
Melihat segala kejadian yang telah di alami oleh Hana membuat Revan bertekad untuk membantu Hana sampai semua masalahnya tuntas.
Sebagai sesama lelaki, ia sangat menyayangkan sikap tidak bertanggung jawab dari suami Hana. suami Hana sungguh serakah, menurutnya sebagai sesama lelaki apalagi yang kau cari, istri sholehah, cantik dan anak gadis yang menggemaskan telah ia sia-siakan.
Sungguh sebuah kebodohan yang hakiki menurutnya. Jangan salahkan Revan kalau nanti ia akan menggantikan posisi Arlan untuk membahagiakan keluarga kecilnya yang telah ia sia-siakan.
Ia sungguh tak habis fikir dengan jalan fikiran suami Hana. Apakah ia telah di butakan oleh harta, sehingga dengan mudahnya meninggalkan istri dan anaknya demi seorang wanita kaya.
Dari tadi ia tidak bisa berkata-kata melihat segala keterpurukan Hana. Namun dering ponsel membuyarkan fokus Revan.
Dreettt dreeett
Melihat siapa yang menghubunginya membuat Revan segera bangkit dan berjalan keluar untuk menerima panggilan telephone itu
" Halo, ada apa menelephone malam malam."
" Lapor bos, seseorang sedang berusaha mencari informasi tentang keberadaan mbak Hana. Dia juga berusaha mencari tahu mengenai anda bos."
" Kamu tahu siapa di balik orang-orang itu?"
" Siap bos, orang di balik mereka adalah pak Arlan. Suami mbak Hana."
" Saya mau kamu tutup semua akses agar orang itu tak mendapatkan informasi itu, mengerti!!"
" Siap bos. "
" Saya mau kamu pantau terus, jangan sampai lengah."
" Siap bos. "
" Yasudah."
Telephone pun tertutup. Arlan masih memikirkan perkataan orang suruhannya. Sebenarnya apa motif Arlan melakukan itu, bukankah selama ini ia sudah tak lagi ingin tahu mengenai keluarganya. Lantas mengapa ia kembali ingin mengusik Hana.
Setelah cukup lama berada di luar Revan kembali ke ruang keluarga. Di sana ia kembali bercengkerama dengan keluarganya.
Setelah waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 mereka semua bergegas untuk kembali ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar Hana kembali merenungi kejadian yang telah terjadi hari ini. Ia tak habis fikir mengapa suaminya yang ia tahu sangat mencintainya tega berkhianat dan seakan sudah lepas tanggung jawab terhadap keluarga kecilnya.
Harapannya untuk bisa menemukan keberadaan suaminya dan kembali bersama kini pupus sudah. Harapannya terlalu tinggi, sekarang ia merasa hatinya telah di patahkan oleh suaminya sendiri. Tak mungkin hati yang telah patah akan utuh kembali seperti semula.
Hana memandang Jihan yang tidur di sampingnya. di pandangnya dengan sayang anaknya. Ia membelai rambut anaknya.
Hana bergumam sambil tetap membelai rambut anaknya, " Semoga ini adalah pilihan yang terbaik untuk kita sayang. Maafkan Bunda yang terlalu egois, namun bunda hanya wanita biasa yang tidak bisa melihat suaminya membagi cinta dengan wanita lain."
Hana membawa anaknya ke dalam pelukannya. di peluknya anaknya dengan erat sambil terus bergumam, " Maafkan Bunda sayang." Akhirnya hana ikut tertidur dengan tetap memeluk erat putri semata wayangnya.
__ADS_1
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Hari ini tepat sudah sebulan lebih Hana bekerja di perusahaan milik Revan. Namun Revan belum juga mempertemukan Hana dengan suaminya.
Ia ingin mencari momen yang tepat untuk mempertemukan mereka.
Sebenarnya tugas sekertaris Revan di daerah sudah lama selesai, namun Revan menyuruhnya agar tetap stay di sana untuk sementara waktu. Karena ia ingin Hana tetap bekerja di perusahaannya sambil menunggu waktu untuk mempertemukannya dengan Arlan.
Sebenarnya perusahaan Revan dan Arlan sudah lama saling bekerja sama. Mereka adalah rekan bisnis, namun arlan sepertinya tidak mengenalinya.
Hal ini Revan manfaatkan untuk mengatur pertemuan Hana dan Arlan. Ia berencana untuk mengadakan pertemuan antara perusahaan Revan dan perusahaan Arlan.
Sampai sekarang orang suruhan Arlan belum mendapatkan informasi yang ingin ia dapatkan. Revan tidak memberikan akses kepada arlan untuk mengetahui aktivitas Hana dan dimana Hana sekarang bekerja.
kalau sampai Arlan tahu aktivitas Hana sekarang, maka rencananya untuk Hana akan sia-sia.
Sore itu Hana telah siap untuk pulang kerja. Seperti biasa ia akan setia menunggu Revan di mejanya agar mereka pulang bersama.
Tak lama setelah itu revan akhirnya keluar dari ruangannya. Mereka sama-sama berjalam menuju parkiran untuk pulang ke rumah. Sampai di dalam mobil handphone Hana berdering, segera ia lihat siapa yang menelephone. Ternyata yang menelephone adalah Mama.
" Halo Ma, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam sayang, kamu sekarang ada dimana?"
" Hana sedang di dalam mobil Ma sama Mas Revan sudah mau pulang. Emangnya kenapa Ma?"
" Sayang Mama minta tolong yah, kamu nanti singgah ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Karena stok bahan makanan sudah mau abis sayang. Nanti mama kirimin daftar belanjaannya."
" Mama nggak ngerepotin kan sayang?"
" Nggak ngerepotin sama sekali kok ma, lagian Hana juga mau beli sesuatu kok, jadi sekalian aja."
" Makasih sayang. Yasudah, hati-hati di jalan ya, tanya Revan jangan ngebut."
" Iya, Ma."
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam Ma."
Revan melirik Hana yang telah selesai menelephone.
" Mama bilang apa sama kamu?"
" Ini, Mama minta tolong buat di beliin bahan makanan di supermarket karena stok bahan sudah mau abis katanya."
"Oh, kirain apaan."
__ADS_1
" Mas, nanti singgah di supermarket depan aja ya."
" Iya."
Mobil Revan pun perlahan memasuki area parkiran supermarket. Hana dan Revan berjalan bersama memasuki supermarket. Daftar bahan makanan yang akan Mama suruh beli baru terkirim ke handphone Hana.
Satu persatu bahan makanan telah Hana dapatkan. Hana yang memilih dan Revan yang berada di sampingnya mendorong troli.
Setelah semua telah lengkap, di lanjutkan dengan Hana yang membeli beberapa keperluan sehari harinya.
Mereka pun berjalan ke arah kasir untuk membayar semua belanjaannya. Hana mengeluarkan dompetnya niat untuk membayarnya, namun di dahului oleh Revan yang telah mengeluarkan kartu dari dompetnya kepada mbak kasir.
" Mbak, yang saya pisahin ini dibayar terpisah ya."
" Nggak usah, biar sekalian gabung aja sama belanjaannya Mama."
" Tapi Mas, belanjaan aku banyak. Di pisah aja mbak."
" Di gabung aja mbak."
" Di pisah aja."
" Di gabung."
" Di pisah."
" Di gabung."
Karena jengah dengan pertengkaran dua orang didepannya, akhirnya si mbak kasir pun kesal karena antrian masih banyak namun mereka membuang waktu dengan hal seperti ini
" Mbak, mas, jadinya ini bagaimana?. Mohon maaf kalau bisa cepat bayarnya, karena antrian masih panjang."
Revan dan Hana menoleh ke belakang. Benar saja banyak sekali orang di belakang mereka yang menunggu untuk membayar. Sebagian dari mereka memandang dengan kesal kepada Revan dan Hana.
" Di gabung aja mbak, bayar pake kartu saya."
" Baik pak, tunggu sebentar yah."
Setelah selesai dengan pembayaran. Hana dan Revan berjalan keluar menuju parkiaran dengan masing-masing menenteng kantong belanjaan di kedua tangan mereka.
Mobil Revan pun berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Setelah 30 menit mobil arlan pun sampai di halaman rumahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘😘
Jangan lupa like, komen, rate dan vote.
__ADS_1
author sayang kalian
salam story from by_me