
Andin berdiri dan berjalan menuju Mamanya. Kami bertiga berjalan menuruni tangga, Hana disebelah kiri Andin dan Mamanya disebelah kanan Andin, warna baju kami bertiga juga sama, semua orang memandang kearah kami.
Hana mengantar Andin sampai ditengah, setelah itu Hana kembali dan duduk melihat prosesi acara. Acara dimulai tepat pada pukul 7 malam, dimulai dari pembukaan sampai proses pemasangan cincin. Riuh tepuk tangan mengisi kala itu, semua orang tampak bahagia melihat pasangan serasi didepan mereka.
Setelah proses pemasangan cincin selesai, semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Hana berdiri dan berjalan untuk mengambil makanan, tapi tiba tiba ada seseorang yang memanggil namanya.
Hana menoleh kesamping, ingin memastikan siapa yang telah memanggilnya.
" Mas Arlan?"
Arlan tersenyum kearah Hana
" Kenapa mas Arlan bisa ada disini?"
" Aku sahabatan sama yang hari ini tunangan"
" Andin?"
" Bukan, tapi pasangannya"
Hana mengernyitkan keningnya, setahunya sahabat Arlan dia kenal semuanya.
" Mungkin sahabat saat dia sudah menikah dengan orang kaya mungkin" Hana bergumam dalam hati, setelah itu ia menjawab Arlan
" Oh " Hana menjawab seadanya, setelah itu ia kembali mengambil makanan. Arlan mengekor disampingnya dan berusaha mengajak Hana berbicara.
" Kamu datang sendiri? tumben kamu tidak sama bosmu itu"
" Dia sibuk jadi nggak bisa ikut"
Arlan tersenyum mendengarnya, Hana telah selesai mengambil makanan. Hana berjalan mencari meja kosong, tak lama kemudian datang Arlan ikut duduk disampingnya.
Hana memperhatikan Arlan yang dengan entengnya duduk disampingnya, bagaimana kalau Indah melihatnya. Bisa bisa ia akan kena masalah, Hana tak ingin itu terjadi apalagi sekarang ia sedang berada di pesta sahabatnya. Jangan sampai Indah ngajak ribut.
" Ngapain mas Arlan duduk disitu, kan banyak tempat kosong mas. Udah sana, nanti istri mas marah"
" Dia nggak akan marah, soalnya dia nggak ikut"
"Apa tadi katanya, Indah nggak akan marah. Apakah selama ini, begini sifat mas Arlan ketika tidak bersama dengan istrinya" Hana berdecak dalam hati.
Ia tak lagi menghiraukan Arlan disampingnya, Hana buru buru menghabiskan makannya dan berniat segera pergi dari tempat itu.
Setelah selesai makan, Hana berjalan menuju kearah Andin dan pasangannya untuk pamit pulang karena malam semakin larut. Hana berjalan kedepan dan memesan taksi online untuk pulang.
Tiba tiba Arlan berdiri disampingnya
" Kamu pulang naik apa Hana?"
" Aku naik taksi mas"
" Kamu pulang sama aku aja yuk, lagian malam juga semakin larut tidak baik kalau kamu naik taksi malam malam begini"
" Nggak usah mas, taksinya udah dekat kok"
" Percaya sama aku Hana, aku bakalan anterin kamu dengan selamat sampai rumah. Aku khawatir kalau kamu naik taksi sendiri, sekarang banyak kejadian yang terjadi didalam taksi dan aku tidak mau kalau kamu nanti sampai kenapa napa"
Hana berfikir untuk sejenak, setelah itu baru ia jawab.
" Jadi bagaimana dengan taksinya, katanya sudah dekat sini"
" Biar aku saja yang bayar ongkos taksinya"
selang beberapa menit kemudian, taksi pesanan Hana telah sampai. Arlan mengeluarkan uang didompetnya dan menyerahkannya kepada sopir taksi.
Setelah sopir taksi telah pergi, barulah Arlan mengajak Hana ke mobilnya. Arlan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, diisi dengan keheningan. Arlan mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Hana berbicara, namun Hana hanya menjawab seadanya.
" Mas Arlan, kita ke perumahan xx di jalan x"
" Kenapa kita kesana, setahu aku kamu tinggal di perumahan b"
" Udah pindah"
" Kapan?"
" Dari seminggu yang lalu"
" Oh, jadi kamu sudah tidak tinggal dengan bos kamu itu?" Arlan berbicara dengan nada mengejek
Hana berdecak sebal mendengar penuturan Arlan.
" Aku tidak tinggal berdua sama dia mas, ada Mama dan Papanya juga tinggal disana"
" Sama aja"
"Yaampun nih orang baru aja baikan, udah ngajak ribut" Hana bergumam dalam hati.
Hana lebih memilih diam dan tak menanggapi perkataan Arlan, kalau dilanjut maka mereka akan meributkan hal yang tidak penting.
__ADS_1
Suasana kembali hening didalam mobil Arlan, Arlan tiba tiba menyetel radio dimobil nya. Lagu pertama yang mereka dengar adalah lagu dari Sherina Munaf ( Pergilah kau ).
Hana mendengarkan dengan penuh penghayatan lagu itu.
Sherina Munaf ( Pergilah kau )
Tak mau lagi aku percaya
Pada semua kasih sayangmu
Tak mau lagi aku tersentuh
Pada semua pengakuanmu
Kamu takkan mengerti rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Tak mau lagi aku terjerat
Pada semua janji-janjimu
Tak mau lagi aku terkait
Pada semua permainanmu
Kamu takkan mengerti rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bertahun-tahun bersama
Kupercayaimu
Kubanggakan kamu
Ku berikan sgalanya
Aku tak mau lagi
Ku tak mau lagi oh yeah
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Tak ingin kutahui (pergilah kau)
Ku tahui
Hana sangat meresapi lagu ini, lagu ini mewakili isi hatinya kepada Arlan.
Lagu berikutnya dari Tata Janeta (Penipu Hati)
Kau katakan kau tak ingin
Membagi hatimu
Tapi ternyata kau yang ingin
Menduakan aku
__ADS_1
Sedikit banyak aku bisa merasakannya
Dari sikapmu, dari tingkahmu padaku
Tak usah kau berakting lagi
Di depan mataku
Berulah-ulah yang tak penting
Mencari perhatianku
Sudah aku putuskan 'ku 'kan meninggalkanmu
Agar kau tahu aku tak sudi untuk kau sakiti
O-o-oh ...
Sebagai penipu hati kau telah gagal
Membodohiku seperti yang lain
Andai telat kusadari 'ku 'kan lebih sakit hati
Untung saja lebih cepat kutahu
Kau katakan kau tak ingin
Membagi hatimu
Tapi ternyata kau yang ingin
Menduakan aku
Sebagai penipu hati kau telah gagal
Membodohiku seperti yang lain
Andai telat kusadari 'ku 'kan lebih sakit hati
Untung saja lebih cepat kutahu
Sebagai penipu hati kau telah gagal
Membodohiku seperti yang lain
Andai telat kusadari 'ku 'kan lebih sakit hati
Untung saja lebih cepat kutahu
Mendegarkan lagu ini, membuat Hana lagi lagi mengingat tentang penghianatan mantan suaminya. Lagu lagu ini seakan mewakili isi hatinya, Arlan tampak diam dan sesekali melirik kearah radio.
Saat lagu ketiga diputar, lagi lagi lagu tentang penghianatan. Arlan jengah mendengar lagu lagu itu, segera ia mematikan radionya. Niatnya ingin mencairkan suasana dengan mendengarkan lagu, malah yang ia dapatkan sebaliknya.
Hana melirik kearah Arlan yang tiba tiba langsung mematikan radionya.
" Kenapa dimatikan mas, lagi asyik ngedengerin lagu juga"
" Lagunya jelek semua, mending dimatikan saja"
Hana tertawa didalam hati mendengar jawaban Arlan.
" Bilang aja, kuping mas Arlan panas kan dengar lagu lagu tadi" Hana berdecih dalam hati.
Tak lama kemudian akhirnya mereka telah sampai didepan gerbang rumah Hana, setelah itu Hana membuka seatbelt nya.
" Makasih ya mas udah nganterin aku"
" Sama sama"
Setelah mendengar itu, Hana membuka pintu namun tiba tiba tangannya ditarik oleh Arlan.
Hana langsung kaget diperlakukan seperti itu, Hana berusaha melepasakan tangannya dari genggaman Arlan.
" Mas lepasin, aku mau masuk"
Arlan tak juga melepaskan tangan Hana, Hana dibuat kesal oleh Arlan. Segera ia tarik paksa tangannya dan membuka mobil.
Hana berlari masuk kedalam rumahnya meninggalkan Arlan yang masih menatap kepergiannya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa like, komen dan kalau kk berkenan vote juga boleh😁
Salam story from By_ me
__ADS_1