
Hana mengecek riwayat panggilannya. Banyak sekali panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Hana yang penasaran pun segera menelpon balik nomer yang tadi. Tersambung...panggilannya pun diangkat.
Saat sudah tersambung, suara orang di balik sambungan membuatnya terdiam. Hana yang belum bicara apa-apa tiba-tiba tangannya lemas dan ponsel yang ia genggam kini sudah terlepas dari tangannya.
Air mata Hana sudah menetes, namun suaranya tak mampu keluar. Ucapannya tercekat di tenggorokan. Membuat hatinya seperti di remas. Dipandangnya dua orang di depannya dengan air mata yang menggenangi wajahnya. Ia menangis namun tak mampu berucap satu kata pun.
"Kamu kenapa nangis, sayang?" Tanya Revan khawatir melihat keterdiaman istrinya dengan air mata membasahi pipi. Baru saja tadi mereka bercanda, sekarang tiba-tiba saja istrinya itu menangis. Istrinya menangis tanpa suara menadakan ia sangat sakit hati.
Bukannya menjawab Hana malah terisak menangis dan sesekali memukul dadanya yang terasa sangat nyeri.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Revan lagi memegang kedua pundak istrinya. Ia semakin dibuat penasaran akan perubahan istrinya yang seketika menangis.
Jihan yang dari tadi memakan kepingan kue red velvet seketika menghentikan kunyahannya dan menyimpan sisanya di atas piring. Jihan kini juga mendekatkan dirinya kepada Ayah dan Bundanya.
Hana mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dengan air mata yang menggenangi wajahnya.
"Ibu, mas..."
"Iya, Ibu, kenapa, sayang?! Jangan buat aku semakin penasaran?!"
"I-ibu meninggal...."Hana kini sudah terisak sesaat setelah mengucapkannya.
Revan yang mendengar kabar duka itu pun seketika lemas.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun." Ucapnya lirih dan seketika memeluk istrinya yang semakin terisak.
Jihan yang mengerti dengan keadaan pun juga turut menangis karena ia harus kehilangan nenek kesayangannya.
Mereka bertiga berpelukan dengan kesedihan yang melingkupi karena berita kepergian Ibu Suri untuk selama-lamanya.
"Aku mau kita langsung ke Surabaya, mas. Sekarang juga. Aku tidak mau sampai tidak bisa melihat Ibu untuk yang terakhir kalinya."
"Iya, sayang. Sekarang juga kita ke sana."
Revan, Jihan dan Hana pun segera ke kamar untuk membawa beberapa baju untuk di bawa ke Surabaya.
Sebelum itu, Revan menghubungi kedua orang tuanya memberitahu kabar berpulangnya Ibu Suri. Kedua orang tuanya ikut berduka atas kepulangan Ibu Suri yang memang sangat baik itu terutama pada menantu mereka. Kedua orang tua Revan mengatakan akan ikut ke Surabaya tapi nanti mereka akan menyusul karena Revan sudah mau berangkat.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Tak membutuhkan waktu yang lama mereka sampai juga di Surabaya. Saat sampai di rumah Ibu Suri, dari depan rumah sudah terpasang bendera kuning.
__ADS_1
Kedua kaki Hana rasanya tidak mampu menumpu berat badannya. Kakinya semakin bergetar seirama dengan langkah kakinya yang semakin dekat dengan pintu rumah Ibunya.
Ia mencoba menghapus air matanya saat sudah di depan pintu. Hana, Revan dan Jihan perlahan berjalan masuk ke rumah yang sudah dipenuhi oleh para tetangga Ibu Suri.
Hana duduk di samping almarhum Ibu Suri yang sudah terbujur dan telah dipakaikan kain kafan.
Air matanya mengalir tanpa permisi kembali membasahi wajahnya. Ia sudah tidak kuasa menahan tangisnya, dipeluknya jasad Ibu Suri yang sudah ia anggap sebagai Ibu sendiri dengan kesedihan yang mendalam dan rasa penyesalan.
"Ibu, maafin, Hana, Bu." Ucapnya diiringi dengan isak tangis.
"Hana sungguh menyesal karena waktu itu membiarkan Ibu pulang sendirian. Maafin, Hana, Bu."
"Seandainya, Hana enggak membiarkan Ibu waktu itu, mungkin Hana masih bisa melihat Ibu, masih bisa menjaga dan merawat Ibu."
Isakannya terdengar sangat pilu.
"Seandainya..." Revan yang tak tega melihat isakan istrinya pun menarik istrinya ke dalam pelukan berusaha untuk menguatkannya.
"Ikhlaskan Ibu, sayang. Biar ibu perginya tenang. Tugas kita sekarang adalah mendoakan beliau agar diterima disisinya dan dilapangkan kuburnya. Ikhlaskan, sayang."
"Tapi Hana belum bisa bahagiain Ibu, mas!" Ucapnya terisak di dalam pelukan suaminya.
"Ibu sudah bahagia di sana, sayang. Kamu selama ini sudah membahagiakan Ibu dengan memberinya cucu dan menjadi anak yang patuh pada Ibu. Iklhaskan Ibu, sayang biar Ibu perginya dengan tenang."
Semua orang yang melihatnya merasa iba. Mereka kasihan pada almarhum karena hingga akhir hayatnya anaknya itu hanya sekali datang dan itupun langsung pulang. Sisa hidupnya hanya sendiri tanpa adanya seseorang yang mendampingi.
Setelah selesai di sholatkan di mesjid terdekat, kini almarhum dibawa menuju ke peristirahatan terakhirnya. Tempat pemakaman umum yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah almarhum.
Saat almarhum ingin diturunkan ke liang lahat, tiba-tiba dari arah belakang datang Arlan dengan penampilan yang acak-acakan menghentikan orang-orang yang ingin menurunkan almarhum Ibunya ke liang lahat.
"Aku mohon, izinkan aku melihat Ibu untuk yang terakhir kali." Ucapnya memohon kepada orang-orang. Mereka pun memberikan waktu sebentar kepada Arlan.
Diusapnya air matanya takut nanti mengenai jasad Ibunya. Arlan memeluk Ibunya untuk yang terakhir kali.
"Maafkan, Arlan, Bu. Arlan anak yang durhaka. Arlan menyesal telah membuat Ibu sakit hati atas perlakuan dan kebodohan Arlan selama ini." Bisiknya ditelinga Almarhum Ibunya. Air matanya lagi-lagi keluar namun dengan cepat ia hapus.
"Arlan menyesal telah meninggalkan Ibu sendiri." Ucapnya lirih penuh penyesalan. Namun Ibunya itu tidak lagi merespon ucapannya yang membuat hatinya semakin sakit. Sungguh penyesalannya membuatnya sangat sakit dan merasa sangat berdosa. Semua apa yang ia miliki dulu telah meninggalkannya. Inilah yang ia tuai. Semuanya tidak ada gunanya sekarang.
"Dek, jangan dibiarkan terlalu lama Ibunya seperti itu. Almarhum harus segera di makamkan." Ucap pak Rt yang saat ini berdiri di sampingnya.
Arlan segera bangun dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik, pak. Izinkan saya yang mengadzani jasad Ibu." Pintanya untuk yang terakhir kalinya.
"Silahkan, dek." Jawab pak Rt yang melihat kesedihan mendalam di wajah Arlan.
Saat jasad Ibu Suri sudah di tanah, Arlan pun turun dan mulai mengadzani almarhum Ibunya untuk yang terakhir kali.
"Selamat jalan, Ibu. Arlan berharap, Ibu mau memafkan, Arlan." Ucap Arlan di dalam hati sebelum akhirnya ia naik ke atas.
Perlahan tanah sudah membungkus dan tidak lagi menampakkan sosok Ibunya. Tanah itu sudah diberi nisan dan taburan bunga.
Air mata Arlan tumpah sudah. Rasa penyesalan memenuhi raganya. Menyesakkan batinnya. Ia kini terisak di pusara Ibunya.
Semua orang perlahan sudah menghilang dan menyisakan Arlan, Revan, Hana, Jihan dan kedua mertua Hana. Arlan terisak di sana, tangisnya terdengar sangat pilu. Ia meremas tanah pusara Ibunya dengan rasa penyesalan di dalam hati.
Revan menepuk pundak Arlan berusaha menguatkannya. Walaupun Revan sangat membenci Arlan, namun ia juga kasihan melihat kesedihannya di tinggal oleh Ibunya.
"Yang sabar. Doakan yang terbaik buat Ibu. Setelah meninggal semuanya terputus kecuali 3 hal. Harta, ilmu dan doa anak sholeh. Doakan yang terbaik buat Ibu."
"Kalau begitu, Kita pulang duluan, Arlan." Untuk pertama kalinya Revan menyebut nama Arlan yang selama ini tak ingin ia sebut. Setelah itu mereka semua kembali pulang.
Saat mereka semua berjalan keluar, ditengah perjalanan mereka berpapasan dengan Pak Wiratama dan istrinya.
"Pak Wiratama! Bapak mau kemana?" Tanya Revan penasaran melihat penampilan rekan bisnis dan istrinya itu sedang menggunakan pakaian serba hitam.
"Saya mau ke makam almarhum Ibu Suri!"
Revan dan Hana mengerutkan keningnya mendengar penuturan pak Wiratama. Kira-kira ada hubungan apa antara pak Wiratama dan Ibu Suri?! Mengapa ia tidak tahu.
"Boleh nanti kita bertemu. Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian." Ucap pak Wiratama pada Revan dan Hana.
"Baik, pak. kami akan menunggu kalian. "
"Tidak perlu menunggu kami. Pulanglah duluan ke rumah almarhum Ibu Suri. Kita ketemu nanti di sana."
Revan dan Hana lagi-lagi mengerutkan keningnya. Darimana pak Wiratama mengenal almarhum. Sampai-sampai, rumahnya pun mereka tahu.
"Baiklah, pak, bu. Kami akan menunggu kalian di sana. Kalau begitu kami pamit permisi."
Setelah Revan, Hana dan yang lainnya pulang ke rumah duka, Pak Wiratama dan istri pun menuju pusara almarhum.
**Kira-kira ada hubungan apa antara Pak Wiratama, Ibu Suri dan Hana. Teka-tekinya akan dijawab besok, yaππ.
__ADS_1
Jangan lupa vote yang banyak menjelang tamat ya, kanπ. Like dan komen juga jangan ketinggalan.
Salam story from By_me**