Hati yang Patah

Hati yang Patah
Minta kepada yang menciptakan


__ADS_3

Setelah Hana memutuskan sambungan telepon dari Revan, Hana membaringkan badannya membelakangi anaknya. Masih terngiang dibenaknya apa yang baru saja diucapkan oleh Revan.


Hana memegang dadanya yang sampai sekarang masih berdegup kencang, Hana mencoba untuk menetralkan keadaannya dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya, hal itu ia lakukan berkali kali.


" Apa yang harus aku lakukan mas, aku merasa tidak pantas menerima cintamu" Hana bergumam pelan.


Hana membalikkan badan dan menatap langit langit kamar sambil terus memikirkan kejadian tadi, sampai ia pun perlahan menutup matanya dan masuk ke dunia mimpi.


Keesokan harinya dikediaman Ibu Suri, Hana dan yang lainnya telah berada di kebun. Mereka berada disini karena permintaan anaknya yang ingin ikut berkebun dengan neneknya.


Mereka hari itu menanam jagung, setelah selesai menanam jagung mereka dibawa ke kebun buah buahan. Banyak sekali jenis buah buahan di kebun Ibu Suri, mulai dari buah mangga, pisang, nangka, dan buah lengkeng, buah semangka dan rambutan.


Hari itu mereka mengambil buah nangka dan pisang yang saat itu sudah matang. Jihan dan Ana berusaha memetik buah lengkeng yang pohonnya memang tidak terlalu tinggi. Hana menemani Ibu Suri mengambil buah pisang, namun Hana lebih banyak melamun. Hal itu pun tak lepas dari pandangan Ibu nya.


" Kamu kenapa nak? kamu tidak enak badan? kalau kamu sakit mending pulang ke rumah dan beristirahat. Biar Ibu sama Jihan dan Ana yang berkebun"


" Hana tidak kenapa napa Bu, Hana sehat sehat aja kok"


Ibu terus menatap kearah Hana ingin memastikan.


" Udah ah bu, kita lanjutin lagi hari juga udah mulai gelap"


Ibu menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan kegiatannya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Revan kembali dari ruangan rapat bersama dengan sekertaris penggantinya, sekertarisnya bernama Farah. Dia wanita yang cantik, dengan postur tubuh yang ramping berjalan sengaja melenggak lenggokkan badannya disamping Revan.


Namun Revan tak memperdulikan dan menghiraukan kelakuan sekertaris pengganti itu, Revan sengaja berjalan cepat menuju ruangannya karena ia sudah sangat lelah dan ingin segera pulang ke apartemennya.


Saat sudah sampai diruangannya, ia mengambil kunci mobil dan handphone yang ia letakkan diatas meja dan berlalu dari sana.


Revan membuka pintu ruangannya namun yang ia lihat sekertarisnya itu berdiri didepan mejanya sambil menenteng tasnya. Revan mengernyitkan keningnya melihat sekertarisnya.


" Kenapa belum pulang, ini sudah lewat dari jam kantor"


Wanita bernama Farah tersenyum yang tampak sangat dibuat buat.


" Sebenarnya saya mau minta tolong sama Bapak"


" Minta tolong apa?" Revan menjawab dengan cepat


" Bolehkah saya ikut di mobil Bapak, soalnya mobil saya tadi bannya kempes Pak"

__ADS_1


Revan tampak berfikir, hari semakin gelap dan sekertarisnya ini butuh tumpangan untuk pulang. Sebenarnya ia sangat malas melakukannya, tapi biarlah toh dia juga tinggal sehari lagi menjadi sekertarisnya.


" Memangnya rumah kamu dimana?"


Wanita itu tampak sangat semangat mendengar bos nya mau mengantarnya pulang.


" Jalannya searah kok pak, rumah saya dekat dengan apartemennya Bapak"


Revan lagi lagi mengernyitkan keningnya mendengar jawaban wanita didepannya, bagaimana bisa ia mengetahui dimana ia tinggal.


" Yasudah ayo" Revan berjalan duluan dan diikuti oleh Farah dibelakangnya.


Didalam mobil selama perjalanan, Revan merasa sangat risih karena wanita disampingnya ini sengaja memeperlihatkan dan menonjolkan lekuk tubuhnya.


Suasana hening selama perjalanan, namun Revan merasa wanita disampingnya selalu mencuri pandang kearahnya. Revan yang merasa risih dipandang seperti itu, mempercepat laju kendaraannya.


" Rumah kamu dimana?" Revan berbicara tanpa menatap kearah Farah


" Sudah dekat Pak" Farah berbicara dengan nada yang sedikit manja.


Revan yang mendengarnya bergidik ngeri


" Ya ampun ini cewek bikin ilfeel, sumpah demi apapun ini pertama dan terakhir kalinya dia ikut di mobil gue" Revan bergumam didalam hati dan menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Farah menyuruh Revan memberhentikan mobil.


" Terima kasih Pak atas tumpangannya, Bapak tidak mau mampir dulu"


" Tidak terima kasih, saya buru buru ada urusan penting"


" Oh baiklah, terima kasih sekali lagi Pak Revan" lagi lagi nada suaranya membuat Revan ilfeel, segera Revan menganggukkan kepalanya agar cepat selesai.


Saat wanita itu sudah keluar, segera Revan melajukan kendaraannya menuju apartemennya.


Sebenarnya sudah dari hari pertama sekertaris pengganti itu bekerja dengannya, wanita itu selalu berusaha mendekati Revan. Tapi karena iman Revan yang kuat, ia tidak pernah tergoda olehnya.


Malam harinya setelah selesai makan malam, Revan bersantai didepan Tv dan duduk di sofa. Revan mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja dan mengirimi Hana pesan.


Ia baru ingat kalau lusa Hana akan kembali dari Surabaya.


to Hana: Lusa biar aku yang menjemputmu di Bandara.


Lama Revan menunggu balasan pesan dari Hana dan akhirnya suara notifikasi pesan masuk di ponselnya, segera ia membukanya.

__ADS_1


from Hana: Ok


Hanya satu kata balasan pesan dari Hana, Revan menghembuskan nafanya kasar kecewa dengan balasan Hana yang pendek. Namun Revan tidak menyerah ia kembali mengirimi Hana pesan.


To Hana: kamu lagi ngapain? bagaimana kabar Jihan?


Kali ini Hana membalas cepat


from Hana: Sedang istirahat dikamar, alhamdulillah Jihan sehat sehat disini.


Hanya itu balasan dari Hana, Revan mengerucutkan bibirnya. Tak lama kemudian masuk notifikasi pesan di ponselnya, Revan melihatnya dan ternyata itu pesan dari Hana. Revan berbinar karena Hana mengiriminya balasan.


From Hana: Kalau mas Revan sendiri bagaimana kabarnya, dan bagaimana dengan Mama dan Papa?


Segera Revan membalasnya


To Hana: Mama dan Papa baik baik saja hanya saja aku sepertinya yang sedang tidak baik baik saja.


Tak lama kemudian Hana kembali membalas pesannya


From Hana: Mas Revan kenapa? sakit? kalau sakit mas harus segera periksa ke dokter, nanti sakitnya tambah parah kalau dibiarkan.


Revan tersenyum lebar melihat pesan dari Hana, Revan merasa kalau Hana sangat mengkhawatirkannya. Segera ia membalas pesan dari Hana.


To Hana: aku sebenarnya tidak sakit, hanya saja yang sedang tidak baik baik saja itu hatiku. Hatiku sangat rindu dengan seseorang hingga membuatku jadi seperti ini.


Lama Revan menunggu jawaban pesan dari Hana dan ting notifikasi pesan dari Hana masuk di ponsel Revan.


From Hana: Mas Revan kurang kurangin sikap gombalnya, Mas Revan kenapa akhir akhir ini jadi seperti ini, siapa yang ajarin Mas seperti itu, bilang sama Hana"


*To Hana: Nggak ada yang ajarin aku, ini murni isi hatiku karena sekarang aku sedang berusaha meyakinkan seseorang.


From Hana: Kalau mas Revan mau meyakinkan seseorang, minta sama yang menciptakan dan sholat istikhoroh untuk meyakinkan hati mas Revan*.


To Hana: Aku sudah melakukan semua itu, meminta kepada yang maha pencipta dengan sholat istikhoroh. Jawabannya memang hatiku memilih orang itu, sekarang aku hanya menunggu jawabannya.


Setelah pesan Revan terkirim, Hana tak lagi membalas pesannya. Revan menyandarkan badannya di sofa dan melihat kembali pesannya yang hanya dibaca oleh Hana.


" Aku harap kamu mau menerimaku Hana, aku berniat membahagiakanmu dengan Jihan agar kalian tidak lagi disakiti oleh lelaki itu" Revan bergumam pelan sambil menatap kearah luar.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😘

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya


Salam story from By_me


__ADS_2