Hati yang Patah

Hati yang Patah
Kegiatan yang Tertunda


__ADS_3

Hari semakin malam dan para tamu undangan hampir semua telah menghadiri pesta. Pada saat sesi foto, semua keluarga dan para sahabat dari Hana dan Revan bergantian untuk ambil bagian.


Hana dari tadi celingak celinguk mencari anak gadisnya yang tak kelihatan batang hidungnya. Semua keluarga telah berfoto dengannya, namun tak satu pun anaknya hadir disesi foto.


" Mas, Jihan mana? Dari tadi enggak kelihatan. Aku khawatir nanti ada apa-apa sama Jihan, Mas."


"Benar juga yang dikatakan Hana, dari tadi Jihan enggak kelihatan." Gumamnya dalam hati. Namun Revan tak mau menampakkan kegusarannya takut nanti Hana semakin khawatir.


" Mungkin Jihan lagi main sama temennya."


" Tapi dari tadi Jihan enggak keliatan, Mas." Katanya dengan nada khawatir.


" Kamu tenang dulu, aku bakalan cari Jihan. Mungkin Jihan lagi ada di depan main sama temennya."


" Tapi, Mas..." Ucapan Hana terhenti karena Revan sudah memotong pembicaraannya.


" Enggak apa-apa. Lagian para tamu juga kayaknya udah pada datang semua. Aku nyari Jihan dulu, yah!"


" Iya, Mas."


Revan berdiri dari duduknya dan berjalan mencari keberadaan anaknya. Mama Ajeng menghampiri anaknya yang berjalan menjauh dan meninggalkan istrinya sendiri diatas sana.


" Revan." Mendengar namanya disebut membuat Revan menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.


Mama Ajeng segera berjalan mendekati anaknya dan berbicara setengah berbisik pertanyaan yang dari tadi mengganggunya.


" Kamu mau kemana? Acaranya masih berlangsung Revan. Jangan bilang kalau kamu mau meninggalkan istrimu dihari pernikahan kalian. Kamu mau buat keluarga kita malu!"


Mendengar itu membuat Revan mengerutkan keningnya. Mengapa Mamanya berfikiran seperti itu terhadapnya. Tidak mungkin juga ia melakukan hal segila itu, ia sangat mencintai Hana yang telah menjadi istrinya. Butuh banyak pengorbanan dan kesabaran untuk mendapatkan Hana, jadi tidak mungkin ia melakukan itu.


" Mama ngomong apaan sih, aku bukannya mau kabur, tapi aku mau cari Jihan. Bundanya udah khawatir dari tadi Jihan enggak kelihatan. Makanya aku mau nyariin, Ma!"


" Mama bantuin kamu nyari, yah."


" Yaudah, aku mau ke depan nyarinya."


Mama Ajeng menganggukkan kepalanya dan setelah itu mereka mulai mencari Jihan. Mama Ajeng mendekati Ibu Suri dan menanyakan keberadaan Jihan, namun Ibu Suri juga tidak tahu keberadaan cucunya. Sebelumnya Ibu Suri melihat cucunya bermain dengan anak perempuan kira-kira sebaya dengannya. Ibu Suri dan Mama Ajeng membantu Revan mencari Jihan.


Revan mencari Jihan kesana kemari. Matanya menangkap sosok gadis kecil yang dari tadi ia cari-cari berada di sudut ruangan. Pantas saja dari atas sana Jihan tidak kelihatan, ternyata ia sedang mengobrol dengan seorang lelaki di sudut ruangan. Tunggu dulu, rasanya Revan mengetahui siapa lelaki itu. Revan menajamkan matanya memastikan memang ia tak salah lihat.


Revan berjalan mendekat ke sana dan menginterupsi obrolan Jihan dan Arlan.


" Jihan, sayang. Kamu dari mana saja? Bunda udah dari tadi loh, nyariin kamu."


" Jihan tadi lagi main sama temen barunya Jihan tapi ternyata Ayah datang, makanya Jihan nemenin Ayah disini, yah."


Dahi Arlan mengerut mendengar anaknya memanggil lelaki di depannya dengan sebutan Ayah. Ada rasa tidak suka anaknya mengatakan itu.


" Yasudah, kalau begitu sekarang kita keatas yuk. Bunda udah nungguin Jihan dari tadi."

__ADS_1


Mendengar itu membuat Jihan memandang sekilas kearah Ayahnya yang juga memandangnya. Sebenarnya Jihan masih mau menemani Ayahnya disini dan melepas rindu, tapi ia juga tak ingin Bundanya khawatir karena dirinya. Dengan berat hati Jihan meninggalkan Ayahnya.


" Ayah, Jihan ke atas dulu yah. Jihan udah dicariin sama Bunda. Jihan janji habis dari sana, Jihan kesini lagi deh, nemenin Ayah."


Arlan tersenyum merespon ucapan anaknya. Ia membelai rambut lembut anaknya dan menganggukkan kepalanya.


" Jihan sayang, Ayah." Ucapnya sambil tersenyum menampakkan lesung pipinya.


" Ayah lebih-lebih sayang sama Jihan."


Setelah mendengar itu, Jihan meninggalkan Ayahnya sendirian dan bersama ayah Revan menuju ke arah Bundanya. Arlan menatap nanar mempelai wanita dan anak semata wayangnya yang duduk dengan senyuman indah di atas sana bersama Revan. Musnah sudah harapannya untuk kembali membina rumah tangga dengan keluarga kecilnya dan menggantikan kesalahannya yang telah lalu.


Ia harus menerima Indah dengan kondisinya sekarang. Indah divonis oleh dokter bahwa kecil kemungkinan peluangnya untuk hamil lagi dikarenakan keguguran waktu itu dan baru-baru ini Indah menjalani operasi pengangkatan kista ovarium di dalam rahimnya. Kecil kemungkinan mereka untuk mendapatkan keturunan. Tapi kemungkinan kecil itu pasti masih bisa terjadi asalkan mereka berdoa dan berusaha, serahkan saja semua kepada yang Maha Mengabulkan, kata dokter waktu itu.


Malam semakin larut dan akhirnya acara resepsi pun selesai digelar. Para tamu undangan bergegas untuk pulang, sedangkan pengantin baru dan keluarga terdekat malam ini menginap di hotel.


Sepasang pengantin baru itu sudah masuk ke dalam kamar suite room. Badan mereka serasa sangat lelah dan letih karena seharian ini berdiri dan menyalami ribuan tamu yang hadir.


Saat masuk di dalam kamar, Hana mengedarkan pandangannya takjub melihat semua fasilitas kamar yang mereka tempati. Kamar ini sangat luas dan mewah berbeda dengan kamar hotel yang ia tempati saat keluar kota.


Mereka berjalan masuk dan menuju kamar. Respon yang sama Hana tunjukkan saat pertama kali memasuki kamar, karena di atas kasur banyak bertaburan kelopak mawar merah yang menambah kesan keintiman.


Hana berjalan dengan kikuk menuju kasur dan duduk di sisi ranjang. Mereka saling diam-diaman dan suasana mendadak hening. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba Revan berdiri dan memecah keheningan.


" Aku mau mandi dulu, soalnya udah gerah." Katanya melepas jas yang melekat di tubuhnya dan berjalan masuk menuju kamar mandi. Revan berbicara namun tak menatap mata istrinya.


Revan berjalan ke arah Hana dan seketika membuat Hana semakin menegang.


" Kamu mau mandi dulu?" Tanya Revan yang memegang pundak kanan Hana.


" I-iya. Hana mau mandi dulu." Hana menjawab dengan gugup dan segera berjalan menuju kamar mandi.


Saat pintu sudah tertutup, Hana berusaha menormalkan detak jantungnya. Hana memang sudah pernah mengalami ini, tetapi berbeda saat ia telah menjadi istri Revan. Ia sangat gugup jika mengingat apa yang akan terjadi nanti.


Hana memulai ritual mandinya selama kurang lebih 10 menit. Saat sudah selesai mandi ia baru ingat bahwa ia tidak membawa baju ganti pas masuk kamar mandi. Hana merutuki kebodohannya karena gugup ia jadi lupa membawa baju ganti.


Di luar kamar mandi, Revan sudah dari tadi menunggu Hana yang sampai sekarang masih betah di dalam sana. Entah apa yang dilakukannya. Revan berjalan mengetuk pintu kamar mandi, jangan sampai terjadi sesuatu dengan istrinya di dalam sana karena sudah lama istrinya tak keluar-keluar juga.


" Hana, kamu enggak apa-apa kan? kenapa lama sekali di dalam."


Tak ada jawaban dari dalam yang membuat Revan semakin takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali dan tiba-tiba pintu terbuka sedikit. Terdengar sahutan dari balik pintu


" M-mas Revan Hana minta tolong ambilin bajunya Hana di dalam koper. Hana tadi lupa bawa baju ganti."


Ya ampun, jangan bilang kalau Hana lama di dalam karena ia tidak bawa baju ganti, katanya dalam hati.


Segera Revan mengambil baju ganti untuk istrinya. Baju tidur kain satin berwarna silver yang tanpa lengan dan panjangnya selutut.


Revan meberikan baju untuk istrinya dan Hana segera menutup kembali pintu lalu memakai baju tidurnya.

__ADS_1


Pintu terbuka dan nampaklah istrinya yang sangat cantik dan seksi menggunakan baju itu. Revan terpana saat pertama kali melihat istrinya itu tanpa hijab. Hana terlihat sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya yang jatuh dan kulitnya yang putih dan bersih. Revan harus menahan diri dulu karena ia ingin mengajak istrinya ibadah. Ibadah sholat isya maksudnya hehehe...


" Gimana kalau kita sholat isya dulu."


Hana menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu mereka melaksanakan ibadah sholat isya bersama- sama. Setelah selesai, Revan kembali ke atas kasur sedangkan Hana ia membereskan alat sholatnya.


Revan menepuk kasur di sebelahnya meminta agar istrinya duduk di sampingnya. Dengan perlahan Hana menurutinya dan duduk di samping suaminya. Revan tak berkedip memandang istrinya dengan jarak dekat. Dipandang seperti itu membuat Hana salah tingkah.


" Kamu cantik sekali malam ini." Bisiknya pelan di samping istrinya.


Setelah itu, Revan memegang dagu istrinya dan mengarahkannya kepadanya.


" Kita ibadah sekarang, mau kan sayang?"


Perkataan Revan membuat bulu kuduk Hana meremang. Wajahnya sudah memerah karena di panggil sayang oleh suaminya. Dengan mengucap bismillah di dalam hati, Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Perlahan Revan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hana hingga ia bisa merasakan deru nafas istrinya. Bibir mereka pun akhirnya menyatu. Dengan penuh kelembutan Revan memagut bibir tipis istrinya. Suasana semakin panas saat Revan semakin memperdalam ciumannya. Tangannya sudah menggerayangi tubuh istrinya.


Tok tok tok. Suara ketukan dari luar mengganggu aktivitas mereka. Namun Revan tak memperdulikan suara ketukan itu dan melanjutkan kegiatan mereka. Namun lagi-lagi pintu kamar mereka diketuk berkali- kali.


Hana mendorong dada Revan pelan sehinga kegiatan mereka pun terhenti.


" Ada orang di luar, Mas!"


" Biarin aja, sayang."


" Buka dulu pintunya, Mas. Siapa tahu penting."


Revan menghela nafas dan akhirnya ia membuka pintu dengan kekesalan karena kegiatannya terganggu. Saat pintu sudah terbuka nampaklah anaknya yang berdiri disana sambil tersenyum kearahnya.


"Yaampun Jihan ternyata kamu, seandainya orang lain udah tak bikin dendeng." Katanya dalam hati.


Revan berjongkok menyamai tingginya dengan anaknya.


" Ada apa, sayang. Kenapa belum tidur, ini kan sudah tengah malam sayang."


" Jihan enggak bisa tidur, ayah!"


" Jihan mau tidur sama Ayah, sama Bunda juga." Jihan berkata dengan menampakkan puppy eyesnya. Melihat itu membuat Revan tak tega menolaknya.


" Yasudah, Jihan boleh tidur sama Ayah, Bunda."


Mendengar itu membuat Jihan berbinar dan segera berlari masuk mencari Bundanya. Revan menutup pintu dan menghela nafas kasar


karena tidak jadi malam pertama. Kegiatan mereka tertunda oleh ulah gadis kecil.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Aku up lagi kk. Part kali ini tuh panjang, aku enggak pelit kata. Semoga kk juga enggak pelit buat like dan nge voteπŸ˜πŸ˜ŠπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2