
Vano terpana melihat kelembutan dan sikap Ana. Senyuman tipis ia ukir di wajahnya menatap pemandangan di depannya. Gadis manis dengan sikap penuh kelembutan. Sangat cocok untuk menjadi... ah, Vano menggelengkan kepalanya akan fikiran ngayalnya.
Vano terus menatap setiap gerak-gerik gadis manis berhijab putih di depannya. Banyak sekali pertanyaan di otaknya tentang gadis itu dan juga bagaimana bisa kakaknya mengenal gadis itu. Karena kelihatan tadi, kakanya sangat akrab dengan gadis itu.
"Ekheeemm." Vano tersadar dari fokusnya saat mendengar suara deheman gadis itu. Vano gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Salah tingkah karena telah ketahuan.
Benar sekali, Ana berdehem bermaksud agar lelaki di depannya ini tidak terlalu memandangnya sampai-sampai membuatnya menjadi salah tingkah. Malu juga dipandang oleh lelaki itu dari tadi.
Cukup lama mereka berdua di sana. Tak saling berbicara, canggung satu sama lain. Hana dan yang lainnya entah kemana sekarang. Hingga para tamu dan anak-anak panti asuhan ingin pulang, barulah kakak, dan yang lainnya datang mengantar para tamu yang akan pulang.
"Kakak dari mana saja, sih?" Bisik Vano pada kakaknya.
"Kakak sama Mama dari belakang bungkusin oleh-oleh untuk anak-anak panti tadi, makanya lama." Jawab Hana karena memang tadi ia ke belakang ingin memberi ruang untuk pendekatan kepada dua adiknya ini. Sekalian ingin menyiapkan bingkisan oleh-oleh untuk semua anak panti asuhan.
"Sini, Dava nya biar sama kakak aja. Sini sayang." Hana mengambil anaknya di gendongan adiknya.
Hana menimang-nimang anaknya yang terlihat sudah gelisah pertanda ingin diberi susu. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 22 lewat beberapa menit. Sudah lewat dari jadwal tidur anak-anaknya.
"Ma, Hana mau ke atas dulu ya. Mau nyusuin baby twins dulu."
"Iya, sayang." Jawab kedua Mama nya bersamaan.
Hana pun berjalan bersama suaminya dengan masing-masing membawa anak mereka di gendongan.
Kini tinggal Ana, Vano, Mama Ajeng dan Mama Faradilla di sana. Papa Wiratama dan Papa Surya sedang berbincang-bincang dengan keluarga yang lain di depan.
Ana yang sedang melihat mbok Nah sedang beres-beres sendirian pun berinisiatif ingin membantunya. Ana berdiri dari sana dan berjalan menghampiri mbok Nah membereskan ruangan tamu.
Mama Faradilla dan Mama Ajeng senyum-senyum melihat Ana yang sangat rajin, plus cantik, plus sopan pula. Mama Ajeng dan Mama Faradilla saling kode-kodean melirik kearah Vano yang sesekali melirik kearah Ana.
Mama Faradilla pun menyikut lengan Vano yang saat ini sedang mengunyah cemilan yang tadi Ana bawa.
"Ada apa, Ma?" Tanyanya menatap Mama nya. Namun bukannya menjawab, Mama nya ini malah memberi kode-kodean sambil menatap Ana.
"Apa?" Tanyanya tidak mengerti dengan maksud Mama nya. Vano sempat mengikuti arah pandangan Mama nya tadi yang menatap kearah Ana.
Mama mendengus kesal karena anaknya ini tidak ada peka-pekanya sama sekali akan kode yang ia berikan.
__ADS_1
"Kamu enggak kasihan liat Ana beres-beres sendirian!" Ucap Mama Faradilla dengan nada pelan pada anaknya.
oh ternyata namanya, Ana. Gumam Vano dalam hati saat mengetahui nama gadis itu. Sudah dari tadi ia ingin bertanya nama gadis itu, namun ia malu bertanya pada orangnya langsung.
"Dia enggak sendirian, Ma. Ada mbok Nah yang bantuin kok. Di belakang juga ada mbok dari rumahnya tante." Jadi tante yang dimaksud adalah Mama Ajeng. Mama Ajeng sengaja memboyong tiga asisten rumah tangganya untuk membantu di sana.
"Masa kamu tega biarin Ana beres-beres sendiri. Bantuin gih!"
"Masa vano yang bantuin, Ma. Vano enggak bisa!" Ujarnya dengan wajah memelasnya.
"Bantuin enggak!" Ancam Mama Faradilla sambil melototkan matanya kearah anaknya.
Vano menghela nafas, tak punya pilihan lain. Dengan malas Vano pun berdiri dan membantu Ana berberes.
Saat Ana ingin membawa piring-piring kotor yang telah ia kumpulkan di dalam baskom besar ke belakang, niatnya itu di tahan oleh Vano.
"Biar aku aja yang bawa. Anak gadis enggak boleh angkat yang berat-berat. Enggak baik untuk kesehatan reprosuksimu nanti." Ucap Vano yang membuat Ana mengerutkan keningnya mendengar ucapan lelaki yang belum ia kenal.
"Hubungannya kesehatan reproduksi sama angkat yang berat-berat, apa coba!" Gumam Ana di dalam hati. Namun ia tidak bertanya dan membiarkan Vano mengangkat piring kotor tadi.
Ana dan Vano bersama-sama membersihkan area ruang tamu. Sedangkan bagian belakang bagian mbok Nah dan yang lainnya.
Lagi-lagi Ana dan Vano saling diam. Mama Faradilla dan Mama Ajeng dibuat tertawa oleh tingkah keduanya yang malu-malu kucing.
"Kenapa belum tidur, Ma?" Tanya Hana pada kedua Mama nya yang masih duduk di sana padahal sudah hampir tengah malam.
"Ini, Mama lagi ngobrol-ngobrol aja sama mertua kamu."
"Memang belum ngantuk? Hana udah siapin kamar untuk Mama Farah dan Mama Ajeng. Istirahat gih, Ma! Udah hampir tengah malam juga."
"Yaudah, Mama sama mertua kamu mau istirahat dulu. Badan juga udah pegel-pegel."
"Yaudah, Mama istirahat dulu ya, sayang." Pamit Mama Ajeng pada menantunya.
Setelah kedua Mama nya sudah pergi ke kamar masing-masing, kini tinggal Hana, Ana dan Vano di sana.
Hana melirik ke arah adiknya dan juga Ana yang saling diam-diaman. Ana pun mendekati Ana dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Maafin mbak ya, sudah ngerepotin kamu."
"Enggak ngerepotin sama sekali kok, mbak. Ana malahan senang karena bisa bantu-bantu, ketemu lagi sama mbak Hana, pak Revan dan lihat dua dedek bayi yang lucu-lucu."
Hana tersenyum menanggapinya. Ia kini menatap Ana yang aura nya semakin terpancar setelah mengenakan hijab.
"Setelah pakai hijab gini, Ana makin cantik deh. Mbak seneng karena akhirnya Ana bisa memantapkan hati untuk menutup aurat."
"Ah, mbak Hana bisa aja mujinya. Alhamdulillah, mbak karena aku bisa dapat hidayah dan diberi kesempatan untuk menutup aurat. Walaupun masih belajar dan berproses memantapkan diri untuk lebih baik. Ana juga kadang masih melakukan kesalahan."
"Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, An. Dalam berproses memang kadang banyak rintangan. Tapi langkah yang kamu ambil itu sudah sangat bagus. Mbak salut sama kamu. Semoga istiqomah ya, An."
"Aamiin. Makasih, ya, mbak, doanya." Ucap Ana sambil tersenyum tulus kepada Hana. Diam-diam Vano mendengar pembicaraan kedua wanita di sampingnya ini. Walaupun sedang memainkan ponselnya, namun telinganya tetap ia pasang mendengarkan pembicaraan kakak dan gadis di sampingnya.
"Mbak mau tanya sesuatu sama kamu?"
"Mau tanya apa, mbak?"
"Kalau misalnya nih...misalnya ada lelaki yang memiliki niat baik sama kamu dan ingin serius, kira-kira kamu menerima enggak, An?"
"Kalau misalnya ada lelaki yang memiliki niat baik sama Ana...mungkin untuk sekarang Ana belum bisa menyambut niat baiknya. Ana masih punya tanggung jawab yang besar kepada keluarga, mbak. Ana masih harus nyelesaiin kuliah dan lanjut bekerja. Hanya Ana harapan satu-satunya keluarga Ana, mbak."
"Seandainya lelaki itu adalah lelaki yang mapan, bagaimana?"
Ana menggelengkan kepalanya
"Walaupun dia lelaki yang mapan, Ana tidak akan mungkin meminta sama dia untuk biaya keluarga Ana, mbak, malu. Lagian, lelaki mana yang mau sama Ana!"
"Jangan terlalu merendah, An. Jodoh enggak ada yang tahu, lo. Siapa tahu kamu nanti berjodoh sama lelaki yang mapan, sholeh dan bertanggung jawab. Iya, kan." Ucapnya sambil melirik kearah adiknya.
"Aamiin-in aja, mbak. Siapa tahu ada malaikat lewat dan doanya diijabah." Ana tertawa saat mengatakan itu. Niat hati hanya bercanda, namun tidak bagi Hana. Mulai sekarang Hana sudah memantapkan hatinya agar adik dan gadis di depannya ini dapat berjodoh. Hana dan Mama Faradilla sudah merundingkan hal ini dan berniat menjodohkan Ana dengan Vano. Mama Faradilla tidak mempermasalahkan tentang status sosial gadis pilihan anaknya ini, karena Mama yakin dengan pilihan anaknya, pastilah yang terbaik untuk adiknya nanti.
"Semoga saja, Vano dan Ana berjodoh. Aamiin!" Gumam Hana di dalam hati menatap adik dan Ana di sampingnya.
Vano hanya bisa terdiam mendengar percakapan dua wanita di sampingnya. Terutama ucapan kakaknya. Jangan bilang kalau wanita yang akan dijodohkan dengannya itu adalah Ana! Gumamnya dalam hati.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
__ADS_1
Salam story from By_me