Hati yang Patah

Hati yang Patah
Lanjutan yang kemarin


__ADS_3

Lelaki yang menolong Hana adalah Arlan. Ia tadi berniat ke toilet ingin buang air kecil namun belum sampai di toilet ia samar-samar mendengar suara seorang wanita sedang meminta tolong.


Arlan mencari sumber suara dan langkahnya terhenti di depan ruangan panitia yang berada tak jauh dari toilet. Suara wanita itu semakin terdengar. Ia memutar knop pintu dan membukanya. Ia membelalakkan matanya melihat apa yang terjadi di depannya. Dengan langkah lebar Arlan mendekati lelaki itu dan memberikan tendangan keras dibadan Raga. Alhasil Raga pun jatuh tersungkur ke lantai.


Arlan menghampiri Raga yang sudah tersungkur di lantai. Ia lalu naik ke atas tubuh Raga dan memberi pukulan bertubi-tubi di wajah Raga dengan beringas dan tanpa ampun.


"B******n. Mati aja lo b*****k. Gue dengan senang hati kirim lo ke neraka b******n " Umpat Arlan yang masih menghujani Raga dengan pukulannya.


Arlan memukul Raga dengan bertubi-tubi. Ia meninju wajah Raga berkali-kali hingga Raga tak sempat melawan dan membuatnya terkapar tak berdaya dengan darah yang mengucur di hidung dan bibirnya. Keadaan Raga sangat mengenaskan dengan wajah yang babak belur dan darah segar mengucur diwajahnya.


Saat sudah puas memberi pukulan, Arlan pun bangkit dari atas tubuh Raga dan menghampiri Hana yang tampak sangat mengenaskan dengan baju yang sobek dan hijab yang berantakan. Hana menangis dengan histeris di ujung tembok yang saat itu sedang berusaha menutupi badannya dengan memeluk tubuhnya erat.


Arlan berjongkok di depan Hana dengan jarak setengah meter. Arlan mengangkat tangannya dan ingin memegang pundak Hana, namun tak disangka-sangka Hana malah menepis kasar tangan Arlan.


"Jangan dekat-dekat." Ucap Hana tegas. Jujut saja Hana masih takut saat ini.


Arlan mengerti dengan perubahan sikap Hana karena ia pasti masih trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Hey, lihat aku. Aku Arlan, ketua panitia acara. Aku yang tadi nolongin kamu. Aku janji enggak akan jahat sama kamu."


Mendengar penuturan Arlan membuat Hana lebih tenang dan tidak tegang lagi seperti tadi.


"Aku sangat takut. Aku mau pulang!" Ucap Hana lirih dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya. Darah segar terlihat di sudut bibirnya.


Arlan pun menganggukkan kepalanya dan setelah itu ia membuka baju PDH berwarna merah maroonnya dan memberikannya kepada Hana.


"Kamu pakai ini untuk menutupi badanmu."


Hana pun mengambil baju PDH milik Arlan dan memasangkannya di badannya untuk menutupi bajunya yang sudah sobek.


Arlan membawa Hana keluar dari sana dan meninggalkan Raga yang sudah terkapar di lantai dengan kondisi yang mengenaskan.


Arlan membawa Hana duduk ke kursi yang ada di koridor kampus.


"Kamu tunggu dulu disini. Aku mau ambil kotak P3K untuk mengobati lukamu."


Hana menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku mau langsung pulang saja." Ucap Hana lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Sebentar saja. Aku mau mengobati lukamu. Kalau dibiarkan nanti darahnya mengering dan akan menimbulkan infeksi."


Akhirnya Hana pun mengiyakan keinginan Arlan untuk mengobati lukanya. Arlan segera menuju ke ruangan kesehatan dan mengambil kotak P3K. Setelah menunggu selama 2 menit akhirnya Arlan pun datang dan menaruh kotak P3K di sampingnya dan mulai mengobati luka sobek di ujung bibir Hana.


"Aww..." Hana meringis kesakitan saat kapas alkohol mengenai lukanya.


"Maaf maaf." Tutur Arlan dan mulai mengobati luka Hana dengan hati-hati.


Setelah selesai mengobati luka Hana, Arlan pun membereskan kotak P3K dan menutupnya.


"Boleh aku minta tolong?"


Arlan menganggukkan kepalanya.


"Boleh cari sahabatku di taman. Namanya Kalista, anak ekonomi."


Arlan pun kembali menganggukkan kepalanya, setelah itu ia berjalan menuju taman mencari sahabat Hana. Saat sudah menemukan Kalista, ia memberi tahunya bahwa Hana mencarinya. Arlan menyuruh Kalista agar menunggunya sebentar, lalu Arlan membisiki teman panitianya agar membawa Raga ke rumah sakit. Mereka semua berjalan menuju ruangan panitia dan tiga panitia acara membawa Raga menuju rumah sakit terdekat.


Kalista sangat syok saat melihat kondisi sahabatnya dan segera memeluknya. Hana hanya bisa menangis di dalam pelukan sahabatnya. Walaupun tak diberi tahu namun insting seorang sahabat membuatnya menerka-nerka apa yang baru saja terjadi di tambah melihat kondisi Raga yang di bawa menuju ke rumah sakit.


Setelah kejadian itu, Arlan selaku ketua panitia memberi tahu kepada teman panitianya yang lain agar acara berakhir dan tak dilanjut lagi. Berita tentang kejadian itu cepat sekali menyebar dan membuat satu kampus heboh. Berita tentang aksi pelecehan dan percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Raga terhadap Hana pun sampai ke telinga Rektor. Alhasil setelah melakukan rapat dengan para dosen Raga pun dikeluarkan/drop out dari kampus.


Raga terbaring lemah di rumah sakit selama seminggu. Papa Raga diberi tahu oleh istrinya bahwa anak mereka seperti itu karena terlibat cekcok dengan temannya dan membuat Raga babak belur. Mama Raga tak memberi tahu suaminya kejadian yang sebenarnya dan mengenai anak mereka yang di DO, karena kalau sampai suaminya itu tahu pasti anaknya akan mendapatkan masalah besar dan tak akan mendapatkan warisan dari papanya.


Mama Raga mengetahui semua yang terjadi kepada anaknya atas informasi dari orang suruhannya. Ia juga mengetahui siapa wanita itu dan lelaki yang telah membuat anaknya babak belur. Mama Raga menutupi semua informasi dengan rapat agar suaminya tak mengetahuinya.


Setelah anaknya sudah sembuh total, Raga pun dikirim kuliah di Amerika oleh kedua orang tuanya. Karena alasan itu pulalah mengapa Mama Raga tak pernah tersenyum kearah Hana selama makan malam dan terkesan sangat datar.


Sebenarnya Mama Raga tak berniat untuk mengundang Revan dan Hana ke acara makan malam namun suaminya itu sangat kekeuh untuk sekalian mengajak mereka sebagai bentuk menyambut keluarga baru.


Setelah kejadian malam itu, Hana dan Arlan mulai akrab dan Hana pun mulai mengagumi dan membuka hatinya untuk Arlan. Hingga akhirnya mereka lulus kuliah dan Arlan melamar Hana menjadikannya istrinya.


Hana menceritakan semuanya kepada suaminya namun tidak tentang kisahnya dengan Arlan. Hana menceritakan semuanya dengan air mata yang mengalir dipipinya. Saat kembali mengingat kejadian itu, Hana dibuat sakit hati dan merasa sesak didada akibat perlakuan Raga kepadanya.


Setelah mendengar penuturan istrinya dari awal sampai akhir tak henti-hentinya Revan mengumpat di dalam hati kepada sepupunya itu.

__ADS_1


Revan mengangkat tangannya dan menghapus air mata diwajah istrinya. Setelah selesai menghapus air mata istrinya, Revan mendekat dan memeluk istrinya membawanya bersandar didadanya.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih sambil masih memeluk istrinya.


"Untuk apa, Mas?"


"Karena aku kembali membuatmu mengingat kejadian itu. Seharusnya aku mencari tahunya sendiri dan tidak membuatmu kembali mengingat kejadian itu."


Hana menggelengkan kepalanya di pelukan suaminya.


"Mas enggak salah. Malah Hana merasa lega karena sudah menceritakan ini kepada, Mas. Tidak ada lagi yang perlu Hana takutkan karena sekarang Mas Revan sudah tahu."


Revan mengerutkan keningnya mendengar penuturan istrinya.


"Memangnya apa yang terjadi sehingga kamu masih takut?" Ucapnya dan melepaskan pelukannya, memandang wajah Hana ingin meminta penjelasan.


Glek, Hana menelan ludahnya kasar. Dengan ragu-ragu Hana mengatakan tidak ada. Namun insting Revan mengatakan masih ada yang disembunyikan oleh istrinya itu.


"Jangan bohong sama suamimu, Hana. Ceritakan apa yang terjadi!" Ucapnya tagas.


Hana kembali menelan ludahnya kasar. Ia tak ingin karena hal ini membuat suaminya itu bermasalah dengan keluarganya sendiri. Namun ia tak punya pilihan lain karena desakan dari suaminya. Akhirnya ia pun kembali menceritakan apa yang terjadi di dapur rumah pamannya dan apa yang terjadi tadi di pantai.


Revan mengepalkan tangannya kuat karena amarahnya saat mendengar apa yang dilakukan sepupunya pada istrinya.


"Kurang ajar. Awas saja kalau sampai dia masih mengganggu kamu. Aku tidak lagi melihat statusnya sebagai sepupuku. Aku sendiri yang akan membuatnya setengah mati ditanganku." Ucap Revan dengan emosi yang memburu.


Hana mencoba menenangkan suaminya. Untung saja Hana bisa menenangkannya dan keadaan kembali menjadi cair.


Setelah melewati malam panjang dengan istrinya, Hana pun tertidur di pelukan suaminya. Revan kembali mengingat apa yang tadi sore diceritakan oleh istrinya. Revan berjanji tidak akan memberi ampun kepada Raga yang kembali ingin mengganggu ketenangannya dan istrinya.


Revan punya cara sendiri untuk membalas apa yang dilakukan oleh Raga terhadap istrinya. Tunggu saja tanggal mainnya, gumamnya dalam hati dan seringai jahat ia tampilkan di wajahnya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Jauh-jauh deh bang Raga sebelum singa jantan ngamuk. Ya kan readers!.


Cukup sampai sini dulu yah. Besok bru up lagi. Maafkan tadi enggak sempat up karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal, jadinya baru bisa up malam ini. Sebenarnya tadi udah nulis udah sampe 500 kata lebih tapi aku enggak tega kalau up nya hanya sampai 500 kata. Jadinya baru deh dilanjut nulisnya sampe 1500 kata.

__ADS_1


Jangan lupa di like, komen dan paling penting votenya. Sekali kali masuk dalam perengkingan kk novel aku kayaknya bagus tuh. Vote sebanyak-banyaknya dapat membantu novel author masuk perengkingan kk. Author enggak maksa, se-ikhlasnya para readers aja sih.


Salam story from By_me


__ADS_2