
Setelah seharian menjaga dan menemani ketiga anaknya yang sangat aktif, kini Hana telah menyegarkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Bau segar dan harum dari wewangin yang ia gunakan, menjadi aroma terapi untuk menyegarkan tubuhnya.
Ketiga anaknya sudah terlelap sebelum ia memasuki kamarnya.
Setelah selesai menyegarkan tubuhnya, ia pun keluar dari dalam sana dengan berbalut jubah mandi dan handuk yang melilit di atas kepalanya.
Hana pun memakai piyama tidur berwarna coklat sebatas lutut dan lanjut memakai cream malamnya. Tak lupa ia juga memakai handbody lotion agar kulitnya ini tetap terjaga kelembapannya.
Hana melirik kearah jarum jam, sekarang sudah pukul 22.30 dan suaminya itu belum pulang juga. Tidak biasanya suaminya itu sampai jam segini tak kunjung pulang.
Hana pun mencoba menghubungi suaminya namun nomer handphone suaminya itu tidak dapat dihubungi. Hal itu ia lakukan berkali-kali namun tak kunjung tersambung.
Saat ia ingin berjalan menuruni tangga, suara deru mobil suaminya itu terdengar memasuki halaman rumah.
Syukurlah mas Revan sudah sampai.
Hana pun berjalan menuruni tangga untuk menyambut kedatangan suaminya. Terlihat dari raut wajahnya sangat kelelahan.
Hana menyambut dengan senyuman hangat kedatangan suaminya dan menyalami punggung tangannya.
Melihat senyuman manis istrinya, seketika lelahnya berkurang.
"Sini aku bawain." Pintanya meminta membawa tas kerja suaminya. Dengan senyum Revan memberikan tas kerjanya dan mengelus rambut panjang istrinya.
Mereka langsung naik menuju kamar. Di simpannya tas kerja suaminya itu di atas sofa dan membantu suaminya melepaskan jas dan juga dasinya.
"Mau makan atau mandi dulu, mas?"
"Aku mau mandi dulu, sayang, gerah. Badan aku lengket banget."
"Yaudah, mas Revan mandi gih. Aku mau ke bawah dulu angetin makannya." Hana pun mengambilkan handuk pada suaminya dan setelah itu ia berjalan menuju dapur untuk menghangatkan kembali makan malam untuk suaminya.
Selang 10 menit Revan terlihat berjalan dan mendekati istrinya di meja makan. Revan telah duduk manis di samping istrinya dan menunggu makanan yang disendok ke piringnya.
Hana dengan setia menemani suaminya itu makan malam. Ditengah kegiatannya itu, Hana bertanya kepada suaminya.
"Tumben, mas pulangnya malam? kerjaannya di kantor banyak, ya?"
"Iya, sayang. Aku baru aja dapat projek baru dan harus menyita waktu ku untuk beberapa hari ke depan." Hana mendengarkan dengan seksama setiap ucapan suaminya. "Dan aku harus lembur selama beberapa hari ke depan sampai semua nya beres."
Pembicaraan ringan pun berlanjut di meja makan. Tak lupa Revan menanyakan tentang kegiatan anak-anaknya hari ini. Dengan sabar Hana menceritakan semuanya pada suaminya termasuk saat tadi insiden terjatuh anak bungsu nya itu.
Bukannya kasihan, Revan malah tertawa mendengar cerita tentang anaknya dari istrinya. Kedua anaknya itu memang sangat aktif dan tidak bisa diam.
Setelah selesai makam malam, Hana pun membersihkan meja makan dan setelah itu mereka berjalan menuju kamar.
"Ah, enaknya." Ucap Revan saat badannya itu telah berada di atas kasur empuknya. Seharian bekerja dan berlama-lama duduk di kursi kebesarannya membuat punggungnya menjadi sakit.
Hana mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur di samping suaminya. Setelah itu ia ikut berbaring di samping suaminya.
Revan memeluk istrinya itu dari belakang. Selama beberapa menit tak ada pembicaraan diantara mereka. Mungkin istrinya itu sudah tertidur pikirnya.
Mencium aroma shampoo dari rambut istrinya membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Revan menarik nafas dalam karena semakin lama keinginannya itu semakin menjadi, sedangkan istrinya itu sudah terlelap.
"Huh...." Revan menghembuskan nafas panjang karena berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.
Tiba-tiba saja istrinya itu berbalik menatapnya dengan mata sayu menahan rasa kantuknya,"Mas Revan kenapa?" Tanyanya. Hana terbangun saat tadi merasakan hembusan nafas panjang dari suaminya yang mengenai belakang lehernya. Fikirnya, suaminya ini membutuhkan sesuatu.
Revan merubah posisi tidur istrinya menghadap kearahnya. "Aku lagi pengen, sayang!" Ucapnya dengan suara parau.
Hana teringat kalau pil Kb yang ia gunakan itu telah habis dan ia belum berkunjung pada Bidan langganannya untuk kembali mengonsumsinya. Hana menggunakan KB jenis pil 3 bulan sebagai alat kontrasepsinya karena jujur saja ia sangat takut dengan yang namanya jarum jenis apapun itu. Setelah kelahiran anak kembarnya, ia sempat menggunakan alat kontrasepsi jenis IUD yang di masukkan di dalam rahimnya untuk menghambat proses fertilisasi sesuai dengan anjuran dokter. Namun belum cukup setahun ia menggunakan Kontrasepsi jenis itu, suaminya sudah memintanya untuk menggantinya dengan jenis kontrasepsi lainnya.
__ADS_1
Sebenarnya banyak suami yang mengeluh saat istrinya itu menggunakan kontrasepsi jenis ini. Orang yang sudah berkeluarga pasti tahu alasannya karena apa, apalagi kalau sampai kasusnya sama kayak yang Hana alamiπ.
"Maafin, Hana, ya, mas. Tapi, boleh nggak besok aja."
"Aku maunya sekarang, sayang. Kamu tega biarin aku sakit kepala kalau nahan, hmm."
"Tapi, pil Kb aku udah habis, mas, dan aku lupa belinya."
"Ssttt, aku bakalan keluarin di luar, sayang!"
Tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan. Semoga saja suaminya ini tidak lupa dan membuatnya kembali hamil. Ia tidak bisa membayangkan apabila ia kembali harus hamil dengan kondisi anaknya yang masih sangat kecil-kecil. Walaupun anak adalah rejeki dari Tuhan, namun ia belum bisa jika harus kembali hamil di saat anaknya itu masih sangat kecil-kecil dan membutuhkan perhatian lebih dari nya. Semoga saja, suaminya itu bisa berhati-hati, pikirnya.
Hana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mendapat lampu merah dari istrinya seketika membuatnya mendapatkan hadiah dari lelahnya hari ini. Pergumulan diantara mereka pun terjadi.
Adegan di skip.
πππ
Hari weekend mereka isi dengan melakukan family time di rumah. Saat sore hari, keluarga kecil Revan menghabiskan waktu bercengkerama di halaman depan.
Revan dan Hana memperhatikan dari atas gazebo ketiga anaknya yang kini bermain di tengah halaman. Mereka tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah dari anak-anak mereka yang sangat menggemaskan.
"Yah, Nda, cini main!" Teriak Dava dan Devan bergantian berharap Ayah dan Bundanya mau ikut bermain dengan mereka.
Kedua orang tua itu pun saling pandang sambil tersenyum mendapat ajakan bermain dari anak-anak mereka.
Melihat kedua orang tuanya yang kini berjalan ke arahnya, membuat anak-anak itu bersorak kegirangan.
"Yeayy..."
Tak henti-hentinya Revan dan Hana tertawa melihat tingkah dan kenakalan dari anak-anaknya itu.
Di tengah kegiatan mereka, tiba-tiba terdengar suara klaskon mobil dari luar rumah. Hana berniat ingin membukakan pintu pagar untuk orang yang ada di depan, namun Revan menahannya dan mengatakan dia saja yang membukakan pagar untuk tamu nya itu.
"Ayah!" Teriak Jihan melihat kehadiran ayahnya yang dari kemarin ia tunggu-tunggu untuk menjemputnya namun tak kunjung datang. Dan sekarang Ayahnya ini datang ke rumahnya.
"Jihan menghampiri Ayahnya dan memeluknya. Setelah itu, Jihan juga menyalami punggung tangan Ibu tirinya yang telah besikap baik kepadanya. Tak ada lagi kepura-puraan yang ia lihat dari sikap dan perilaku Ibu tirinya itu padanya. Tak seperti saat awal-awal ia bertemu.
"Assalamualaikum, Han." Sapa Arlan pada Hana dan dibalas dengan anggukan pelan dan senyum dari Hana.
"Silahkan, masuk, pak Arlan dan Bu Indah." Ajak Revan pada kedua tamu nya ini. Namun Arlan menolak dengan halus dan meminta untuk berbicara kepada Hana dan Revan di halaman depan saja, tepatnya di gazebo.
Revan dan Hana pun tak mempermasalahkan dan kini mengajak kedua tamu nya ini untuk mengobrol di gazebo.
Mereka ber empat telah duduk manis dengan posisi saling hadap-hadapan.
Setelah meminta dibuatkan minuman dan cemilan pada asisten rumah tangga nya, mereka pun memulai pembicaraan.
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan pak Arlan?" Tanya Revan setelah tadi mereka sempat berbasa-basi.
Arlan terlihat meremas tangannya yang ia letakkan di atas paha.
"Sebenarnya sudah dari lama hal ini ingin kami bicarakan dengan kalian berdua. Hanya saja kami masih sangsi untuk mengutarakannya." Hana dan Revan serius mendengarkan setiap ucapan dari Arlan. "Setelah mempertimbangkanya, kami pun memberanikan diri untuk menyelesaikannya hari ini juga."
Arlan menjeda untuk sesaat kalimatnya dan memandang wajah Hana dan Revan untuk sekilas.
"Jadi... maksud kedatangan kami kemari adalah, kami ingin meminta maaf atas apa yang telah kami lakukan dahulu. Dosa yang dulu kami lakukan telah menyakiti banyak orang dan termasuk diri kami sendiri. Jujur saja, penyesalan dan rasa bersalah bersarang di hati kami hingga saat ini. Dosa yang dulu kami lakukan seakan terus mengikuti dan menghantui kami. Penyesalan atas apa yang dulu telah aku lakukan tidak ada lagi gunanya. Sekarang Tuhan sedang menghukum kami atas perbuatan kami sendiri.
Dan mungkin karena dosa yang telah kami lakukan, Tuhan menghukum kami dengan tak memberikan kami keturunan hingga saat ini. Gumam Arlan di dalam hati.
"Namun kami sangat berharap...kalian mau berbesar hati memaafkan kesalahan kami." Pinta Arlan memohon pada kedua orang di depannya ini.
__ADS_1
Terlihat Arlan menundukkan wajahnya merasa bersalah dan malu atas perbuatannya dahulu. Indah yang berada di sampingnya pun berusaha menguatkan suaminya dengan menggenggam tangan suaminya.
"Kami sudah memaafkan dari sejak lama apa yang telah terjadi."
Seketika Arlan mengangkat pandangannya menatap Hana dan Revan.
"Kami sudah memaafkan kalian dari sejak lama! Memaafkan adalah jalan terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri. kalau kita mau terus menerus berlarut-larut berada pada lingkaran masa lalu, rasanya hidup tidak akan berlanjut, mas. Sebaik-baik hamba adalah yang mau memaafkan kesalahan dari saudaranya. Allah saja mampu memaafkan kesalahan dari hambanya sebesar apapun itu. Lantas, kami yang hanya seorang manusia biasa kenapa tidak melakukan itu!
Hana tersenyum tulus kepada dua orang di depannya. Kata maaf telah lama ia tanamkan di dalam hati atas apa yang dulu terjadi. Tidak ada gunanya juga menyimpan dendam di dalam hati, hanya bisa merusak hati itu sendiri.
Indah membalas senyum tulus Hana dengan yang sama dan menggenggam tangan Hana.
Air matanya seketika tumpah mendengar kebesaran hati dari wanita yang dulu telah ia sakiti. Atas perbuatannya dahulu telah membuat sesama kaumnya tersakiti. Air matanya membuktikan betapa keji nya perbutannya dahulu. Indah seketika merasa rendah saat mengingat dosa yang dulu telah ia lakukan.
"Maafkan, aku, Han. Maaf...." Dengan derai air mata ia meminta dari hati.
Hana yang tidak tega melihatnya pun mendekat dan memeluk Indah. Di elusnya punggung Indah
"Aku udah maafin, kalian. Setiap manusia pasti punya salah di masa lalu. Aku hanya berharap kedepannya kalian bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga dengan apa yang dulu telah kalian lakukan dapat menjadi pelajaran hidup dan berjanji untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Allah sayang sama kalian, makanya kalian diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari sekarang."
Mendengar setiap ucapan Hana semakin membuatnya terisak merenungi dosa nya. Semoga saja Tuhan mau menerima taubat nya.
Saat Indah sudah tidak lagi terisak, Hana pun perlahan melepaskan pelukannya.
"Udah, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang, loh!" Sambil menghapus sisa air mata di wajah Indah. Indah seketika tersenyum mendengar pujian Hana.
Baik sekali kamu, Hana. Semoga Allah selalu memberkahi rumah tangga kalian. Ucapnya tulus di dalam hati.
"Nda!"
Mereka orang dewasa serempak menengok ke asal suara. Ternyata ketiga anak-anak itu telah berada di depan mereka.
"Iya, sayang?" Tanya Hana menatap satu per satu anak-anaknya.
"Aus!" Dengan suara cadelnya dan dengan wajah memelas meminta pada Bundanya.
Revan mengangkat satu oer satu anak-anaknya duduk di gazebo dan meletakkannya di tengah-tengah mereka. Sedangkan Jihan, ia duduk di samping Bunda nya.
"Tunggu Bibi, ya, sayang. Bentar lagi minumannya bakalan datang." Ucap Hana pada anak-anaknya.
Tak lama kemudian Bibi pun datang dengan membawa minuman dingin di dalam gelas dan cemilan untuk mereka. Tak lupa ice cream dalam cup yang telah ia buat kemarin telah beku.
"oow, es cleam!" Ucapnya dengan mata berbinar melihat ice cream yang sangat menggugah selera.
Hana dan Revan pun mempersilahkan tamu nya untuk menyantap hidangan itu. Mereka dibuat tertawa terus oleh tingkah anak-anak itu. Melihat tingkah menggemaskan mereka membuat suasana menjadi lebih hangat.
Arlan mengangkat Dava ke pangkuannya dan menciumi dengan gemas pipi gembulnya.
"Mau enggak Dava sama Devan jadi anaknya, om Arlan?" Tanya nya pada kedua anak kembar itu.
Seketika pertanyaan Arlan dijawab langsung oleh keduanya, "Nggak au. Ava cama Evan cama , Nda cama Yah, ja!
Arlan memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Dava. Seketika semua orang tertawa melihatnya. Suasana hangat diantara mereka pun tetap berlanjut.
Bahagia rasanya jika semua damai dan tidak ada lagi kata dendam. Sebagai orang yang dewasa, mereka harus mampu mencari jalan keluar untuk menyelesaikan setiap masalah.
Sedikit catatan akhir dari yang dapat dipetik dari novel ini.
(Lelaki mudah sekali untuk meninggalkan, tapi dia juga mudah kembali. Berbeda dengan wanita, dia akan berfikir ribuan kali sebelum dia benar-benar ingin pergi dan meninggalkan lelaki yang ia cintai. Sekali perasaannya disakiti, seumur hidup dia tak akan melupakan. Wanita mudah untuk memaafkan, namun tak mudah untuk melupakan. Hati perempuan layaknya kaca, jika kaca itu telah hancur bagaimanapun usahamu untuk menyusunnya kembali, tetap saja kaca itu tidak akan kembali pada posisi semula. Tetap akan meninggalkan bekas. Jadi, pertahankan selagi ada yang tulus. Sesuatu yang baru itu memang lebih menantang, namun saat seseorang yang selalu menemanimu meninggalkanmu maka rasa kehilangan itu pasti akan ada. Dan rasanya, penyesalan tidak lagi berguna saat ia telah pergi.)
TAMAT
__ADS_1
πππ
Cium jauh dari author, salam....π€π€πππ