
Hari ini adalah hari terakhir honeymoon mereka di Bali. Hana dan Revan akan pulang ke Jakarta. Jadwal penerbangan mereka nanti pada pukul 02.30 siang. Mereka sekarang telah berada di dalam mobil menuju ke Bandara. 30 menit kemudian mereka telah sampai di depan bandara dan dibantu oleh sopir untuk membawa koper mereka. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir tadi, mereka sekarang berjalan masuk ke bandara.
Selama di dalam pesawat, Hana dan Revan menghabiskan waktu mereka dengan berbincang-bincang ringan. Sesekali mereka melempar candaan dan tertawa bersama. Bersama dengan Hana membuat seorang Revan berubah 180 derajat. Saat di perusahaan dan keluarganya ia terkenal pribadi yang dingin sama seperti dengan Raga sepupunya. Hanya kepada orang-orang yang Revan cintai ia tunjukkan sifat aslinya.
Perbincangan mereka tak ada hentinya sampai pesawat landing dan mereka telah sampai di Jakarta. Mereka berjalan beriringan keluar dari bandara. Dari arah luar, sudah ada kedua orang tua Revan, Jihan dan Ana yang menyambut kedatangan mereka.
Senyum merekah Hana dan Revan tampakkan ketika melihat orang-orang yang mereka sayangi telah menunggu kedatangan mereka di luar.
Jihan dengan penuh semangat dan wajah yang berbinar berlari ke arah kedua orang tuanya dan memeluk mereka satu per satu. Jihan sekarang berada di dalam gendongan Ayahnya.
"Akhirnya Bunda sama Ayah pulang juga. Jihan udah kangen banget!" Ucapnya penuh semangat.
Hana dan Revan tersenyum melihat tingkah anak mereka. Revan mencium pipi Jihan dan Hana membelai rambut anaknya sayang.
Mereka berjalan menuju ke arah Mama dan Papa dan menyalami tangan mereka satu per satu. Tak lupa pelukan di berikan Mama Ajeng untuk anak dan menantunya.
Setelah aksi kangen-kangenan selesai, mereka pun menuju ke mobil mereka dan pulang menuju rumah. Revan, Hana, Jihan dan Ana berada dalam satu mobil. Mereka memang langsung pulang menuju rumah dan tidak nginap di rumah Papa Surya karena hari senin mereka akan kembali masuk ke kantor. Papa Surya dan Mama Ajeng dengan berat hati melepas anak menantu dan cucunya untuk pulang ke rumah mereka. Urusan oleh-oleh, akan diberikan nanti pada saat waktu libur karena rencananya mereka akan menginap di sana.
Setengah jam kemudian akhirnya mereka telah sampai di rumah dan membawa semua barang-barang mereka ke dalam. Ana membereskan semua barang majikannya, sedangkan Revan, Hana dan Jihan langsung menuju kamar mereka di lantai dua.
Saat sudah sampai di dalam kamar, Revan membuka dua kancing kemejanya dan menyandarkan punggungnya di sofa. Hana dan Jihan sudah berada di atas kasur saling melepas rindu dengan berbincang dan bercanda.
"Unda, tahu enggak kenapa Jihan senang banget Ayah sama Bunda udah pulang!"
"Karena anak Bunda yang ompong ini sangat rindu kan sama Bunda!" Ucapnya menyentuh hidung anaknya.
"Salah, Bunda." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus apa dong, sayang?"
"Karena Jihan akan punya adek, Bunda!" Ucap Jihan kegirangan karena akan punya adek dan dia akan ada teman mainnya.
__ADS_1
Hana dan Revan kini saling pandang.
"Siapa yang bilang seperti itu, sayang?" Tanyanya saat ia sudah kembali menghadap kearah anaknya.
"Kakek sama nenek, Bunda. Kakek sama nenek bilang kalau sebentar lagi Jihan akan punya adek."
Revan menepuk jidatnya karena ulah kedua orang tuanya yang telah mengatakan hal yang tidak-tidak kepada anak mereka. Revan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ranjang, menghampiri istri dan anaknya.
"Jihan memang akan punya adek. Tapi bukan sekarang, adeknya Jihan masih dalam proses." Ucapnya pada anaknya.
Hana memberi cubitan kecil ke perut suaminya karena sudah mengatakan hal seperti itu yang pastinya akan membuat anaknya bertanya panjang kali lebar.
"Adeknya Jihan masih dalam proses?" Ucapnya berfikir sambil menyimpan jari telunjuknya di dagunya. "Maksudnya apa, Ayah?" Tanyanya penasaran.
Revan mengerutkan keningnya guna memikirkan jawaban yang tepat. Salahnya sendiri mengapa mengatakan seperti itu pada saat berbicara pada anaknya. Revan tak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan anaknya. Tiba-tiba terlintas jawaban yang paling aman untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Adeknya Jihan masih ada di dalam perutnya, Bunda, sayang!" Ucapnya mengelus perut istrinya sambil menatap Hana dengan berkedip-kedip, agar Hana mengiyakan saja apa yang ia katakan.
Hana tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa menampakkan senyum terpaksanya kepada anaknya.
"Maksudnya, adeknya Jihan sekarang ada di dalam perutnya, Bunda?" Ucapnya sambil menunjuk perut Bundanya.
"Iya, sayang. Adeknya Jihan ada di dalam perutnya, Bunda." Ucap Revan menjawab pertanyaan anaknya. Hana hanya bisa diam tanpa menjawab. Biarlah suaminya yang menjawabnya, salahnya sendiri kenapa memancing anaknya seperti itu.
Jihan pun menganggukkan kepalanya, namun detik berikutnya Jihan kembali bertanya.
"Terus kenapa adek enggak keluar-keluar juga, Bunda. Emang adek enggak sesak nafas di dalam perutnya, Bunda?"
Mendengar pertanyaan anaknya membuat Hana dan Revan tersenyum. Ada-ada saja anaknya ini.
Kali ini Hana yang menjawab pertanyaan anaknya.
__ADS_1
"Adeknya Jihan ada di dalam perutnya Bunda itu selama 9 bulan sayang. Adek enggak akan sesak nafas selama di dalam perutnya Bunda, selama Bunda sehat dan selalu makan yang bergizi. Kalau Bunda sehat maka adek juga insya Allah akan sehat, sayang." Ucapnya mengelus perutnya.
Kini giliran Jihan yang mengelus perut Bundanya sambil tersenyum.
"Jadi begitu yah, Bunda?"
"Iya, sayang. Sekarang Jihan udah ngerti?"
"Iya, Bunda. Jihan udah ngerti."
Setelah mengatakan itu, Jihan menundukkan kepalanya sejajar dengan perut Bundanya.
"Adek, selama di dalam perut jangan nyusahin Bunda, yah. Adek itu lama di dalam perut, jadi jangan buat Bunda susah."
Mendengar penuturan anaknya membuat Hana dan Revan saling pandang. Entah mengapa hati mereka menghangat mendengar penuturan anaknya.
"Kalau adek enggak nakal, nanti kalau adek sudah keluar dari perut Bunda, kakak akan beri adek hadiah. Kakak, janji deh!" Ucap anaknya berbicara sendiri.
Mendengar penuturan anaknya membuat Hana sangat bahagia, padahal itu hanya sandiwaranya agar anaknya itu mendapat jawaban dari rentetan pertanyaannya tadi.
Hana beralih mengelus rambut anaknya pelan.
"Adek bilang kalau kakaknya harus mandi sekarang. Kakaknya udah bau!" Ucapnya menirukan suara anak kecil.
"Yaudah, sekarang kakak mandi dulu yah, adek!" Ucapnya juga menirukan suara Bundanya.
Revan dan Hana dibuat tertawa oleh tingkah anaknya. Setelah itu Jihan beralih mencium pipi Ayah dan Bundanya dan berlari keluar menuju kamarnya untuk mandi. Ia tak ingin bau berada di dekat adeknya.
Setelah Jihan sudah keluar, Hana hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap suaminya yang menampakkan senyum tak berdosanya. Karena ulah suaminya ia harus berbohong pada anaknya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
__ADS_1
Segitu aja dulu yah kk. Jangan lupa like, komen dan vote nya. Saranghaeyo readersi❤
Salam story from By_me