
Saat Arlan membawa Hana dengan saat diparkiran, Revan diam diam mengikuti kendaraan Arlan dari belakang.
Revan mengikuti kemana kendaraan Arlan melaju, ia mengikutinya sampai didekat danau.
Saat telah sampai disana, Revan memarkirkan kendaraannya agak berjauhan dengan kendaraan Arlan.
Ia memperhatikan dari jauh saat Arlan membawa Hana sampai di pinggir danau. Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan, lama ia menunggu disana sampai akhirnya Hana berjalan menuju trotoar dengan setengah berlari.
Sedangkan Arlan masih berdiri dipinggir danau dan memandang kearah danau. Segera Revan mengikuti langkah Hana yang berjalan sambil menunduk.
Lagi lagi Hana menangis, Revan terus mengikuti Hana hingga wanita itu berhenti dan duduk di kursi tunggu Halte bus.
Revan melepaskan jas yang melekat dibadannya dan berjalan kearah Hana
" Pakai ini"
Hana mendongakkan kepalanya dan melihat orang didepannya, Hana tak melakukannya dan kembali menundukkan kepalanya.
Segera Revan menutupi wajah Hana dengan jas agar Hana dapat menangis dengan puas tanpa dilihat oleh orang orang.
Setiap orang yang lewat, mereka memandang kearah Hana yang menangis sambil menutupi wajahnya menggunakan jas.
Setelah cukup lama Hana menumpahkan kesedihannya, ia pun menghentikan tangisnya dan menurunkan jas yang menutupi wajah dan sebagian badannya.
Hana menghapus air matanya dan menatap lelaki disampingnya.
" Mas aku mau pulang"
Revan segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil jas yang berada ditangan Hana.
" Ayo"
Segera Hana berdiri dan berjalan mengikuti Revan. Mereka memasuki mobil dan perlahan mobil Revan berjalan kembali menuju rumah.
Saat sudah sampai Hana segera berjalan memasuki rumah dan menuju kearah kamarnya.
Setelah kejadian itu, Hana akhirnya menceritakan semua masalahnya kepada Mama dan Papa. Revan juga ikut mendengarkan dan berniat untuk membantu Hana mengurus perceraiannya dengan bantuan pengacara.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, Hana telah mendapatkan berkas perceraian dari pengadilan agama. Hana telah menandatangi berkas perceraian itu, sisa tanda tangan dari mantan suaminya.
Hana meminta izin kepada Revan untuk membawa berkas perceraiannya ke kantor Arlan. Setelah mendapatkan izin untuk pergi, segera Hana memesan taksi dan menuju ke perusahaan Arlan.
25 menit kemudian akhirnya ia pun sampai didepan perusahaan Arlan, ia memandangi gedung didepannya yang menjulang tinggi.
Hana berjalan memasuki perusahaan Arlan, sampai di lobi dia segera berjalan menuju meja reseptionis.
" Selamat pagi mbak, ada yang bisa kami bantu
" Pagi, saya mau bertanya ruangan direktur dilantai berapa yah?"
" Mohon maaf sebelumnya, apa mbak sudah membuat janji sebelumnya dengan direktur?"
" Belum mbak, tapi saya ingin memberikan berkas ini untuk ditanda tangani oleh direktur"
" Dengan mbak siapa saya berbicara?"
" Saya Farhana Almeera mbak"
" Tunggu sebentar ya mbak, saya hubungi sekertaris direktur dulu"
__ADS_1
" Iya"
Setelah beberapa saat berbicara, akhirnya
telpon pun tertutup.
" Mbak silahkan menuju kelantai 23, disana sudah ada sekertaris direktur yang menunggu anda"
" Terima kasih mbak"
" Sama sama"
Hana berjalan menuju lift dan menekan tombol 23, setelah beberapa saat menunggu akhirnya ia pun sampai.
Saat telah sampai disana, ia disambut oleh sekertaris Arlan dan diarahkan untuk langsung masuk keruangan direktur.
Hana berjalan sampai didepan ruangan Arlan, ia menarik nafas dalam dan membuangnya. Setelah dirasa ia telah siap, ia pun mengetuk pintu ruangan Arlan.
" Masuk"
Hana membuka pintu dan berjalan masuk ke ruangan Arlan. Arlan tetap fokus dengan pekerjaannya dan tak menghiraukan keberadaan Hana didepannya.
Lama Hana menunggu hingga pekerjaan Arlan selesai dan setelah 10 menit Arlan pun menutup berkas yang ada didepannya.
" Selamat pagi mas Arlan, mohon maaf saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberikan berkas ini"
Hana menyodorkan berkas surat perceraiannya kedepan Arlan, segera Arlan membuka berkas itu dan melihat isinya.
Setelah dilihatnya surat dari Pengadilan Agama itu beberapa saat, ia pun memandang Hana dan mengambil pulpen untuk menandatangi berkas itu.
Arlan kembali menyodorkan berkas itu kedepan Hana. Hana mengambil berkas itu dan berniat pamit kepada Arlan.
Hana bangkit dari duduknya dan berniat untuk kembali, ia tak bisa berlama lama memandang lelaki didepannya.
Namun baru beberapa langkah, Arlan menghentikan langkah Hana
" Tunggu"
Hana kembali berbalik kearah Arlan
" Ada apa mas"
" Aku punya satu permintaan sama kamu"
" Apa itu?"
" Aku mau walaupun kita nanti bercerai, kamu tidak menghalangi aku untuk bertemu dengan anakku"
Hana memandang Arlan dan berfikir sesaat sebelum kembali berbicara, Hana akhirnya menganggukkan kepalanya.
" Tentu, aku tidak akan melarangmu kalau nanti ingin bertemu dengan Jihan. Biar bagaimanapun kita nantinya, Jihan tetaplah darah dagingmu dan aku tidak punya hak untuk melarangmu menemuinya"
" Datanglah saat kau ingin bertemu dengannya"
Arlan hanya menganggukkan kepalanya
sebagai jawaban.
"Aku sekarang boleh pergi kan?"
__ADS_1
Arlan menahan senyumnya mendengar pertanyaan Hana, sungguh ia sangat rindu dengan tingkah Hana. Namun segera ia menormalkan kembali ekspresinya.
" Silahkan"
" Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Hana membalikkan badan dan berjalan keluar
dari ruangan Arlan. Hana memasuki lift dan menekan angka 1, saat telah sampai di lobi ia segera memesan taksi menuju kekantor Revan.
Sementara didalam ruangan direktur, Arlan menyandarkan punggunya dikursi kebesarannya dan kembali memikirkan tentang perceraiannya dengan Hana.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sebulan kemudian akhirnya sidang perceraian Hana dan Arlan pun dilaksanakan. Hana didampingi oleh Mama, Papa, Revan dan pengacaranya. Sedangkan Arlan didampingi oleh pengacaranya saja.
Hana dan Arlan saling menjabat tangan dan duduk berdampingan. Sidang pun dimulai hingga pada saat hakim membacakan isi dari surat keputusan. Hakim menyatakan bahwa Hana yang akan mendapatkan hak asuh atas anaknya Jihan. Sedangkan masalah Harta gono gini, Hana tak mempermasalahkannya.
Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, pertanda bahwa Hana dan Arlan telah resmi bercerai.
Hana menitikan air matanya saat hakim mengetuk palu tiga kali, segera ia menghapus air matanya. Ia tak ingin Arlan melihatnya menangis.
Arlan berdiri dan diikuti oleh Hana disampingnya. Hana menjabat tangan Arlan untuk yang terakhir kalinya.
" Aku harap mas bahagia dengan keluarga mas nantinya"
" Aku juga berharap semoga kau juga dapat menemukan kebahagiaanmu dan bertemu
dengan lelaki yang bertanggung jawab dan lebih mencintaimu dibanding aku dulu"
Hana hanya menganggukkan kepalanya dan segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arlan"
Hana segera berbalik dan berjalan keluar dari ruangan sidang. Diluar sudah ada menunggu Mama, Papa dan Revan.
Segera Mama berjalan kearah Hana dan memeluknya untuk menenangkannya.
" Kamu harus kuat sayang, kami semua akan selalu berada disampingmu dan mendampingimu kamu harus ingat itu yah"
" Iya Ma, makasih yah"
" Heem, Kalau begitu kita pulang yah sayang"
Setelah itu Mama melapaskan pelukannya dan menggandeng Hana menuju mobil.
Tak jauh dari tempat mereka tadi, Arlan terus menatap kearah Hana sampai menuju mobil.
" Ternyata takdir kita hanya sampai disini Hana" Arlan bergumam dalam hati dan tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi pipinya.
Melepaskan memang tidak gampang, terkadang kita harus menerima kenyataan, agar kita bisa berdamai dengan keadaan.
Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu ( R.A Kartini).
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Selamat hari Kartini
__ADS_1
Salam story from by_me❤