Hati yang Patah

Hati yang Patah
Surprise


__ADS_3

Setelah dilakukan penanganan awal, pendarahan pun dapat dihentikan. Setelah satu jam lamanya dilakukan tindakan oleh petugas kesehatan, akhirnya Indah pun di pindahkan ke ruang perawatan.


Namun Indah belum sadarkan diri. Arlan dengan setia mendampingi istrinya itu. Hanya Arlan yang mendampingi istrinya karena mertuanya sedang berada di luar negeri dan ia tidak ingin membuat mertuanya khawatir.


Arlan duduk di samping istrinya, menatapnya dalam. Ia kembali mengingat kejadian tadi. Ia tidak punya pilihan lain selain menarik kembali kata-katanya. Diusapnya wajahnya kasar, lelah dengan keadaan.


Apa yang dialaminya sekarang mungkin bentuk dari karmanya yang telah dulu ia lakukan. Menyakiti hati wanita yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Penyesalan lah yang kini ia rasakan. Ingin kembali membina rumah tangga dengan Hana, namun itu adalah kemustahilan karena Hana kini telah bahagia bersama imam barunya.


Hanya satu jalan untuknya sekarang, ia akan memulai kembali semuanya dari awal bersama istrinya dan memperbaiki rumah tangganya. Sejahat-jahatnya manusia pasti masih ada sisi baiknya dan ia akan mendampingi istrinya itu untuk bisa berubah.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


"Sayang!" Panggil Revan di dalam kamar mandi.


"Ada apa, mas?"


"Ambilin handuk dong. Handuknya enggak ada, biasanya tergantung di sini."


"Ambil aja sendiri, mas. Hana lagi mager." Ucap Hana menutup matanya sambil berbaring diatas kasur.


"Gimana caranya, sayang. Aku enggak pakai apa-apa! Ambilin, cepat!"


"Hana enggak bisa, mas. Ambil aja sendiri. Keluar aja, Hana tutup mata kok."


"Yaampun, Kamu kenapa sih? Enggak biasanya kayak gini!"


Revan pun tak punya pilihan lain. Ia berjalan keluar dengan kondisi bugil, menuju ke arah lemari.


Selesai memakai pakaian, Revan pun berjalan naik ke atas kasur dan merebahkan diri di samping istrinya. Tangannya sudah melingkar di perut istrinya namun tiba-tiba Hana menyingkirkan tangan suaminya di atas perutnya.


Revan mengernyitkan keningnya, tidak biasanya istrinya bersikap seperti itu.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Aku gerah, mas. Jangan peluk-peluk Hana dulu."


Bagaimana bisa istrinya itu gerah, sedangkan AC menyala dan juga istrinya itu sudah mandi.


"Jadi aku enggak meluk kamu nih, semalaman?"

__ADS_1


"Heem. Puasa aja dulu."


"Maksudnya?"


"Enggak boleh meluk dan enggak boleh yang lain!"


"Apa? Jadi aku juga enggak dapat jatah?"


"Iya. Puasa!" Ucapnya menegaskan kata terakhirnya.


Revan mendengus kesal karena harus berpuasa malam ini. Peluk pun tidak bisa. Jadi apa yang harus ia lakukan?


Ia pun membalikkan badannya, tidur memunggungi istrinya. Kesal dengan sikap istrinya malam ini.


Malam yang kelam pun Revan lalui tanpa memeluk istrinya dan jatah setiap malamnya tidak ia dapatkan.


Saat membuka mata, Revan sudah tidak mendapati istrinya di sampingnya. Ia melirik ke arah jam dinding. Ia membulatkan matanya saat melihat jarum jam menunjukkan pukul 07.15 Wib. Segera ia menuju kamar mandi, tak lupa handuk ia bawa jangan sampai di dalam kamar mandi tidak ada handuk lagi.


Hanya dalam waktu 5 menit ia telah selesai dengan ritual mandinya. Ia mendengus kesal karena pakaian kerjanya juga tidak disiapkan oleh istrinya. Kemana sebenarnya istrinya ini. Sudah tidak membangunkannya, tidak juga menyiapkan setelan kerjanya seperti biasanya.


Setelah selesai memakai baju dan celananya, Revan keluar membawa jas, tas dan dasinya yang belum ia pasangkan. Berjalan menuju kearah meja makan. Benar saja, istrinya itu sudah ada di sana lengkap dengan pakaian kerjanya.


"Maaf!"


Revan melongo mendengar jawaban istrinya yang terlihat santai-santai saja.


Revan menyentuh dahi istrinya menggunakan punggung tangannya jangan sampai istrinya ini sakit atau salah minum obat. Namun suhu tubuh istrinya itu normal-normal saja.


"Kamu kenapa?"


"Aku? kenapa?"


"Sikap kamu berbeda!" Aku perhatikan dari semalam kamu kayak gini!"


"Enggak, mas. Aku ngerasa biasa-biasa aja."


"Ya Allah, ampuni hamba jikalau punya banyak dosa sehingga istriku ini jadi kayak gini." Gumam Revan pelan namun masih bisa di dengar oleh Hana.


"Mas Revan tadi ngomong apa?"

__ADS_1


"Enggak ngomong apa-apa."


Mereka pun kembali melanjutkan menyantap sarapan dengan hening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Revan sesekali melirik kearah istrinya yang diam. Biasanya istrinya itu tidak bisa diam.


Setelah selesai makan, mereka pun menuju ke perusahaan.


Sampai di perusahaan sikap istrinya itu juga sama. Diam dan dingin kepadanya. Entah setan apa yang merasuki istrinya itu, pikirnya.


Kesabaran Revan sudah habis saat lagi-lagi Hana tidak menuruti perintahnya, namun yang terjadi istrinya itu menafsirkannya lain dan langsung berlari keluar dan meninggalkannya sendiri.


Revan ingin mengejar namun pekerjaannya itu sangat banyak. Akhirnya ia pun mengerjakan laporannya sampai selesai.


Saat Revan sudah berada di dalam mobil, Mama nya tiba-tiba menghubunginya. Belum juga ponselnya itu sampai di telinganya, suara menggelegarnya sudah bisa ia dengar.


"Mama ini kenapa sih? Baru juga nelpon, udah marah-marah!"


"Kamu yang kenapa, Revan. Kenapa membentak istrimu?"


"Demi Allah, Revan enggak membentak Hana, ma! Hana aja yang kayaknya sentitif hari ini."


"Ngeles terus. Sekarang kamu tanggung sendiri. Sekarang istri dan anakmu ikut sama Mama. Tidak usah datang ke rumah, Hana tidak ingin melihat wajah kamu."


Belum semlat Revan menjawab, Mama nya sudah mematikan sambungannya. Ia menghela nafas panjang, bingung dengan perubahan sikap istrinya. Ia juga tadi tidak sengaja, namun lagi-lagi ia yang salah. Nasib menjadi laki-laki, selalu salah, ucapnya dalam hati.


Revan kembali menjalankan kendarannya menuju rumah. Malam ini akan terasa sepi, karena istri dan anaknya tidak ada di rumah.


Tak lama kemudian akhirnya ia sampai di halaman rumahnya, namun tiba-tiba dahinya mengernyit saat melihat beberapa kendaraan terparkir di halaman rumahnya. Sudah banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengisi otaknya. Kendaraan orang tuanya juga ada di sana. Ada apa ini, gumamnya dalam hati.


Segera ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat pintu sudah terbuka yang ia lihat hanya kegelapan. Kemana orang rumah sampai-sampai lampu saja dimatikan, pikirnya.


Saat ia menyalakan lampu tiba-tiba...


"Surprise..." Teriak semua orang. Ia pun dibuat kaget karena tiba-tiba banyak sekali orang di rumahnya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😘


Maaf yak kalau aku gantung. Soalnya aku udah ngantuk banget kk😄😁. Sekedar promosi aja, mampir juga ke karya aku yang satu yang berjudul "Membalas Perselingkuhanmu". Untuk menunggu up selanjutnya, mending baca juga karya aku yang tadi, ok✌.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2