
Setelah tangis Hana sudah reda, Revan pun perlahan melepaskan pelukannya dan menjalankan kendaraannya kembali menuju rumah. Revan berusaha menghibur istrinya dengan menceritakan cerita konyolnya, alhasil Revan berhasil dan bisa kembali membuat istrinya tertawa.
Perlahan kendaraan Revan memasuki pekarangan rumahnya. Hana dan Revan turun dari mobil dan berjalan masuk. Revan menggenggam tangan istrinya sembari berjalan memasuki rumah.
"Sudah pulang, sayang?" Tanya Mama Ajeng melihat anak dan menantunya yang berjalan masuk.
"Iya, Ma. Kita baru aja sampe."
Hana dan Revan duduk di sofa dekat Mama Ajeng.
"Malam ini kalian tidak kemana-mana, kan?"
" Enggak kok, Ma. Kita enggak punya rencana. Di rumah aja. Emangnya kenapa, Ma?" Tanya Revan penasaran.
"Bibi mu mengajak kita makan malam di rumahnya, sayang. Kalian mau, kan?"
Hana dan Revan saling pandang dan tak lama kemudian Revan pun kembali berbicara.
"Memangnya harus yah, Ma kita ikut?" Jawabnya karena sebenarnya dia malas untuk ikut ke sana.
"Harus, sayang. Sekalian menyambut menantu baru katanya. Jadi kalian harus ikut. Anak sulung Pamanmu juga baru aja nyampe dari luar negeri makanya mereka sekalian saja melakukan makan malam keluarga."
"Yasudah, kami akan ikut." Sambil menghela nafas. Sebenarnya Revan sangat malas mengunjungi rumah saudara ayahnya karena istri dari Pamannya itu orangnya suka nyinyir dan Revan sangat tidak suka dengan sikap tantenya.
"Jihan mana, Ma?" Tanya Revan karena sedari tadi tak melihat kehadiran anaknya.
"Jihan tadi ikut sama Papamu ke supermarket. Bentar lagi kayaknya udah nyampe."
"Yasudah, kita ke atas dulu yah, Ma."
"Iya, sayang. Jangan lupa, nanti kita akan pergi setelah sholat maghrib." Ucapnya kembali jangan sampe anak dan menantunya lupa waktu dan melupakan bahwa mereka akan pergi makan malam.
"Iya, Ma. Enggak usah diingetin juga, Revan pasti ingat."
"Enggak usah diingetin, tapi seandainya kemarin Mama tidak telpon kamu pasti sampe sekarang menantu Mama belum kamu bawa pulang juga."
"Mama ini kayak enggak pernah jadi pengantin baru aja."
"Jawab terus! Jangan sampe Mama kesal lalu sembunyiin Hana biar kamu tahu rasa!"
"Jangan dong, Ma. Nanti cucu mama enggak jadi." Ucap Revan sambil terkekeh.
Mama hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi anaknya.
"Yasudah, sana keatas. Ngajak kamu bicara bisa-bisa buat Mama naik darah."
Revan terkekeh mendengar ucapan Mamanya.
"Kita ke atas dulu yah, Ma." Ucap Hana
"Iya, sayang."
Hana dan Revan pun berjalan menaiki tangga dan meninggalkan Mama sendirian.
"Anak itu, sudah menikah saja masih suka buat Mamanya kesal. Kapan anak itu bisa berubah." Gumam Mama pelan sambil terus memperhatikan anak dan menantunya semakin menjauh.
Saat sudah sampai di dalam kamar, Revan langsung merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Sedangkan Hana, ia duduk di pinggir ranjang sambil memeprhatikan kamar suaminya yang baru kali ini ia masuki.
Hana mengedarkan pandangannya menatap kamar suaminya. Kamar suaminya sangat luas dan rapih. Yang menarik perhatiannya adalah dipojok ruangan, banyak sekali tersusun buku-buku di sana. Hana berdiri dan berjalan menuju tempat rak buku suaminya. Ternyata suaminya mengoleksi berbagai macam komik dan juga piringan hitam yang berjejer rapi di sana.
__ADS_1
Hana melihat koleksi komik suaminya, setelah itu ia beralih melihat piringan hitam suaminya, Satu per satu.
Revan dari tadi memperhatikan istrinya yang dari tadi melihat-lihat koleksinya. Revan segera bangkit dan menghampiri istrinya. Hana melirik ke sampingnya dimana suaminya berdiri.
"Ternyata Mas Revan pecinta komik dan piringan hitam?"
"Heem. Aku punya berbagai macam komik, semuanya itu koleksi aku saat SMA dulu. Setiap aku pergi beli komik pasti aku bakalan beli banyak. Tapi belum semuanya aku baca sih." "Kalau ini " tunjuknya pada piringan hitam yang Hana pegang "aku sangat suka denger musik klasik. Makanya aku punya banyak koleksi piringan hitam."
"Aku enggak nyangka loh, Mas Revan suka musik klasik."
"Aku memang sudah dari dulu sangat suka sama musik klasik. Sudah bawaan dari orok."
"Maksudnya?"
"Mama pernah cerita katanya saat aku di dalam kandungan, Mama suka dengerin musik klasik. Karena Ibu hamil yang mendengarkan musik klasik dapat membantu mengoptimalkan perkembangan janin dalam kandungan dan mencerdaskan otak si anak nantinya."
"Emang iya?"
"Aku juga kurang tahu sih. Belum ada juga penelitiannya mengenai ini, tapi bukan berarti mendengarkan musik tidak akan memberikan efek sama sekali kan!"
"Bener juga sih."
"Aku sih percaya. Aku nih buktinya!" Katanya membanggakan diri di hadapan istrinya.
Hana hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Kamu enggak percaya?"
"Percaya." Jawabnya cepat.
Hana kembali melihat sekitar kamar suaminya seperti mencari sesuatu.
"Oh, gramophone nya?"
"Iya, itu maksud aku."
"Ada, aku simpan di dalam. Aku ambil dulu yah." Ucapnya dan segera berjalan menuju sebuah pintu kecil dan masuk di dalamnya.
Dalam fikiran Hana, mungkin itu adalah ruangan rahasia milik suaminya. Tak lama kemudian, Revan keluar dengan membawa gramophone. Revan menyimpannya di atas nakas dan kembali berjalan ke arah istrinya mengambil satu piringan hitam.
Musik pun mulai terdengar di dalam kamar mereka. Musik klasik dengan nada romantis. Revan berjalan mendekat kearah istrinya.
"Mau dansa denganku?" Tanyanya sambil menjulurkan tangan kananya.
"Aku enggak bisa dansa, Mas!"
Namun Revan segera memegang tangan istrinya dan menariknya mendekat hingga jarak tersisa beberapa senti.
"Aku bakalan ajarin kamu!"
Hana akhirnya menuruti keinginan suaminya.
Revan menyimpan kadua tangan istrinya mengalun dilehernya dan Revan melingkarkan tangannya dipinggang istrinya lalu menariknya semakin mendekat hingga tak tersisa jarak di antara mereka.
Revan mulai membimbing istrinya mengikuti gerakan kakinya seirama dengan alunan musik yang mendukung suasana romantis di kamar itu.
Pandangan mata mereka saling bertemu. Revan tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari
mata istrinya. Pandangan memuja selalu ia tampakkan.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu." bisik Revan di depan wajah istrinya dengan jarak beberapa senti.
"Aku tahu."
"Aku juga sangat cinta sama kamu."
"Aku tahu."
"Jawab dong, sayang."
"Kan udah aku jawab, Mas."
Revan yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya.
Hana tertawa pelan melihat ekspresi suaminya yang terlihat lucu saat melakukan itu.
"Aku kan kemarin sudah jawab pertanyaan Mas yang tadi."
"Kan aku mau dengarnya sekarang." Katanya dengan nada merengek.
Hana kembali tertawa melihat tingkah lucu suaminya. Setelah menjadi suami istri banyak sekali hal baru yang ia ketahui tentang suaminya.
"Iya, iya. Kamu kalau begitu udah kayak Jihan, tau."
"Biarin aja."
"Jadi dijawab nih?"
"Iya."
Hana terdiam sesaat dan menatap mata suaminya.
"Aku juga sayang sama, Mas Revan dan aku juga cinta sama, Mas Revan."
Mendengar itu membuat Revan tersenyum senang. Detik berikutnya Revan semakin mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak diantara mereka. Detak jantung Revan semakin kencang dan akhirnya bibirnya berlabuh di bibir istrinya.
Setelah cukup lama berciuman tiba-tiba Hana menahan tangan suaminya yang sudah kemana-mana.
"Kenapa?"
"Mas enggak ingat tadi pesan, Mama! Ini sudah mau maghrib loh, Mas. Nanti Mama marah-marah."
"Biarin aja."
"Tapi, Mas..."
"Sebentar saja yah, sayang. Aku Janji!" Ucapnya penuh memohon.
Hana pun akhirnya luluh dan menuruti keinginan suaminya untuk ibadah. Janji Revan mengatakan hanya sebentar itu salah besar karena waktu sudah mendekati maghrib namun kegiatan mereka itu belum juga selesai.
Alhasil Revan mendapatkan omelan dari Mama Ajeng karena mereka terlambat ke rumah pamannya untuk makan malam. Untung saja mereka beda mobil, seandainya satu mobil maka sepanjang perjalanan Revan akan mendapatkan omelan dari Mama Ajeng.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Cuit cuit,, pengantin baru lagi semangat semangatnya nih. Btw, jangan lupa tinggalin jempol, komen, sama vote nya yah.
Dengan semua itu, akan semakin membuat author semngat buat nulis. Terima kasih😊
Salam story from By_me
__ADS_1