
Setelah dua hari berada di rumah sakit, keesokan harinya Hana dan baby twins nya pun pulang ke rumah.
Malam ini kedua orang tua dan mertua Revan akan menginap di rumah mereka. Mereka sangat excited akan kehadiran baby twins di tengah-tengah mereka.
Malam harinya setelah makan malam keluarga, semua orang pun berkumpul di ruang keluarga bercengkerama sambil menatap dua baby twins yang sedang di gendong oleh oma Ajeng dan oma Faradilla. Keduanya anteng digendongan oma-omanya tertidur sambil sesekali terlihat tersenyum di dalam tidurnya. Jihan berada di antara kedua adiknya. Bergantian mengelus dan menciumi adik-adiknya dengan sayang.
"kapan rencana nya kalian akan mengadakan akikah untuk cucu-cucu oma, nak?" Tanya Mama Faradilla pada anak menantunya.
"Rencanya akikahnya akan diadakan pada hari ke tujuhnya baby twins, Ma." Jawab Revan setelah sebelumnya telah berunding dengan istrinya akan mengadakan akikah untuk kedua anaknya sesuai dengan sabda Rasulullah.
"Acara akikahnya nanti kita undang semua rekan-rekan bisnis Papa dan pak Surya biar mereka bisa melihat pewaris dari perusahaan opa nya mereka kelak." Ucap Papa Wiratama
"Ah, enggak usah, pa. Enggak usah undang terlalu banyak orang, biar para keluarga aja dan teman dekat yang kita undang." Jawab Mama Faradilla pada suaminya.
"Memang kenapa, Ma. Kan, bagus kalau banyak orang. Kita berbagi kebahagiaan dengan orang-orang." Perdebatan kecil tentang tamu undangan mengisi ruangan itu.
"Tak apalah, besan. Biarlah kita mengundang banyak orang. Kita berbagi kebahagiaan dengan mereka. Acaranya juga sekali seumur hidup. Sekalian kita undang juga anak-anak dari panti asuhan biar makin berkah, besan. Bagaimana?" Tawar Mama Ajeng berharap itu adalah keputusan final.
"Yaudah, besan. Ide besan bagus juga." Puji Mama Faradilla pada Mama Ajeng. Keduanya tampak tertawa dan kembali berbincang-bincang.
Papa Wiratama hanya bisa menghela nafas mendengarnya. Sudah dari tadi diberi tawaran seperti itu tapi tidak juga disetujui. Eh, malah saat besannya yang angkat bicara malah cepat disetujui.
"Terus, nama untuk kedua cucu opa sudah disiapkan?" Tanya Papa Surya pada anak dan menantunya.
"Sudah, pa. Namanya sudah disiapkan." Jawab Hana dan dijawab anggukan oleh Revan.
"Namanya siapa, nak?" Tanya Papa Wiratama dan diikuti rasa penasaran oleh semua orang.
"Nama untuk kedua jagoan aku ini, yang kakak namanya DAVANDRA BRAMANA dan adiknya DEVANDRA BRAMANA."
"Masya Allah, namanya sangat bagus, nak." Ucap Mama dan mertua Revan. Semua orang sangat bahagia malam itu.
"Berarti panggilannya DAVA DAN DEVA, ya? Tanya Mama Ajeng.
Revan seketika menggelengkan kepalanya dan terlihat tersenyum mendengarnya.
"Yang kakak DAVA dan adeknya DEVAN, ma. Kalau panggilannya Deva malah terdengar seperti nama anak perempuan!" Ucap Revan sambil tertawa. Semua orang ikut tertawa mendengarnya.
__ADS_1
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21 lewat beberapa menit akhirnya Hana dan Revan pun pamit pada semua orang untuk kembali ke kamar membawa baby twins mereka.
Mereka berjalan menaiki tangga dengan masing-masing menggendong anak mereka diikuti oleh Jihan di samping Ayahnya. Pemandangan anak dan menantu mereka yang telah diberkahi anugerah yang tak terhingga membuat para orang tua terharu setelah sama-sama mengetahui bagaimana jalan cerita cinta anak-anak mereka. Akhirnya Tuhan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga pada keduanya.
Revan mengantar Jihan ke kamar setelah tadi Jihan telah memberikan sebuah ciuman selamat malam pada kedua adiknya. Setelah Jihan tertidur dibacakan dongeng oleh Ayahnya, Revan pun memperbaiki posisi selimut anaknya dan mematikan lampu kamar.
Saat Revan membuka pintu, istrinya terlihat masih berdiri di depan box bayi mereka. Revan pun menghampiri istrinya dan memeluk pundaknya dari samping.
"Kenapa belum tidur, sayang?"
"Hana masih mau memandang wajah anak kita. Memandang mereka saat tertidur seperti ini sangat tenang rasanya, mas."
Revan pun melakukan hal yang sama seperti apa yang istrinya lakukan. Memandangi wajah damai kedua jagoannya sambil tersenyum tulus.
"Mereka sangat tampan, mirip sekali denganku!" Ucap Revan dengan percaya dirinya.
"Mereka mirip denganku, mas. Liat saja, matanya, alis tebalnya, bibirnya, hanya hidungnya yang mirip sama kamu."
"Masa sih?" Tanyanya tak percaya.
Revan mendengus kesal tapi hanya sekejab. Wajahnya tiba-tiba memancarkan sinyal lain.
"Ada apa?" Tanyanya melihat perubahan sikap suaminya.
"Yasudah, kali ini kamu menang. Bagaimana kalau kita buat lagi adik untuk anak-anak kita, hmm?" Ucapnya berbisik di telinga istrinya.
Hana mengerutkan keningnya mendengar penuturan suaminya. Bagaimana caranya mereka melakukannya, sedangkan ia masih dalam masa nifas. Apakah suaminya ini tidak tahu, batinnya menatap suaminya.
"Enggak bisa, mas!" Tolak Hana secara halus.
"Menolak ajakan suami itu dosanya besar, lo, sayang!" Ucap Revan pelan sambil tangannya sudah memegang ujung baju istrinya.
Dengan pelan Hana menepis tangan suaminya.
"Sayangnya, kali ini aku enggak akan dosa!" Jawabnya terkekeh dan berjalan menuju ranjang dan naik ke atasnya.
Revan mengikuti istrinya dan duduk di samping istrinya.
__ADS_1
"Kamu kan tahu sayang, menolak suami itu dosanya besar. Masa kamu tega sama suami sendiri." Ucapnya dengan memelas.
"Kita enggak bisa melakukan itu dulu, mas. Hana masih dalam masa nifas dan belum bisa melakukan itu!"
"Nifas itu apaan, sayang?" Tanya Revan pada istrinya. Hana hanya bisa geleng-geleng kepala karena masalah seperti ini saja suaminya ini tidak tahu.
"Masa nifas itu adalah masa sesudah persalinan. Pada masa nifas terjadi pemulihan kembali organ kandungan selama 42 hari, mas. Jadi selama itu kita belum bisa melakukan itu!"
"42 hari!" Revan mencoba menghitung kira-kira berapa minggu. Matanya membulat saat mendapat jawabannya. "Maksud kamu aku harus puasa selama 6 minggu?" Tanyanya tidak percaya.
"Heem. Sabar ya, mas!" Ucap Hana mengelus pundak suaminya yang saat ini masih mematung tidak percaya dengan jawaban istrinya.
Hana meninggalkan suaminya dan membaringkan badannnya di atas tempat tidur.
"Mas! udah, tidur!" Ucapnya saat dilihatnya suaminya masih terlihat berfikir.
Dengan lemas Revan membaringkan badannya di samping istrinya. Ditatapnya istrinya yang saat ini juga menatapnya.
"Sudahlah, mas. 6 minggu juga! Mending sekarang mas Revan tidur aja. Jangan fikirin itu terus. Tidur aja. Besok tersisa 41 hari lagi!"
Hana melingkarkan tangannya di badan suaminya dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Menghirup aroma maskulin yang tercium dari badan suaminya.
"Mas Revan memang enggak tahu apa-apa?" Tanyanya sebelum ia tertidur.
"Enggak tahu, sayang. Yang aku tahu itu hanya seputar pekerjaan!Hal seperti itu mana aku tahu. Ini kan pengalaman pertama aku."
"Yasudah, besok-besok luangin waktu untuk cari tahu seputar masa nifas dan bayi baru lahir biar mas Revan tahu dan faham. Biar mas Revan menjadi suami siaga untuk istri dan anak-anak!"
"Iya, sayang. Yasudah, sekarang kita tidur. Sudah tengah malam."
Akhirnya keduanya pun dapat tidur dengan tenang. Dengan posisi saling memeluk.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa vote, like dan komennya.
Salam story from By_me
__ADS_1