Hati yang Patah

Hati yang Patah
Pak Wiratama dan Nyonya Faradilla


__ADS_3

Kini Hana, Revan dan keluarganya sedang berada di rumah duka. Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Ada beberapa tetangga almarhum Ibu Suri yang menyajikan minuman hangat untuk mereka. Mereka berbincang-bincang dengan tetangga almarhum menanyakan perihal kematian beliau.


Tetangga almarhum pun menceritakan semua yang terjadi pada Revan dan keluarga. Tetangga samping rumah almarhum yang menemukan beliau yang sudah lemah itu diatas tempat tidur. Tetangga almarhum bernama ibu Inggi, ia sebenarnya hanya sekedar mengecek saja karena sudah seharian Ibu Suri tidak kelihatan batang hidungnya. Padahal setiap pagi pasti beliau sudah ke kebun dan sorenya sudah pulang. Tapi hari itu, Ibu Inggi tidak melihat keberadaan tetangganya.


Yang ia takutkan jangan sampai Ibu Suri kenapa-napa sedangkan beliau itu hanya tinggal sendiri. Akhirnya ia pun memberanikan diri menghampiri rumah Ibu Suri kala itu dan benar saja apa yang ia takutkan, Ibu Suri sudah terbaring lemah di atas tempat tidur. Ibu Inggi awalnya ingin membawa beliau ke Puskesmas terdekat, namun beliau menolak tidak ingin di bawa ke Puskesmas.


Dengan berat hati Ibu Inggi mengikuti keinginan beliau hingga beliau tidak kuat lagi. Ibu Inggi dengan air mata yang berlinang menuntun beliau untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menuntunnya beberapa kali, beliau menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.


Semua orang yang ada di sana menangis mendengarnya. Tak terkecuali Arlan yang sudah dari tadi berada di balik pintu masuk mendengarkannya dengan linangan air mata.


Biarlah Arlan menangis dengan penyesalannya telah menyia-nyiakan tanggung jawabnya kepada Ibu nya. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Tak ada lagi gunanya kata seandainya. Semuanya sudah berakhir, semua sudah pergi meninggalkannya karena keserakahannya dahulu.


Ia terisak tanpa mengeluarkan suara di balik pintu. Tiba-tiba dari arah depan datanglah Pak Wiratama dengan Nyonya Faradilla berjalan masuk dan melewati Arlan begitu saja yang berada di depan.


Pak Wiratama dan istri menyalami semua orang satu per satu. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Pak Wiratama meminta izin kepada semua orang untuk berbicara secara private dengan Revan dan Hana. Hana pun membawa Pak Wiratama dan istri menuju kearah ruang keluarga yang terletak di bagian dalam dekat dengan dapur.


Mereka berempat duduk saling berhadap-hadapan di depan Tv. Revan dan Hana sangat penasaran, kira-kira apa yang akan Pak Wiratama beritahukan padanya.


"Jadi maksud kami ke sini karena ingin memberitahukan sebuah cerita kepada kalian. Kami harap kalian bisa mendengarkan sampai akhir dan nantinya kalian boleh menyimpulkan maksud kami."


Revan dan Hana sejenak saling pandang karena bingung dengan Pak Wiratama yang tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.


"Baiklah, kami akan mendengarkan sampai habis." Jawab Revan setelah pandangannya dengan istrinya terputus.

__ADS_1


Sebelum bercerita terlihat pak Wiratama menghela nafas panjang dan menggengam tangan istrinya erat.


"Jadi, sejak 28 tahun yang lalu anak pertama kami di bawa kabur oleh seorang baby sitter yang ternyata adalah istri dari mantan karyawan kami yang dulunya melakukan korupsi besar pada perusahaan kami. Karyawan itu kami pecat dan akhirnya ia mendekam di penjara, sampai pada akhirnya meninggal di dalam penjara karena mengalami serangan jantung secara tiba-tiba. Setelah kejadian itu, si istri ternyata menyimpan dendam kepada kami dan menyalahkan kasus kematian suaminya pada kami. Wanita tadi melakukan perencanaan balas dendam dengan menjadi baby sitter di rumah kami."


Revan dan Hana menurut apa kata pak Wiratama tadi dengan mendengarkan ceritanya dengan sekasama sampai habis barulah mereka menyimpulkan.


"Selama beberapa minggu wanita itu menjadi baby sitter dan kami tidak menaruh curiga apapun pada wanita yang menjaga anak kami, karena kami melihat dia sepertinya sopan dan sangat sayang pada anak kami. Hingga pada akhirnya kami kecolongan, dan wanita tadi membawa kabur anak kami saat kami sedang sibuk di kantor. Dengan jaringan yang ada, kami menyuruh beberapa orang suruhan untuk melacak keberadaan wanita itu yang telah membawa kabur anak kami. Beberapa jam kemudian orang suruhan kami itu berhasil menemukan wanita tadi, tetapi sudah tidak ada lagi anak kami bersamanya."


Pak Wiratama menarik nafas sejenak. Terlihat bu Faradilla menundukkan kepalanya mendengar cerita suaminya.


"Wanita tadi tidak ingin memberitahukan keberadaan anak kami. Ia lebih memilih mati daripada memberitahukannya. Dan ya, tidak ada pilihan lain selain mengabulkan keinginan wanita itu, namun bukan dengan membunuhnya tapi dengan memasukkannya ke dalam penjara bawah tanah."


Hana yang mendengarnya seketika bergidik ngeri membayangkan penjara bawah tanah yang pastinya sangat sepi dan sangat gelap.


"Selama lebih dari dua puluh tahun kami mencari keberadaan anak kami. Hingga akhirnya kami pun menemukan titik terang. Ternyata selama ini anak kami dititipkan di depan rumah pasangan yang tidak mempunyai anak. Kami mengetahui semua informasi itu dari orang suruhan kami. Fakta kedua yang kami ketahui juga adalah ternyata anak kami itu sudah menikah dan sangat dekat dengan mertuanya. Kami pun mendatangi rumah mertua anak kami, namun saat sampai di sana kami sudah tidak lagi menemukan keberadaannya."


Pak Wiratama bernafas lega karena telah menceritakan semuanya pada dua orang di depannya. Pak Wiratama dan istrinya saling pandang dan tersenyum. Sedetik kemudian, mereka sama-sama menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kami merasa lega karena sudah menceritakannya kepada kalian. Orang yang selama ini kami cari itu ada di depan kami. Kami harap orang itu akan menerima dan memaafkan kami."


Entah mengapa air mata Hana tiba-tiba menetes. Ia sudah bisa menangkap apa yang pak Wiratama katakan. Namun ia harus memperjelasnya dulu.


"Kami berharap orang yang dimaksud ini mau memafkan kami yang sudah sangat terlambat datangnya." Mata pak Wiratama dan istrinya sudah berkaca-kaca menatap Hana yang juga sama seperti mereka.

__ADS_1


"Jadi... Maukah kamu memaafkan kami, nak?" Tanya pak Wiratama tepat menatap kedua mata Hana. Air matanya menetes memohon maaf pada anaknya.


"Apa yang aku fikirkan ini tidak salah, kan?" Tanyanya memastikan menatap kedua manusia paruh baya di depannya. Air matanya ikut mengalir menunggu jawaban dari kedua orang di depannya.


Keduanya serentak menganggukkan kepalanya. Air mata bu Faradilla sudah lolos dari sana. Ia sangat ingin segera memeluk anaknya yang sudah sangat ia rindukan ini.


"Kami ini orang tua kandung kamu, nak. Maafkan kami." Ucap bu Faradilla menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan air mata yang sudah mengalir.


Hana memegang tangan Ibu kandungnya dan menurunkanya.


"Ibu! Ayah!" Ucapnya dengan suara yang bergetar.


"Iya, nak. Kami ini orang tua mu."


Mendengar jawaban itu, secepat kilat Hana sudah berhambur memeluk kedua orang tuanya. Mereka bertiga berpelukan dengan penuh haru. Air mata bahagia tampak di sana. Rasa haru bahagia memenuhi hatinya saat ini.


Revan menghapus air mata yang juga ikut lolos menyaksikan istrinya akhirnya bertemu dengan orang tua kandungnya.


Berkali-kali Pak Wiratama dan istrinya bergantian menciumi pipi anaknya yang akhirnya bisa mereka peluk dan sayang.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


**akhirnya terjawab sudah semuanya, ya, kan kk readers. Huftt, sebentar lagi ceritanya bakalan tamat. Mana nih votenya, like dan komen juga😊😉.

__ADS_1


Jangan pelit-pelit yak😉😉, kita kan prend.


Salam story from By_me**....


__ADS_2