
Setelah pertemuan dengan investor dan makan siang selesai, Revan dan Hana kembali ke perusahaan.
Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan ringan antara mereka. Namun ditengah perjalanan terjadi kecelakaan antara mobil dan pengendara motor, sehingga menyebabkan kemacetan panjang.
Setengah jam mereka menunggu untuk bisa bebas dari kemacetan, ditengah perjalanan mereka ponsel Hana berdering. Saat Hana melihat dilayar ponselnya, ternyata yang menghubunginya adalah Ibu mertuanya.
Segera Hana mengangkat panggilan dari Ibu mertuanya.
" Halo assalamualaikum nak"
" Waalaikumsalam bu"
" Bagaimana kabar kalian disana nak, kalian disana sehat sehat saja kan ?"
" Alhamdulillah Bu, kami sehat wal afiat. Kalau Ibu kabarnya gimana dikampung?
" Alhamdulillah Ibu juga sehat nak, terus bagaimana nak apakah kamu sudah ketemu dengan suamimu?"
Lama Hana terdiam mendengar pertanyaan dari Ibu mertuanya, Hana takut menyakiti perasaan Ibu mertuanya kalau Hana jujur akan kebenaran tentang suaminya.
" Mmm Hana sudah ketemu dengan Mas Arlan Bu, dia juga Alhamdulillah sehat Bu di Jakarta"
" Syukurlah nak kalau kamu sudah bertemu dengan suamimu, Ibu turut bahagia. Sampaikan salam Ibu sama suamimu nak, katakan Ibu sangat rindu padanya. Katakan padanya sekali sekali kalian nanti pulang kerumah sama sama"
Hana telah membohongi Ibu mertuanya tentang kebenaran tentang suaminya, ia tak mau karena hal ini akan membuat kesehatan Ibu mertuanya terganggu mendengar kabar itu.
Hati Hana sangat sakit mendengar penuturan Ibu mertuanya yang sangat mengharapkan kehadiran mereka kembali, namun sayang hal ini tidak akan terjadi karena pernikahan mereka diambang perceraian.
Hana janji akan menceritakan semuanya, tapi bukan sekarang. Biarlah ia menyelesaikan masalahnya dengan Arlan, setelah itu baru dia akan menceritakan semuanya kepada Ibu mertuanya.
" Iya bu nanti akan saya sampaikan salam dan pesan Ibu kepada mas Arlan"
Pembicaraan Hana dan Ibu mertuanya pun berlanjut beberapa saat, sebelum sambungan terputus.
Hana menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan menarik nafas dalam dalam sebelum membuangnya.
Hana merasa kasihan kepada Ibu mertuanya karena perilaku Arlan yang seakan telah melupakan keluarganya selama kepergiannya ke Jakarta. Sungguh miris rasanya, lelaki yang dulunya sangat mencintai keluarganya sekarang seakan tenggelam ditelan ikan paus, Arlan telah dibawa sampai kelaut terdalam.
Revan sesekali melirik kearah Hana yang terlihat melamun setelah berbicara ditelpon dengan Ibu mertuanya.
Revan yang menyadari akan perubahan mood wanita disampingnya tak bertanya dan kembali fokus mengendarai mobilnya.
10 menit kemudian akhirnya mereka pun sampai di kantor. Hana dan Revan berjalan beriringan memasuki kantor dan kembali ke ruangan masing masing.
Mereka kembali melakukan kegiatan setelah sampai. Pukul setengah 3 mereka ada rapat evaluasi dengan para ketua divisi.
Rapat berjalan lancar dan satu setengah jam selanjutnya akhirnya rapat selesai. Hana dan Revan kembali keruangannya dan setelah memebereskan semua berkas, merekapun berjalan keluar menuju parkiran ingin kembali ke rumah.
__ADS_1
Namun saat Hana mau naik dan membuka pintu mobil tiba tiba ada yang menarik tangannya dari belakang dan membawanya menjauhi mobil Revan.
Hana memandangi orang yang telah menarik lengannya dengan paksa, ternyata dia adalah mas Arlan.
Hana berusaha melepaskan pegangan Arlan dilengannya, namun Arlan dengan paksa membawanya menjauhi mobil Revan.
" Mas lepasin aku, lengan aku sakit"
" Diam" Arlan membentak Hana dan mengeraskan rahangnya menatap Hana.
Arlan menarik lengan Hana dengan paksa, Arlan berjalan cepat sedangkan Hana setengah berlari mengimbangi jalan Arlan.
Revan langsung turun dari dalam mobilnya dan berusaha mengejar Arlan. Segera Revan melepaskan pegangan tangan Arlan di lengan Hana dengan sekali hentakan.
Revan segera memegang kerah baju Arlan dan berteriak didepan wajahnya.
" Kamu ini laki laki atau apa hah, bisanya cuma menyakiti wanita, kamu tidak lihat tadi Hana sangat kesakitan kamu perlakukan seperti itu"
Arlan sangat geram karena lelaki didepannya ini selalu mencampuri urusan rumah
tangganya. Arlan tidak mau kalah, ia juga memegang kerah baju Revan dengan tak kalah kerasnya.
" Kamu jangan ikut campur urusan rumah tanggaku dengan Hana brengsek"
Hana sangat ketakutan melihat dua orang lelaki didepannya. Segera ia berusaha untuk melerai mereka.
" Mas Arlan udah mas, aku bakalan ikut sama kamu. Asalkan kalian jangan saling menyakiti"
Arlan segera melepaskan pegangannya di kerah baju Revan dengan kasar. Setelah itu ia kembali menarik tangan Hana berjalam menuju kearah mobilnya.
Segera Arlan buka pintu mobilnya dan memasukkan Hana kedalamnya, ditutupnya dengan kasar pintu mobilnya dan berjalan memutari mobilnya dan segera menancap gas.
Arlan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Hana memegang dengan erat sabuk pengamannya dan menutup matanya dengan erat, jujur Hana sangat takut.
Arlan melajukan kendaraannya seperti orang kesurupan, berkali kali ia hampir menabak kendaraan lain.
Setelah 20 menit akhirnya mereka sampai didekat danau yang sepi. Segera Arlan keluar dan menarik Hana dengan paksa menuju kearah danau.
saat telah sampai disana segera ia menghempaskan tangan Hana kasar.
Hana meringis kesakitan dipergelangan tangannya karena ulah Arlan.
" Awww sakit"
Namun Arlan tak ada belas kasihan kepada istrinya, ia hanya memandangnya dengan tatapan marah.
Tidak butuh waktu lama Arlan segera mengeluarkan apa yang dari tadi membuatnya uring uringan.
__ADS_1
" Dengar dengan baik, aku hanya akan mengatakannya satu kali.
Arlan menjeda kata katanya sebentar sebelum kembali berbicara.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu FARHANA ALMEERA. Mulai sekarang kau bukan lagi istri dari ARLAN YAZID FARIZ, mulai sekarang kau kutalak dengan talak satu.
Mendengar kata kata Arlan membuatnya seakan lemas seketika, air matanya tanpa permisi seketika menetes. Tapi inilah jalan terbaik untuk semuanya.
" Sekarang kau sudah bukan lagi istriku, jadi kau sekarang bebas mau melakukan apa saja.
Aku harap kau jangan pernah lagi berharap aku akan menarik kata kataku, jangan harap untuk kembali padaku"
Hana menghapus air mata dipipinya dan menampakkan senyum palsunya kearah Arlan.
" Baik mas aku janji tidak akan memohon untuk kembali padamu, aku cukup tahu diri karena aku hanya wanita yang tak punya apa apa dibanding dengan wanita pilihanmu sekarang"
" Nanti akan kukirimkan surat perceraian kekantormu dan selamat bertemu nanti di Pengadilan Agama"
Arlan menatap dengan intens wanita didepannya yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Entah mengapa hatinya juga sakit berada diposisi ini, tapi amarah dan ego lebih mendominasi saat ini hingga ia mengambil keputusan itu.
" Oh iya satu lagi, tadi siang aku ditelpon oleh Ibu. Beliau bilang ibu sangat rindu padamu dan kalau bisa, sekali sekali nanti pulanglah kesana"
Arlan hanya menatap kearah Hana tanpa menjawab perkataannya.
" Kalau begitu aku pamit mas, semoga kamu bahagia. Assalamualaikum"
Tanpa menunggu jawaban dari Arlan, Hana segera membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat menjauh dari pandangan Arlan.
" Waalaikumsalam" Arlan menjawab saat Hana sudah hilang dari pandangan. Tak terasa air matanya pun menetes.
Hana berjalan dengan cepat dipinggir trotoar sambil menundukkan wajahnya yang sudah memerah karena menangis.
Namun dari belakangnya ternyata ada Revan yang mengikuti langkah Hana. Hana berhenti di Halte bus yang saat iti sedang sepi.
Hana duduk dikursi tunggu Halte dan menumpahkan segala tangisnya disana. Diujung kursi ada Revan yang duduk disana, ia melepaskan jasnya dan berjalan kearah Hana.
" Pakai ini"
Hana mendongakkan kepalanya dan melihat orang didepannya, Hana tak melakukannya dan kembali menundukkan kepalanya.
Segera Revan menutupi wajah Hana dengan jas agar Hana dapat menangis dengan puas tanpa dilihat oleh orang orang.
Hana telah berjanji agar tidak lagi menangis karena Arlan, namun tetap saja rasanya sangat sesak.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate dan votenya guys.
Salam story from by_me