
Hana terbangun dari tidurnya karena sinar matahari pagi menelusup masuk melalui celah gorden tipis kamar mereka. Hana bangun dan duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Ternyata sudah siang." Ucap Hana saat ia melihat jam dinding di kamar mereka. Hana dan Revan menghabiskan malam yang panjang di kamar sehingga membuat mereka kelelahan. Setelah selesai sholat subuh, mereka melanjutkan tidur mereka hingga sekarang sudah pukul sebelas siang.
Karena melihat tidur suaminya yang sangat lelap membuatnya tak tega untuk membangunkannya. Hana pun bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kearah kamar mandi ingin memulai ritual mandinya.
Saat semua pakaiannya telah terlepas, Hana membelalakkan matanya melihat pemandangan dirinya di pantulan cermin. Bagaimana tidak, banyak sekali tanda merah dibadannya terutama dibagian leher dan dadanya.
"Ya ampun, aku kayak habis dimakan drakula. Banyak banget." Ucapnya memperhatikan tanda merah di badannya.
Hana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu ia merendam badannya di dalam bathup yang sudah ia beri dengan wewangian. Setelah berendam selama 15 menit, ia pun bangkit dari bathup dan mengguyur badannya di bawah shower. Setelah selesai dengan ritual mandinya ia pun berjalan keluar dengan memakai handuk kimono dan melilitkan handuk di rambutnya yang basah.
"Ya Allah, Mas Revan belum bangun juga." Ucapnya saat melihat suaminya masih tertidur. Sedangkan sekarang sudah mau jam 12 siang, waktu dhuhur sebentar lagi akan masuk.
Hana pun berjalan menuju ranjang dan duduk di samping suaminya.
"Mas Revan, bangun. Udah siang, Mas. " Ucap Hana dan menggoyangkan pundak suaminya. Namun Revan hanya menggeliat tanpa memidahkan posisinya menghadap istrinya.
Hana tak menyerah, ia kembali berusaha membangunkan suaminya namun tiba-tiba pinggangnya di tarik dan sekarang posisinya sudah di dalam pelukan suaminya.
"Mas, Revan." Hana terpekik kaget karena badannya tiba-tiba ditarik oleh suaminya.
"Ssstt. Biarkan seperti ini dulu. 5 menit." Ucap Revan dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
5 menit telah terlewati namun Revan tak melepaskannya. Hana mendengarkan suara dengkuran keluar dari mulut suaminya. Ternyata suaminya itu kembali tertidur bahkan suara dengkuran itu semakin besar. Hana pun perlahan melepaskan pelukan suaminya dan berbalik menghadap suaminya.
Hana mengangkat tangannya dan menjepit hidung suaminya menggunakan tangannya. Alhasil suaminya pun terbangun.
"Hana! kamu usil banget sih"
"Heheeh, maaf sengaja. Bangun dong, Mas. Udah siang. Emang Mas Revan enggak bosen tidur terus?"
"Enggak. Kalau tidurnya sama kamu sih aku betah banget." Ucap Revan menggoda istrinya dan menaikturunkan alisnya.
"Yaampun, Mas Revan. Udah, ah. Aku udah lapar banget. Mending sekarang, Mas Revan mandi, sholat, terus kita ke bawah makan siang."
Revan tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar penuturan istrinya.
"Yaudah aku mandi dulu, yah." Ucap Revan dan berjalan turun dari ranjang
"Heem. Jangan lama, ya, Mas!"
Revan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap istrinya.
"Enggak lama kok, yang. Kamu enggak sabaran banget, sih!" Ucapnya sambil mengedipkan matanya kearah istrinya.
"Ishh, Mas Revan!" Ucap Hana kesal karena suaminya mengartikan lain maksudnya tadi.
Revan segera berbalik dan tertawa puas telah berhasil menggoda istrinya. 7 menit kemudian Revan akhirnya selesai dengan ritual mandinya. Setelah selesai berpakaian, Revan mengajak istrinya itu melaksanakan ibadah sholat dzuhur.
Revan dan Hana kini berada di dalam lift ingin menuju ke arah restoran tempat mereka menginap. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka berjalan menuju area restoran. Mereka duduk di kursi bagian pojok restoran. Setelah selesai memesan makanan, mereka kembali berbicang hangat. Tanpa mereka duga datang Raga dari arah luar menuju ke meja yang mereka tempati.
__ADS_1
Revan dan Hana saling pandang untuk sesaat dan kembali memandang Raga yang sudah berdiri di depan mereka.
"Hey brother." Brother katanya, dengan apa yang telah dia lakukan terhadap istrinya dan menampakkan wajah tak bersalahnya di depannya dan istrinya, ucapnya dalam hati.
"Hey, kamu mau makan juga?" Tanyanya dengan nada sedikit malas.
"Iya, brother. Bolehkah aku ikut gabung makan siang denganmu dan istrimu?" Ucapnya sambil menatap kearah Hana.
Hana seketika memutar bola matanya malas dipandang oleh orang yang sangat ia benci.
Revan yang mendengarnya langsung menatap kearah istrinya ingin meminta jawaban. Namun Hana malah menampakkan wajah tidak sukanya. Melihat respon istrinya membuat Revan mengerti apa yang istrinya inginkan.
"Mohon maaf ga, bukannya gue nolak, tapi kita sedang tidak mau di ganggu. Kita lagi pengen makan berdua, jadi kami harap kamu mengerti!"
"Oh, iya, tidak apa-apa brother. Aku mengerti kok. Kalau begitu aku pergi dulu brother."
Revan pun mengaggukkan kepalanya setelah itu Raga tak jadi makan siang di sana dan malah langsung pulang ke hotel.
Setelah Raga pergi suasana menjadi hening. Hana tak lagi berbicara dan mood nya seketika hilang setelah kedatangan Raga. Revan memegang dagu istrinya dan mengangkatnya keatas.
"Kamu kenapa sih, sayang. Orangnya udah aku usir tadi. Kenapa masih cemberut aja?"
"Hana enggak apa-apa, Mas. Hana hanya lapar aja." Jawab Hana cepat. Sebenarnya bukan itu jawabannya. Entah mengapa nafsu makan Hana hilang seketika saat melihat wajah tak bersalah dari Raga. Apakah lelaki itu tak malu menampakkan wajahnya lagi di depan Hana setelah semua yang telah ia lakukan dahulu, pikirnya mencibir dalam hati
Makanan mereka akhirnya datang. Mereka pun mulai menyantap hidangan makan siang mereka dengan lahap.
Setelah selesai makan siang, mereka tidak langsung menuju kamar mereka. Hana dan Revan berjalan menuju pantai sekedar minum es kelapa muda di pinggir pantai sembari menunggu matahari tenggelam.
"Mas Revan."
"Ada apa, sayang?" Ucap Revan sambil masih memperhatikan ke depan.
"Emang bener yah, kalau Mas Revan belum pernah pacaran sebelumnya?"
"Iya. Aku kan udah pernah bilang sama kamu kalau aku enggak pernah deket sama wanita. Hanya seorang Hana yang membuat Revan jatuh cinta."
"Masa?"
"Iya. Kalau kamu" Tanyanya balik.
"Hana kenapa?"
"Kamu dulu berapa kali pacaran?"
"Hana sih pacarannya hanya sekali. Dulu sih banyak banget yang bilang suka ke Hana tapi selalu Hana tolak."
"Masa?" Sekarang balik Revan yang mengatakan itu.
"Iya. Bukannya sombong sih tapi memang itu kenyataannya." Ucapnya menyombongkan diri.
"Berarti pacar kamu yang satu, si mantan kamu dong?"
__ADS_1
"Bener sekali. Mas Arlan."
"Enggak usah disebutin namanya. Aku enggak suka." Ucap Revan ketus.
"Yehh ada yang marah ni yeh!" Ucap Hana sambil tertawa melihat Revan.
"Siapa yang marah?"
"Mas Revan lah. Masa Hana."
"Aku enggak marah. Hanya saja aku enggak suka kalau kamu sebut nama dia."
Hana tersenyum jahil. Ia ingin menggali lebih dalam alasan suaminya.
"Emangnya kenapa?" Ucapnya lalu berpindah posisi menghadap ke samping.
"Karena sudah ada aku. Jangan lagi sebut nama dia saat ada aku. Aku enggak suka orang yang namanya kayak gitu."
Hana tertawa oleh jawaban suaminya. Aneh sekali jawabannya.
Setelah itu mereka kembali berbincang-bincang menanyakan ini dan itu.
"Sayang, lihat deh. Aku punya pertunjukan buat kamu." Ucap Revan dan membimbing istrinya ingin memperlihatkan sesuatu.
"Apaan, Mas?"
"Tuh lihat di sana. Aku juga mau kayak gitu." Tunjuk Revan kepada dua orang sejoli di depannya.
Hana mengikuti arah tunjuk suaminya. Seketika ia memalingkan wajahnya melihat tontonan gratis di sana. Bagaimana tidak, Hana melihat dua orang pasangan Bule yang sedang berciuman sangat mesra di bibir pantai.
"Asragfirullah. Mataku ternodai." Ucap Hana saat memalingkan wajahnya.
Ia kini memelototi suaminya. Yang sedang tersenyum tanpa dosa.
"Mas Revan apaan sih. Nanti mata Hana jadi belekan gara-gara ngintip itu, Mas Revan yang tanggung jawab."
"Aku bakalan tanggung jawab sekarang kok." Ucapnya dengan senyum menyeringai dan mendekat kearah istrinya.
Hana melangkah mundur. Jangan sampai suaminya benar-benar menginginkan itu disini, adegan yang tadi dilihatnya.
"Mas Revan mau ngapain?"
"Aku mau kayak bule itu, sayang." Ucap Revan dengan nada sensual.
Seketika Hana dibuat merinding mendengarnya. Hana mengambil ancang-ancang dan segera berlari dari sana menghindari suaminya. Mereka berlari kejar-kejaran di atas pasir putih. Karena sudah sangat ngos-ngosan akhirnya Hana pun berhasil ditangkap dan dipeluk dari belakang oleh Revan. Kejadian selanjutnya....
Bersambung😊
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Segitu saja dulu yah kk. Author udah ngantuk betdah. Jangan lupa like, komen dan vote nya yah, kk.
__ADS_1
Salam story from By_me