
Perlahan lahan, Hana mencoba untuk membuka matanya. Hana mulai tersadar dari tidurnya, namun ia merasa kepalanya seperti sangat berat.
Hana melihat disekelilingnya, namun yang ia lihat tempat ini terasa sangat asing. Hana mencoba untuk duduk dan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang.
Refleks Hana memegangi kepalanya, yang terasa berdenyut nyeri. Ia memejamkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya.
Setelah dirasa sudah mendingan, perlahan Hana membuka matanya dan kembali memperhatikan ruangan yang ia tempati sekarang.
" Ini dimana, kenapa aku bisa ada di tempat ini. Perasaan tadi aku ada didepan Mall"
Hana berusaha untuk mengingat ingat kejadian sebelumnya. Tapi yang dia ingat adalah sewaktu dia tadi menunggu taksi di pinggir trotoar.
Hana berusaha untuk berjalan, ia mencari tasnya. Hana melihat disekeliling, ia memutari kamar yang luas itu untuk mencari tasnya. Akhirnya ia menemukan tasnya yang terletak diatas meja.
Hana membuka tasnya dan mencari dimana letak handphone nya, akhirnya Handphonenya ia dapatkan.
Segera ia menyalakan handphonenya dan membuka kunci layar. Saat sudah tampil betapa terkejutnya ia, Sekarang sudah pukul satu malam dan banyak sekali panggilan masuk. panggilan dari Revan ada 80 kali, dari Papa dan panggilan dari sahabatnya Andin.
Hana membuka notifikasi panggilan Revan dan mencoba untuk menelephone balik. Lama ia menunggu, hingga akhirnya diangkat oleh Revan.
" Halo mas Revan"
" Halo Hana, kamu ada dimana? kamu baik baik aja kan? kamu sama siapa disana? udah dari tadi aku coba hubungi kamu, tapi panggilanku tidak pernah kamu angkat"
Revan memberikan banyak pertanyaan kepada Hana, Suara Revan terdengar sangat khawatir saat Hana menelephonenya.
" Yaampun mas pertanyaannya satu satu, aku juga nggak tahu sekarang sedang ada dimana. Saat aku bangun, aku udah ada ditempat ini"
Hana berjalan menuju balkon kamar dan memperhatikan sekitar, seketika Hana membulatkan matanya saat membaca papan reklame besar yang tertulis di pinggir jalan ( Puncak Cisarua Bogor).
Setelah membaca itu, Hana seketika diam dan fikirannya kemana mana. Siapa yang telah membawanya sampai ketempat ini dan dalam keadaan tidak sadar.
" Halo Hana, kamu baik baik saja kan?"
Revan sangat khawatir, karena tiba tiba Hana terdiam.
" M..mas Revan, aku ada di puncak Cisarua Bogor, tolongin aku mas"
" Kamu tunggu aku disana, aku sudah tahu dimana posisi kamu sekarang. Kamu jangan khawatir, aku udah mau sampai"
__ADS_1
" Mas aku takut" Hana berbicara dengan suara bergetar.
" Tunggu aku, Telephone aku jangan dimatikan"
" Iya mas"
Hana berjalan menuju pintu dan membukanya secara perlahan, ia menyembulkan kepalanya, melihat sekitar.
sejauh mata memandang tak ada orang yang ia lihat. Yang ia tangkap saat ini, dia sedang berada disebuah Villa mewah.
Hana berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan, jangan sampai ada orang yang melihatnya. Saat sudah sampai dilantai dasar, ia segera berjalan cepat namum ada suara lelaki yang menghentikannya.
" Kamu mau kemana, huh" suara lelaki itu seperti tidak asing ditelinga Hana, ia menengok ke asal suara itu. Betapa terkejutnya Hana, saat melihat orang yang telah membawanya sampai kemari.
" Mas Arlan"
" Kamu sudah sadar ternyata" Arlan berbicara dengan nada sarkasme.
Hana seketika mematung ditempatnya, Arlan berjalan kearah hana dengan sorot matanya yang tajam dan terus memandangi Hana.
" Apa maksud kamu membawa aku sampai kemari? aku mau pulang, Jihan sudah menungguku di rumah"
" Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu menjelaskan tentang ini" raut wajah Arlan tampak menakutkan.
Ternyata itu adalah beberapa fotonya, saat bersama dengan Revan dan foto saat mereka makan malam.
Hana miris melihatnya, kenapa Arlan membuntutinya dan mengapa ia sangat marah dengan hanya melihat foto foto itu. Bukankah yang seharusnya marah disini adalah Hana.
" Kenapa memangnya dengan foto ini"
Arlan seketika naik pitam dengan jawaban Hana
" Kenapa, kamu tanya kenapa? kamu selingkuh Hana dibelakangku. Kamu tidak malu dengan penampilan kamu yang memakai hijab, namun berbuat hal yang memalukan seperti wanita ****** huh" Arlan berteriak didepan wajah Hana.
" Aku sungguh tidak mengira penampilan kamu yang seperti ini, ternyata kamu tidak lebih dari wanita munafik"
seketika Hana meneteskan air matanya mendengar penuturan lelaki yang dulu sangat dicintainya, menilainya dengan sangat rendah.
Hati hana lagi lagi dibuat sakit oleh lelaki ini.
__ADS_1
" Lantas kenapa kalau aku melakukan itu mas, masalahnya sama kamu itu apa?"
Biarlah Hana mengatakan ini, toh dia juga sudah dinilai jelek oleh suaminya.
" HANA ALMEERA" Arlan geram mendengar jawaban Hana, seketika ia mengangkat tangannya ingin menampar Hana, tapi hanya sampai sebatas di udara.
" Tampar mas, ayo tampar Hana"
Arlan menurunkan kembali tangannya dan mengepalkan tangannya kuat. Karena terlalu emosi ia hampir saja menampar wanita yang dicintainya.
" Kenapa mas, kenapa tidak kamu lakukan. Sekarang aku tanya sama kamu, harus disebut lelaki apa kamu mas dengan semua perbuatan kamu dibelakang aku selama ini"
" Kamu bilangnya ke Jakarta nyari kerja buat memperbaiki kehidupan kita nanti, tapi apa yang kamu lakukan. Kamu selingkuh dibelakang aku"
Hana berbicara dengan air mata yang tak berhenti menetes.
"Aku menunggu kamu di rumah, selama berbulan bulan bahkan setahun lebih aku dengan setia menunggu kamu. Berharap suatu saat kamu masih ingat jalan pulang, ternyata kamu sudah lupa mas. Kamu lupa sama keluargamu, kamu sudah lupa jalan pulang"
" Asal kamu tahu mas, Aku ke Jakarta dengan hati bahagia, berharap bisa ketemu sama kamu dan membawa kamu pulang. Aku bahkan sudah janji dengan Ibu, untuk membawa kamu pulang. Tapi kenyataan yang aku dapatkan, sungguh menyakitkan. Sakit mas, aku sakit hati melihat orang yang kucintai berpaling pada wanita lain"
Arlan mendekati Hana, ingin memeluknya tapi hana berjalan mundur. Hana mengangkat tangannya, memberi kode agar Arlan berhenti.
" Berhenti, jangan dekat dekat sama wanita ****** kayak aku mas "
Arlan meneteskan air mata, melihat wanita yang dicintainya tersakiti oleh ulahnya sendiri.
" Maafkan aku sayang, aku khilaf , aku menyesal. Hanya kamu wanita yang paling kucintai, aku mohon maafkan aku"
" Aku pasti akan memafkan kamu mas, tapi hati ini masih sakit. Kalau kamu sudah tidak mau bertemu aku, setidaknya kamu masih ingat dengan Ibu mu mas"
Tangis Hana semakin pecah, tapi ia harus kuat menghadapi ini.
" Maafkan aku sayang, aku harap kita mulai lagi semuanya dari awal"
" Maafkan aku mas, aku dan kamu sudah tidak bisa lagi menjadi kita. Kita adalah kata yang tak mungkin lagi untuk menjadi. Sekarang aku sudah mengambil keputusan, kamu sekarang bisa memilih jalan hidup kamu sendiri, aku menyerah.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading 😢😢
__ADS_1
Salan story from by_me
jangan lupa like, komen, rate dan paling penting vote nya guys.