
Mobil Arlan melaju dengan kecepatan rata-rata kembali menuju kantor. 20 menit kemudian mobil Arlan telah sampai di parkiran.
Arlan berjalan memasuki perusahaannya. Sepanjang perjalanan Arlan memasang tampang marah. Auranya kali ini sungguh menakutkan sampai-sampai semua karyawan yang bertemu dengannya atau yang berpapasan dengannya tak berani menatap ke arahnya.
Pintu lift berbunyi pertanda ia telah sampai di lantai 23, di mana ruangannya berada. Arlan berjalan memasuki ruangannya diikuti oleh sekertarisnya dibelakangnya.
Saat telah sampai di ruangannya, ia langsung duduk dikursi kebesarannya. Ia memandang kesal ke arah sekertarisnya yang diam mematung di depannya.
" M...masih ada lagi yang bapak butuhkan?"
Arlan memandang kesal kearah sekertarisnya dan dengan ketus menjawab," Tidak ada. Saya mau kalau ada yang mau menemui saya hari ini siapapun, jangan biarkan masuk. Mengerti?"
" Mengerti pak!"
" Kalau begitu saya permisi pak."
Saat pintu telah tertutup Arlan langsung menggebrak mejanya dengan amarah yang masih menguasainya.
" Sialan, kenapa Hana bersikap seperti itu tadi. Apakah karena ada lelaki itu jadi ia tak mau di antar olehku. Awas saja kalau sampai ketahuan bahwa kau selingkuh, tak akan ku ampuni. Argghhhh sial."
Tak lama setelah itu Arlan segera menelephone orang suruhannya karena sampai sekarang mereka belum melaporkan tugasnya.
" H...halo bos"
" Bagaimana dengan tugas yang ku berikan kepada kalian? apakah sudah dapat informasinya?"
" Be...belum bos. Kami masih berusaha bos."
Mendengar jawaban orang suruhannya membuatnya semakin emosi dan berbicara dengan suara yang keras.
" Apa saja yang selama ini kalian lakukan huh, saya sudah menggaji kalian tapi cari informasi begini saja kalian tidak becus."
" Pokoknya saya tidak mau tahu, kalian harus mencari informasi secepatnya. Saya sudah bosan menunggu."
" Siap bos, akan kami usahakan!"
" Jangan sampai saya bosan menunggu dan membuat saya tidak punya pilihan lain selain melenyapkan nyawa kalian."
" Pa...pasti bos secepatnya akan kami cari, kalau begitu saya tutup telephone dulu bos."
Setelah telephone tertutup, Arlan menyenderkan punggungnya dikursi kebesarannya dan memijit-mijit pangkal hidungnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Indah saat ini tengah berada di kamarnya, namun ia mendapat telephone dari orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk memata-matai suaminya. Ia pun segera mengangkat panggilan itu.
" Halo, ada apa?"
" Halo Nona, saya ada berita terbaru mengenai suami anda."
" Berita apa itu?"
__ADS_1
" Jadi, tadi pak Arlan saat mengadakan meeting dengan perusahaan Bramana Corp, sepanjang meeting dan saat telah selesai ia memandang dengan kesal ke arah sekertaris rekan bisnisnya.
" Ia juga sangat kesal karena niatnya untuk mengantar sekertaris itu kembali ke kantor di tolak olehnya Nona."
" Bagaimana rupa sekertaris itu?" tanyanya dengan sangat penasaran
" Dia sangat cantik nona, sampai-sampai pak Arlan tak pernah mengalihkan perhatiannya dari wanita itu."
Indah sangat marah dan cemburu mendengar berita ini, bisa-bisanya suaminya itu melirik wanita lain.
" Saya mau kamu mecari informasi mengenai wanita itu dan apakah dia ada hubungan dengan suami saya. Pokoknya informasinya harus kamu laporkan secepatnya."
" Siap nona!"
telephone pun ditutup oleh Indah.
Indah berkata dalam hati, "tidak akan kubiarkan kau melirik wanita lain Mas. Kau hanya bisa melirik ke arahku. Wanitamu hanya satu, yaitu aku."
" Aku sudah berbuat sampai sejauh ini, hanya untuk mendapatkanmu Mas. Tak akan ku biarkan orang lain memilikimu, bahkan istrimu yang dulu juga sudah tak berhak terhadapmu."
Sekertaris Arlan yang tadi menelephone Indah di toilet, segera kembali ke meja kerjanya takut nanti ketahuan oleh Arlan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, waktu para pekerja untuk pulang kantor. Seperti biasa Hana selalu menunggu Revan di meja kerjanya.
Hana tengah fokus memperhatikan benda pipih yang ada ditangannya, sesekali ia tertawa saat melihat komentar dari beberapa temannya di akun sosmed nya, namun ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Ia langsung menengok ke depan, ternyata Revan sudah berdiri di depan meja kerjanya.
" Iya hana, udah dari tadi saya disini tapi kamu tampak sangat fokus sama benda yang ada ditanganmu ini. Kayaknya handphone mu lebih menarik di banding aku. yaudah, ayo pulang."
Hana terkekeh mendengar penuturan Revan lalu Hana berdiri dari kursinya dan mengikuti Revan berjalan beriringan.
" Maaf mas, tadi aku terlalu fokus sama akun sosmedku, soalnya udah lama aku nggak buka."
" ckckkc, dasar anak alay."
" Mas tadi bilang apa?"
" Nggak ada. Ckck, selain alay kamu juga budek."
" Sorry yah, aku nggak budek!"
" nggak budek, tapi dari tadi kalau aku ngomong selalu di suruh ulang. Kalau bukan budek apa namanya? huh?"
Hana memonyongkan bibirnya dan bermumam pelan, " Ishh nih orang ngeselin banget sih, nih tangan udah gatal pengen nampol."
" Ngomong apa kamu hana?"
" Nggak ada. Ckckkc, selain ngeselin bapak juga budek."
Hana langsung berjalan dengan cepat mendahului Revan. Ia tak ingin mendengar ocehannya.
__ADS_1
" Hana awas kamu yah."
Hana langsung berlari menuju mobil, mendahului Revan.
Revan bergumam pelan, " sabar Revan sabar. Untung sayang, kalau nggak udah ku jadiin dendeng."
Revan berjalan menuju parkiran dan menuju mobilnya. Ia langsung masuk dan memasang sabuk pengaman. Setelah selesai ia langsung menatak kearah Hana.
Hana yang ditatap oleh Revan nyalinya seketika menciut dan ia segera menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
" Mohon maaf bos, saya tadi salah ngomong. Jangan di pecat yah, bos."
" Emangnya yang mau pecat kamu siapa?"
Hana langsung nyengir mendengarnya, "alhamdulillah."
Revan langsung menyalakan kendaraannya dan perlahan mobil berjalan keluar dari area perusahaan.
" Saya nggak akan pecat kamu, tapi ada syaratnya!"
Hana langsung berkata dalam hati " nih orang suka banget ngasih syarat"
" Syaratnya apa bos?"
" Jangan panggil bos. Panggil Mas aja."
" Iya Mas, syaratnya apa?"
"Syaratnya adalah... Nanti malam kamu temenin saya makan malam diluar."
" Kenapa nggak makan malam di rumah aja sih Mas?"
" Saya maunya nanti malam makan di luar. Kamu mau nggak sih, kalau nggak mau sa..."
Belum sempat Revan selesai berbicara sudah dipotong oleh Hana.
" Iya, Mas mau asalkan jangan di pecat."
" Good girl."
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan diisi dengan berbincang ringan, namun Revan tak pernah membahas mengenai pertemuan Hana dengan Arlan tadi siang. Revan tak ingin membuat mood Hana jadi jelek. Selang 45 menit kemudian mobil Revan pun sampai di rumah.
Makin hari sifat asli Revan yang suka membuat orang kesal semakin ia tunjukkan. Sebenarnya Revan sangat suka membuat orang terdekatnya kesal terutama Mama dan Papanya. Ia juga sekarang sesekali membuat Hana kesal. menurutnya dengan membuat Hana kesal seakan hiburan baru baginya.
Hanya orang terdekatnya yang mengetahui sifat asli Revan. Kalau dengan orang lain, maka Revan akan menunjukkan sifat cool dan tak perduli.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya๐๐
Selamat membaca
__ADS_1
Setelah selesai membaca jangan lupa like, komen, rate dan vote๐