Hati yang Patah

Hati yang Patah
Jadi Sebenarnya...


__ADS_3

Satu jam kemudian kegiatan ranjang mereka pun selesai. Revan tertidur di samping istrinya yang sudah lebih dulu terlelap. Revan menyelimuti tubuh mereka yang sama-sama polos dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.


Keesokan harinya Hana terbangun lebih dulu dari suaminya karena mendengar suara notifikasi adzan subuh dari ponselnya. Hana terduduk di atas kasur dan mengambil ikat rambut yang ia simpan di atas nakas lalu mengikat rambutnya asal.


Hana menoleh ke samping dan terlihat suaminya masih tertidur pulas dengan memeluk guling. Perlahan Hana mengarahkan tangannya ke bahu suaminya dan menggoyangkannya pelan agar suaminya itu cepat terbangun.


"Mas, bangun. Udah subuh. Ayo, sholat." Hana mengatakan itu berkali-kali namun suaminya itu tak bergerak sama sekali. Hana berdecak sebal karena suaminya itu tertidur seperti kebo. Tiba-tiba terlintas di benak Hana untuk membangunkan suaminya dengan cara menjahilinya.


Hana terkekeh namun ia berusaha menahan tawanya dengan menutup mulutnya. Selanjutnya ia mendekatkan mulutnya ke telinga suaminya dan berteriak.


"Kebakaraaannnnn..."


Alhasil aksinya berhasil dan suaminya itu langsung terbangun dari tidurnya dan berlari dengan panik sambil membawa gulingnya.


Hana sontak tertawa melihat suaminya yang terlihat sangat panik seperti itu. Ia tertawa terbahak-bahak di atas kasur sambil memegangi perutnya.


Revan tersadar telah di bohongi oleh istrinya hanya bisa diam dan melongo.


"Hana!" Revan menggeram kesal.


Mendengar namanya di panggil, Hana pun berhenti tertawa dan menatap suaminya yang melotot kearahnya.


"Iya, Mas Revan." Hana menjawab dengan manja dan memasang wajah tak berdosanya.


"Kamu nakal, yah. Kamu harus di hukum!" Ucap Revan tegas.


"Ampun, Mas. Aku bercanda doang tadi. "


Namun Revan tak mendengarkan istrinya dan berjalan dengan menampakkan seringainya kearah istrinya.


"Ampun." Hana mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan menampakkan wajah memelasnya.


Revan menggelengkan kepalanya dan langsung naik keatas kasur dan memegang kedua tangan istrinya lalu menindihnya. Hana terpekik kaget oleh tindakan tiba-tiba suaminya.


"Mas Revan mau ngapain?"


"Mau beri kamu hukuman." Tak menunggu waktu lama Revan langsung memberi istrinya hukuman. Hukuman yang dimaksud adalah mengecup bibir istrinya itu berulang kali. Namun aksi Revan terhenti karena Hana menutup bibirnya menggunakan tangannya. Revan menghentikan hukumannya dan menatap istrinya.


"Lepas! Hukumannya belum selesai."


Namun Hana menggelengkan kepalanya dengan tangannya masih menutupi mulutnya.


"SHOLAT SUBUH!" Ucap Hana.


"Memang sudah jam berapa?" Tanyanya karena Revan kira ini masih tengah malam.


"Sudah mau jam 5, Mas!"


Mendengar jawaban istrinya membuat Revan terbangun dari atas tubuh istrinya dan duduk di sana.


"Kenapa enggak bangunin aku dari tadi, sayang."


Hana memutar bola matanya jengah.


"Udah dari tadi kali, Mas. Mas Revan tidur udah kayak kebo. Makanya tadi aku teriak."


Revan menampakkan senyum simpulnya.


"Yasudah, sekarang kita sholat. Tapi ingat hukumannya nanti aku lanjut." Ucapnya dan menaikturunkan alisnya


Hana hanya bisa menggeleng pelan mendengarnya. Selanjutnya mereka mengambil air wudhu secara bergantian dan mulai melaksanakan ibadah sholat subuh.


Setelah selesai sholat, mereka pun bergantian melakukan ritual mandi pagi. Mereka bersiap-siap dan memakai outfit mereka hari ini. Hana menggunakan baju kemeja berwarna biru langit yang diikat dibagian pinggangnya yang panjangnya sampai di atas lutut. Dipadukan dengan rok lipit berwarna biru navy dan hijab pashmina berwarna senada serta memakai sepatu kets berwarna putih.


Sedangkan Revan ia memakai celana jeans berwarna hitam dan baju kaos berwarna biru navy serta memakai sepatu kets berwarna putih.


Setelah selesai mereka pun berjalan menuju restoran untuk melakukan sarapan. Setelah selesai sarapan mereka pun memulai perjalanan wisata mereka. Revan mengatakan bahwa hari ini adalah "hari pacaran" untuk mereka. Mereka akan melakukan kegiatan seperti orang pacaran selama seharian ini.


Destinasi wisata yang akan mereka datangi terlebih dahulu adalah menuju taman garuda wisnu kencana. Mereka mengelilingi tempat wisata itu dan asyik berfoto ria di beberapa tempat.


Destinasi wisata kedua yang mereka datangi adalah desa Panglipuran di Kabupaten Bangli. Desa yang terkenal terbersih di dunia. Revan dan Hana berjalan sambil bergandengan tangan melewati setiap bangunan rumah yang terlihat sama dengan nuansa traditional asli Bali yang masih dipertahankan. Sangat indah dipandang.

__ADS_1


Karena matahari sudah berada tepat di atas kepala dan perut mereka pun sudah keroncongan akhirnya mereka memutuskan menuju rumah makan yang terdekat untuk makan siang. Mereka memesan iga bakar saus kecap, sate, nasi dan dua gelas lemon tea.


Selanjutnya mereka kembali melanjutkan mengunjungi destinasi wisata di dekat pantai Jimbaran, tempat mereka menginap. Saat sore sudah menjelang, mereka pun menuju pantai Jimbaran yang sudah sangat ramai dengan para wisatawan lokal maupun mancanegara.


Hana dan Revan berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri bibir pantai. Mereka berjalan sambil sesekali bercanda. Karena sudah berjalan sangat jauh akhirnya mereka pun menghentikan langkah dan duduk diatas pasir putih sambil memandang kearah depan.


Revan duduk sambil memeluk istrinya dari belakang. Hana pun menyandarkan badannya di dada bidang suaminya.


"Kita main tebak-tebakan! Kamu berani main?" Tanya Revan pada istrinya. Mendengar itu Hana langsung merubah posisinya menghadap kearah suaminya.


"Berani, siapa takut." Ucap Hana lantang menerima tantangan suaminya.


"Oke, kalau begitu kita akan mulai."


"Bis, bis apa yang paling membahagiakan?" Tanya Revan.


"Bis..." Hana memikirkan jawabannya. "Aku tahu, bis-a dapat angkutan umum. Aku bener kan!"


"Salah. Jawabannya adalah... Bisa nikah sama kamu."


"Yaampun, ini mah bukan tebak-tebakan tapi ngegombal namanya.


"Sama aja, sayang."


Hana hanya bisa geleng-geleng kepala karena suaminya tak mau kalah.


"Tebakan selanjutnya adalah, malam apa yang paling indah."


"Aku tahu. Pasti jawaban aku kali ini bener. Pasti, malam pengantin!"


"Tetot, salah lagi."


"Terus apa dong?"


"Malam yang paling indah adalah malam pertama sama kamu." Revan berucap setengah berbisik kearah istrinya.


Mendengar jawaban Revan membuat wajah Hana seketika memerah. Revan yang gemas melihat respon istrinya langsung mencubit kedua pipi istrinya yang terlihat memerah.


Revan pun melepaskannya.


"Sekarang giliran aku."


"Siapa takut!"


"Ok, tebakan dari aku adalah kuda apa yang bikin senang?"


"Enggak tahu. Jawabannya apa?"


"Kuda yang bikin aku senang adalah... kudapat suami sepertimu."


Revan tersenyum merekah mendengarnya.


"Masa?" Tanyanya memastikan.


"Enggak. Bercanda doang." Ucap Hana


Namun tanpa Hana sangka, Revan malah menariknya ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya.


"Aku juga." Ucapnya yang masih memeluk tubuh istrinya


"Tiang apa yang bikin seger."


"Masih?" Tanyanya karena suaminya ternyata masih melanjutkan tebak-tebakannya.


"Heem."


"Langsung aja jawab."


"Tiang yang bikin seger adalah Tiang-tiang mikirin kamu sambil minum es campur.


"Enak tuh, Mas. Es campurnya." Revan tepuk jidat mendengar jawaban istrinya. Bukannya menjadi romantis, malah dijawab seperti itu. Tapi tunggu dulu, apakah tadi istrinya benar-benar ingin itu, batinnya mengatakan.

__ADS_1


"Kamu mau es cream?"


Dengan cepat Hana menganggukkan kepalanya.


"Mau, Mas." Jawabnya berbinar.


"Yasudah, kamu tunggu aku disini. Aku belikan kamu es cream dulu."


"Jangan lama, yah."


Revan menjawab dengan anggukan kepaala dan berlalu dari sana meninggalkan istrinya untuk membeli es campur.


Setelah suaminya pergi, Hana berdiri dan berjalan mendekati air laut di bibir pantai. Hana memandang ke depan sambil bersedekap dada. Lima menit Hana menunggu suaminya, tiba-tiba ada tangan kekar memeluknya dari belakang. Yang Hana tahu itu adalah suaminya, namun tiba-tiba ia tersentak karena bau farfum orang yang memeluknya tidak sama dengan bau farfum milik suaminya. Hana langsung melepaskan diri dan menengok kebelakang.


Betapa geramnya Hana karena ternyata lelaki yang telah berani memeluknya adalah sepupu dari suaminya sendiri, Raga Bramana.


Hana yang geram dan marah langsung melayangkan tamparannya ke wajah Raga. Wajah Hana sudah memerah karena amarahnya yang seketika memuncak di perlakukan kurang ajar oleh Raga. Raga yang mendapatkan tamparan Hanya mengelus pipinya menggunakan punggung tangannya.


"Jangan kurang ajar kamu!Kamu kira kamu siapa hah memeluk istri orang sembarangan." Ucap Hana dengan dada yang naik turun karena amarah.


"Memangnya kenapa, Hana. Kalau aku mau, tidak ada yang bisa menghentikan aku."


"Jangan melewati batas kamu ********." Hana sudah sangat geram dengan ulah Raga.


Namun Raga tak mengindahkan ucapan Hana. Ia malah menampakkan seringainya yang membuat Hana semakin merasa muak.


Hana memandang dengan penuh amarah Raga. Tiba-tiba dari belakang Revan menghampiri istrinya yang terlihat sedang berbicara dengan seorang lelaki. Namun mengapa wajah istrinya itu terlihat seperti orang yang marah-marah.


" Ada apa, sayang." Tanyanya pada istrinya namun Hana tak menjawab pertanyaan suaminya. Karena tak kunjung dijawab oleh istrinya, Revan berbalik dan memandang lelaki itu.


"Raga! Ngapain kamu disini?" Tanyanya penasaran.


"Halo brother. Aku hanya sedang liburan saja dan tadi tidak sengaja bertemu dengan istrimu."


"Oh." Entah mengapa Revan merasa ada yang lain.


"Mas, aku mau pulang sekarang." Ucap Hana sambil menunduk


"Tapi, sayang. Nanti saja..."


"Tidak apa-apa brother. Aku tidak masalah sendirian."


Mendengar penuturan sepupunya membuatnya menganggukkan kepala.


"Yasudah, kalau begitu kami kembali ke penginapan. Semoga liburanmu menyenangkan."


Setelah mengatakan itu Revan segera membawa istrinya menuju Resort penginapan mereka.


Saat sudah sampai Hana lagi-lagi terdiam dan tidur memunggunginya. Revan yang penasaran akhirnya mengajak istrinya berbicara.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Aku enggak kenapa-napa, Mas."


"Aku tahu kamu sedang berbohong. Aku ini suamimu Hana, aku tahu kamu sedang menyimpan sesuatu dari aku. Cerita sekarang." Ucapnya tegas.


Hana terdiam. Apakah dia harus cerita tentang masa lalunya. Tapi kalau disimpan terus, akan menjadi beban baginya. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.


Hana menarik nafas dalam setelah itu ia berbalik ke arah suaminya.


"Ok, Hana akan cerita. Tapi selama Hana cerita jangan pernah dipotong. Dan Hana harap nanti saat Mas tahu kebenarannya, jangan marah yah!"


Revan pun menjawab dengan anggukan kepala.


" Jadi sebebarnya..."


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Sebanarnya di tahan dulu yak. Besok lagi dilanjut. soalnya author udah ngantuk. Di part ini juga lumayan panjang jadi author harap kk jangan lupa untuk vote, like dan komen yang membangun.


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2