
" Ada yang mau Mama omongin sama Kamu sayang."
" Mau ngomong apa, Ma?"
" Nanti aja Mama kasih tahu."
"Mama mau ngomong apa yah, Hana jadi penasaran kan!" katanya dalam hati.
Selama perjalanan diisi dengan berbincang-bincang ringan. Mama curhat mengenai kesehariannya di rumah. Mama mengatakan bahwa selama Hana dan Jihan pindah, rumah serasa sangat sepi. Revan juga tidak lagi tinggal di sana. Ia hanya sesekali menginap di rumah selama Hana pergi. Mendengar curhatan Mama Ajeng membuat Hana tak tega, namun apa boleh buat Hana juga tak bisa selamanya menumpang dan bergantung pada mereka. Hana cukup tahu diri.
Tibalah mereka di depan Mall xx. Hana dan Mama Ajeng bersama-sama berjalan memasuki area mall. Mama mengajak Hana pergi ke lantai tiga di butik baju kebaya dan batik. Mama mengajak Hana memilah-milih baju kebaya. Awalnya Hana menolak karena tidak terlalu membutuhkannya sekarang, tapi Mama memaksa Hana untuk memilih.
" Bagaimana sayang kebayanya menurut kamu? cocok enggak kalau Mama pakai ini?"
Hana memperhatikan baju kebaya yang Mama Ajeng pilih. Kebaya dengan motif yang sangat cantik dan warnanya yang lembut.
" Kebayanya cantik banget, Ma. Mama pasti bakalan terlihat sangat cantik kalau pakai ini."
Mama tersenyum mendengar penuturan Hana.
" Ya sudah, kalau begitu Mama ambil yang ini saja."
" Terus kebaya yang kamu pilih mana sayang?"
Hana mengambil kebaya pilihannya berwarna soft pink dengan motif sederhana namun terkesan elegan.
" Aku pilihnya yang ini, Ma. Gimana? cantik enggak?"
" Cantik banget sayang." Setelah mengatakan itu tiba-tiba Mama memanggil karyawan butik untuk mencarikannya baju batik lengan panjang dengan warna yang cocok di pasangkan dengan kebaya Hana.
Hana yang mendengarnya tak banyak bertanya untuk siapa batik itu Mama beli. Setelah itu mereka menuju kasir dan membayar semua yang mereka ambil.
Mereka kembali berjalan-jalan memutari mall dan mereka singgah di toko sepatu. Hana dan Mama membeli sepatu high hells dengan warna yang sama dengan kebaya mereka.
Setelah dari sana mereka menuju ke kafe yang terletak di lantai satu. Setelah memesan makanan ringan dan minuman mereka kembali berbincang-bincang.
" Jadi, apa yang mau Mama omongin sama Hana?"
" Ini tentang kamu dengan Revan."
Mendengar itu membuat Hana menjadi tegang. Apakah Mama sudah tahu perihal lamaran Revan kemarin malam?. Bagaimana kalau sampai Mama tidak setuju dengan niat baik Revan. Fikiran-fikiran itu memenuhi otak Hana sekarang.
" Apa itu, Ma?"
Mama terdiam sejenak sambil memandang Hana
" Apa benar Revan telah melamar kamu kemarin malam?"
Benar dugaan Hana, Mama telah tahu. Tapi mengapa ekspresi Mama tidak bisa Hana baca. Melihat hal itu membuat Hana semakin tegang. Dengan terpaksa Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu Hana menundukkan kepalanya karena takut dengan jawaban Mama.
Tapi dugaan Hana salah. Mama malah memeluk Hana dengan erat sambil berucap syukur.
__ADS_1
" Alhamdulillah sayang, Mama sudah lama menantikan ini. Sebenarnya Mama mengatahuinya bukan dari Revan tapi dari rekan bisnisnya Papa. Revan sampai sekarang belum datang-datang juga ke rumah untuk memberitahukan kabar ini. Tapi tidak apa-apa yang penting lamarannya akhirnya di terima sayang."
" Mama nggak marah kalau Hana sama Mas Revan?" Tanyanya hati-hati
Mendengar hal itu membuat Mama tersenyum. Mama mengambil tangan Hana dan menggenggamnya.
" Kenapa Mama harus marah sayang hmm?. Sebenarnya Mama itu sudah lama berharap kalau kamu sama Revan. Setelah mendengar kabar itu, Mama sangat bahagia karena apa yang Mama harapkan akhirnya kesampean juga. Mama sangat yakin kalau kamu yang terbaik untuk mendampingi anak Mama sayang."
Mendengar hal itu membuat mata Hana berkaca-kaca. Mama bisa menerima Hana dengan segala kekurangannya dan masa lalunya.
Hana membalas genggaman tangan Mama Ajeng.
" Makasih, Ma sudah mau menerima Hana."
" Iya, sayang."
^^^^^^^^^^^^^^^^_^^^^^^^^^^^^^^^^
Hana sampai di rumah pada pukul 07 malam. Ia berjalan masuk dan mendapati semua orang sedang berada di meja makan.
" Kamu sudah pulang, Nak?" Tanya Ibu
" Iya, Bu."
" Unda dari mana? kok baru pulang?"
" Bunda tadi habis temenin Nenek Ajeng ke mall sayang."
" Iya, sayang."
" Ya sudah, sekarang mending nak Hana bersih-bersih lalu makan malam."
Hana menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu Hana ke atas yah, Bu."
" Iya, Nak."
15 menit kemudian barulah Hana selesai bersih-bersih. Saat sampai di meja makan Hana sudah tidak mendapati mereka di meja makan. Sedangkan Ana, ia sedang mencuci piring di dapur.
Hana menarik kursi dan memulai makan malamnya sendirian. Setelah selesai makan, Hana menuju ruang keluarga dan bercengkerama dengan Ibu dan Jihan.
Lama mereka berada di sana namun karena waktu menunjukkan pukul 22.00 akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar Hana duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang sambil mengusap-usap kepala anaknya. Hana teringat tentang pembicaraannya dengan Revan kemarin malam. Ia ingin memastikannya.
" Mmm, Jihan sayang."
Jihan yang kepalanya dielus-elus langsung mendongak menatap Bundanya.
" Ada apa, Unda?"
__ADS_1
" Jihan sayang enggak sama om Revan?"
Jihan menganggukkan kepalanya
" Sayang banget, Unda. Jihan sayang sama om Revan karena om Revan baik banget sama Jihan terus sering beliin apa yang Jihan mau."
" Kalau misalnya Bunda menikah sama om Revan, kira-kira Jihan setuju enggak?"
Jihan menganggukkan kepalanya antusias
" Jihan mau, Unda."
"Tapi kalau Bunda menikah sama om Revan, berarti nanti om Revan bakalan jadi ayahnya Jihan dong, Unda."
" Iya, sayang. Om Revan bakalan jadi ayahnya Jihan."
Jihan terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
" Terus bagaimana dengan Ayah, Bunda? kalau nanti om Revan akan menjadi ayahnya Jihan berarti Ayah bukan lagi Ayahnya Jihan dong."
Hana menarik nafas panjang dan berfikir mencari jawaban yang tepat.
" Walaupun Bunda sama om Revan nantinya menikah, Ayah Arlan tidak akan tergantikan sayang. Dia akan tetap menjadi Ayahnya Jihan, selamanya."
" Selamanya, Unda?"
" Iya, sayang. Selamanya."
" Kalau begitu Jihan mau, Unda."
Hana yang mendengarnya merasa lega karena sudah mendapatkan restu dari anaknya. Hana mengelus pipi anaknya dan mencium keningnya lama.
Setelah itu ia berbaring di samping anaknya dan mereka kembali berbincang-bincang sambil bercanda hingga akhirnya mereka kelelahan dan terlelap sambil berpelukan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Keesokan harinya adalah waktu weekend. Hana lebih memilih tinggal di rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarganya. Tiba-tiba terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.
Ana berjalan menuju pintu dan membukanya. Tidak lama kemudian Ana masuk dengan Revan di belakangnya. Jihan yang melihat om Revan datang langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
Tiba-tiba Jihan memikirkan percakapannya semalam dengan Bundanya. Ia memiliki ide cemerlang. Jihan ingin menguji dulu calon ayahnya apakah dia bisa lolos seleksi dan menjadi ayah sambungnya.
Memikirkan itu membuat Jihan tersenyum miring. Proses seleksi akan dimulai, batinnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys
Jangan lupa tinggalkan jejak yah kk. Jangan lupa juga votenya, karena vote itu gratis. Supaya author lebih semangat nulisnya, ok.
Salam story from By_me...
__ADS_1