
Seminggu setelah lamaran Revan, akhirnya orang tuan Revan dan Ibu Suri yang sudah Hana anggap sebagai Ibu membicarakan mengenai acara pernikahan anak-anak mereka.
Setelah berunding cukup lama akhirnya mereka memutuskan hasil akhirnya, Hana dan Revan akan menikah sebulan kemudian. Mengenai segala persiapan pernikahan Revan serahkan kepada kedua orang tuanya mengingat sebentar lagi mereka akan menikah dan pekerjaan yang sangat padat dan tidak bisa ditinggal.
H-15
Hari ini Hana dan Revan berencana berangkat ke butik untuk melihat gaun pengantin. Butik itu sangat terkenal oleh para kalangan atas karena selain bahannya yang berkualitas, hasilnya juga sangat memuaskan para klien mereka. Selain itu, butik itu juga adalah milik dari saudara Mama Ajeng, Mamanya Kalista.
Hana memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. Hana hari ini memakai dress berwarna biru lembut dengan hijab pashmina yang berwarna senada. Memoles make up tipis dan lipstik berwarna nude di wajahnya.
Ditengah kegiatannya ia mendengar suara klakson dari luar rumah. Pasti itu Mas Revan, batinnya. Segera Hana mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya.
" Unda, di luar ada ayah yang nyariin." Kata anaknya saat Hana sudah berada di bawah.
" Kenapa enggak di suruh masuk, sayang?"
" Katanya nanti aja kalau udah pulang, Unda."
" Oh, yaudah. Bunda mau pergi dulu yah, sayang."
" Neneknya Jihan mana?"
" Nenek ada di atas, Unda."
" Kalau begitu nanti bilang sama nenek kalau Bunda keluar dulu sama om Revan."
Mendengar itu membuat anaknya mengerucutkan bibirnya. Segera Jihan berbicara.
" Ayah, Unda, ayah!"
Hana tersenyum mendengar anaknya. Segitunya anaknya tak mau kalau Revan disebut dengan panggilan om lagi.
" Iya, iya. Ayah."
" Jangan lupa tanya nenek dan kalau Bunda pergi pintunya jangan lupa dikunci ya, sayang."
Jihan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
" Bunda pergi dulu. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Unda."
Kini Hana dan Revan sedang berada di dalam mobil menuju ke butik. Selama perjalanan tak henti-hentinya mereka berbicara, namun lagi-lagi Revan menggoda Hana sehingga membuatnya kesal. Melihat Hana seperti itu membuatnya tertawa karena berhasil menjahilinya.
Hana hanya bisa mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya kearah jendela. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di depan butik.
Mereka berjalan beriringan memasuki butik. Saat sudah di dalam, mereka disambut oleh Mamanya kalista, tante Dian. Hana menyalami tangan tante Dian dan memeluknya. Hana memang dekat dengan tante Dian karena sewaktu SMA ia sering berkunjung ke rumah sahabatnya.
" Tante enggak nyangka loh, kalau kamu bakalan menikah sama anaknya, tante. Tapi tante bersyukur karena kamu yang jadi pasangannya anak tante jadi kalian bisa saling melengkapi."
Hana hanya bisa tersenyum menanggapi.
" Anak tante ini sebenarnya sangat baik, walaupun kadang orangnya dingin kayak kulkas." Katanya tertawa dan melirik kearah Revan.
__ADS_1
Mendengar penuturan tante Dian seketika Hana juga ikut tertawa.
" Dingin dari mananya coba. Orang kalau sama aku dia enggak pernah diam dan selalu ngejahilin aku." Hana bergumam di dalam hati.
" Mas Revan memang orangnya dingin tante dan dia juga sedikit pendiam."
Revan hanya bisa memutar bola matanya karena pembicaraan dua orang di depannya. Hana pasti sedang mengejekku, batinnya. Segera Revan mengalihkan pembicaraan menghentikan obrolan dua orang di depannya yang membicarakannya.
" Tante, mending sekarang kita liat-liat baju pengantinnya yuk."
" Oh, iya tante jadi lupa. Ayo, kita lihat-lihat baju pengantinnya." Mereka pun mengikuti tante Dian untuk melihat gaun pengantinnya.
" Tante punya beberapa model gaun pengantin yang menggunakan hijab. Semoga kalian suka sama modelnya."
Tante Dian pun mengeluarkan beberapa gaun pengantin yang ia maksud tadi. Modelnya sangat cantik-cantik dan elegan. Tante Dian mengeluarkan gaun berwarna gold, silver, soft pink, biru langit dan terakhir warna putih.
Hana pun mencoba satu per satu gaun pengantin atas saran dari calon suaminya. Ini sudah gaun ke 4 yang ia pakai. Hana merasa kesal karena setiap ia memperlihatkannya kepada Revan, pasti selalu disuruh ganti.
Hana pun kembali mencoba gaun terakhir, gaun yang berwarna putih. " Kalau sampai gaun yang terakhir juga enggak mau, mending enggak usah kawin aja sekalian." Ia mendengus didalam hati kesal karena sudah lelah berganti gaun terus-menerus.
Setelah selesai memakai gaun yang terakhir, Hana berjalan keluar dan memperlihatkannya kepada Revan.
" Mas Revan, gimana sama yang ini?"
Revan langsung mengangkat kepalanya yang saat itu sedang sibuk memainkan ponselnya. Revan terpana melihat penampilan Hana memakai gaun berwarna putih itu.
" Mas Revan, gimana?" Katanya membuyarkan fokus Revan.
Perkataan Revan seketika membuat wajah Hana merona. Bagaimana tidak, Revan mengatakan itu di depan tante Dian dan para karyawan.
Tante Dian dan para karyawan hanya bisa tersenyum mendengarnya.
" Kalau begitu yang ini saja, tante." Kata Hana dengan nada pelan.
" Ok, kalau begitu. Apakah masih ada yang harus diperbaiki?" Tanya tante Dian
" Enggak usah, tante. Gaunnya sudah pas dibadan Hana dan tidak perlu diubah lagi karena gaunnya sudah sangat cantik."
Setelah fix dengan gaun yang tadi, Revan juga sudah mendapatkan jas yang cocok dengan gaun Hana. Setelah dari sana, mereka menuju KUA untuk mengurus berkas pernikahan mereka. Setelah dari KUA mereka melanjutkan perjalanan menuju mall untuk membeli cincin pernikahan yang telah mereka pesan sebelumnya.
Mereka kembali pada saat hari sudah menjelang malam. Hana menyandarkan punggungnya di sandaran mobil dan bernafas lega karena semua telah selesai hari ini. Hal itu pun tidak luput dari perhatian Revan.
" Kamu capek, yah?"
" Lumayan sih, Mas. Tapi aku lega karena semua urusan sudah selesai hari ini."
Mendengar hal itu membuat Revan tersenyum kearah Hana. Setelah itu, ia kembali fokus menyetir. Revan berniat menggenggam tangan Hana disampingnya sambil fokus menyetir. Namun saat ia meraba disampingnya, tak kunjung ia gapai tangan Hana.
Ia menengok ke samping, ternyata Hana sedang menguap dan menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya.
Akhirnya ia berpura-pura meregangkan jari-jarinya di samping Hana. Malu juga kan, kalau sampai Hana melihatnya.
Revan kembali fokus menyetir dan menggunakan dua tangannya memegang setir mobil. Suasana tiba-tiba hening. Revan melirik ke samping, ternyata Hana sedang tertidur.
__ADS_1
" Pantesan dari tadi diam aja. Kamu pasti kecapean yah!" Revan bergumam pelan dan mengarahkan tangannya ke samping mengelus kepala Hana. Namun Hana tak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Revan.
Tak lama kemudian akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Hana. Hana yang masih tertidur membuat Revan tak tega membangunkannya.
Revan menyandarkan punggungnya menghadap kesamping dan memperhatikan Hana yang sedang tertidur. Lama Revan memandangi Hana yang terlihat sangat cantik ketika sedang tertidur, hingga Hana akhirnya tersadar dan mengerjapkan matanya.
Hal itu sontak membuat Revan menegakkan punggungnya dan kembali menghadap ke depan.
" Kita sudah sampai, Mas?"
" Sudah dari tadi Hana. Kamu tidur lama banget tau enggak. Sangking lamanya, kamu tidur sampai ada ilernya." Katanya membohongi Hana.
Mendengar hal itu membuat Hana langsung mengelap ujung bibirnya menggunakan tangannya.
Revan langsung tertawa karena telah berhasil menjahili Hana. Hana yang sadar telah di bohongi hanya bisa mendengus kesal.
" Mas Revan pasti bohong kan?"
Bukannya menjawab Revan malah tambah tertawa.
" Udah ah, aku malas sama Mas Revan. Kurang kerjaan banget tahu enggak!"
" Maaf, aku hanya bercanda."
" Bercanda, bercanda, aku malu tahu enggak!"
" Sama calon suami sendiri juga, enggak usah malu kali. " Katanya dan mendekatkan kepalanya kearah Hana.
Hal itu sontak membuat Hana merapatkan badannya ke pintu.
" Situasinya berbahaya ini" Batinnya mengatakan.
Hana mengerjapkan matanya karena salah tingkah dengan Wajah yang sudah memerah karena ulah Revan.
" Mmm... Udah malam Mas. Aku mau masuk. Assalamualaikum." Hana berbicara dengan cepat.
Sebenarnya Hana ingin mengajak Revan masuk, namun karena malu akhirnya niatnya ia urungkan.
Hana langsung membuka pintu mobil dan berjalan masuk tanpa menengok kearah Revan.
Selama perjalanan tak henti-hentinya Hana menyesali sikapnya yang memalukan karena hal tadi.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Takobbalallahu minna wa minkum para readers semua. Mohon maaf kalau baru update sekarang karena masih suasana lebaran dan banyak keluarga yang bertamu jadinya baru bisa update sekarang.
Seharusnya up nya sudah dari tadi pagi, tapi karena tiba-tiba hp mati dan belum sempat ke save makanya harus nulis ulang lagi dari awal. Kan sedih akunya... tapi enggak apa-apa demi readers aku harus nulis ulang.
Happy readingš
Salam story from By_me...
Dan jangan lupa di like dan vote nya yah!
__ADS_1