Hati yang Patah

Hati yang Patah
Di jodohkan


__ADS_3

Kandungan Hana kini sudah menginjak 8 bulan dan untuk jenis kelaminnya sendiri mereka memilih untuk tak menetahui terlebih dahulu mengenai jenis kelamin kedua anak mereka. Biarlah nanti mereka mengetahuinya saat anak mereka sudah lahir.


Kedua mertua dan kedua orang tuanya berganti-gantian untuk datang menginap dan menemaninya yang kini tengah hamil tua dengan kondisi yang semakin sulit untuk melakukan apa-apa sendiri. Berat badan yang dua kali lebih berisi daripada sebelumnya membuatnya kesulitan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Kini Hana tidak lagi berada di dapur, biasanya ia akan selalu membuatkan makanan untuk keluarga kecilnya namun pada kehamilan tuanya ini ia dilarang keras untuk berada didapur dan mengerjakan pekerjaan yang sekiranya bisa membuat kecapean.


Sudah dua hari ini giliran Vano yang menemani kakanya di rumah. Vano dengan sigap selalu memberikan segala kebutuhan kakanya dan menemaninya untuk jalan-jalan sore sesuai dengan anjuran dokter.


Saat pagi hari Hana terbangun sudah tidak ada lagi suaminya di sampingnya. Saat Hana melihat kearah jam dinding, ternyata sekarang sudah pukul 07.40 WIB.


"Astagfirullah, kenapa aku bisa bangun kesiangan. Jihan udah telat pasti ini" Gumamnya sembari berusaha berjalan menuju kamar anaknya. Namun saat ia membuka kamar anaknya, suasana kamar itu sudah kosong dan telah tertata rapi.


Hana pun berjalan menuruni tangga dengan pelan-pelan ingin segera bertanya kepada mbok Nah.


"Mbok, suami sama anak saya sudah berangkat?" Tanyanya saat ia sudah sampai di dapur.


"Sudah setengah jam yang lalu, Non. Jihan diantar pagi tadi ke sekolah sama Ayahnya."


"Kenapa Hana enggak dibangunin, mbok?"


"Mbok juga enggak tahu, Non." Jawab mbok Nah


"Oh, yaudah. Mbok buat sarapan apa?"


"Mbok masak nasi goreng seafood aja, Non. Mending sekarang Non sarapan dulu, mbok mau bikinin susu untuk Non. Tadi den Revan nyuruh mbok untuk siapin susu untuk Non."


"Yaudah, mbok. Makasih, ya."


"Sama-sama, Non."


Mbok Nah pun kembali masuk ke dapur dan membuatkan susu khusus untuk ibu hamil dengan rasa coklat.

__ADS_1


"Vano nya udah sarapan, mbok?" Tanyanya di sela-sela kunyahan nasi gorengnya.


"Den Vano belum bangun, Non."


"Yaampun, tuh anak. Udah siang juga masih aja molor."


Hana hanya bisa geleng-geleng kepala karena kebiasaan adiknya yang akhir-akhir ini suka bangun telat.


Hana kembali mengunyah makanannya dengan lahap. Dari arah belakang sudah berjalan adiknya dengan gaya khas bangun tidur. Rambut acak-acakan dan pakaian kaos khas anak rumahan.


"Selamat pagi, kak." Ucapnya saat sudah duduk tepat di depan kakaknya.


"Heem, pagi. Begadang kamu semalam?"


"Enggak juga, tapi kalau lagi enggak kerja gini malas bangun pagi, kak. Maunya tuh mesra-mesra sama guling di kamar."


"Guling diajak mesra-mesraan, sana cari pasangan biar ada yang diajak mesra-mesraan. Biar ada yang nemenin. Kan enak, pulang kerja ada yang sambut, ada yang ngurusin. Malamnya juga ada yang nemenin bobo."


"Oh, jadi kamu mau gitu jadi perjaka tua. Sampai tua, encok enggak nikah-nikah? Iya?"


"Enggak gitu juga kali, kak. Vano tuh sibuk kerja dan enggak ada waktu buat ngurusin yang kayak gitu-gitu." Vano kembali mengunyah makanan di mulutnya sambil tetap mendengarkan ucapan kakaknya yang tiada henti.


"Yaudah, gini aja, gimana kalau kamu kakak jodohin aja sama seseorang yang kakak kenal?Mau, ya!"


"Apaan sih kakak ini. Vano enggak mau di jodoh-jodohin kayak gitu. Kayak Vano udah enggak laku aja ampe masalah yang kayak gitu diurusin."


"Kan, kamu sendiri yang tadi bilang enggak ada waktu buat ngurusin yang kayak ginian. Yaudah, biar kakak aja yang nyariin jodoh buat kamu. Calon yang akan kakak jodohin buat kamu itu cantik loh!"


"Tetap Vano enggak mau, kak!" Jawabya tegas.

__ADS_1


"Yaudah kalau enggak mau. Awas aja kalau nanti kamu nyesel dan memohon-mohon sama kakak untuk dijodohin sama dia!"


"Enggak akan, kak!"


Setelah mendengar jawaban dari adiknya, Hana hanya bisa menghela nafas karena sikap keras kepala adiknya. Padahal menurutnya calon yang akan ia jodohkan dengan adiknya ini adalah wanita cantik, manis, berpendidikan dan yang terakhir ia itu sangat santun dengan semua orang.


Setelah selesai menyantap sarapan pagi berdua, kini Hana sudah berada di dalam kamar ingin membersihkan diri setelah tadi ia dibantu menaiki tangga oleh adiknya.


Masuk pukul 12 siang, Vano melajukan kendaraannya untuk segera menjemput keponakannya di sekolah. Satu jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di rumah. Jihan sangat akrab dengan om nya dan dimana setiap ada om nya di rumah maka mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.


Tibalah waktu makan malam namun suaminya itu tak kunjung pulang dari kantor. Entah apa yang suaminya itu lalukan hingga malam begini belum juga pulang dari kantor. Hana tak punya pilihan lain selain menghabiskan makanan di depannya. Adiknya itu melarang dengan keras untuk menunggu suaminya yang masih berada di kantor. Sebagai sesama pebisnis, ia sangat tahu bahwa sekarang iparnya itu pasti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting sehingga membuatnya belum pulang sampai sekarang.


Sampai pukul 10 malam suaminya itu belum juga sampai di rumah. Saat dihubungi juga ponsel suaminya itu tidak aktif membuatnya sangat khawatir.


Karena terlalu kelelahan menunggu akhirnya Hana pun tertidur pulas di atas sofa sambil menunggu suaminya pulang di ruang tamu.


Pukul 12 malam barulah Revan sampai di rumah. Saat pintunya itu terbuka pemandangan di depannya membuatnya merasa sangat bersalah.


Di elusnya rambut istrinya dengan pelan agar tidur pulas istrinya tidak terganggu.


Diangkatnya badan istrinta dari sofa itu menuju kerah kamar mereka yang ada di lantai dua.


Ia menyelimuti tubuh istrinya. Setelah selesai melakukan itu ia masuk menuju kamar mandi ingin membersihkan badannya yang terasa sangat lengket. Setelah selesai mandi, ia pun ikut bergabung bersama istrinya itu di atas kasur.


Keesokan harinya, lagi-lagi Revan tidak menunggu istrinya bangun. Pukul 06 pagi ia sudah berangkat ke kantor.


Saat Hana sudah terbangun, suaminya itu sudah tidak ada di sampingnya. Ia menarik nafas panjang karena akhir-akhir ini suaminya entah kesibukan apa, sudah jarang terlihat di rumah.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2