Hati yang Patah

Hati yang Patah
Mengungkap Rahasia


__ADS_3

🍃(9 tahun yang lalu)🍃


Hana berlari menyusuri koridor kampusnya karena ia ada kelas pada pukul 08 pagi, sedangkan sekarang sudah pukul 07.58. Mana dosen yang mengisi kelas pagi ini adalah dosen killer. Terlambat semenit saja tidak akan diberi toleransi. Sebenarnya mahasiswa sudah pada libur namun pak Bambang mengisi waktu libur mahasiswa dengan memberi kelas yang sempat tertinggal.


Banyak mahasiswa yang protes karena waktu libur mereka harus terganggu. Namun aksi protes mereka itu hanya sampai sebatas chat grup. Mereka tidak mau cari mati dengan membantah perintah dosen killer mereka. Alhasil, mereka hanya bisa pasrah dan harus kembali ke kampus untuk mendapatkan materi dari dosen killer mereka.


Hana berlari sambil membawa bukunya dengan tergesa-gesa sampai tidak memperdulikan orang-orang yang ada di depannya. Tiba-tiba Hana menyenggol pundak seorang lelaki dan membuat lelaki itu berpindah posisi. Hana yang terburu-buru, akhirnya hanya meminta maaf tanpa memandang lelaki yang sudah di senggolnya tadi secara tidak sengaja. Setelah itu Hana kembali melanjutkan langkahnya berlari menuju lantai 2.


Lelaki itu yang melihat Hana pagi itu tak mempermasalahkan kesalahan Hana namun seringai ia tampakkan di wajahnya. Lelaki itu adalah Raga Bramana, mahasiswa jurusan manajemen bisnis yang seangkatan dengannya hanya saja beda jurusan. Raga satu jurusan dengan Arlan yang mana saat itu Arlan menjabat sebagai presiden mahasiswa.


Raga memiliki sifat dingin dan tidak banyak bicara namun banyak rumor mengatakan bahwa ia sering bergonta ganti pasangan dan sering keluar masuk club malam untuk sekedar meminum minuman keras dan melakukan one night stand.


Raga sudah lama tertarik dengan Hana. yang menarik perhatiannya karena Hana termasuk gadis cantik di kampus itu dan ia juga gadis yang sangat pintar dan periang. Sehingga membuat Raga sangat penasaran padanya. Namun Hana tak pernah menghiraukan Raga dan lelaki lain yang dengan terang-terangan menyukainya.


Raga bertekad akan menaklukkan Hana, bagaimanapun caranya. Mungkin sedikit bermain-main dengan Hana akan seru, pikirnya.


Pukul 12.00 kelas pun selesai. Semua mahasiswa keluar dari ruangan satu per satu. Kalista sahabat Hana yang satu jurusan dengannya pun celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya yang tadi tak diberi izin masuk oleh dosen kiler itu karena terlambat dua menit. Kalista mencari Hana ke kantin, namun tak ada tanda-tanda sahabatnya itu ada di sana. Selanjutnya Kalista mencari sahabatnya di taman dan benar saja, Hana duduk di atas bangku di bawah pohon sambil bertopang dagu menatap ke depan.


"Woyy..." Kalista berteriak di telinga Hana dan membuat Hana yang sedang melamun itu terkaget.


"Ya ampun, Lista. Lo mau buat gue jantungan apa!"


"Maaf, maaf. Lo sih, siang-siang gini malah asyik ngelamun. Mau lo kerasukan hantu penunggu pohon."


"Gue enggak takut. Malahan hantunya yang takut sama gue." Ucapnya sombong.


"Ye, jangan sampe lo kerasukan beneran. Gue mah enggak mau bantuin yah. Gue ngeri kalau ada yang kerasukan gitu."


"Ngelantur aja lo."


"Dicariin tuh sama pak Bambang." Pak Bambang adalah dosen killer yang tadi mengisi kelas. Penampilannya yang ditumbuhi kumis lebat dan badan besar semakin membuat para mahasiswa takut.


"Jangan bohong lo!"


"Heheheh, emang kentara yah?"


"Lo mah enggak bisa bohong sama gue. Gue tahu gerak-gerik lo kalau lagi bohong.


Bagaimana Hana tidak tahu kalau saat tadi Kalista berbicara ia menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal dan matanya berkedip-kedip. Dalam ilmu psikologi orang bisa ketahuan sedang berbohong apabila ia melakukan hal seperti tadi.


Kalista terkekeh karena sudah ketahuan bohong.


"Btw, lo mau enggak besok datang ke acara tahun baru yang di adakan oleh anak-anak BEM. Acaranya di ketuain sama si ganteng loh!"


"Siapa?" Tanyanya karena memang ia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya.


"Si presiden mahasiswa, Han, Arlan Yazid Fariz.

__ADS_1


"Oh, dia!" Ucap Hana sambil menganggukkan kepalanya. Hampir semua orang mengetahui tentang Arlan di Kampus, begitupun dengannya. Lelaki tampan, berprestasi dan menjabat sebagai president mahasiswa di kampus mereka.


"Gimana, lo mau apa enggak?" Ucap Kalista memastikan.


Hana tampak berfikir sejenak sebelum kembali berbicara.


"Ok, gue mau."


"Kalau begitu deal yah. Lo bakalan ikut. Tapi besok lo harus nginap di rumah gue, sepulang dari acara.


Hana menjawab dengan anggukan kepala.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Keesokan harinya di kos-kosan Hana, ia bersiap-siap untuk menuju ke acara tahun baru di kampusnya. Kalista sudah menghubunginya dari tadi menanyakan keberadaannya. Katanya kalista akan menunggunya di depan kampus dan mereka akan bersama-sama masuk. Hana dengan terburu-buru langsung mengambil tas kecilnya dan berlalu dari sana.


Hana berjalan menuju kampusnya karena kos-kosannya tidak terlalu jauh dari sana. Ia hanya berjalan kaki selama 5 menit dan ia akan sampai. Benar saja di depan gerbang sudah ada Kalista yang berdiri dan sesekali melirik kearah jam tangannya menunggu sahabatnya. Hana pun menghampiri Kalista.


"Aku lama yah?"


"Heem. Udah 20 menit gue nungguin lo. Udah jamuran gue disini."


Hana dibuat tertawa oleh jawaban sahabatnya.


"Maafin yah. Tadi sampai di kosan gue tidur bentar, soalnya capek banget. Udah, yuk kita ke dalam."


"Ayo."


Dan di ujung taman berdiri beberapa stand makanan dan minuman yang dijajakan oleh beberapa anak UKM kampus


Hana dan Kalista duduk di atas bangku taman memperhatikan beberapa panitia yang sedang berada di atas panggung. Mereka asyik bergibah dan membahas hal-hal yang unfaedah dan sesekali memperhatikan beberapa teman wanitanya yang dengan terang-terangan menampakkan ketertarikannya kepada presiden mahasiswa mereka yang tampan.


Acara pembukaan pun dimulai. Semua mahasiswa memberi tepuk tangan saat presiden mahasiswa melakukan sambutan-sambutan di atas panggung. Pesona seorang Arlan membuat semua wanita hanya fokus menatapnya, tak terkecuali Hana yang juga memang menyimpan kekaguman akan sosok Arlan yang sopan dan humble.


Saat sambutan dari presiden mahasiswa selesai, dilanjut dengan penampilan dari beberapa UKM dan acara hiburan dari beberapa mahasiswa. Ada yang bernyanyi, menari dan ada juga yang melakukan standup comedy.


Saat malam semakin larut, para mahasiswa dikumpulkan di tengah lapangan dan duduk membentuk bundaran dengan api unggun yang menyala di tengah-tengah. Mereka semua sangat menikmati malam dengan api unggun dan bunyi gitar serta para mahasiswa yang ikut bernyanyi mengikuti petikan gitar. Benar kata orang, masa muda adalah masa yang paling mengasyikkan.


Mereka bernyanyi dan saling bercanda sambil menunggu waktu pergantian tahun dan pertunjukan kembang api yang akan menghiasi langit gelap di malam pergantian tahun.


Hana kebelet ingin buang air kecil namun ia tak menemukan keberadaan sahabatnya yang entah kemana perginya tadi. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Hana berdiri dan berjalan menuju toilet umum di dekat auditorium.


Setelah selesai dengan urusannya, Hana pun berjalan kembali menuju kerumunan orang. Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dan menariknya menuju ke sebuah ruangan kosong tempat panitia. Sialnya, tak ada satu pun orang yang ada di ruangan itu.


Hana berusaha memberontak dan melepaskan diri dari orang yang menariknya, namun sia-sia tenaganya tidak cukup untuk melawan.


Hana di hempaskan ke lantai oleh lelaki tadi. Hana meringis kesakitan di daerah bokongnya yang mendarat dengan keras dilantai. Hana mengangkat pandangannya kearah lelaki tadi, seketika ia membelalakkan matanya tak percaya, lelaki yang membawanya ke sini adalah Raga, lelaki playboy dan beberapa rumor jelek tentangnya.

__ADS_1


Hana sangat takut tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan ketakutannya agar ia bisa selamat.


"Maksudmu apa melakukan ini? Aku mau kembali." Hana bangkit dan berjalan ingin secepatnya keluar dari sana.


Namun lengannya dicekal oleh Raga saat ia mau melewatinya.


"Mau kemana kamu?"


"Aku harus kembali. Aku dicari sama Kalista. Lepaskan."


Raga menampilkan seringai liciknya yang membuat Hana semakin ketakutan.


"Ayo kita bermain-main sebentar, Hana." Bisiknya di dekat telinga Hana.


Deg... Jantung Hana berdetak dua kali lipat jangan sampai apa yang ditakutkannya terjadi.


"Lepaskan, br****k." Teriak Hana di depan wajah Raga.


Raga tak memperdulikan teriakan Hana dan beralih memegang rahang Hana keras.


"Diam atau aku enggak akan segan-segan nyakitin kamu."


"Aku enggak perduli. Lepasin!" Hana berteriak dengan keras dan tak memperdulikan ancaman Raga.


Raga yang tak di dengar akhirnya melakukan hal yang diluar batas. Raga menarik Hana dan memeluknya mencoba untuk mencium namun Hana memberontak dan menginjak kaki Raga keras. Pelukannya pun terlepas. Raga meringis kesakitan karena injakan di kakinya. Hana menggunakan kesempatan yang ada dengan berusaha kabur. Namun kesempatan itu sia-sia karena Raga kembali berhasil mengejarnya dan memeluk pingganya.


Hana berusaha melepaskan diri dan berteriak minta tolong dengan suara yang keras. Raga membalikkan tubuh Hana dan melayangkan tamparan diwajah putih Hana dengan keras. Karena tamparan itu, Hana jatuh tersungkur kelantai dengan darah segar yang mengalir diujung bibirnya.


Raga terlihat seperti monster saat ini. Hana sudah tidak punya kekuatan ditambah dengan rasa sakit bekas tamparan tadi.


Raga berjalan mendekati Hana dengan langkah pelan, seakan ia memberi Hana waktu untuk meratapi nasibnya. Hana memundurkan dirinya kebelakang dengan posisi masih terduduk di lantai.


Hana sangat ketakutan dan air matanya pun mengalir dengan deras. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia berteriak minta tolong berharap ada yang mendengarnya. Hana tersentak karena ia sudah berada di tembok, tidak ada lagi jalan untuknya lepas.


Raga sudah berada di depannya dan langsung memegang kedua tangan Hana mengangkatnya keatas dan menghimpit Hana ke tembok. Ia berusaha mencium Hana namun Hana menggelengkan kepalanya menghindari ciuman Raga. Karena tak berhasil Raga sangat marah dan langsung merobek baju Hana dengan kasar.


"Jangan...Tolong...tolong...Tolong" Hana berteriak histeris dan air mata semakin deras membasahi pipinya yang memerah bekas tamparan di wajah putihnya.


Raga mencoba menarik hijab panjang Hana namun hijab itu tak sampai terlepas karena Raga sudah tersungkur ke samping.


Penyelamat akhirnya datang. Hana tak bisa melihat siapa lelaki itu dengan jelas karena air matanya. Lelaki itu naik ke atas tubuh Raga dan memberi pukulan bertubi-tubi di wajah Raga dengan beringas dan tanpa ampun.


"B******n. Mati aja lo b*****k. Gue dengan senang hati kirim lo ke neraka b******n " Umpat lelaki itu yang masih menghujani Raga dengan pukulannya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading, yuhuuu. Udah pada ngerti kan mengapa Hana sangat takut dan membenci Raga, akhirnya rahasianya terungkap. Btw, Kalau banyak vote nya author akan cepat up besok, ok. Jangan pelit-pelit ngevote.

__ADS_1


Like dan komen yang membangun juga kk. Jangan memberi komen yang membuat author menjadi down dengan komen komen negatif. Hargai karya author, karena nulis tuh enggak gampang kk. Kalau tokohnya yang dikomen jelek enggak apa-apa karena itu memang ungkapan kalian mengenai tokoh tsb. Tapi komen jelek mengenai karya author, kalau bisa jangan yah, kk. Nanti authornya jadi down.


Salam story from By_me


__ADS_2