Hati yang Patah

Hati yang Patah
Rencana Untuk Revan


__ADS_3

"Iya, Indah, aku menyesal telah memilihmu. Kamu yang membuatku berada di posisi ini. Dengan entengnya kamu merendahkan aku. Aku tidak pernah memintamu untuk memperbaiki taraf hidupku, Indah. Kamu yang menghancurkan hidupku dan sekarang kamu mau menegaskan posisiku. Sekarang aku tanya, apa maumu?" Ucapnya dengan nada tinggi


"Maksud kamu apa, mas?"


"Aku yang harusnya tanya maksud kamu apa. Kamu bilang tidak mau diperintah olehku. Kau seorang Nyonya di rumah ini. Dan aku hanya orang biasa yang beruntung bisa hidup di sini."


"Bukan itu maksud aku, mas."


"Jadi maksud kamu apa. Begini saja, lebih baik kalau kita pisah.! Hidupku sudah hancur, Indah, jadi lebih baik kita akhiri hubungan ini!"


Indah membelalakkan matanya mendengar penuturan suaminya.


"Kamu ini bicara apa, mas."


"Aku mau kita pisah, Indah. Tidak ada lagi gunanya kita hidup bersama kalau aku tidak lagi dihargai sebagai seorang kepala rumah tangga."


Indah menggelengkan kepalanya menolak segala ucapan suaminya. Ia tidak ingin pisah dari suaminya.


"Aku tidak mau, mas. Aku tidak akan mengizinkan kamu menceraikan aku. Aku tidak bisa, mas. Aku sangat mencintai kamu."


"Kamu tidak mencintai aku dengan tulus, Indah. Kamu hanya terobsesi selama ini. Kamu salah kalau mengatakan hubungan kita ini karena cinta." Arlan menggelengkan kepalanya mengucapkannya dengan lantang dan tegas.


"Tidak, mas. Aku sungguh mencintai kamu. Aku mohon jangan katakan itu lagi. Aku tidak akan sanggup jika harus hidup tanpa kamu."


Arlan menggelengkan kepalanya menolak ucapan istrinya.


"Sebenarnya apa maumu, Indah. Kamu tidak mau melepasku namun tidak pernah menghargai aku sebagai suamimu. Kamu menyiksa aku, Indah." Air mata Arlan pun bebas terjatuh. Sungguh hidupnya sangat mengenaskan sekarang.


Indah juga ikut menitikan air mata.


"Lebih baik kita berpisah, Indah. Aku merasa sebagai lelaki gagal. Menjadi suami namun harga dirinya diinjak-injak oleh istri sendiri. Itu yang kamu maksud cinta, Indah. Jawab aku?" Arlan berteriak di depan wajah istrinya dan menggoyangkan pundak istrinya meminta jawaban.


Indah tak menjawab namun air matanya semakin deras terjatuh.

__ADS_1


"Maafkan aku, mas. Baiklah, aku janji akan berubah dari sekarang. Asal kamu jangan ceraikan aku." Ucapnya mengatupkan kedua tangannya di depan dada berharap agar suaminya itu berubah fikiran. Namun usahanya itu ternyata sia-sia, Arlan tetap pada pendiriannya. Karena terlalu lama memendam sakit hati membuatnya mengambil langkah ini.


"Kamu akan selamanya menjadi Nyonya di rumah ini, Indah. Orang biasa ini akan pergi. Tidak ada lagi gunanya kita bersama."


"Jangan, mas. Aku mohon maafkan aku. Aku janji akan berubah. Aku akan menuruti segala perintahmu. Asalkan mas kasih aku kesempatan untuk berubah."


Arlan tetap menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku. Tapi kesempatan itu sudah pernah aku berikan tapi ternyata kamu tidak memperdulikannya. Tidak ada lagi gunanya kamu bersama dengan orang rendahan seperti aku ini. Aku sekarang sadar diri akan posisiku. Kamu memang lebih pantas bersama lelaki yang sepantaran dengan statusmu."


Indah semakin menangis mendengarnya. Sampai disini kah akhir kisah rumah tangganya. Ia harus mempertahankannya bagaimanapun caranya.


"Malam ini izinkan aku tidur di rumah anda Nyonya. Besok pagi aku akan mengemasi barang-barangku dan masalah perceraian biar aku yang mengurusnya." Ucap Arlan dan berbalik badan ingin naik ke kamarnya namun belum sampai beberapa langkah jalannya ia mendengar suara dentingan pecahan kaca. Segera ia berbalik. Ia membelalakkan matanya saat melihat Indah sudah memegang pecahan kaca dan mengarahkannya ke nadinya.


"Aku sangat mencintai kamu, mas. Kalau kamu benar-benar akan melakukan itu, maka lebih baik aku mati saja, mas. Tidak ada gunanya juga aku hidup kalau kamu sudah meninggalkan aku." Ucapnya berteriak dan mengarahkan pecahan kaca tadi di tangannya.


"Kamu jangan gila, Indah. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Lepaskan sekarang juga!" Ucapnya dengan nada pelan agar Indah mau menuruti perkataannya.


"Aku memang sudah gila, mas. Kamu yang membuat aku seperti ini. Kalau kamu tidak mau menarik kata-kata kamu, maka aku akan menusukkan kaca ini ke nadiku, mas."


"Bukan itu jawaban yang aku mau, mas." Indah dengan nekatnya mulai menggores tangannya menggunakan pecahan kaca tadi.


"Indah, jangan nekat kamu!" Ucapnya berteriak karena melihat darah sudah keluar dari sana.


"Aku hitung sampai tiga, mas. Kalau kamu masih belum menarik kata-katamu tadi, maka aku hanya akan tinggal nama!"


"Satu...dua...ti...."


"Baik, baiklah. Aku tidak akan menceraikan kamu. Lepaskan kaca itu sekarang juga Indah."


Mendengar ucapan suaminya membuatnya merasa lega. Arlan pun perlahan mendekat dan mengambil kaca di tangan istrinya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia segera mengambil kain untuk mengikat tangan istrinya agar darahnya dapat terhenti. Namun belum sempat kain itu ia ikatkan di tangan istrinya, Indah sudah terkulai lemah dan ambruk. Untung saja Arlan dengan sigap menangkap badan istrinya agar tidak terjatuh ke bawah.


" Indah, sadar, Indah." Ucapnya menepuk-nepuk pipi istrinya, namun tidak ada respon. Indah pingsan dengan darah yang mengucur di tangannya semakin banyak. Segera Arlan membebat tangan istrinya menggunakan kain tadi. Ia ikat agar perdarahannya tidak terlalu banyak. Segera ia mengangkat tubuh istrinya dan berteriak memanggil sopirnya agar mengantarnya menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Ia segera membawa istrinya menuju rumah sakit. Saat sampai di sana, segera petugas kesehatan memberikan pertolongan.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Hana, Revan dan Jihan sekarang sedang berada di halaman belakang rumahnya menikmati waktu sore. Hana duduk di kursi memperhatikan suami dan anaknya yang sekarang sedang bermain kejar-kejaran.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Hana segera melihat di layar siapa yang menghubunginya dan ternyata itu adalah panggilan dari Mama mertuanya. Segera ia mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam, sayang. Pulang kantor besok kamu ada kegiatan enggak, sayang?"


"Enggak ada, ma. Hana dan Revan langsung pulang ke rumah. Emangnya ada apa, ma?"


"Pulang dari kantor besok, kamu langsung ke rumah, ya, sayang. Ada yang mau Mama obrolin sama kamu penting!"


"Apaan tuh, Ma. Hana jadi penasaran deh."


"Rahasia. Besok aja Mama beritahu kamu. Tapi Mama harap kamu aja yah yang datang. Revan enggak usah."


"Loh, kok gitu, Ma?"


"Karena kita mau membahas tentang Revan, sayang. Makanya Mama enggak mau dia datang."


Hana menganggukkan kepalanya mengerti. Lama mereka berbincang-bincang di telepon dan saling melepas rindu. Hana dibuat penasaran kira-kira apa yang mau Mama rencanakan untuk Revan.


Setelah cukup lelah bermain di taman. Kini mereka bertiga pun kembali masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri karena sebentar lagi waktu maghrib akan masuk.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading kakak😘🤗


Jangan lupa vote nya, like dan komennya juga.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2