Hati yang Patah

Hati yang Patah
Dava dan Devan yang Aktif


__ADS_3

Tak terasa kini kedua anak kembar Hana dan Revan usia nya telah menginjak dua setengah tahun. Kedua anaknya itu dalam masa perkembangan dan sedang aktif-aktifnya mengeksplor hal-hal yang baru. Kedua anak mereka sangat aktif dan lincah berjalan ke sana ke mari. Kadang membuat Hana kualahan dalam menjaga dua buah hatinya itu.


Dava dan Devan kini sudah mampu mengucapkan beberapa kata. Walaupun masih belum jelas, namun Hana dan Revan sebagai orang tua mampu mengerti maksud yang mereka ucapkan.


Sedangkan Jihan, anak gadisnya itu sekarang tumbuh menjadi gadis yang pintar dengan selalu mendapatkan peringkat satu di kelasnya. Kecerdasan dari Bunda nya kini menurun kepadanya. Dia tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan periang. Ya, kecerdasan seorang anak biasanya menurun dari Ibu nya. Sedangkan kalau masalah sifat, biasanya menurun dari Ayahnya. Walaupun tidak semuanya seperti itu namun rata-rata seorang anak akan mendapatkan hal plus itu dari kedua orang tua mereka.


Saat ini Hana sedang berada di dapur dan berkutat dengan peralatan dapur yaitu mixer. Hari yang terik membuat Hana berniat membuatkan anak-anaknya sebuah ice cream. Hana mencampurkan beberapa bahan-bahannya ke dalam wadah dan mengaduknya sampai mengembang. Setelah semua bahan telah tercampur rata, Hana pun memasukkan ice cream buatannya ke dalam wadah kecil.


Di tengah kegiatannya memasukkan es cream tadi, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan anaknya dari arah luar. Hana pun menghentikan aktivitasnya dan berjalan keluar menuju sumber suara. Tepat saat di ruang tamu, Jihan menghampirinya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


"Adek kenapa, sayang?" Tanya Hana penasaran pada anaknya yang kini menampilkan ekspresi khawatirnya.


"Adek Devan jatuh, Bunda. Kayaknya kaki nya terkilir, karena dari tadi adek megang kaki nya terus, nda."


Seketika Hana dibuat semakin cemas mendengar penjelasan anaknya. Hana pun segera berjalan menghampiri anak kembarnya di halaman depan diikuti oleh Jihan di belakangnya.


Dari jauh terlihat Devan terduduk di tanah berlinang air mata dengan tangan memegang kaki kiri nya.Sedangkan Dava, ia berada di samping adiknya dan terlihat mengelus-elus kaki adiknya sambil ia tiupi berharap dengan begitu sakit yang adiknya rasakan bisa berkurang.


"Unda!" Ucap Devan semakin menangis saat melihat Bundanya dengan raut wajah cemas menghampirinya.


"Yang mana yang sakit, sayang?" Tanya Hana dengan raut wajah cemas memeriksa tubuh anaknya jangan sampai ada yang terluka.


"ang ni, Nda!" Tunjuknya pada pergelangan kaki nya dengan air mata yang mengalir disertai dengan cairan bening keluar dari hidungnya.


Hana segera mengangkat tubuh Devan ke pangkuannya dan memeriksa kaki kiri anaknya dengan pelan takut nanti semakin menyakiti anaknya.


Hana mencoba menekuk-nekuk pergelangan kaki anaknya dengan pelan untuk mengetahui respon anaknya saat hal itu ia lakukan. Apakah benar kaki anaknya itu benar-benar keseleo. Namun saat hal itu ia lakukan anaknya itu tidak merespon dengan meringis kesakitan, namun sebaliknya Devan kini berhenti menangis diperlakukan seperti itu oleh Bundanya.


Saat Hana mencoba mengecek kembali kaki anaknya, ia menemukan sebuah bekas goresan di bagian bawah pergelangan kaki anaknya. Rupanya anaknya itu bukan keseleo, namun tergores saat tadi ia terjatuh.


"Bunda obatin bekas luka nya dulu ya, sayang." Ujar Hana pada anaknya dan dibalas anggukan pelan oleh Devan.

__ADS_1


Hana pun berdiri sambil menggendong Devan.


"Yaudah, sekarang kita masuk yah!" Ucap Hana sambil menatap Jihan dan Dava.


"Iya, Bunda."


"Ia, Nda." Ucap kedua anaknya itu bersamaan.


Hana pun berjalan memasuki rumah sambil menggendong Devan diikuti dengan kedua anaknya itu dari belakang.


Lagi-lagi Dava berlari mendahuluinya diikuti oleh Jihan yang terlihat berusaha mengejar adiknya guna menghentikannya.


"Jangan lari, sayang! Nanti jatuh, kayak adek Devan!" Mendengar ucapan Bunda nya membuat Dava seketika menghentikan aksi lari-lari nya dan berjalan pelan di gandeng oleh kakaknya.


Hana hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi keaktifan dua anaknya ini. Ia harus ekstra sabar menghadapi anak kembarnya.


Saat sudah sampai di ruang tamu, Hana segera mengambil kotak P3K nya dan mulai membersihkan luka goresan di kaki anaknya.


"Cakit, Nda!" Ringis Devan dengan suara cadelnya saat Bunda nya sedang mengobati luka nya.


Jihan dan Dava ikut meringis melihat adiknya itu kesakitan.


Setelah Devan sudah tidak terlalu rewel, Hana kini beralih menatap Jihan dan Dava secara bergantian. Ingin meminta penjelasan.


Jihan dan Dava yang ditatap oleh Bunda nya hanya bisa saling pandang.


"Sekarang Bunda mau nanya, kenapa adek bisa sampai jatuh, sayang?" Tanya Hana pada Jihan.


"Sebenarnya, adek Devan tadi main kejar-kejaran sama adek Dava, Bunda. Jihan udah negur beberapa kali, tapi adek aja yang nggak mau dengar dan akhirnya kaki nya kesandung batu dan jatuh, deh, Bun."


Hana pun menatap kedua anak kembarnya bergantian, namun Dava dan Devan seketika menampakkan wajah memelasnya. Mereka sudah tahu setelah ini pasti merekalah yang akan diomelin oleh Bunda nya.

__ADS_1


"Cakit, Nda!" Ucap Devan dengan memasang puppy eyes nya. Devan sengaja mengalihkan perhatian Bunda nya agar tidak memarahi nya.


Hana hanya bisa menarik nafas panjang. Melihat raut wajah memelas anaknya, ia pun jadi tidak tega untuk memarahinya.


"Yaudah, kali ini kalian Bunda maafin." Ujarnya menatap kedua anak kembarnya. Seketika Devan dan Dava tersenyum menanggapi karena tidak jadi dimarahi oleh Bundanya."Tapi kalian harus janji, hal yang kayak gini jangan diulangi lagi!"


Kedua anaknya itu seketika langsung manggut-manggut mengerti.


Hana pun memperbaiki tatanan kedua rambut anaknya yang acak-acakan dengan keringat di sekitar pelipisnya.


"Yang Bunda takutin kalau kalian enggak bisa diatur itu ya kayak gini, sayang. Kalian bakalan kenapa-napa dan terluka. Dan Bunda paling nggak sanggup lihat kalau kalian kayak gini." Kedua anaknya itu mendengarkan dengan seksama penjelasana Bundanya.


"Adek Dava sama Devan sayang enggak sama, Bunda?" Tanyanya memegang wajah kedua anaknya.


Dava dan Devan menganguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Bundanya barusan, "Cayang, Nda!" Jawab keduanya bersamaan.


Hana tersenyum melihat kedua putranya."Kalau sayang, adek Dava dan Devan harus denger kata Bunda, Kata Ayah dan kata kakak Jihan, ya!"


"Ia, Nda. Ava janji bacalan nulut!" Jawab Dava atas ucapan Bundanya.


"Evan juja bacalan nulut, Nda. Janji!" Ucapnya menampilkan kedua jarinya ke depan. Sontak Dava juga mengikuti apa yang adiknya itu lakukan.


Hana menampakkan senyumnya melihat kedua anaknya yang bisa mengerti dan menurut akan ucapannya.


Hana sangat bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan Yang Maha Esa atas kehadiran anak-anak yang dapat menjadi pengobat segala keletihannya. Seorang anak gadis dan dua jagoan kecil yang kelak nanti akan menjaga kakaknya. Kebahagiaan ini rasanya sangat lengkap.


🍁🍁🍁


Happy reading kakak"ku 😚😚


Sisa satu eps lagi cerita Farhana Almeera bakalan tamatπŸ˜₯. Berbulan-bulan aku nulis buat karya pertama aku ini, dan ternyata hasilnya di luar dari dugaan aku. Banyak pembaca yang suka sama cerita fiksi aku ini😊, walaupun aku kadang enggak up berhari-hari, berminggu-minggu bahkan ampe sebulan lebihπŸ˜„ tp kakak masih setia nungguin lanjutannya. Oleh karena itu aku usahain buat namatin novel ini agar kakak" enggak lagi dibuat penasaran, ya kanπŸ˜ƒ

__ADS_1


Yaudah segitu aj dl. Aku mau lanjut nulia yg satu lg. Bye byeπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Salam story from By_me


__ADS_2