
Setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak xx.
Tak membutuhkan waktu yang lama, di depan sudah ada dua perawat yang datang menjemput mereka menggunakan kursi roda.
Hana langsung di bawa menuju ke ruangan bersalin. Revan dengan setia mendampingi istrinya yang kini sudah berada di atas brangkar rumah sakit.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan oleh dokter Obgyn, mendengar Djj (Detak jantung janin), menghitung lamanya durasi kontraksi dan terakhir melakukan VT ( ****** toucher) untuk memeriksa pembukaan (portio), dokter pun melepaskan sarung tangan yang membalut di kedua tangannya dan membuangnya di tempat sampah medis.
"Bagaimana dengan istri dan anak saya dok?" Tanya Revan setelah dokter selesai memeriksa istrinya.
Dokter pun tersenyum,"Jadi dari hasil pemeriksaan kami tadi, kondisi ibu dan janin tidak ada masalah. Istri Anda telah memasuki fase aktif dan pembukaan pada mulut rahim telah memasuki pembukaan 6, pak."
Revan menghembuskan nafas lega mendengar jawaban dokter Rina, dilihat dari papan namanya.
"Terus dampingi istri anda, pak. Berikan support , berikan makanan dan minuman agar ibu tetap mempunyai tenaga saat proses persalinan nanti. Pijat punggungnya untuk mengurangi sedikit rasa sakitnya. Bapak sudah mengerti?" Tanya dokter Rina setelah memberikan penjelasan mendasar pada suami pasiennya.
"Mengerti dok. Saya ucapkan terima kasih sebelumnya!"
"Sama-sama, pak."
Dokter Rina, Bidan Ita dan perawat memberikan beberapa penjelasan pada Hana agar pada saat timbul kontraksi usahakan agar jangan mengedan pada saat sakitnya tidak bisa ia tahan. Dan menggantinya dengan tarik nafas yang dalam dan hembuskan, hal itu dilakukan berulang kali sampai kontraksinya reda. Petugas kesehatan memberitahukan hal penting itu untuk mengantisipasi agar tidak terjadi masalah pada ibu dan bayinya. Karena ada beberapa ibu yang pada saat terjadi kontraksi dan sakitnya tidak bisa ia tahan, ibu itu malah mengedan.
Saat pasien mengedan sedangkan pembukaan belum lengkap (10 cm), maka tidak ada gunanya dan malah yang terjadi resiko. Yang pertama, resiko pada ibu nya dan kedua resiko pada bayi.
Resiko pada ibunya adalah terjadi robekan pada serviks/sekitar mulut rahim atau terjadi pembengkakan pada mulut rahim. Kedua, resiko pada bayinya karena bayi mentok ketahan sama yang di bawah, sehingga terjadilah kaput suksedanium atau penumpukan cairan di bawah kulit kepala bayi karena tertekan terus sedangkan jalan lahir belum terbuka sempurna. Orang awam bilang, kepalanya ngondek.
Dan resiko yang paling fatal adalah pada saat pembukaan lengkap tenaga ibu sudah tidak ada lagi karena sebelumnya sudah banyak mengejan menghabiskan energi yang percuma. Akibatnya, bayi akan lama di jalan lahir pada saat pembukaan lengkap dan ibu tidak punya tenaga untuk mengejan. Pada saat itu terjadi, bayi akan mengalami asfiksia (Bayi tidak menangis, warna kulit kebiruan dan sulit bernafas ), jika tidak ditangani dengan cepat, asfiksia dapat merusak otak bayi atau bahkan merenggut nyawanaya.
Jadi, jika jalan lahir belum terbuka sempurna, ibaratnya seperti pintu yang masih tertutup. Sehingga ketika dipaksa, maka pintu terdobrak dan menjadi rusak.
"Nanti kami akan datang lagi memeriksa keadaan istri Anda, permisi." Itu kata terakhir dokter Rina sebelum ia keluar bersama Bidan Ita dan suster di sampingnya.
Hana kini tidur miring ke kiri seperti instruksi dari petugas kesehatan tadi. Ia meremas sprei saat kontraksinya datang lagi dengan durasi yang semakin lama dari sebelumnya.
"Aww...Sakit, mas...." Rintih Hana di sela-sela sakit yang ia rasakan.
Seandainya bisa, sakitnya biar aku saja yang rasakan, sayang." Gumamnya dalam hati melihat kondisi istrinya yang kini meringis kesakitan
"Tarik nafas yang dalam," Ucapnya sambil menirukan apa yang tadi dokter ucapkan, "Tahan, lalu hembuskan...." Ia kembali memeragakannya. Dengan patuh, Hana melakukannya berkali-kali sampai kontraksinya reda.
"Mama... telponin Mama sama Papa, mas!" Ucapnya dengan masih meringis kesakitan. Berharap kedua orang tua dan kedua mertuanya hadir saat ini menemaninya.
__ADS_1
"I-iya, sayang." Jawab Revan terbata. Ia pun segera menghubungi mertua dan kedua orang tuanya. Mertua dan kedua orang tua nya mengatakan akan segera berangkat ke rumah sakit setelah ia mendapatkan kabar itu.
Tak henti-hentinya, Hana melafaskan dzikir di sela-sela sakit yang ia rasakan. Dengan keringat yang bercucur di keningnya, Revan mengelap menggunakan tisyu dan menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan.
30 menit kemudian mertua dan kedua orang tua Hana datang di waktu yang berdekatan. Mereka ingin masuk berbarengan, namun istruksi dari petugas mengatakan bahwa mereka harus masuk secara bergantian.
4 jam kemudian
"Akhhhhh...."Teriak Hana dengan nafas ngos-ngosan setelah mengeluarkan tenaganya untuk mengedan
"Bu, ngedannya kayak mau BAB. Sekali lagi, bu. Kepalanya sudah kelihatan. Ayo, bu." Ucap dokter mengistruksikan kepada Hana.
"Sekali lagi, sayang!" Ujar Revan yang sebenarnya tegang memberikan dorongan kepada istrinya.
Nafas Hana naik turun dengan keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Ibu pasti kuat, bu. Sekali lagi. Ayo, bu, ibu pasti bisa!" Dokter dan patugas yang menemaninya di sana memberikan support kepada Hana karena melihat Hana sudah sangat lemas.
"Ayo, sayang. Demi anak kita!" Ucap Revan lagi-lagi memberikan dorongan kepada istrinya.
Ucapan dari suaminya itu membuat Hana berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya. Ia harus kuat, demi anak-anaknya.
Dan dengan seluruh tenaganya, Hana mengedan dan...
"Eakh...eak...eakkkk"Suara tangisan pertama anak mereka membuat Hana dan Revan bernafas lega.
"Selamat, pak, bu. Jenis kelamin anak kalian, laki-laki."
Hana terbaring lemah di atas brangkar. Revan bernafas lega menyaksikan pengalaman langkanya ini. Perasaan bahagia, senang dan haru bercampur menjadi satu. Air mata bahagia menetes saat itu dari pelupuk matanya. Di kecupnya dengan sayang kening istrinya.
"Makasih, sayang!" Ujar Revan lirih dengan air mata yang menetes membasahi kening istrinya.
Hana pun menganggukkan kepalanya lemah sebagai jawaban.
Dokter tadi mengangkat bayi Hana dan Revan lalu ditaruh di atas perut pasiennya. dikeringkan menggunakan kain yang disimpan di atas perut.
"Sekali lagi, bu." Ucap dokter mengistruksikan Hana untuk mengedan. Terlihat kepalanya sudah di pintu.
"Aku udah enggak kuat, mas!" Hana mengucapkannya dengan nada lirih. Tenaganya sudah terkulai habis.
"Sekali lagi, sayang. Ayo, anak kita udah mau liat, Bunda sama Ayahnya!" Revan meneteskan air matanya melihat istrinya yang harus berjuang dengan keadaan yang sudah sangat lemah. Ia menggenggam erat tangan lemah istrinya, berharap dengan melakukan itu ia dapat menyalurkan energi kepada istrinya.
__ADS_1
"Ayo, bu. Sekali lagi. Dorong, bu, dorong!!
Hana menarik nafas panjang dengan tenaga yang tersisa ia mengedan dan... lahirlah lagi jagoan mereka yang kedua. Kedua anak kembar mereka berjenis kelamin laki-laki dengan satu plasenta bersama, anak mereka kembar identik.
Setelah dipantau selama dua jam di ruangan bersalin, Hana pun di pindahkan ke ruangan nifas khusus VIP.
Setelah menyusui kedua anaknya, Revan pun meletakkan kedua jagoannya di dalam kotak bayi.
Setelah itu ia kembali mendampingi istrinya dam duduk di kursi samping ranjang. Di ciumnya kening istrinya lama. Hana memejamkan mata meresapi ciuman hangat suaminya.
"Istirahatlah, sayang. Kamu pasti lelah setelah berjuang untuk dua jagoan kita." Ucap Revan lembut setelah melepaskan ciumannya.
Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tak membutuhkan waktu lama, Hana pun berlabuh di alam mimpi.
Revan memandang dengan penuh cinta istrinya yang telah melahirkan dua sekaligus jagoan untuknya. Sebuah rezeki yang sangat berlimpah dari Tuhannya untuk mereka. Tak henti-hentinya, Revan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Sesekali ia mencium tangan istrinya sambil terus memandangnya.
"Masha Allah, besan, cucu kita ganteng-ganteng, tapi muka mereka kayaknya lebih mirip Bundanya!" Ucap Mama Ajeng pada Mama Faradilla.
Mama Faradilla menatap seksama kedua cucunya. Memang benar kata besannya, kedua cucunya ini sangatlah mirip dengan Bundanya. Hanya bibirnya saja yang mirip Ayahnya.
"Heem, besan. Cucu kita 80% mirip Bundanya, 20% nya, mirip sama Ayahnya."
"Masa 20% doang, besan. Sedikit banget, dong." Ucap Mama Ajeng masih memperhatikan dengam seksama kedua cucunya.
"Liata aja, besan. Cuma hidung mancungnya saja yang mirip sama Ayahnya. Sedangkan yang lainnya, ngikut sama Bundanya."
Benar juga kata besannya ini, gumam Mama Ajeng memperhatikan kedua cucunya.
"Tak apalah, besan. Yang penting ada miripnya biar sedikit. Semoga cucu-cucu kita tumbuh menjadi anak yang sholeh, pintar, sopan dan bertanggungjawab." Ucapnya berbinar menatap besannya.
"Aamiin." Ucap Mama Faradilla dengan doa yang sama.
"Nanti, besan, bawa pulang satu, aku juga bawa satu, ya." Ujar Mama Ajeng penuh antusias pada besannya dan disambut senyum sumringan Mama Faradilla. Keduanya begitu antusias ingin segera membawa pulang salah satu cucu mereka.
"Mama!" Revan dengan nada kesal menatap kedua Mama nya. Baru saja istrinya ini melewati masa menegangkan melahirkan dua jagoannya, sudah mau di bawa pergi oleh keduanya.
"Boleh, ya, nak?" Ucap keduanya serentak dengan wajah memelasnya.
Revan memijit keningnya menghadapi kedua Mama nya yang kompak ingin membawa kedua anaknya. Revan tak mampu berkata lagi pada keduanya. Biarlah nanti kedua Mama nya meminta kepada induknya, itupun kalaupun di kasih.
Papa Surya dan Papa Wiratama hanya bisa tertawa melihat istri mereka yang sangat antusias dengan kelahiran cucu-cucu mereka hingga ingin memboyong salah satunya pulang ke rumah.
__ADS_1