Hati yang Patah

Hati yang Patah
Menjahili Hana


__ADS_3

Suara tepuk tangan dari para pengunjung saat Hana telah selesai bernyanyi. Namun Hana terlihat menunduk. Hana melakukan itu agar Arlan tak lagi mengharapkannya. Jujur saja, hatinya saat ini sakit berada di posisi ini. Namun yang paling sakit adalah anaknya, Jihan. Jihan yang menjadi korban dari perbuatan orang tua nya. Sungguh miris rasanya, Arlan yang dulunya menjanjikan cinta sejati sehidup semati akan berakhir seperti ini. Dia yang berjanji, dia pula yang mengingkari.


Revan yang melihat Hana masih menangis dan menunduk di atas panggung segera berjalan ke arahnya dan menghapus air mata di wajah Hana menggunakan tangannya.


" Ayo kita pulang." Revan berbicara sangat lembut dan menggandeng tangan Hana dari sana. Revan menyimpan uang selembar di meja setelah itu mereka kembali.


Selama perjalanan diisi dengan keheningan. Hana memalingkan wajahnya ke samping dan terus menatap ke arah jendela. Dalam hatinya mengatakan, mengapa Arlan selalu mengganggu kehidupannya. Setiap melihatnya membuat Hana kembali mengingat luka lama. Walaupun Hana sudah mencoba untuk ikhlas, namun tetap saja saat dia melihatnya membuatnya kembali terluka.


" Kita sudah sampai Hana."


Namun Hana tak bergeming di tempatnya. Ia masih melamun dan tak mendengarkan ucapan Revan. Revan memberikan waktu kepada Hana seperti itu. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap ke arah Hana. semenit, dua menit, sampai lima menit Hana masih melamun. Tiba-tiba Hana seperti tersadar bahwa mereka telah sampai. Ia menatap ke arah depan belakang untuk memastikan. Lalu setelah itu ia menatap ke arah Revan.


" Kita sudah sampai ternyata. Mas Revan nggak mau mampir dulu?"


" Nanti saja aku mampir. Ini juga sudah mau maghrib." Sambil melirik ke arah jam tangannya.


Hana menganggukkan kepalanya.


" Yaudah, kalau begitu. Makasih ya, Mas udah anterin aku."


" Sudah seharusnya sebagai seorang calon suami aku melakukan itu."


Hana hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum dan geleng-geleng kepala. Setelah itu ia membuka pintu mobil.


Hana melambaikan tangannya dari luar saat Revan akan berlalu dari sana. Setelah itu, Revan melajukan kendaraannya dan pulang menuju ke apartemennya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Keesokan harinya di perusahaan Revan. Hana terlihat sangat fokus mengerjakan laporan bulanan. Sampai- sampai waktu makan siang tak ia gunakan untuk mencari makanan.


Tiba-tiba datang Revan membawa kantong dan menyimpan di atas meja kerja Hana.


" Istirahat dulu. Ini waktu makan siang, bukan waktu untuk kerja. Aku udah beliin kamu makanan. Di makan gih."


" Makasih ya, Mas."


" Sama-sama."


Setelah itu Revan kembali ke ruangannya. Hana meregangkan tangannya ke atas, merilekskan otot- ototnya. Hana mengambil bungkusan di depannya dan membukanya. Hana tersenyum melihat makanannya. Revan membelikan Hana ayam geprek kesukaannya dan juga jus jeruk.


" Mas Revan tau aja aku mau makan ini."


Setelah itu Hana menyantap makan siangnya dengan lahap. Saat telah selesai, Hana kembali mengerjakan laporannya yang harus ia selesaikan hari ini.


Saat sedang mengerjakan laporannya, tiba-tiba pintu lift terbuka. Hana melihat ke arah lift siapa yang datang. Yang ia lihat adalah seorang wanita cantik memakai dres di atas lutut berjalan ke arahnya. Tapi siapa wanita ini, ia tak pernah melihatnya di perusahaan Revan.


Dia berjalan dengan anggunnya ke arah meja Hana.


" Saya mau bertemu dengan Revan. Revan ada kan, di dalam?"


" Ibu sudah buat janji sebelumnya dengan pak Revan?"


Bukannya menjawab, si wanita cantik itu malah berdecak dan bersedekap di depannya.


" Jangan panggil saya ibu, saya bukan ibunya kamu. Panggil saya Nyonya!"


Hana yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya.


" Nyonya sudah buat janji dengan pak Revan sebelumnya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


" Apakah saya harus buat janji untuk bertemu dengan calon tunangan saya hah?" ia mengeraskan suaranya di depan Hana. Hana hanya bisa menutup matanya karena teriakan wanita di depannya.


Apa dia bilang tadi, tunangan. Jadi apa maksudnya Revan selama ini mengatakan akan menikahinya namun ternyata dia sudah memiliki tunangan. Kata Hana di dalam hati.


" Kalau begitu, Nyonya tunggu dulu di sini. Saya laporkan dulu pada pak Revan." Hana berniat berdiri dan berjalan menuju ruangan Revan namun ia urungkan karena ucapan wanita itu.


" Tidak usah, saya bisa sendiri." Setelah itu ia berjalan menuju ruangan Revan. Namun segera Hana menghentikan wanita itu.


" Nyonya, anda tunggu dulu di sini. Sudah aturannya di sini seperti itu. Walaupun anda tunangannya, tapi saya harus meminta izin kepada direktur terlebih dahulu."


Si wanita hanya bisa berdecak sebal dan ia akhirnya menuruti kata-kata Hana.


Hana melanjutkan langkahnya menuju ruangan Revan. Ia langsung masuk menuju ke arah meja Revan.


" Pak Revan, di depan ada seorang wanita cantik yang katanya tunangan bapak. Dia ingin bertemu dengan bapak." katanya dengan kesal berusaha menahan pertanyaannya yang banyak di otaknya.


Revan langsung menghentikan pekerjaannya dan mengernyitkan alisnya mendengar penuturan Hana. Siapa tunangannya? perasaan ia tak pernah bertunangan dengan siapapun. Kenapa bisa ada yang mengaku sebagai tunangannya.


" Tidak usah di suruh masuk. Saya tidak kenal siapa dia."


Hana mengernyitkan dahinya. Masud Revan apa? kenapa ia bilang tidak mengetahuinya. Sedangkan wanita yang tadi sangat kekeh ingin bertemu dengannya


" Tapi dia memaksa pak."


Revan terdiam untuk sesaat...


" Yasudah, suruh dia masuk."


Hana menganggukkan kepalanya setelah itu ia berlalu dari sana.


" Silahkan masuk Nyonya."


Hana kembali duduk di kursinya dan kembali mengerjakan laporannya. Semenit, dua menit, sampai lima menit ia tak bisa fokus. Fikirannya mengarah kepada apa yang di lakukan Revan dan wanita itu di dalam sana. Jika memang Revan telah bertunangan maka dapat di pastikan bahwa selama ini Revan hanya mempermainkannya.


Hana tersenyum kecut mengingat hal itu. Di fikirannya mengatakan bahwa ternyata Revan tidak jauh beda dengan mantan suaminya yang suka berbohong dan mengumbar janji palsu. Baru saja Hana mencoba untuk membuka diri malah ini yang di dapatkannya. Mulai sekarang, Hana akan mencoba menjaga jarak dari Revan. Ia tak ingin menjadi penghancur hubungan orang lain.


Tiba-tiba pintu ruangan Revan terbuka dan menampilkan wajah wanita yang tadi. Yang membuat Hana gagal fokus adalah ekspresi dari wanita itu. Dia tampak menangis keluar dari ruangan Revan dan berlari dari sana. Hana berdiri dan melihat wanita itu sampai masuk ke dalam lift.


Tak lama kemudian Revan keluar dan memanggil Hana masuk ke dalam ruangannya. Dengan malas Hana mengikuti kemauan Revan.


" Duduk." Katanya tegas.


Hana menganggukkan kepalanya dan duduk di sana tanpa melihat ke arah Revan. Revan dapat melihat perubahan eskpresi Hana sekarang. Revan ikut duduk di samping Hana. Ia menarik nafas panjang sebelum berbicara.


" Dia tadi bukan siapa- siapanya aku."


" Oh." Hanya itu jawaban Hana.


" Jangan salah paham. Dia itu hanya mengaku sebagai tunanganku."


" Untuk apa juga aku salah paham. Kalau memang dia itu benar tunangannya Mas Revan, kenapa harus di tutup-tutupi. Aku juga tidak masalah kok."


" Hana..."


" Pekerjaan aku masih banyak di luar, aku permisi pak Revan."


Hana berdiri dari sana dan berjalan menuju pintu, namun tiba- tiba tangannya di tarik oleh Revan. Hal itu membuat Hana seketika berbalik ke arah Revan dan menabruk dada bidangnya.


Revan seketika memeluk Hana. Hana berusaha melepaskan diri dari pelukan Revan namun Revan tambah mengeratkan pelukannya. Karena tenaganya tidak sebanding dengan Revan membuat Hana tak lagi memberontak.

__ADS_1


" Aku tahu kalau kamu marah. Tapi kamu harus


dengar dulu penjelasanku, dia itu bukan siapa-siapanya aku. Dia itu tidak terima karena aku menolak perjodohan itu."


Hana menautkan alisnya mendengar penuturan Revan.


" Dia pernah di jodohkan denganku, tetapi aku menolak. Karena tidak terima dengan semua itu dia berusaha meyakinkanku dengan selalu datang ke perusahaan dan ingin bertemu denganku. Tetap saja hal itu tak merubah pendirianku. Aku dulu sudah mengusirnya dan menyuruhnya jangan datang lagi tapi aku juga bingung kenapa tiba-tiba dia datang."


Hana tak berbicara di dalam pelukan Revan. Melihat hal itu membuat Revan kembali meyakinkan Hana.


" Kamu belum percaya sama aku?"


Hana hanya menggelengkan kepalanya.


" Harus dengan cara apa agar kamu bisa percaya hmm?"


" Apakah aku harus membuktikannya?"


Mendengar penuturan Revan membuat Hana mendongakkan kepanya ke arah Revan.


" Membuktikan apa?"


" Kalau aku itu sungguh-sungguh sama kamu!"


" Dengan?"


Revan hanya tersenyum dan tak lama kemudian ia mendekatkan kepalanya kearah Hana. Hana yang melihat tingkah Revan seketika langsung gelagapan dan berteriak.


" Stop..."


" Mas Revan mau apa?"


" Aku mau meyakinkan kamu Hana!"


" Nggak usah, aku udah yakin. Lepasin nggak." Hana berkata dengan nada kesal.


Revan terkekeh melihat respon Hana. Ia sebenarnya hanya ingin menjahili Hana. Dugaannya memang benar, Hana akan mengatakan itu.


Hana memutar bola matanya jengah dan tak lama kemudian Revan melepaskan pelukannya.


Muka Hana memerah karena ulah Revan. Ia membuang muka kearah lain.


" Awas saja kalau Mas Revan berani melakukan hal tadi. Mulai detik itu juga aku tidak akan lagi mau dekat-dekat dengan Mas Revan. Mengerti?"


" Mengerti calon istri. Aku akan melakukan itu pada saat kita sudah sah sebagai suami istri."


Muka Hana tambah memerah. Revan ingin tertawa melihat ekspresi Hana tapi ia tahan.


" Tau ah, aku mau kembali kerja. Permisi." Hana berlalu dari sana tanpa melihat kearah Revan.


Setelah Hana sudah keluar barulah Revan tertawa lepas. Ia sangat suka melihat melihat tingkah Hana. Tidak mungkin juga Revan akan melakukan itu tadi. Bibirnya ini masih suci, ia akan melakukan itu nanti pada saat sudah sah menjadi suami istri.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😂


Jangan lupa tinggalkan jejak yah!


Salam story from By_me...

__ADS_1


__ADS_2