
Revan menyandarkan punggungnya di mobil dan mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi anak buahnya numun ternyata tidak ada sinyal di sana. Mereka berada di tempat yang sangat sepi dengan banyak pohon rindang di kanan dan kiri jalanan.
Revan memijit pelipisnya dan menarik nafas panjang. Revan mengirimi anak buahnya pesan, semoga saja nanti pada saat ada sinyal pesannya akan terbaca. Hana turun dari mobil dan berdiri di samping Revan.
" Mas Revan, bagaimana?. Mobilnya bisa nyala, kan?"
" Mobilnya enggak bisa nyala. Kayaknya ada mesinnya yang rusak."
" Jadi, gimana dong, Mas?"
" Aku udah ngirimin pesan ke anak buahnya aku. Biar dia yang urus masalah mobil ini. Mending sekarang kita jalan dulu siapa tahu nanti ada mobil yang melintas."
" Yaudah, aku ambil barang-barang aku dulu."
Revan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Hana segera masuk ke dalam mobil dan mengambil tasnya.
Mereka sudah berjalan selama 15 menit namun tanda-tanda kendaraan akan melintas itu nihil. Mereka melihat di depan ada sebuah perkampungan, segera mereka berjalan kesana dan bertanya kepada warga
" Assalamualaikum pak, Saya mau tanya kira-kira di sekitar sini ada kendaraan umum enggak pak? Soalnya tadi mobil kami mogok dan tempat penginapan kami juga masih jauh dari sini."
" Kalau jam segini sudah tidak ada lagi kendaraan umum yang melintas dek, besok pagi baru kendaraan umum kembali beroperasi."
" Oh, seperti itu ya, pak!"
" Iya, dek."
Hana dan Revan saling pandang untuk sesaat.
" Kalau misalnya kami menyewa kendaraan untuk ke tempat penginapan kami kira-kira ada enggak pak?"
" Mohon maaf, enggak ada dek."
Revan menganggukkan kepalanya dan melirik kearah jam tangannya. Hari semakin malam dan tidak ada kendaraan yang bisa mereka tumpangi.
" Kalau penginapan kira-kira di sekitar sini ada enggak pak?"
" Ada, dek. Mungkin sekitar 100 meter di depan. Adek tinggal lurus saja dan nanti di sebelah kanan ada home stay."
" Terima kasih banyak pak. Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Mereka pun berjalan dan mengikuti instruksi bapak tadi. Akhirnya mereka sampai di depan tempat penginapan tak terlalu besar namun yang penting mereka bisa beriatirahat untuk malam ini.
Revan memesan dua kamar tetapi ternyata yang tersisa hanya satu kamar karena kamar yang lainnya di tempati oleh mahasiswa yang sedang menjalani KKN. Mau tidak mau akhirnya mereka mengambil satu kamar itu daripada mereka tidak beristirahat malam ini.
Dengan canggung mereka berdua memasuki kamar yang telah mereka pesan tadi. Hana duduk di sofa dan Revan berdiri di dekat jendela membuka ponselnya.
Hana sebenarnya sangat malu karena harus satu kamar dengan Revan. Kasur di depannya juga sangat kecil. Tiba-tiba Revan berjalan kearahnya dan duduk di samping Hana. Mereka duduk dengan diam. Suasananya sungguh sangat canggung.
" Mmm... Aku mau sholat isya dulu." Katanya cepat dan berdiri dari sana berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Beruntung karena walaupun penginapan itu agak kecil, namun fasilitasnya lengkap dengan alat sholat yang tergantung di sana.
Setelah Hana selesai sholat isya, kini giliran Revan yang melaksanakan sholat isya.
Revan melipat alat sholatnya dan menggantungnya kembali. Ia jadi bingung sendiri dengan situasi ini.
" Kamu tidur di ranjang saja. Biar saya yang tidur di sofa."
" Biar saya saja yang tidur di sofa, Mas. Sofanya kan, kecil hanya muat untuk Hana. Jadi, Mas Revan di ranjang saja."
" Enggak. Kamu yang tidur di ranjang. Aku yang di sofa."
" Aku saja yang di sofa, Mas."
Revan jadi kesal dengan sikap keras kepala Hana. Tiba-tiba ide muncul di kepalanya.
" Atau begini saja kita cari jalan tengahnya. Bagaimana kalau kita sama-sama tidur di ranjang." Katanya berusaha menggoda Hana
Mendengar itu membuat Hana melototkan matanya kearah Revan. Baru tadi pagi di kasih wejangan oleh Ibu Suri, sekarang malah dilanggar.
" Enggak bisa." Katanya ketus.
" Bagaimana lagi, kamu kan tidak mau mengalah, makanya aku cari jalan tengahnya saja."
" Jalan tengah katanya, bagaimana kalau nanti khilaf dan melakukan hal yang tidak-tidak." Batin Hana mengatakan.
Revan berjalan mendekat kearah Hana. Melohat itu, Hana semakin memundurkan langkahnya. Revan menampakkan senyum miringnya yang seketika membuat Hana jadi takut.
" Kenapa? Aku sudah mengantuk Hana. Ayo, kita tidur."
"Tidak, tidak, maksudku...aku akan tidur di ranjang dan Mas Revan tidur di sofa.
" Kamu yakin? tidak mau seranjang dengan aku?"
" Ish, Mas Revan apaan sih! Pergi sana!"
Revan terkekeh melihat respon Hana. Kalau ia tidak melakukan hal ini pasti mereka akan mempeributkan siapa yang tidur diranjang dan yang tidur di sofa sampai pagi.
Revan segera membaringkan badannya di sofa dan menghadap kearah Hana. Hana membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Suasana kembali hening. Hana tidak bisa tertidur, mungkin karena ia satu ruangan dengan calon suaminya makanya dia seperti ini.
"Mas Revan, kamu sudah tidur?"
" Belum."
" Aku mau tanya sesuatu sama kamu!"
" Tanya apa?"
" Siapa wanita yang tadi?"
" Wanita yang mana?"
__ADS_1
" Wanita berhijab tadi yang kamu temani bicara saat di lobi hotel."
Revan mengingat siapa wanita yang di maksud oleh Hana. Mengapa Hana menanyakan wanita yang tadi. Jangan bilang kalau penyebab dia tadi judes padanya adalah karena ia cemburu, batinnya menerka-nerka.
" Oh, wanita tadi. Memangnya kenapa?"
" Jawab saja, Mas. Jangan balik nanya!" Katanya ketus.
Revan sudah mengerti sekarang. Hana memang marah dan mendiaminya tadi siang karena wanita yang tadi. Revan tersenyum karena dicemburui oleh calon istri.
" Dia itu teman dekat aku saat masih SMP di pesantren. Aku sama dia sering belajar bareng dan menghafal bareng, makanya kita bisa dekat. Setelah lulus SMP aku pindah ke SMA dekat rumah setelah itu, kita tidak pernah lagi bertemu. Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi."
" Memangnya kenapa? kamu cemburu sama wanita tadi?"
" Siapa yang cemburu, geer." Katanya berbohong.
Revan terkekeh karena tahu Hana sedang berbohong dan gengsi mengatakannya.
" Udahlah Hana. Dari sikap kamu tadi yang ngediemin aku setelah bertemu dengan temen aku, sudah kebaca kalau kamu cemburu. Iya, kan. Ngaku kamu!"
" Enggak!"
" Jadi kamu enggak bakalan cemburu nih, kalau misalnya aku ketemu lagi sama dia, hmm?"
" Yaudah, sana ketemu sama temen kamu itu." Katanya ketus. Hana berbicara dengan sebutan kamu, bukan lagi Mas.
Revan tertawa karena tingkah Hana yang sudah ketahuan tetapi gengsi untuk mengakuinya. Apakah semua perempuan seperti itu? , batinnya.
" Iya, besok saja aku ketemunya."
Perkataan Revan sontak membuat Hana semakin kesal. Tiba- tiba Hana bangun dari tidurnya dan menatap dengan tajam kearah Revan.
" Bercanda, calon istri. Kamu kalau lagi marah gini, jadi makin cantik deh!"
Kekesalan Hana seketika hilang karena gombalan receh Revan yang berganti dengan rona merah di wajahnya. Hana sangat malu karena hanya gombalan recehnya itu mampu membuatnya luluh. Hana kembali membaringkan badannya dan menutup badannya sampai kepala karena malu.
Revan masih tersenyum melihat tingkah Hana. Ia juga ikut membaringkan badannya menghadap kearah ranjang.
" Kamu enggak usah cemburu sama temenku yang tadi, karena dia itu sudah menikah. Jadi tidak mungkin apa yang kamu fikirkan itu terjadi, calon istri."
Mendengar itu membuat Hana merasa lega namun ia juga merasa malu karena mencemburui Revan dengan seorang wanita yang telah berkeluarga. Rasa malunya sekarang sudah berkali-kali lipat dan ia sudah berburuk sangka kepada calon suaminya.
Akhirnya setelah permasalahan telah selesai mereka pun tertidur dengan pulasnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guysnya😘
Jangan lupa like nya dan votenya agar author semakin semangat nulisnya. Terima kasih.
Salam story from By_me...
__ADS_1