
Setelah melewati hari-hari bahkan berminggu-minggu, kini Jihan sudah bisa kembali ke rumah dan perban di kepalanya juga sudah di lepas sebelum ia keluar dari rumah sakit.
Revan dan Hana mulai saat itu lebih protektif dalam menjaga anaknya. Dimanapun anaknya itu berada, pasti mereka ada di sana memantaunya dari jarak dekat. Takut hal yang buruk kembali terjadi.
Sedangkan Raga, ia masih berada di rumah sakit karena banyaknya luka di badannya akibat pukulan dari Revan dan dua orang suruhannya membuatnya menjalani hari untuk masa penyembuhannya di rumah sakit. Kedua orang tua Raga sudah berusaha mencari tahu siapa yang sudah membuat anak mereka seperti itu dengan menggunakan jasa dari pihak kepolisian dan orang bayarannya, namun sampai sekarang tak kunjung mereka dapatkan buktinya. Kekuatan dan kekuasaan Revan tak mampu mereka tembus.
Sialnya lagi, kini perusahaan Raga yang ada di Amerika Serikat terancam gulung tikar. Katanya ada perusahaan besar yang membuat para investor yang ada di perusahaannya menarik diri dan tidak lagi menanam modal di perusahaannya. Revan pun tak mau tahu dan tak banyak pusing perihal hal itu.
Usia kandungan Hana kini sudah menginjak 5 bulan. Berat badan Hana pun semakin hari semakin bertambah. Dua janin yang ada di dalam perutnya membuat berat badannya dua kali lebih berisi dibandingkan saat hamil anak yang pertama.
"Ayah, hari ini kok kelihatannya ganteng banget sih!" Goda Jihan pada Ayahnya yang saat itu sedang bercengkerama di ruang keluarga.
Revan menegakkan duduknya dan bersedekap. Matanya ia micingkan menatap anaknya yang saat ini sedang senyum-senyum di depannya.
"Ayah, tahu Jihan pasti ada maunya kan, makanya bilang kayak gitu?" Tanyanya pada anaknya yang gerak-geriknya sudah bisa ia baca. Akhir-akhir ini, kalau Jihan ada maunya pasti ia akan memujinya habis-habisan.
"Enggak yah, Jihan kali ini jujur. Ayah dua kali lebih ganteng." Kedua ibu jari tangannya sudah terangkat ke atas.
"Yasudah, Ayah kali ini percaya karena memang Ayah dari lahir sudah ganteng." Hana yang ada di dapur hanya bisa tertawa mendengar ucapan penuh percaya diri suaminya. " Sekarang Jihan bilang mau apa? Mainan, jalan-jalan, uang, atau...mau Bunda baru?"
"Ayah....!" Teriaknya kesal tidak terima karena ucapan Ayahnya. Revan seketika langsung tertawa karena berhasil mengerjai anaknya.
"Bercanda...bercanda. Gitu aja marah!" Revan menoel-noel pipi anaknya yang saat ini sudah memasang wajah kesalnya. Bukannya takut, Revan malah gemas melihatnya.
"Sekarang bilang, apa yang Jihan mau?"
Jihan sudah kembali pada mode bersahabatnya. Wajahnya kembali tersenyum ingin mengutarakan keinginannya.
"Mmm...Jihan mau minta tolong sama Ayah..." Tangannya ia genggam dan ia goyangkan ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
"Mau apa, sayang?"
"Jihan minta tolong, bantuin Jihan ngerjain PR."
"Hah?" Revan kira anaknya minta salah satu yang tadi ia ucapkan, ternyata ia salah.
"Hah, apanya yah?"
"Ha, hi, hu, he, ho."
"Ih, Ayah, Jihan serius yah." Ucapnya lagi-lagi karena Ayahnya tidak bisa diajak serius.
"Yasudah, sekarang sini tugasnya biar Ayah ajarin."
"Hihiw, ini, yah." Jihan memberikan bukunya pada Ayahnya. Tugas bahasa inggris. Jujur saja, Jihan tidak terlalu suka dengan pelajaran bahasa inggris karena memang ia tidak ada minat untuk belajar bahasa itu. Pelajaran itu membuatnya pusing karena kadang kalimatnya hampir sama namun artinya ternyata berbeda. Kalau pelajaran mate-mateka dan yang lainnya dengan gampang dapat ia pahami. Namun berbeda dengan pelajaran yang satu itu.
Ana sudah tidak lagi bekerja di sana dan kini sudah masuk perguruan tinggi dengan biaya beasiswa dari perusahaan Revan. Kebetulan sekali kampus yang Ana pijak untuk menuntut ilmu itu termasuk di bawah naungan perusahaannya. Jadi dengan mudahnya, Revan merekomendasikan dan memberikan beasiswa kepada Ana.
Biaya kuliah dan biaya hidup Ana ditanggung oleh Revan. Itu semua sebagai bentuk terima kasih Revan dan Hana kepada Ana karena selama setahun lebih sudah membantunya. Awalnya Ana coba untuk menolak niat baik dari majikannya, namun Revan tidak mau dibantah. Dengan berat hati, Ana menerima kebaikan dari mantan majikannya itu.
"Makan dulu, mas, Jihan." Hana menyimpan di atas meja sebuah cemilan untuk menemani malam mereka. Kue red velvet dengan lapisan cream putih dan bertabur keju parut di atasnya yang sangat menggugah selera. Beruntung saja Revan sudah selesai mengerjakan tugas bahasa inggris anaknya, jadi ia bisa segera melahap kue yang aromanya sudah menusuk indera penciumannya dari tadi.
"Jihan juga mau!" Jihan maju dan ikut memakan kue buatan Bundanya. Mereka makan kue itu dengan diselingi dengan candaan hangat.
"Kapan adek keluar Bunda?" Ucapnya sambil mengelus perut buncit Bundanya.
Hana tersenyum dan membelai rambut anaknya sayang.
"Empat bulan lagi, sayang. Sabar ya. Sebentar lagi adek akan keluar dan nantinya Jihan tidak akan lagi kesepian, karena sudah ada yang menemani Jihan main, ya, sayang."
__ADS_1
"Jihan sudah enggak sabar Bunda, pengen segera melihat adek!" Jihan berkata dengan penuh antusias dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.
Revan dan Hana tersenyum mendengarnya. Kini Jihan sudah ada di dalam pangkuan Ayahnya. Mereka kembali bercanda bersama sampai kegiatan mereka dihantikan oleh mbok Nah yang datang membawakan ponsel Hana. Mbok Nah adalah asisten rumah tangga baru yang menggantikan Ana. Sudah beberapa bulan mbok Nah bekerja di sana setelah Ana berhenti bekerja.
"Ponselnya sudah dari tadi berbunyi terus non. Makanya mbok ngambil ponselnya di kamar, siapa tahu penting. Mbok minta maaf sebelumnya ya, non, sudah masuk kamar tanpa permisi."
"Enggak apa-apa. Hana percaya kok sama mbok. Terima kasih ya, mbok sudah ambilin hp nya Hana."
"Sama-sama, non. Kalau begitu mbok mau kembali ke belakang. Mau lanjutin kerjaannya mbok."
"Silahkan, silahkan, mbok."
Setelah mbok Nah sudah pergi, Hana mengecek riwayat panggilannya. Banyak sekali panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Hana yang penasaran pun segera menelpon balik nomer yang tadi. Tersambung...panggilannya pun diangkat.
Saat sudah tersambung, suara orang di balik sambungan membuatnya terdiam. Hana yang belum bicara apa-apa tiba-tiba tangannya lemas dan ponsel yang ia genggam kini sudah terlepas dari tangannya.
Air mata Hana sudah menetes, namun suaranya tak mampu keluar. Ucapannya tercekat di tenggorokan. Membuat hatinya seperti di remas. Dipandangnya dua orang di depannya dengan air mata yang menggenangi wajahnya. Ia menangis namun tak mampu berucap satu kata pun.
"Kamu kenapa nangis, sayang?" Tanya Revan khawatir melihat keterdiaman istrinya dengan air mata membasahi pipi. Baru saja tadi mereka bercanda, sekarang tiba-tiba saja istrinya itu menangis. Istrinya menangis tanpa suara menadakan ia sangat sakit hati.
Bukannya menjawab Hana malah terisak menangis dan sesekali memukul dadanya yang terasa sangat nyeri.
**Bersambung dulu lah, ya!
Biar kalian pada penasaran menjelang tamat๐๐โ**
Jangan lupa vote yang banyak biar besok bisa up cepat. Like dan komennya juga yah!
Salam story from By_me๐
__ADS_1