Hati yang Patah

Hati yang Patah
Akhirnya


__ADS_3

Setelah selesai sarapan mereka semua kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk kembali pulang, namun tidak dengan pasangan pengantin baru, mereka akan kembali keesokan harinya.


Revan dan Hana mengantar semua keluarga dan sahabatnya turun ke bawah untuk pulang. Semua orang sudah pulang, kecuali Kalista yang masih berada di depan mobilnya.


"Aku mau sekalian pamit langsung pulang ke Surabaya."


"Enggak mau tinggal-tinggal dulu. Kamu kan baru beberapa hari disini, Lista."


"Aku enggak bisa Han, pekerjaan aku banyak banget di butik. Enggak bisa ditinggal. Lain kali aja yah, aku datang lagi."


" Janji, yah!"


" Iya, kalau ponakan udah ada aku bakalan datang."


" Apaan, sih." Hana jadi salah tingkah karena ucapan sahabatnya.


Kalista terkekeh melihat Hana yang salah tingkah.


" Yaudah, aku balik yah. Jangan buat Hana terlalu kecapean yah, Mas!" Goda Kalista kepada Revan.


" Enggak janji."


Blush. Wajah Hana memerah mendengar ucapan ngawur sahabat dan jawaban suaminya.


Kalista tertawa mendengar jawaban Revan dan melihat wajah Hana yang sudah memerah.


" Yaudah, aku balik yah."


" Aku hitung dari tadi kamu ngomong begitu udah sampe tiga kali, tapi enggak pulang-pulang."


" Maaf, maaf. Kali ini beneran balik. Dasar pengantin baru, maunya dua-duaan mulu."


" Aku balik, yah."


" Ya Allah, nih anak. Jangan sampe aku keluarin cakra baru kamu pulang."


Hana hanya bisa tertawa melihat kekesalan Revan dan ulah sahabatnya.


" Jangan dong, Mas. Sizuka lagi enggak ada tenaga jadi enggak bisa ngebalas keluarin cakra juga."


Revan memijat pelipisnya karena tingkah sepupunya yang menyebalkan sama sepertinya. Ternyata orang yang menyebalkan bisa bikin emosi dan naik darah.


" Iya, iya. Udah sana pulang."


" Aku pamit yah, assalamualaikum." Itu kata terakhir Kalista sebelum ia benar-benar pergi dari sana meninggalkan si pengantin baru.

__ADS_1


Setelah Kalista sudah pergi Revan dan Hana kembali menuju kamar mereka. Di dalam lift Revan menggenggam dengan erat tangan Hana. Tak ada pembicaraan diantara mereka hingga pintu lift terbuka.


Revan segera membawa Hana menuju kamar dan membuka pintu kamar mereka. Revan langsung membawa Hana menuju kamar dan lagi-lagi Revan tak berbicara hanya terus menggenggam tangan Hana dan segera menutup pintu.


Suasana serasa panas. Saat pintu telah tertutup Revan memegang pundak Hana dan mendorong pelan tubuh Hana hingga bersandar di pintu. Tatapan mata mereka bertemu. Hana bisa melihat ekspresi wajah Revan dan tatapannya yang dipenuhi kabut gairah.


" Kita lanjutkan yang semalam, yah!"


Dengan wajah memerah Hana menganggukkan kepalanya. Perlahan tapi pasti, Revan semakin mengikis jarak diantara mereka. Ia menempelkan keningnya dan kening Hana lalu menggesek-gesekkan hidung mereka pelan.


Jantung Hana serasa mau copot sangking gugupnya. Hana bisa merasakan nafas hangat suaminya dengan jarak yang sangat dekat.


Adegan di skip...


Setelah menuntaskan hasratnya, Revan terkulai di samping tubuh istrinya. Revan memeluk istrinya dan tertidur setelah kegiatan panas mereka di pagi hari.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Hana terbangun karena tenggorokannya serasa kering. Ia menatap suaminya yang sedang memeluknya. Wajah Hana tiba-tiba memerah ketika mengingat kegiatan panas mereka tadi. Hana menggelengkan kepalanya mengusir sekelebet ingatan tadi.


Hana perlahan menyingkirkan tangan suaminya diatas perutnya dan turun dari ranjang. Hana berjalan menuju kamar mandi untuk mandi hadast dan setelah selesai ia memakai bathrobe dan berjalan keluar mengambil minum.


Hana meneguk air putih itu hingga tandas, dari belakangnya tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Ia tahu itu tangan suaminya. Hana pun menaruh gelas dan membalikkan badan menghadap suaminya.


" Sudah bangun?"


Hana menganggukkan kepalanya karena memang tenaganya terkulai sewaktu mereka melakukan kegiatan di pagi hari tadi.


" Kita pesan aja yah, sayang. Kita makan di kamar aja."


" Iya, aku terserah, Mas saja."


Revan beralih memegang tangan Hana.


" Kita kembali ke kamar yah, sayang." Nadanya pelan dan berjalan menuju kamar.


Hana hanya bisa mengikuti suaminya.


Saat sampai di kamar, Revan segera menelepon layanan hotel untuk memesan makanan untuk diantarkan ke kamar mereka.


Revan naik ke atas kasur dan merebahkan badannya di samping istrinya yang sedang asyik menonton.


Revan memeluk dan menciumi pipi tembem istrinya gemas. Hana jadi geli dibuatnya.


" Mas, Revan."

__ADS_1


" Iya, sayang. Ada apa?" Tanyanya yang sedang memeluk istrinya.


" Hana mau tanya alasan Mas Revan milih Hana jadi istrinya, Mas Revan?"


Hening sesaat. Revan mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Hana, setelah itu barulah ia menjawab.


" Aku cinta sama kamu Hana. Aku sudah meminta petunjuk dan Allah memberikan jawaban. Hatiku memilihmu menjadi pendampingku. Aku sebelumnya tidak pernah jatuh cinta pada perempuan manapun, tapi tidak dengan kamu. Aku jatuh hati pada sosok Farhana. Dan untuk membuktikan kesungguhan cintaku adalah dengan menikahimu. Aku ingin menghalalkan cintaku agar Allah ridho.


Hana meneteskan air mata haru mendengar jawaban suaminya. Ia membenamkan wajahnya di dada suaminya dan memeluknya erat.


Revan memeluk erat istrinya " Ana uhibbuki fillah." Bisik Revan ditelinga istrinya.


" Ana uhibbuka fillah, Mas." Jawab Hana


Bahagianya Revan mendengar pernyataan cinta istrinya yang selama ini ditunggu-tunggunya. Selama ini hanya Revan yang berani mengungkapkan perasaan cintanya, namun tidak dengan Hana. Ini kali pertamanya Revan mendengarnya dari mulut istrinya.


Ditengah suasana haru itu, pintu di ketuk dari luar.


" Kayaknya makanannya sudah datang. Aku ambil dulu, yah." Sambil melepaskan pelukannya.


" Iya, Mas."


" Tak lama kemudian Revan masuk ke kamar memanggil istrinya untuk makan di sofa.


Mereka makan dengan lahap berbagai makanan di depan mereka untuk mengisi tenaga. Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar. Revan bergegas menuju kamar mandi untuk mandi hadast. 10 menit kemudian ia keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Revan memakai baju kokonya dan mengajak istrinya untuk melaksanakan sholat dzuhur.


Setelah selesai, Hana melipat semua alat sholatnya dan menyimpannya. Hana kembali naik ke atas kasur dan menyalakan televisi.


Revan keluar dari kamar mandi dan ikut bergabung ke atas kasur bersama istrinya. Tangan Revan kembali nakal dengan meraba bagian tubuh istrinya.


"Mas."


" Iya, sayang. Ada apa?"


" Tangannya!" Katanya karena tangan suaminya sudah kemana-mana


" Aku mau lagi. Enggak apa-apa, kan?"


Sebenarnya Hana sangat mengantuk karena habis makan tadi, tapi ia tidak bisa menolak. Selain dosa kalau menolak keinginan suami, Hana juga takut kalau ia menolak suaminya itu akan kecewa. Hana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan akhirnya mereka kembali mengulang kegiatan tadi pagi.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Yaelah babang Revan, kayaknya ketagihan deh. Yang sabar yah, Hana. Benar katanya tadi pagi saat bersama kalista, ia tidak janji untuk tidak membuat istrinya kelelahan. Tapi namanya juga pengantin baru dan jiwa muda yang sedang semangat-semangatna, harap dimaklumi😅😀😀.


Jangan lupa tinggalkan jempol, komen dan votenya agar author semakin semangat upnya dan bisa setiap hari update, ok👍👌. Siip dah.

__ADS_1


Salam story from By_me...


__ADS_2