
"Aku mau pulang, Mas." Ucap Hana memegang tangan suaminya. Revan bisa merasakan tangan istrinya yang sangat dingin dan bergetar.
"Yasudah, kita pulang sekarang. Tapi kita pamit dulu sama semua orang."
Hana menganggukkan kepalanya cepat agar mereka segera pergi dari sana. Revan memegang pundak istrinya dan membawanya ke belakang ingin pamit kepada semua orang. Mama Ajeng yang mendengar apa yang dikatakan anaknya akhirnya juga ikutan pamit pulang karena khawatir dengan keadaan menantunya yang memang terlihat pucat.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Saat berada di dalam mobil Hana lebih banyak diam dan mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil. Pikirannya lagi-lagi mengingat saat dirinya dan Raga berada di dapur. Hana merasa dejavu. Hana sangat takut saat kembali mengingat akan kejadian sembilan tahun yang lalu. Dengan bodohnya ia tak mengenali sepupu suaminya yang pernah menorehkan trauma berat dihidupnya.
Hana meremas tangannya yang sudah mengeluarkan keringat dingin akibat rasa takutnya karena ulah sepupu suaminya. Mengapa takdir seolah mempermainkannya dan mempertemukannya dengan lelaki ******** itu.
Revan sesekali melirik kearah istrinya yang tidak berbicara sepatah kata pun dan meremas tangannya diatas pahanya. Entah apa yang membuat istrinya menjadi seperti ini, batinnya bertanya-tanya.
"Kamu kenapa, sayang? Kalau sakit, nanti aku telpon dokter pribadi aku untuk datang periksa kamu."
"Enggak usah telpon dokter. Hana enggak apa-apa, Mas. Hana hanya butuh istirahat."
Revan dengan terpaksa menuruti keinginan istrinya dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Revan beralih menggenggam tangan kanan istrinya erat.
Revan mengerutkan keningnya saat mengingat ekspresi ketakutan istrinya bermula saat tadi berada di dapur. Sebenarnya Revan tadi melihat istrinya terburu-buru berjalan kearahnya saat ada sepupunya di sana. Seperti dikejar setan, istrinya keringat dingin dan gemetaran. Sebenarnya apa yang terjadi antara istrinya dan sepupunya tadi didapur, mengapa setelah dari sana istrinya seperti ini.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Hanya suara deru mobil yang terdengar. Setelah berkendara cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah Papa Surya. Revan berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Revan memegang pundak istrinya dan berjalan bersama langsung menuju kamar.
"Kamu mau mandi dulu?" Tanya Revan kepada istrinya saat sudah sampai di dalam kamar.
Hana menggelengkan kepalanya
"Aku mau langsung ganti baju aja, Mas."
"Yasudah, aku ambilin baju ganti untuk kamu dulu."
"Enggak usah,Mas. Biar Hana aja. Hana bisa sendiri kok." Hana berusaha bangkit dari duduknya namun pundaknya ditahan oleh suaminya.
"Biar, Mas saja. Lebih baik kamu duduk dan tungu." Setelah mengatakan itu, Revan segera berjalan menuju lemari dan mengambil piyama istrinya.
Setelah menerima piyamanya, Hana segera menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Hana membilas wajahnya dan memandang pantulan dirinya didalam cermin.
__ADS_1
"Raga...Raga Bramana. Bodoh kamu Hana, bodoh. Kenapa kamu bisa lupa dengan nama itu." Hana merutuki kebodohannya di dalam hati karena sewaktu pertama kali bertemu ia tak mengenali lelaki itu yang sekarang terlihat sudah sangat berbeda.
Hana menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Setelah itu, ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar. Hana mengedarkan pandangannya mencari suaminya namun tak ia dapati. Karena merasa sangat kelelahan akhirnya Hana merebahkan dirinya diatas kasur dan menutup setengah badannya menggunakan selimut. Baru saja Hana mau menutup matanya ingin berlabuh dialam mimpi namun suara ketukan dipintu kamarnya membuatnya mengurungkan niatnya.
Baru saja Hana turun dari ranjang ingin membukakan pintu, tapi pintu sudah terbuka dan menampakkan Mama Ajeng yang berjalan kearahnya. Mama Ajeng langsung duduk di samping menantunya dan mengusap pelan rambutnya.
"Kamu kenapa, sayang? Kamu sakit, enggak enak badan?" Tanya Mama Ajeng beruntun karena sangat khawatir dengan kondisi menantunya.
Hana tersenyum kearah mertuanya.
"Hana enggak apa-apa kok,Ma. Tadi itu tiba-tiba saja Hana enggak enak badan. Tapi nanti juga sembuh, kok."
"Mama panggilin dokter yah, biar nanti kamu diperikasa, sayang."
"Enggak usah, Ma. Hana hanya butuh istirahat sekarang. Besok pasti udah mendingan. Mama enggak usah khawatir. Hana Baik-baik aja."
"Yasudah, Mama akan mengikuti keinginan kamu. Tapi kalau besok sakitnya enggak hilang, jangan nolak kalau Mama panggilin dokter, ya, sayang."
"Iya, Ma."
Setelah mengatakan itu akhirnya Mama pamit kembali ke kamarnya. Hana pun kembali berbaring dan berusaha memejamkan matanya.
"Mas Revan darimana?" Tanyanya karena sedari tadi suaminya tak kelihatan.
"Aku habis mandi di kamar sebelah terus aku ke kamarnya Jihan."
"Jihan udah tidur?" Tanyanya karena ia tak sempat melihat anaknya.
"Heem. Yasudah, sekarang kita tidur yah."
Revan menggunakan tangannya sebagai bantalan kepala istrinya dan tangannya yang satu ia gunakan untuk memeluk istrinya. Mereka tertidur sambil berpelukan. Hana yang merasa nyaman dipelukan suaminya tak butuh waktu lama ia pun tertidur dan berlabuh dialam mimpi.
Dinginnya malam membuat Revan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya.
"Jangan...jangan!." Hana mengigau terlihat sangat takut. Kalimat itu terus ia ucapkan dan keringat dingin sudah mulai bercucur di dahinya. Revan yang memang belum tertidur berusaha membangunkan istrinya dengan menepuk pipi istrinya pelan.
"Arghhhhhhhh..." Itu kata terakhir Hana sebelum ia tersadar dari mimpi buruknya. Hana tersadar dan badannya bergetar saat kembali mengingat mimpinya tadi. Saat ia melihat suaminya disampingnya Hana segera memeluknya erat. Hana sangat takut. Setelah sekian lama mimpi itu kembali mengganggu tidurnya.
__ADS_1
Revan membalas pelukan istrinya dan berusaha menenangkannya.
"Kamu kenapa, sayang?"
Namun bukannya menjawab Hana malah menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratan pelukannya.
"Jangan lepas, Mas. Hana takut!" Ucapnya lirih di dalam pelukan suaminya.
"Heem. Kalau kamu enggak mau cerita, enggak apa-apa. Tapi nanti kalau kamu udah siap, ada Mas yang siap dengerin cerita kamu." Revan semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan istrinya. Setelah kejadian tadi, istrinya jadi lebih banyak diam dan seperti orang yang sangat ketakutan.
Revan sempat melihat tatapan tajam sepupunya kearah istrinya saat tadi berada di dapur. Namun ia tak sempat bertanya apa yang terjadi karena melihat istrinya yang merengek ingin segera pulang. Sebenarnya ada apa yang terjadi? Mengapa istrinya terlihat sangat takut dengan sepupunya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di kepala Revan.
"Aku harus mencari tahu." Gumamnya dalam hati. Tak lama setelah itu akhirnya ia pun ikut tertidur.
Keesokan paginya Hana mengatakan sudah membaik kepada suaminya dan mertuanya. Alasil ia tak jadi dipanggilkan dokter pagi itu.
Setelah semua orang sudah sarapan Revan pun mengatakan akan kembali kerumah istrinya mengingat mereka sudah beberapa hari di sana. Namun Mama Ajeng mengatakan ingin memberikan sesuatu kepada anak dan menantunya. Akhirnya mereka pun menunggu apa yang akan diberikan oleh Mama Ajeng.
Mama Ajeng turun dari lantai atas dan membawa kertas kecil ditangannya.
"Nih. Hadiah dari Mama dan Papa untuk kalian."
Ucap Mama Ajeng saat sudah sampai dibawah.
Revan menerima dari tangan Mama Ajeng dan melihatnya. Ternyata itu adalah paket honeymoon ke Bali untuk anak dan menantunya.
"Besok kalian bisa berangkat. Biar Mama dan Papa yang jagain Jihan. Kalian nikmati dulu bulan madu sebelum nanti kembali sibuk dengan pekerjaan di kantor. Mama dan Papa tahu pekerjaan kalian sangat banyak menanti saat sudah bekerja. Oleh karena itu, Mama dan Papa kasih hadiah buat kalian." Ucap Mama Ajeng sambil tersenyum kearah anak dan menantunya.
"Makasih, yah, Ma, Pa." Ucap Hana senang.
"Iya, sayang. Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah dan mempersiapkan keperluan kalian untuk berangkat besok."
Singkat kata, setelah perbincangan itu Hana, Revan dan Jihan pamit pulang untuk kembali ke rumah mempersiapkan keperluan mereka untuk perjalanan esok hari.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa di vote yah, like dan komen juga. Mungkin segitu saja dulu cerita hari ini, author udah ngantuk banget karena nulisnya malam.
__ADS_1
Wassalam. Salam story from By_me...