Hati yang Patah

Hati yang Patah
Pindah rumah


__ADS_3

Hana dan Revan sekarang berada didalam mobil dan berniat untuk langsung pulang. selama perjalanan, Revan sesekali melirik kearah Hana. Namun Hana tidak sadar diperhatikan oleh Revan.


" Hana "


Hana menolehkan pandangannya kearah Revan.


" Ada apa mas?"


" Kenapa kamu sudah tidak mau lagi menerima bantuan dari aku hmm?"


Hana menarik nafasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Revan.


" Bukannya aku tidak mau menerima bantuan lagi dari mas Revan, tapi aku cukup tahu diri mas. Aku nggak mau selalu menyusahkan kalian, aku tahu kalau selama ini kalian ikhlas dan sayang sama aku dan Jihan. Tapi aku tidak mau memanfaatkan kebaikan kalian dengan terus menerus tinggal dan menempel dengan kalian"


Revan menarik nafasnya dalam


" Kamu tahu Hana, kamu tidak pernah peka"


" Maksud mas Revan apa?"


" Sudahlah, kamu memang tidak pernah mengerti"


" Bagaimana caranya aku mau mengerti, kalau mas Revan tidak bicara apa yang tidak kusadari"


" Kamu mau tahu Hana apa yang membuatku mengatakan kalau kamu memang tidak peka, aku selama ini ikhlas ingin membantumu, selalu berada disampingmu. Tapi kamu tidak pernah peka dengan.."


Revan menghentikan ucapannya


Hana menatap kearah Revan, ingin mendengar lanjutan perkataan Revan.


" Dengan apa mas?"


Lama Revan terdiam, ia menutup matanya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Hana


" Sudahlah, aku mau kamu sadar sendiri apa yang membuatku mengatakan kamu tidak peka"


" Mas Revan apaan sih nggak jelas banget, apasih susahnya langsung bicara, ketidakpekaan aku apa"


" Nggak mau, biar kamu cari tahu sendiri jawabannya apa"


" Mas Revan, jangan buat Hana penasaran dong"


" Didepan ada penjual es buah, kamu mau makan es buah?"


Revan langsung mengubah topik pembicaraannya, jujur ia belum mampu mengungkapkan perasaannya. Ia takut nanti Hana menolaknya atau meninggalkannya.


" Mas Revan"


" Es buahnya enak loh panas panas gini"


" Mas Revan"


" Kalau kamu nggak mau, yaudah aku aja yang makan"

__ADS_1


" Mas Revan nyebelin tahu nggak"


Hana kembali duduk menghadap kedepan dan bersedekap. Tak lama kemudian Revan menepikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya didepan penjual berbagai jenis minuman dingin.


Mereka berjalan masuk dan duduk dikursi plastik yang disediakan disana, tak lama kemudian datang pelayan membawa buku menu kepada mereka.


" Aku pesan soup buah ya mbak satu, kamu mau pesan apa?"


" Aku pesan es buah aja"


" saya juga pesan es cream banana mbak satu tapi dibungkus ya"


" Baik pak, kalau begitu saya permisi" Pelayan tadi senyum kepada Revan, Revan refleks membalas senyum mbak yang tadi. Entah mengapa, Hana tidak suka Revan senyum senyum kepada wanita itu. Revan bukan tipe lelaki yang mudah umbar senyum, tapi tadi kepada pelayan itu, Revan tersenyum tulus.


" Yaampun genit banget jadi orang" Hana bergumam pelan


Namun lagi lagi Revan selalu mendengar kalau Hana membicarakannya.


" Kamu tadi bicara apa hmm?"


" Aku nggak bicara apa apa"


" ck , aku jelas jelas tadi dengar kamu bicara sesuatu tentang aku"


" Kalau mas dengar, kenapa masih bertanya hmm?"


" Ya ampun, sabar Revan, sabar" Revan berkata sambil mengelus elus dadanya.


Hana yang melihat tingkah Revan hanya bisa tertawa.


Revan yang melihat tingkah Hana, hanya bisa geleng geleng kepala.


Tak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang. Mereka makan es pesanan masing masing dengan lahap, karena efek panas matahari es pesanan mereka cepat habis.


" Alhamdulillah, segarnya"


" Yaudah kita lanjut pulang yuk"


Hana menganggukkan kepalanya dan mengikuti Revan sampai dimeja kasir. Revan membayar tagihan es mereka dan mengambil bungkusan pesanan es cream banananya.


Mereka berjalan menuju mobil dan Revan melajukan kendaraannya menuju rumah. 20 menit kemudian akhirnya mereka telah sampai. Jihan yang melihat Bundanya telah kembali bersama Revan langsung berlari kearah mereka dan menjabat tangannya.


" Unda, om levan "


" Om levan bawa apa itu dikantong?"


" Om Revan bawa es cream untuk Jihan loh" Revan mengangkat bungkusannya didepan Jihan.


" Uwaaaa... makasih om levan cantik" Jihan mengambil bungkusan ditangan Revan setelah itu ia berlari masuk kedalam.


Hana dibuat tertawa oleh perkataan anaknya yang mengatakan Revan cantik, Hana kembali mengingat wajah Revan saat selesai didandani oleh Jihan yang mana hasilnya sangat menor, wajah Revan seperti kepiting rebus.


Hana masih menertawakan Revan, ia tertawa terbahak bahak ketika kembali mengingat wajah Revan semalam. Revan memasukkan tangannya kedalam saku celananya lalu menatap Hana yang masih tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


Saat Hana telah puas tertawa, ia menatap kearah Revan yang ternyata menatapnya intens. Seketika Hana menghentikan tawanya dan menjadi salah tingkah karena ditatap oleh Revan.


" Mmm aku minta maaf "


" Minta maaf apa?"


" Karena sudah menertawakan mas Revan"


" Kenapa kamu menertawakan aku?"


" Karena- karena mas cantik" setelah mengatakan itu, Hana langsung berlari masuk kedalam menghindari amukan Revan nantinya.


" Yaampun benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya" Revan bergumam pelan.


" Hana, Jihan, awas kalian yah" Revan berkata sambil berteriak, sengaja agar mereka mendengar teriakannya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Tibalah hari dimana Hana dan Jihan akan pindah kerumah baru. Seluruh anggota keluarga mengantar Hana dan Jihan untuk pindah rumah.


Saat telah sampai disana, mereka semua membantu Hana untuk membereskan semua barang barangnya.


Hana pindah rumah dihari senin, jadi ia diberi izin sehari oleh Revan untuk tidak masuk kerja dan bisa fokus membersihkan rumah barunya.


Saat telah selesai menyusun semua barang barang ditempatnya, Papa, Revan dan Jihan istirahat diruang keluarga. Sedangkan Mama dan Hana, mereka berkutat didapur dan memasak untuk makan malam mereka.


Ditengah kegiatan memasak mereka, Mama bertanya kepada Hana.


" Bagaimana hubungan kamu sama mantan suami kamu itu sayang?"


" Hubungan kami baik baik saja ma, setelah kami bercerai, aku dan dia sekarang sudah menjadi teman"


" Oh, kamu nggak punya niat kan sayang untuk balik sama dia?"


" Nggak ma, menurut aku pantang seorang wanita yang diselingkuhi untuk bisa kembali percaya. Aku sudah memaafkannya, tapi luka yang dulu ia torehkan masih membekas ma. Ibarat kaca yang pecah, walaupun sudah diperbaiki tetap saja kaca itu tidak akan utuh lagi seperti semula"


Mama menganggukkan kepalanya dan mengelus elus punggung Hana.


" Mama tahu kamu wanita yang kuat, Mama yakin suatu saat akan ada lelaki yang lebih baik yang akan mencintaimu dan Jihan dengan sepenuh hati"


Hana tersenyum mendengar penuturan Mama, Hana sangat bersyukur karena ia bisa bertemu dengan Keluarga ini dan bisa kembali merasakan kasih sayang orangtua yang telah lama tak ia rasakan.


" Aamiin"


Setelah selesai berbincang bincang, Hana dan Mama membawa masakan mereka ke meja makan dan memanggil Papa, Revan dan Jihan diruang keluarga. Suasana di meja makan sangat hangat, Papa kembali membahas wajah Revan saat didandani oleh Jihan yang seketika membuat semua yang ada dimeja makan tertawa.


Malam itu keluarga Papa Surya menginap dirumah Hana, dan baru pulang keesokan harinya saat Revan mau berangkat kerja. Hari pertama mereka pindah, Hana menitipkan anaknya dirumah Papa Surya dan akan menjemputnya saat sudah pulang kerja.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy readinng guys nya😘


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2