Hati yang Patah

Hati yang Patah
Menjadi Bumerang Untuknya


__ADS_3

Setelah puas memberi pelajaran kepada Raga, kini Revan berada di dalam mobil dan ingin membersihkan diri di apartemennya. Penampilannya kini sangat kusut dengan beberapa bercak darah di bajunya karena tadi bertarung dengan Raga. Tak mungkin juga ia membersihkan diri di rumahnya dengan penampilan yang seperti ini. Takutnya nanti Ana akan berbicara yang tidak-tidak pada istrinya.


30 menit kemudian ia pun sampai di depan gedung apartemennya. Dengan langkah cepat, ia berjalan masuk dan menekan tombol lift untuk menuju apartemennya.


Segera ia masuk ke dalam dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya di bawah guyuran air shower.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Revan pun kembali mengambil kunci mobilnya dan segera kembali menuju rumah sakit untuk menemani istrinya di sana.


Saat ia sudah berada tepat di depan kamar anaknya, suara dua orang di dalam sana membuatnya segera membuka pintu kamar rawat anaknya.


Revan tersenyum penuh haru saat mendapati anaknya kini sudah sadar dan sedang disuapi makan oleh istrinya. Dengan langkah lebar, ia sudah berdiri di depan istri dan anaknya.


Di tatapnya istrinya itu sebentar, Hana pun tersenyum kearah suaminya. Setelah itu, Revan kembali mengarahkan perhatiannya pada anaknya.


Diciumnya dengan lama kening anaknya. Setelah melakukan itu, Revan duduk di pinggir ranjang anaknya dan menggenggam tangan kanannya dengan penuh kebahagiaan.


"Jihan mau dibeliin apa sama Ayah sayang?" Tanyanya dengan penuh kelembutan. Sebagai bentuk syukurnya karena akhirnya anaknya sudah kembali sadar.


"Jihan enggak mau apa-apa, yah. Semua makanan pahit." Ucapnya lirih.


"Yasudah, kalau begitu nanti saja Ayah beliin Jihan hadiah kalau Jihan sudah sembuh total."


"Beneran, yah?"


"Beneran, sayang!"


"Udah, mas. Tanyanya nanti saja. Jihan katanya harus istirahat total selama beberapa hari ini kata dokter tadi. Jadi biarkan Jihan habiskan dulu makanannya, biar dia bisa kembali istirahat."


"Yasudah, kalau begitu biar aku saja yang menyuapi Jihan. Kamu istirahat dulu, sayang. Pasti kamu sudah capek jagain Jihan sendiri tadi."


"Hana enggak capek kok, mas."


"Udah, biar aku saja. Mending sekarang kamu istirahat dulu di sofa. Pinggang kamu pasti sakit, kan!" Selama menghadapi masa kehamilannya, Hana memang jadi lebih gampang capek dan lelah. Terutama kalau ia lama berdiri dan duduk maka pinggangnya gampang sakit.

__ADS_1


Hana tak bisa lagi membantah perintah suaminya, kini ia sudah berbaring di atas sofa namun matanya tak henti-hentinya memandangi suami dan anaknya di sana.


Setelah selesai menyuapi dan menidurkan anaknya, Revan pun menutupi badan anaknya dengan selimut. Sedangkan tangan yang masih ada selang infusnya, ia keluarkan agar tidak terlepas.


Revan berbalik setelah memastikan anaknya tidur dengan pulas. Ia kini berjalan menuju sofa tempat istrinya itu berbaring.


Revan ikut berbaring di samping istrinya dan menggunakan lengannya sebagai bantalan kepala istrinya.


"Mas Revan dari mana tadi?" Tanyanya lirih agar suaranya itu tidak menggangu tidur anaknya.


"Tadi habis dari kantor. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku tangani, makanya aku lama. Maaf ya, sayang. Aku tadi tingalin kamu sendiri."


"Enggak apa-apa, mas. Lagian tadi aku di sini enggak sendirian. Aku di temenin sama Mama dan Papa, kok."


"Mama, Papa, tadi ke sini?"


"Iya, mereka tadi langsung ke sini saat aku ngabarin kalau Jihan udah sadar. Baru aja mereka pergi, mas. Mama dan Papa dapat kabar kalau Raga sekarang ada di rumah sakit. Di tabrak mobil katanya. Makanya Mama dan Papa segera jengukin mereka."


Revan tersenyum miring karena anak buahnya melaksanakan tugasnya dengan baik.


"Iya, mas."


Revan pun menarik diri dan segera berjalan keluar menjauh dari sana untuk menghubungi Papa nya.


Ia berjalan menuju tangga darurat agar istrinya itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Papanya.


Panggilannya pun tersambung. Tak lama kemudian, Papa Surya mengangkat panggilannya.


"Halo, Pa."


"Halo, ada apa, nak?"


"Papa sekarang ada di mana?."

__ADS_1


"Di rumah sakit. Papa sama Mama lagi jengukin Raga."


"Jangan bilang kalau Papa tidak tahu yang sebenarnya?"


"Papa sudah tahu. Tidak mungkin juga Papa tidak tahu identitas penabrak anak kamu, sedangkan Papa yang suruh dua orang itu untuk melacaknya. Papa menyerahkan Raga sama kamu agar kamu bisa memberinya efek jera. Walaupun Raga keponakan Papa, tetap tindakannya itu salah dan harus di tindak lanjuti agar tidak lagi melakukan hal diluar batas nantinya."


"Kamu sudah melaporkannya ke pihak berwajib?"


"Revan tidak akan melaporkannya ke pihak yang berwajib, Pa. Pelajaran yang aku kasih sama dia, kayaknya sudah cukup."


"Papa terserah kamu saja, nak. Papa ikuti semua keputusan kamu."


"Yasudah, kalau begitu Revan tutup dulu, Pa. Hana sendirian di ruangan."


"Iya, nak. Semoga anak kamu lekas sembuh."


"Aamiin, semoga aja, Pa. Revan tutup dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah panggilan tertutup, Revan kembali menuju ruangan anaknya. Saat ia sudah membuka pintu, istrinya itu sudah tertidur di sofa. Suara nafasnya teratur, menandakan istrinya itu sudah tertidur pulas.


Revan pun membaringkan badannya di samping istrinya. Dibawanya istrinya itu ke dalam pelukannya. Untung saja sofa di ruangan itu lumayan besar dan lebar jadi bisa menampung untuk mereka berdua.


Setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya, Revan berjanji mulai sekarang ia akan lebih berhati-hati dengan orang-orang di sekitarnya. Walaupun saudara, tidak menutup kemungkinan mereka akan menusuknya dari belakang. Itulah mengapa dari awal Revan melarang istrinya untuk dekat-dekat dengan sepupunya karena Revan tahu riwayat hidup sepupunya, termasuk saat dulu Raga hampir memperkosa seorang wanita yang ternyata wanita itu adalah istrinya sendiri.


Ia tidak habis fikir dengan sepupunya itu, berpendidikan tinggi sampai dikuliahkan di luar negeri tetapi tak juga merubah watak dan perilakunya. Lelaki itu terlalu di manjakan oleh Bibinya, makanya sekarang bersikap semena-mena dan tidak memperdulikan nyawa seseorang. Dari kecil setiap sepupunya itu berbuat kesalahan, Bibi nya pasti akan membela anaknya walaupun jelas-jelas anaknya itu yang salah. Sekarang hasil didikan Bibi nya itu, menjadi bumerang untuk keluarganya sendiri.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading kk😊😉


Jangan lupa like, komen dan vote nya kk.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2