Hati yang Patah

Hati yang Patah
Kontraksi


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini mas Revan jarang kelihatan di rumah. Pergi saat masih pagi buta dan pulang saat semua penghuni rumah sudah terlelap.


Saat kuhubungi pun ponselnya tidak bisa tersambung. Kemarin malam aku yang tertidur di sofa ruang tamu dan tiba-tiba saat terbangun aku sudah berada di atas kasur namun tanpa melihat sosok suamiku yang akhir-akhir ini sangat sibuk.


Mungkin aku harus mendatangi kantornya nanti untuk mengecek sendiri apa yang sedang dibuat oleh suamiku akhir-akhir ini.


"Mbok!" Panggilku pada mbok Nah saat sudah berada di dapur.


"Ada apa, Non?" Tanyanya menghampiriku di ruang keluarga yang sedang duduk berselonjor meregangkan otot-otot kaki ku yang akhir-akhir ini semakin membengkak.


"Mbok bikin menu apa untuk makan siang nanti? Soalnya Hana mau bawain bekal untuk mas Revan di kantornya."


"Hari ini mbok masak ayam goreng, sayur sop sama telur balado, Non. Mmm, bagaimana kalau Non Hana suruh supir saja untuk mengantarkan bekalnya ke kantornya den Revan! Soalnya den Revan melarang keras kalau sampai Non kecapean. Mbok takut jangan sampai den Revan tahu dia bisa marah, Non!"


"Enggak usah takut, mbok. Biar saya saja yang bawa ke kantornya. Lagian juga, Hana bosen di rumah terus."


"Tapi Non..."


"Enggak apa-apa, Mbok. Lagian kan, Hana harus banyak jalan biar pas lahiran nanti prosesnya lancar."


Mbok sudah kehabisan kata-kata, ia tidak bisa mencegah keinginan majikannya. Walau di dalam hati merasa sedikit was-was dan takut jangan sampai majikannya itu terlalu kecapean atau ada hal lain yang nantinya terjadi. Bisa-bisa ia dimarahi oleh bos majikannya itu.


"Yaudah, mbok, siapin bekalnya ya! Hana mau ganti baju dulu di atas." Ucap Hana dan dibalas anggukan oleh mbok Nah. Hana berjalan dengan pelan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat sudah sampai di dalam kamarnya, segera ia mengganti pakaiannya dan memoleskan bedak lalu lipstick di wajah polosnya.


Setelah selesai bersiap-siap, Hana pun turun ke bawah untuk mengambil bekal suaminya. Hana menenteng bekal makan siang suaminya di tangan kanannya dan perlahan ia pun menaiki mobil di halaman rumahnya yang sudah ada sopir di dalamnya.


20 menit kemudian ia pun sampai juga di perusahaan suaminya. Selama perjalanannya, Hana selalu di sapa oleh beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Hana memasuki lift khusus petinggi perusahaan dan menekan angka 25 menuju ruangan suaminya.


Saat pintu lift terbuka, ia mengedarkan pandangannya karena tak melihat sekertaris suaminya yang biasa berjaga di depan ruangan.


Hana terus berjalan dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia membuka pintu ruangan suaminya. Ia mengucapkan salam namun tidak ada sahutan sama sekalo dari dalam ruangan suaminya. Lagi-lagi ia mengedarkan pandangannya saat berjalan menuju sofa.


"Mas Revan sama sekertarisnya kemana?" Gumamnya lirih saat sudah mendudukkan bokongnya di sofa.


Ia menyimpan tas dan bekal makan siangnya di atas meja dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Setengah jam menunggu tak juga ia dapati kehadiran suaminya. Ia pun sudah menguap berkali-kali di tempatnya. Karena sudah tidak tahan akan kantuknya, ia pun memejamkan matanya dan berlabuh di alam mimpi.


Dari arah luar orang yang Hana tunggu-tunggu dari tadi sudah berada di depan pintu bersama sekertarisnya.


"Selesaikan semuanya hari ini juga! Saya tunggu nanti sore laporan kamu." Ucap Revan pada sekertarisnya, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruangannya. Saat pintunya sudah terbuka pemandangan yang ia lihat adalah istrinya yang tertidur di sofa dengan posisi duduk.


Segera Revan berjalan menghampiri istrinya dan duduk tepat di sampingnya. Revan berusaha memperbaiki posisi tidur istrinya namun istrinya itu sudah terbangun duluan.


Hana mengucek matanya dan berusaha memperbaiki posisi duduknya.


"Mas Revan dari mana aja? Udah dari tadi aku nungguin di sini!"


"Aku kan berkali-kali sudah bilang sayang enggak usah datang lagi ke kantor apalagi cuma bawain aku bekal makan siang. Aku bisa pesan di luar atau makan di luar."


"Bukan itu jawaban yang Hana mau, mas! Hana tanya, mas Revan dari mana saja. Kenapa beberapa hari ini mas Revan jarang kelihatan di rumah. Pergi pagi pulang malam, udah kayak bang toyib aja!"


"Bukan bang toyib sayang. Kalau bang toyib berarti aku enggak pulang-pulang, dong!" Jawabnya berusaha mencairkan suasana.


"Ih, mas Revan! Hana bertanya serius!"


"Iya, iya, maaf, sayang. Jadi bang toyib..."


"Mas Revan!" Ucapnya melototkan matanya

__ADS_1


"Iya, maaf, sayang." Jawab Revan sambil nyengir kuda. Ia melirik kotak bekal yang istrinya bawa di atas mejanya. Mencium aroma makanan dari kotak bekal itu membuatnya jadi sangat kelaparan. Dari tadi memang ia belum makan siang karena sehabis rapat dengan para petinggi perusahaan Revan belum sempat memesan makanan dan langsung menuju ruangannya.


"Aku lapar, sayang. Nanti aja ya, aku ceritanya. Habis makan aku janji bakalan cerita." Ucapnya mengangkat kedua jari telunjuk dan jari manisnya.


Hana pun tak tega membiarkan suaminya ini kelaparan. Ia menghela nafas sejenak sebelum ia mengambil kotak bekal di depannya untuk ia buka.


"Janji ya, nanti bakalan cerita!" Ucapnya kembali memastikan ucapan suaminya tadi.


"Iya, sayang."


Setelah semua kotak bekal itu sudah terbuka, Hana pun memberikan sendok dan garpu pada suaminya.


Namun bukannya menerima Revan malah menolak garpu dan sendok pemberian istrinya. Hal itu membuat Hana mengerutkan keningnya melihat tingkah suaminya.


"Kenapa?"


"Aku enggak mau makan pakai tangan, sayang."


"Oh, yaudah, sana cuci tangan gih!" Ucap Hana pada suaminya. Namun lagi-lagi Revan menggelengkan kepalanya.


"Aku maunya disuapin pake tangan kamu! Boleh ya, sayang."


Revan berkata dengan wajah memelasnya, membuat Hana tak tega menolak keinginan suaminya.


"Yaudah, Hana suapin. Mas Revan kok jadi manja gini sih? Ada apa, hmm?" Tanyanya menatap mata suaminya.


"Aku pengen aja makan disuapin sama istri aku yang gendut ini." Revan berbicara sambil mencubit kedua pipi tembem Hana.


"Ih, mas Revan, sakit!" Ucap Hana mengadu pada cubitan suaminya.


Revan terkekeh melihat tingkah istrinya yang sudah beberapa hari ini tak bertegur sapa dengannya. Setelah selesai membersihkan tangannya, Hana pun mulai menyuapi suaminya.


Hana pun dengan telaten menyuapi suaminya yang makan dengan lahap di suapi olehnya.


"Kamu sudah makan siang?" Tanyanya di sela-sela kunyahannya.


"Belum!"


"Kalau gitu kamu juga makan. Bekalnya juga banyak, jadi kita bisa bagi dua."


Hana menjawab dengan deheman dan anggukan kepala. Ia pun kini makan berdua dengan suaminya menggunakan tangannya. Selama makan, sesekali Revan menjahili istrinya. Hana hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi tingkah suaminya.


Setelah selesai menyantap bekal makan siangnya bersama suaminya, Hana pun kini telah siap mendengarkan penuturan suaminya.


"Jadi, selama beberapa hari belakangan ini aku sibuk di kantor karena sedang menyelidiki kasus korupsi. Salah satu karyawan yang dipercaya dan sudah mengabdi selama bertahun-tahun ternyata berhianat. Dia melakukan korupsi dengan jumlah yang tidak sedikit. Dan...kita telah melakukan rapat dengan para petinggi perusahaan dan hasilnya kami memutuskan untuk memecat secara tidak hormat karyawan itu dengan memberikannya denda yang setimpal."


"Jadi, semuanya sudah selesai?"


"Sudah, sayang. Maka dari itu akhir-akhir ini aku sibuk di kantor karena menyelidiki kasus ini." Revan menyandarkan badannya di sofa dan memijit pangkal hidungnya. Semua itu tidak lepas dari perhatian istrinya.


"Maafin aku, mas!"


Mendengar itu, Revan menegakkan posisinya dan menatap istrinya.


"Maaf untuk apa, sayang?"


"Sebenarnya... Hana sempat berfikiran macam-macam sama mas Revan." Hana melihat ekspresi suaminya yang masih menunggu lanjutan ceritanya. "Hana kira mas Revan itu..." Hana menjawab dengan kikuk dan menatap suaminya jangan sampai suaminya itu marah padanya.


Namun Revan malah menampakkan senyumnya dan beralih menggenggan kedua tangannya.

__ADS_1


"Enggak usah dilanjut. Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan kamu. Dengar, sayang, kunci dari sebuah hubungan itu adalah sebuah kepercayaan. Jadi aku harap kamu jangan lagi berfikiran seperti itu. Sudah berkali-kali aku bilang sama kamu tentang hal ini. Percaya sama suami kamu! aku enggak akan mungkin melakukan itu. Untuk apa aku melakukannya kalau di rumah sudah ada bidadari surga yang menunggu." Jawabnya dengan menaikturunkan alisnya.


Hana dibuat tersipu malu oleh ucapan suaminya. Di puji seperti itu membuatnya malu-malu kucing.


Revan malah terkekeh melihat respon istrinya yang menggemaskan dimatanya. Masalah pun akhirnya terselesaikan. Kini mereka sedang asyik mengobrol tentang banyak hal.


Setelah cukup lama berbincang, Revan kembali melanjutkan pekerjaannya. Hana duduk di sofa menunggu suaminya sampai selesai. Pukul 4 sore setelah laporan sekertarisnya sudah disetor, Revan pun mengajak istrinya untuk pulang ke rumah.


Revan dan Hana berjalan bergandengan tangan melewati beberapa karyawan yang juga berpapasan dengan mereka. Saat keluar dari perusahaan dan berjalan dengan suaminya Hana merasa perutnya agak keram, namun keramnya hanya sebentar dan baik lagi. Pada saat di lobi tiba-tiba salah satu karyawan wanitanya mengucapkan sesuatu yang membuat keduanya berhenti.


"Ada darah, bu!" Tunjuk karyawan wanita tadi yang melihat bercak darah di lantai yang tadi dilewati oleh istri dari bosnya.


Revan terbelalak melihat bercak darah itu. Hana melihat ke bawah dan menyibak sedikit baju gamis yang ia kenakan. Benar saja, di kakinya sedang mengalir darah segar.


"Mas!" Ucap Hana meremas tangan suaminya.


Berada pada posisi ini membuat Revan menjadi sangat panik.


"K-kita ke rumah sakit sekarang!" Ucapnya terbata takut terjadi sesuatu dengan anak mereka.


"Mas... perut aku sakit." Desisnya dan semakin menggenggam dengan erat tangan suaminya.


Demi apapun, demi upin ipin yang tidak kunjung besar, Revan sangat panik melihat kondisi istrinya.


"Sabar, sayang." Jawabnya dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya. Bukan ia yang merasakannya, tapi ia yang jadi gugup dan panik.


"Enggak bisa sabar, mas. Perut aku udah sakit banget!" Kini tangan Hana sudah berada di lengan suaminya. Meremasnya dengan kuat saat sakitnya tiba-tiba muncul.


"Siapkan mobil sekarang!" Teriaknya dengan lantang entah pada siapa. Tapi, semua karyawan yang ada di lobi juga ikut panik dan berhamburan keluar setelah mendengar perintah dari bosnya.


Revan kini mengangkat badan istrinya ala bridal style dan berjalan dengan langkah panjang keluar dari perusahaan. Saat sampai diluar mobilnya sudah terparkir tepat di depan pintu perusahaan. Segera Revan masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopirnya untuk melajukan kendaraan dengan cepat.


Berkali-kali Revan mengumpati para pengendara jalanan yang menghalangi jalannya. Keringat di dahi Hana semakin banyak. Berkali-kali Revan menghapusnya menggunakan tangannya.


Hana meringis kesakitan saat perutnya mengalami kontraksi. Perutnya menjadi tegang dan sangat sakit di waktu yang bersamaan.


"Akh..." Ringis Hana merasakan sakit yang teramat sangat saat kontraksi itu muncul kembali. Lama kelamaan kontraksinya semakin sering muncul dan dengan frekuensi yang semakin panjang.


"Sabar, sayang, sabar..." Ucap Revan berusaha menangkan istrinya dan juga berusaha menangkan dirinya yang juga ikut panik berada di posisi ini.


"Sakit, mas...." Hana yang kesakitan pun tidak punya pilihan lain selain menggigit lengan atas suaminya. Revan meringis kesakitan akibat gigitan istrinya yang membekas di sana. Namun ia pasrahkan tubuhnya untuk di gigit. Biarlah kali ini ia menjadi makanan empuk istrinya.


"Tarik nafas yang dalam, lalu buang." Ucapnya menirukan apa yang dulu dokter ajarkan apabila bumil mengalami kontraksi.


Hana pun menurut dengan mengikuti instruksi dari suaminya. Tarik nafas yang dalam lalu hembuskan.


"Kenapa lama sekali, pak!" Tanyanya pada sopir di depannya.


"Sabar, pak, sebentar lagi sampai!"


Keringat semakin mengucur di pelipisnya. Sedangkan Revan ia juga ikutan berkeringat, gugup, takut dan harap-harap cemas dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak, ini adalah pengalaman pertamanya mendampingi dan menyaksikan sendiri apa yang dialami oleh istrinya yang mau melahirkan.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Jadi author mau bagi-bagi pengalam dulu nih. Dulu author juga sempat ada pada situasi mas Revan. Digigit sama orang yang mau melahirkan. Ceritanya si ibu ini mau melahirkan tapi suaminya itu enggan mendampingi istrinya di ruangan bersalin. Jadinya, saat aku kali itu bertugas, tidak ada pilihan lain. Aku yg dampingin si ibu dan alhasil tangan aku digigit sama ibu itu. Kan kesel akunya sama si suaminya itu. Mau bikinnya tapi enggak mau repotnya😔.


Tapi untung aja anaknya lahir dengan selamat dan tidak kekurangan satu pun. Walaupun ada beberapa drama yang harus di lewatišŸ¤—šŸ˜„.


Segitu aja dulu yak. Jangan lupa kk votenya yang kenceng, biar author makin semangat nulis.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2