.


Harus ia akui kalau lelaki yang ia sebut dengan om itu lumayan ganteng dan tinggi, sama dengan kriteria lelaki idamannya. Namun kesan pertama dan sikapnya yang arogan membuat Ana tak habis fikir lelaki kayak tadi memiliki sifat 180 derajat dari tampangnya yang tampan.


Semoga saja ia tidak bertemu lagi dengan lelaki arogan tadi, bisa berabe kalau ia sampai bertemu dengannya pasti lelaki tadi akan mengulitinya seperti tatapannya yang ia berikan padanya. Ana bergidik ngeri membayangkannya.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ana segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tas kecil dan melihat panggilan dari siapa itu kira-kira. Ternyata majikannya sedang menghubunginya. Segera Ana menekan tombol hijau dan menerima panggilannya.


"Halo, Mbak, Ada apa?" Tanyanya saat ia sudah menerima panggilan.


"Kamu dimana? Kenapa lama sekali belanjanya?" Tanyanya khawatir karena sudah beberapa jam Ana pergi dan belum balik juga. Jangan sampai terjadi sesuatu di jalan pada ART nya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


"Aku udah di jalan, Mbak. Bentar lagi sampai kok."


"Oh, yaudah. Kalau gitu, Mbak, tutup telponnya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, Mbak." Dan panggilan pun terputus.


Ana menatap keluar jendela sibuk dengan fikirannya sendiri. Tak lama kemudian akhirnya ia pun sampai di rumah majikannya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


"Sayang." Ucap Revan saat ia pulang dari kantor namun tidak mendapati istrinya itu di kamar. Revan pun melepaskan jas yang masih melekat di tubuh kekarnya dan menyimpannya di atas kasur. Dua kancing kemeja nya ia buka dan ia menggulung lengan kemeja nya sampai sebatas siku. Setelah itu ia berjalan menuruni tangga mencari istrinya.


"Mbak mu mana, An?" Tanya Revan saat tak mendapati istrinya di dapur namun hanya ada Ana di sana.


" Mbak Hana lagi di taman belakang pak, lagi nyiram bunga."


Revan mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Ana. Istrinya itu kan lagi sakit, kenapa keluyuran dan tidak berdiam diri saja di kamar untuk istirahat, pikirnya.


"Kenapa kamu biarin, An. Dia kan enggak enak badan!"

__ADS_1


Ana yang mendengarnya seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sudah berusaha untuk tidak membiarkan majikannya keluar kamar, namun majikannya itu berusaha meyakinkannya dengan mengatakan sudah mendingan.


"Aku udah larang mbak Hana tadi Pak, tapi katanya dia udah baikan."


Revan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Ana. Istrinya itu memang keras kepala. Seharusnya ia berdiam diri saja di kamar sampai kondisinya benar-benar pulih.


"Yaudah, aku mau ke belakang dulu. Jihan mana, An?" Tanyanya lagi karena tidak melihat kehadiran anaknya yang biasanya selalu berhambur memeluknya ketika ia pulang kerja.


"Jihannya masih tidur, pak. Kayaknya dia kecapean habis main tadi."


Revan pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia berjalan ke taman belakang mencari keberadaan istrinya. Dan benar saja, istrinya itu sedang memegang selang yang dia gunakan untuk menyiram tanaman di sana. Entah mengapa di mata Revan, istrinya itu berkali-kali lipat kecantikannya sekarang.


Segera ia berjalan dengan mengendap-endap menghampiri istrinya. Hana yang sedang fokus menyiram tanaman tak menyadari kehadiran suaminya yang sudah semaki mendekat kepadanya.


Revan langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Alhasil, istrinya tersentak kaget dan selang yang ia pegang mengenai wajah suaminya.


Saat ia menengok ke belakang, wajah suaminya itu telah basah karena cipratan air selang tadi. Revan pun melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air tadi di wajahnya.


Hana tertawa melihat suaminya. Siapa suruh mengagetkannya dan tanpa berbicara main peluk dari belakang.


Hana berjalan mendekati suaminya dengan tawa masih terdengar di mulutnya. Ia mengangkat tangannya dan menghapus sisa air cipratan tadi dari wajah suaminya.


"Mas Revan sih ngagetin Hana. Jangan salahkan Hana yah, salahkan airnya kenapa main ke wajah, Mas Revan." Ucapnya kembali tertawa.


"Kamu sengaja, kan?" Tanyanya. Sebenarnya ia tahu istrinya itu tidak sengaja, namun ia hanya mau menjahili istrinya.


Hana langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Mas. Suer deh, Hana enggak sengaja!" Ucapnya dengan menampilkan dua jari nya ke atas.


"Pokonya aku enggak mau tahu. Kamu harus di hukum." Setelah mengatakan itu, Revan berjongkok dan mengambil selang di bawah dan langsung mengarahkannya kepada istrinya.


Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh suaminya, Hana langsung berlari berusaha menghindari siraman suaminya. Revan berlari mengejar istrinya dengan selang ia semprotkan mengarah kepada istrinya. Namun usaha Hana untuk menghindar itu sia-sia. Revan berhasil membuat baju dan wajahnya basah.


Lama mereka bermain air, saling membalas menyirami hingga mereka sama-sama basah.


Tawa riang dan senyum terukir di wajah keduanya.


Revan mendekat dan memeluk istrinya. Ia memeluk istrinya dengan sayang sambil mengelus pundaknya.

__ADS_1


"Kamu nakal yah, udah aku bilangin istirahat aja malah ada di sini." Ucapnya saat masih memeluk istrinya.


"Maafin Hana, Mas. Tapi Hana udah baikan kok, udah enakan. Malas juga tidur di kamar terus, makanya Hana ke sini nyiram bunga." Ucapnya melonggarkan pelukannya dan menatap wajah suaminya.


Revan membalas tatapan istrinya dan mengelus pipi lembut milik istrinya.


"Yaudah, kali ini aku maafin kamu. Tapi ada syaratnya."


Hana mendengus kecil mendengarnya. Lagi-lagi suaminya itu mengajukan syarat. Suaminya ini kayaknya suka sekali mengajukan syarat.


Revan terkekeh melihat ekspresi istrinya.


"Yaudah, syaratnya apa?"


"Syaratnya adalah... kamu harus nyium bibir aku." Tunjuknya pada bibirnya.


Hana mengerjapkan matanya beberapa kali mendengarnya.


"Syaratnya berlaku sekarang." Ucapnya dan menutup matanya menunggu aksi istrinya.


Wajah Hana memerah berada di situasi ini. Hal ini bukan yang pertama kali baginya namun entah mengapa responnya masih seperti layaknya orang pengantin baru.


Hana menengok ke kanan dan ke kiri jangan sampai ada yang melihat mereka. Saat ia rasa tidak ada orang yang melihat mereka, Hana pun memajukan kepalanya dan mencium bibir suaminya sekilas.


"Masa cuma gitu doang?"


"Kita lagi di luar, Mas. Kalau ada yang lihat, gimana?" Ucap Hana mengerucutkan bibirnya


Revan tertawa melihat tingkah istrinya. Setelah itu, ia kembali memeluk tubuh istrinya.


"Besok kita pergi liburan, yah!" Ucap Revan saat mereka masih berpelukan. Besok adalah hari weekend dan mereka sudah lama tidak pergi liburan setelah mereka sah menjadi suami istri.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys


Jangan lupa like, komen dan vote nya


Besok bakalan ada kejutan untuk para readers. Kira" paan yah?🤔

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2