Hati yang Patah

Hati yang Patah
SAH


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tibalah saat yang paling dinantikan, yaitu acara pernikahan Revan dan Hana. Acara pernikahan dilangsungkan pada hari jum'at dan ijab kobul akan dilaksanakan pada pukul 10 pagi di hotel berbintang lima.


Hati deg-degan semakin Hana rasakan menjelang acara pernikahannya. Hari yang telah lama mereka tunggu-tunggu akhirnya terjadi. Pagi-pagi sekali Hana sudah dirias oleh perias pengantin mengingat mereka akan berangkat menuju tempat berlangsungnya acara satu jam sebelum acara dimulai.


Setelah selesai dirias, perias pengantin pun pamit keluar. Hana memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin, dengan gaun putih yang sangat anggun dan dibalut dengan hijab putih sungguh ia merasa sangat berbeda hari ini.


Dengan izin Allah SWT, hari ini ia akan menjadi istri dan penyempurna agama untuk Revan. Seorang lelaki yang sholeh dan bertanggungjawab.


Tiba-tiba cairan bening lolos dari matanya. Hana sangat bersyukur karena ternyata dibalik semua cobaan yang lalu ia rasakan, ada skenario terindah yang tuhan siapkan kepadanya. Tuhan menggantikan yang hilang dengan mengirimkan seorang ksatria dan pelindung untuknya dan anak semata wayangnya.


Tanpa Hana sadari sudah ada seorang gadis


kecil yang menggunakan gaun berwarna putih berdiri dihadapannya dan menghapus air matanya.


" Bunda jangan nangis! Jihan ikut sedih kalau Bunda nangis."


Hana memandang dengan tatapan penuh kasih kepada anaknya. Hana bersyukur karena anaknya mampu menerima keadaan dan mendukung penuh keputusan Bundanya untuk menikah lagi. Kebahagiaan Bundanya adalah kebahagiaannya juga, katanya pada Bundanya.


Hana menggenggam tangan lembut anaknya dan menciuminya.


" Bunda enggak nangis kok, sayang. Bunda hanya terharu makanya air matanya keluar."


Mendengar jawaban Bundanya membuat Jihan tersenyum lembut kearah Bundanya dan segera memeluk pinggangnya.


" Jihan harap Bunda bisa bahagia bersama ayah Revan. Jangan pernah lagi sedih-sedih." Katanya lirih di pelukan Bundanya. Hana terharu mendengar ucapan tulus dari anaknya. Beruntungnya Hana memiliki anak seperti Jihan, walaupun anaknya ini sangat manja namun diwaktu yang tak lain ia bisa menunjukkan sisi dewasanya.


" Iya, sayang. Bunda janji!"


Setelah mendengarkan itu, Jihan melepaskan pelukannya dan kembali menatap Bundanya sambil tersenyum


" Tuh, kan. Jihan bilang juga apa, jangan nangis Bunda. Makeup nya jadi luntur, Bunda udah enggak cantik lagi deh."


" Masa sih, sayang." Hana memperhatikan wajahnya dicermin. Ribet juga kalau harus di makeup ulang. Namun ternyata anaknya ini sedang menjahilinya.


" Jihan udah mulai nakal, yah!" Hana beralih menggelitiki anaknya dan membuat anaknya itu tertawa terpingkal-pingkal.


" Ma-maaf Bunda. U-udah Jihan en-ggak kuat." Katanya terputus-putus karena tidak tahan dengan gelitikan Bundanya.


Melihat anaknya yang memohon karena tidak tahan dengan gelitikannya membuat Hana menghentikan kegiatannya.


" Masih mau jahilin Bunda?"


" Enggak, Bunda. Jihan kapok." Katanya nyengir memperlihatkan gigi ompongnya.


Di tengah kegiatan mereka tiba-tiba pintu terbuka dan tampaklah Ibu Suri yang berdiri di sana.


" Sudah selesai, Nak?"


" Sudah, Bu."


" Kalau begitu kita berangkat sekarang. Di bawah orang-orang sudah siap untuk berangkat."


Hana menganggukkan kepalanya dan berdiri dari sana. Ia turun bersama dengan Ibunya dan anaknya. 20 menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di hotel tempat dilangsungkannya acara pernikahan. Di hotel sudah banyak sekali karangan bunga ucapan atas pernikahan mereka.

__ADS_1


Hana berjalan masuk didampingi oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya. Semua orang menatap penuh kagum melihat penampilan ratu sehari itu. Terutama Revan yang tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Hana. Hana sangat gugup karena sebentar lagi akad akan berlangsung dan juga pandangan orang-orang yang hanya tertuju kearahnya.


Hana duduk dipisahkan dengan Revan, setelah selesai akad barulah Hana duduk berdampingan dengan Revan.


Penghulu sudah hadir dan setelah memberi sedikit wejangan pernikahan kepada kedua mempelai barulah akad dimulai.


Jantung Revan serasa mau copot karena ini adalah hal yang paling bersejarah dalam hidupnya. Keringat dingin sudah bercucur didahinya karena efek gugup.


Penghulu menjabat tangan Revan dan memulai proses akad nikah.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Revandra Bramana bin Bramana dengan ananda Farhana Almeera binti Suryo dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Farhana Almeera binti Suryo dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Revan berbicara dengan satu kali tarikan nafas dan dengan suara yang lantang.


" Bagaimana para saksi, Sah!" Kata penghulu diakhir akad.


Serentak semua orang berteriak dengan satu kata, " Sah!"


Setelah mendengar jawaban dari para saksi penghulu pun mulai membacakan doa bagi kedua mempelai yang telah resmi menyandang status sebagai pasangan suami istri.


Semua orang memanjatkan doa tulus kepada kedua mempelai agar nantinya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.


Revan menghapus keringat di wajahnya dan setelah itu ia alihkan pandangannya ke pasangan halalnya.


Mata mereka saling bertemu, air mata pun lolos keluar dari mata bening Hana. Sedangkan Revan ia tak menangis hanya saja matanya tampak berkaca-kaca memandangi kekasihnya.


Hana dibawa untuk duduk disamping suaminya. Setelah menandatangani buku nikah, penghulu mempersilahkan keduanya untuk memasang cincin pernikahan. Revan membuka kotak cincin dan mengambil cincin didalamnya. Revan mengambil tangan istrinya dan mulai memasukkan cincin itu di jari manis. Setelah selesai, kini giliran Hana yang memasangkan cincin di jari manis suaminya, ceelah suaminya.


Hana kemudian mencium punggung tangan suaminya. Setelah ia melepaskannya, Revan memegang kedua pundak Hana dan mencium keningnya lama.


Suara sorak sorai dari para tamu saat menyaksikan pasangan yang baru sah menjadi suami istri itu.


Setelah selesai akad, diberi jeda selama satu jam untuk memulai acara resepsi. Satu jam kemudian resepsi pun dimulai. Para tamu sudah berdatangan mulai dari keluarga, teman dekat, kolega bisnis, klien dan para karyawannya. Acara berlangsung sangat meriah dan megah. Dekorasi bunga disetiap ruangan menambah kesan indah acara hari itu.


Kedua mempelai sudah duduk manis disinggasananya. Menjadi raja dan ratu dalam sehari. Para tamu mulai menyalami kedua mempelai.


Hari sudah menjelang malam namun para tamu seperti tak ada habis-habisnya. Hana yang menggunakan sepatu hells yang tingginya mencapai 7 cm sudah sangat pegal berdiri lama. Hal itupun tak luput dari perhatian Revan.


" Istirahat saja dulu!"


" Sebentar saja, Mas. Tamu juga masih banyak."


Revan sebenarnya sangat ingin agar Hana beristirahat saja, namun Hana bersikeras untuk menunggu sampai acara resepsi selesai. Dengan terpaksa Revan mengikuti kemauan dari istrinya.


Dari jauh tampak Rafael sahabat Revan yang berjalan bersama dengan istrinya mendekati mempelai.


" Halo bro, gue ucapin selamat karena akhirnya sahabat gue ini menikah juga." Mereka berjabat tangan dan berpelukan.


" Seandainya lo enggak ikutin saran dari gue, lo pasti enggak bakalan menikah- menikah sampai sekarang." Katanya bangga membisikkan ditelinga Revan.


Revan tersenyum tipis. Ia mengingat kembali ucapan dari sahabatnya. Selama ini Revan yang takut mengungkapkan perasaannya menjadi berani karena dapat wejangan dari sahabatnya, si playboy tobat.


Setelah pelukan mereka terlepas barulah Revan kembali berbicara.

__ADS_1


" Terima kasih. Lo emang sahabat terbaik gue"


" Yaelah, masa cuma terima kasih doang."


" Ya, terus lo mau apa Bambang?"


" Mau gue cuma satu."


" Apaan?"


" Buruan kasi ponakan buat kita, biar nanti anak gue ada temennya."


Revan yang mendengarnya langsung memandang kearah Hana, wajah Hana sudah memerah mendengar penuturan Rafael.


" Yaelah, gue kira apaan, Bambang. Kalau itu lo enggak usah bilang, gue pasti bakalan kasi ponakan buat lo." Mereka langsung tertawa namun tidak dengan Hana. Wajahnya sangat merona mendengarnya.


Setelah Rafael dan Alisya selesai salaman, kini tinggal Revan dan Hana yang kembali duduk saat sudah tak ada lagi tamu.


Revan mendekatkan dirinya lebih merapat disamping istrinya dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.


" Kamu denger kan, Rafael tadi bilang apa! Dia pengen cepat punya ponakan."


Hana merasa sangat geli mendengar bisikan suaminya. Bagaimana tidak kalau Revan berbisik namun mulutnya menyentuh daun telinganya.


Hana mendorong dada Revan pelan dan menggeser sedikit duduknya.


" Mas Revan apaan sih, nanti orang mikir yang enggak-enggak kalau Mas Revan seperti tadi."


"Seperti apa, hmm?"


" Ya, seperti tadi, Mas!"


" Enggak apa-apa juga kali kalau mereka mikir yang enggak-enggak. Kan, kita udah jadi suami istri." Revan berbicara dengan menaikturunkan alisnya menggoda Hana


" Tau, ah."


Revan terkekeh dan menggenggam tangan Hana.


" Boleh aku cium tangan kamu?"


Demi apapun, Hana sangat malu karena untuk hal seperti itu suaminya harus minta izin terlebih dahulu. Dengan pasrah Hana menganggukkan kepalanya.


Revan menampakkan senyuman termanisnya dan mulai mencium tangan Hana lama. Hana mengalihkan pandangannya kearah lain karena malu.


" Woy, udahan ciumnya. Nanti aja di kamar." Teriak Rafael dari bawah. Seketika itu juga para tamu menertawakannya.


Revan hanya menanggapinya dengan tersenyum, namun berbeda dengan Hana yang semakin menunduk malu dengan wajah yang sangat memerah.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Jangan lupa kk tinggalkan jejak. Like, komen dan vote nya. Dengan vote akan membuat author semangat buat nulis😘


Makasih😊

__ADS_1


__ADS_2