Hati yang Patah

Hati yang Patah
Pernah Denganmu


__ADS_3

Revan kembali memandang kearah Hana.


" Hana, kamu ikut sama saya sekarang!"


" Baik pak."


Revan berjalan duluan dan Hana mengikutinya dari belakang. Hana menegok ke belakang dan melambaikan tangannya kearah Andin setelah itu ia masuk ke dalam lift bersama Revan.


Saat lift sudah terbuka, Revan berjalan ke arah ruangannya diikuti oleh Hana di belakangnya. Saat sudah sampai di dalam, Revan menyuruh Hana duduk di sofa.


Revan memandang Hana yang duduk menunduk di sampingnya.


" Kamu tidak kenapa-napa?" Revan melontarkan pertanyaan tentang keadaan Hana saat ini. Jujur saja, Hana masih sakit hati dikatakan seperti itu oleh Farah tapi ia juga merasa kasihan pada wanita itu.


" Aku baik-baik saja Mas. Hanya saja... Saya kasihan sama Farah. Walaupun dia memang salah, tapi seharusnya Mas Revan hanya kasih dia efek jera saja. Tidak dengan memecatnya Mas!. Kasihan dia."


" Orang seperti dia itu tidak perlu dikasihani Hana. Dia telah melakukan kesalahan fatal dengan menyebarkan gosip murahan seperti itu. Apalagi orang yang telah dia permalukan itu adalah kamu. Jelas saja kalau aku marah."


Mendengar penuturan Revan membuat Hana memandang ke arah matanya, namun yang ia lihat di sorot mata Revan adalah kesungguhan.


"Kenapa Mas Revan melakukan ini semua?"


" Kamu sudah tahu alasannya Hana, karena aku mencintaimu. Aku tak ingin orang yang aku cintai diperlakukan seperti itu. Aku hanya ingin menjagamu. Kamu tak bisa melihat kesungguhanku selama ini hmm?"


Hana menatap mata Revan dalam diam. Mereka saling memandang dalam sesaat, lalu Hana menganggukkan kepalanya.


" Aku tahu..."


Hana menjeda ucapannya.


" Tapi... Mas Revan bisa mencari yang lebih baik dari aku. Aku tidak pantas mendampingimu Mas. Aku ini hanya..."


"Shuttttt..." Revan menaruh telunjuknya di depan mulutnya.


" Sudah berapa kali aku bilang sama kamu Hana, aku tidak memandang dari status sosialmu. Aku tulus karena Allah. Seandainya aku memandang dari status sosial, sudah dari dulu aku menikah dengan wanita yang dijodohkan denganku. Dia cantik, kaya, berpendidikan dan masih muda. Tapi memang aku tak mencintainya Hana. Aku maunya hanya kamu!"


Hana hanya diam dan menundukkan kepalanya.


" Atau... Kamu memang tidak mencintai aku hmm?."


Hana lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Revan.


Revan memandang Hana berharap agar ia menjawab pertanyaannya. Namun ia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Melihat hal itu membuat Revan menarik nafas panjang, setelah itu ia kembali berbicara.


" Kalau memang kamu tidak mengharapkan aku maka... aku ikhlas akan menyerah Hana."


Mendengar perkataan Revan membuat Hana seketika menatap ke arah Revan. Jujur saja, hatinya sakit mendengar kata-kata Revan.


Hana menggelengkan kepalanya menolak kata terakhir Revan.


Revan menatap dengan intens Hana, ingin meminta penjelasan apa maksud dari gelengan kepalanya.


" Jadi?"


" Mas Revan mau tunggu Hana?"


Mendengar penuturan Hana seketika membuatnya menegakkan punggungnya dan dengan semangat menganggukkan kepalanya. Sebenarnya itu tadi hanya trik dari Revan agar Hana mau menerimanya. Revan lagi-lagi dapat ilmu dari sahabatnya si Rafael. Sahabatnya itu ada gunanya juga.


" Aku akan menunggu kamu. Asalkan kamu tidak menggantung aku Hana."


Hana menganggukkan kepalanya.


" Aku..."


Tok tok tok


Ucapan Hana terpotong karena ada ketukan dari pintu Revan. Segera Hana berdiri dan membuka pintu.


" Selamat pagi pak."


" Pagi."


Dia adalah Lukman, karyawan bagian divisi humas.


Lukman berjalan menuju ke arah Revan dengan membawa sebuah berkas.


" Ada apa?" tanya Revan


" Saya membawa daftar susunan acara untuk acara ulang tahun perusahaan nanti pak. Mohon di lihat terlebih dahulu."


Lukman menyerahkan berkas susunan acara kepada Revan. Revan segera membacanya dengan cermat.


Setelah selesai membacanya, Revan menyerahkan kembali berkas tadi kepada Lukman.


" Ini sudah bagus tapi masih ada beberapa point yang perlu di perbaiki."

__ADS_1


Lukman mengangguk mengiyakan pernyataan Revan.


" Saya mau adakan rapat sekarang. Kita bahas mengenai ini."


" Sekarang pak?" tanyanya karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.


" Iya, sekarang."


" Kamu urus keperluan rapat bersama Hana, setengah jam kemudian rapat di adakan."


" Baik, pak. Kalau begitu saya permisi."


Revan menganggukkan kepalanya setelah itu, Lukman berlalu dari sana bersama Hana.


Setengah jam kemudian rapat akhirnya di mulai. Lagi-lagi Hana merasa risih karena ada beberapa rekan kerjanya yang menatapnya dengan pandangan sinis. Hal itu tak di sadari oleh Revan karena ia sangat fokus mendengarkan presentase dari karyawannya.


Entahlah, Hana juga bingung kenapa di perusahaan ini ada beberapa karyawan yang tidak menyukainya secara terang-terangan. Padahal Hana tidak pernah mencari gara-gara dengan karyawan lain, tapi entah mengapa mereka sepertinya sangat tidak menyukai Hana.


Saat rapat telah selesai, Revan dan Hana kembali ke ruangannya.


Tibalah waktu pulang kerja. Hana berjalan menuju ruangan Revan. Saat sudah sampai di dalam, Revan masih berkutat dengan komputer di depannya.


" Mas Revan aku pulang duluan yah, aku ada keperluan di luar."


Seketika Revan menghentikan aktivitasnya dan menatap kearah Hana.


" Kamu mau kemana?"


" Ada, aku mau ketemu seseorang."


" Siapa?"


Hana diam sebentar.


" Mmm aku mau ketemu sama Mas Arlan."


Revan langsung melepaskan kaca matanya.


" Mau apa ketemu sama dia?"


" Ini, ada yang mau aku omongin sama dia. aku jalan dulu yah, assalamualaikum." Hana berbalik badan namun belum beberapa langkah, ia kembali di panggil oleh Revan.


" Ada apa lagi Mas?"


" Aku anterin kamu."


" Nggak bisa, aku yang anterin kamu ketemu sama dia."


Revan tak mau kejadian waktu itu terulang kembali. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


" Yaudah, ayo." Akhirnya mereka pergi bersama menemui Arlan.


Hana dan Arlan janjian akan bertemu di cafe green yang terletak di dekat kantor Revan. Tak lama kemudian mereka telah sampai di sana. Mereka berjalan masuk dan mencari keberadaan Arlan.


Di sudut kafe, Arlan duduk menunggu. Raut wajahnya tampak kecewa karena melihat Hana datang bersama Revan.


" Mas Arlan udah lama nunggunya?"


" Nggak kok, aku juga baru sampai. Silahkan duduk." Arlan memepersilahkan Hana dan Revan untuk duduk.


" Kalian mau minum apa?"


" Aku mau pesan green tea aja."


" Kalau Anda?"


" Samakan saja dengan punya Hana."


Arlan menganggukkan kepalanya setelah itu ia memanggil pelayan untuk memesan minuman.


Mereka tampak diam untuk sesaat. Arlan dan Revan saling menatap dengan tajam. Berada di posisi ini membuat suasana jadi panas. Segera Hana mengalihkan perhatian mereka dengan memulai pembicaraan.


" Jadi alasan aku mau ketemu sama Mas Arlan karena aku mau kasih tahu kalau Ibu ada di rumah aku sekarang."


Arlan langsung menegakkan punggungnya dan serius mendengarkan Hana.


" Ibu sudah hampir seminggu di rumah aku. Katanya, sebelum Ibu pulang ke kampung Ibu mau ketemu sama Mas Arlan. Jadi, aku harap Mas Arlan nanti bisa sempatin waktunya untuk ketemu sama Ibu."


Arlan tampak menundukkan kepalanya mendengar penuturan Hana. Setelah beberapa saat, barulah ia kembali berbicara.


" Boleh aku bicara berdua dulu sama kamu?"


Mendengar hal itu membuat Hana memandang ke arah Revan. Revan yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah dan pindah duduk di kursi yang lain. Saat mereka sudah tinggal berdua, barulah Arlan kembali berbicara.


" Aku... Sebenarnya takut dan juga malu untuk ketemu sama Ibu."

__ADS_1


" Kenapa Mas Arlan harus takut. Semuanya sudah kembali membaik dan aku juga sudah memberi pengertian ke Ibu tentang kita."


" Apanya yang membaik Hana. Aku tidak merasa baik-baik saja." Katanya dengan memandang ke arah Hana.


" Kita ini sudah dewasa Mas. Di sini seharusnya Mas Arlan yang sudah jauh dari kata membaik. Bukankah Kamu sendiri yang mau semua ini terjadi hmm?


Arlan tak menyela ucapan Hana. Karena memang benar, dari awal dialah yang telah bermain api.


" Lantas, apa lagi yang kamu harapkan?. Kita sudah berakhir. Jangan buat semuanya menjadi sulit.


" Tapi aku mohon sama kamu untuk mau menerima aku kembali lagi. Aku janji, semuanya akan kembali lagi seperti dulu. Kamu, aku, Jihan dan Ibu. Kita mulai lagi semuanya dari awal yah!"


" Kita tak bisa lagi seperti dulu. Bukankah waktu itu, kamu sendiri yang mengatakan bahwa jangan pernah mengharapkan aku akan kembali lagi padamu. Kamu sudah lupa kata-katamu dulu sewaktu menceraikan aku." Setelah mengatakan itu Hana dan Arlan saling diam.


Hana menatap ke lain arah, sedangkan Arlan menundukkan kepalanya dalam. Tiba-tiba Hana berdiri dan berjalan menuju ke arah panggung.


Ia terlihat berbicara dengan sang vokalis. Tak lama setelah itu ia duduk di kursi menggantikan si vokalis.


Hal itu tak luput dari perhatian Revan dan Arlan. Apa kira-kira yang akan di lakukan oleh Hana.


Tak lama kemudian, suara musik pun terdengar.


Hana menyanyikan lagu milik Krisdayanti (pernah denganmu).


Pernah denganmu biarlah jadi kenanganku


biarlah jadi bagian kisah hidupku


yang tak mungkin terulang di hatiku lagi


Pernah denganmu telah ku coba pertahankan


telah ku coba menjalani cinta kita


yang ternyata tak bisa di hidupku lagi


Cinta sudah tinggalkan kita jauh


tak mungkin bisa kembali


jadi percuma aku denganmu lagi bersama lagi


cukup untukku biarkan ku pergi


Pernah denganmu telah ku coba pertahankan


telah ku coba menjalani cinta kita


yang ternyata tak bisa di hidupku lagi


Cinta sudah tinggalkan kita jauh


tak mungkin bisa kembali


jadi percuma aku denganmu lagi bersama lagi


cukup untukku biarkan ku pergi


Pernah denganmu telah kucoba pertahankan kita


Cinta sudah tinggalkan kita jauh


tak mungkin bisa kembali


jadi percuma aku denganmu lagi bersama lagi


cukup untukku biarkan ku


Cinta sudah tinggalkan kita jauh


tak mungkin bisa kembali


Jadi percuma aku denganmu lagi bersama lagi


cukup untukku biarkan ku pergi.


Hana bernyanyi dengan penuh ppenghayatan. Tak terasa air matanya jatuh setelah menyanyikan lagu itu. Arlan yang melihatnya juga meneteskan air matanya, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Setelah itu Arlan bangkit dari duduknya dan berlalu dari sana.


Suara tepuk tangan dari para pengunjung saat Hana telah selesai bernyanyi. Namun Hana terlihat menunduk. Revan yang melihatnya segera berjalan ke arah Hana dan menghapus air mata di wajah Hana menggunakan tangannya.


" Ayo kita pulang." Revan berbicara sangat lembut dan menggandeng tangan Hana dari sana. Revan menyimpan uang selembar di meja setelah itu mereka kembali.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Part kali ini lumayan panjang. Aku sebenarnya sangat suka dengan part ini.

__ADS_1


Happy reading guys nya. Jangan lupa like dan vote nya. Karena vote itu gratis kok😊


Salam story from By_me...


__ADS_2