
" Awas saja kalau Mas Revan berani melakukan hal tadi. Mulai detik itu juga aku tidak akan lagi mau dekat-dekat dengan Mas Revan. Mengerti?"
" Mengerti calon istri. Aku akan melakukan itu pada saat kita sudah sah sebagai suami istri."
Muka Hana tambah memerah. Revan ingin tertawa melihat ekspresi Hana tapi ia tahan.
" Tau ah, aku mau kembali kerja. Permisi." Hana berlalu dari sana tanpa melihat kearah Revan.
Hana berjalan cepat dan segera menutup pintu. Ia sandarkan badannya di pintu dan mencoba menetralkan deguk jantungnya.
" Hufff... Mas Revan tadi mau ngapain?. Hampir aja jantung aku copot."
Hana menggelengkan kepalanya mengusir fikiran-fikiran yang memenuhi otaknya. Hana berjalan menuju mejanya dan mendudukkan bokongnya di kursi. Ia kembali mengerjakan laporannya yang harus ia selesaikan hari ini
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Saat telah selesai sholat maghrib, seperti biasa Hana berkutat di dapur memasak makan malam dengan Ana. Jihan masih berada di kamar karena ia sedang mandi di temani oleh neneknya.
Saat sedang sibuk memasak tiba-tiba bel rumah terdengar berbunyi. Hana melirik ke arah Ana yang sedang menggoreng ayam, karena tidak bisa di tinggal Akhirnya Hana yang berjalan ke depan dan membuka pintu.
Ceklek pintu terbuka dan menampakkan punggung lebar seorang laki-laki. Lelaki itu memunggungi pintu. Hana seperti mengenal body dari lelaki ini. Segera Hana menyapa orang itu.
" Cari siapa pak?"
Lelaki itu berbalik badan. Ternyata dia adalah Arlan.
Mereka diam untuk sesaat sebelum Hana mempersilahkan Arlan masuk.
" Masuk Mas!"
Arlan menganggukkan kepalanya dan mengikuti Hana berjalan masuk ke dalam. Hana membawa Arlan menuju ruang tamu dan mempersilahkannya untuk duduk.
" Aku mau ketemu sama Ibu."
" Ibu masih ada di kamarnya Jihan. Bentar lagi bakalan turun. Mas tunggu dulu yah."
Arlan hanya menganggukkan kepalanya setelah itu ia melihat ke lain arah. Berada di situasi ini membuat mereka sangat canggung.
" Mmm Mas Arlan mau minum apa? biar aku bikinin."
" Apa yang ada aja.
__ADS_1
" Kalau begitu Mas Arlan tunggu dulu yah, aku buatin Mas Arlan minum dulu sekalian juga panggil Ibu."
Arlan lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Hana berdiri dan berjalan menuju dapur.
" Siapa mbak tamu malam-malam gini?" Ana bertanya sambil membalikkan ayamnya di atas penggorengan.
" Itu di depan ada Ayahnya Jihan. Dia mau ketemu sama Ibu. Ibu belum turun dari atas?"
" Belum mbak. Mbak mau aku panggilin ibu di atas?"
" Nggak usah, biar mbak aja nanti yang panggil Ibu. Kamu lanjutin aja masaknya. Aku mau buatin minum Ayahnya Jihan dulu."
" Ok, mbak." Setelah itu Ana kembali melanjutkan menggoreng ayamnya.
Hana membuatkan Arlan jus jeruk. Saat sudah selesai, Hana berjalan menuju lantai atas berniat memanggil Ibu di kamar Jihan. Namun yang di cari sudah berjalan keluar bersama Jihan.
" Anak Bunda makin cantik aja habis mandi."
Hana membelai pipi anaknya dan mencium keningnya.
" Makasih Unda, Jihan memang cantik kok. Dari lahir udah cantik." Jihan tersenyum menampilkan gigi ompongnya. Hana hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan anaknya. Yang ajarin anaknya centil seperti ini siapa?. Batinnya.
" Jihan turun duluan yah, ada yang mau Bunda bicarain sama nenek."
" Siap Unda." Katanya dengan mengangkat tangannya ke samping kepala. Setelah Jihan pergi barulah Hana berbicara kepada Ibunya.
" Ada apa, Nak?"
" Di bawah ada Mas Arlan nyariin Ibu. Ibu turun gih temui Mas Arlan."
Ibu menganggukkan kepalanya setelah itu Ibu turun ke bawah menemui anaknya. Hana berjalan menuju kamarnya ingin mengambil ponselnya. Setelah itu, ia kembali ke dapur dan mengambil nampan yang di atasnya berisi minuman dan cemilan untuk Arlan.
Hana berjalan menuju ruang tamu, tetapi samar-samar ia mendengar suara Arlan yang seperti sedang... menangis.
Hana melihat dari jauh. Arlan terlihat bersimpuh di depan Ibunya sambil menangis. Ibu juga seperti itu, ia ikut menitikan air matanya mendengar segala unek-unek anaknya. Hana mengurungkan niatnya membawakan Arlan minuman. Biarlah ia memberi waktu kepada Arlan untuk menyelesaikan masalahnya. Semoga dengan begini mereka kembali berdamai dan Arlan bisa mendapatkan maaf dari Ibunya.
Hana membawa kembali ke dalam nampan yang ia ingin berikan kepada Arlan. Tiba-tiba Jihan menghampiri Bundanya di dapur.
" Unda, Jihan kok kayak dengar suara orang nangis. Memangnya siapa yang menangis Unda?" Tanyanya penasaran.
" Siapa yang nangis sih sayang. Bunda dari tadi di sini enggak dengar apa-apa. Ana dengar enggak suara orang nangis?" Tanyanya kepada Ana sambil mengedip-edipkan matanya.
__ADS_1
Ana yang mengerti maksud dari Hana segera menjawab.
" Ana juga enggak dengar mbak. Mungkin Jihan salah dengar kali." Katanya meyakinkan Jihan.
" Masa sih?" Tanyanya tak percaya.
" Iya sayang. Mending sekarang Jihan ke depan aja, nonton sambil nunggu makanannya matang."
" Ya udah, Jihan ke depan dulu yah, Unda."
" Iya, sayang."
Hana akhirnya bisa bernafas lega karena anaknya bisa percaya dan kembali ke ruang keluarga.
Hana kembali melanjutkan memasak. Setelah ia rasa sudah cukup lama Arlan di depan, ia menyuruh Ana untuk membawakan minuman untuk Arlan. Saat makanan sudah matang, Hana menyajikannya di atas meja. Hana membuka apron yang melekat di badannya dan menggantungnya di dapur. Setelah itu, ia berjalan ke depan berniat mengajak Arlan makan malam bersama.
Saat ia sudah di ruang tamu, Ibu dan Arlan sudah tidak ada di sana. Kira-kira kemana mereka, batinnya mengatakan. Hana berjalan menuju pintu dan yang ia lihat Arlan sudah masuk ke dalam mobil di antar oleh Ibu.
Saat mobil Arlan sudah menjauh dari sana, Hana berjalan mendekati Ibu yang berdiri di depan pagar.
" Yuk, masuk. Di luar dingin, Bu."
Ibu menganggukkan kepalanya dan menghadap ke arah Hana. Yang Hana lihat saat ini, masih ada sisa air mata di wajah Ibu. Hana mengangkat tangannya dan menghapus air mata di wajah Ibu.
Hana tak ingin banyak bertanya mengenai pembicaraan mereka tadi. Hana ingin memberikan waktu untuk Ibu. Hana pun merangkul pundak Ibu dan membawanya masuk ke dalam.
Hana membawa Ibu menuju meja makan dan mereka makan malam dengan lahap. Ibu tidak lagi menampakkan kesedihannya saat itu, ia kembali seperti semula dan kembali tertawa.
Hana tahu Ibu tak ingin menampakkan kesedihannya. Ibu berpura-pura tegar dan kembali tersenyum padahal dalam hatinya masih sedih mendengar semua unek-unek dan penyesalan anaknya.
Ibu tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menerima takdir dan menerimanya dengan lapang dada.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa tinggalkan jejak. Di like, komen dan kalau kk berbaik hati, kasi vote nya yak😊
Lupp you.
Salam story from By_me...
__ADS_1