Hati yang Patah

Hati yang Patah
Semoga kamu adalah cinta terakhirku


__ADS_3

" Siapa bilang Jihan tidak punya Ayah hah? saya ini ayahnya. Sekali lagi saya lihat kamu mengejek anak saya, saya bikin dendeng kamu."


Anak itu sangat ketakutan. Ia langsung berlari kearah orang tuanya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Revan kembali memandang dengan tajam kearah orang tua anak tadi.


" Saya harap Anda bisa mengajari anak Anda sikap yang baik. Jangan hanya bisa menonton tindakan salah anak Anda yang nantinya akan merugikan kalian sendiri."


Nyali mereka semua menciut melihat tatapan penuh amarah dari Revan. Setelah itu, Revan berlalu dari sana dan membawa Jihan yang berada di gendongannya untuk pulang.


Jihan masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Revan dan memeluknya dengan erat. Setelah cukup jauh dari sana, Revan berjalan menuju kearah kursi kosong yang berada di pinggir taman. Revan menurunkan Jihan yang masih di dalam gendongannya itu ke kursi.


Saat sudah duduk, Jihan hanya bisa diam menunduk dan meremas jari tangannya. Revan merasa sedih melihat perubahan sikap calon anaknya akibat kejadian tadi. Revan sangat miris ketika mengingat kejadian tadi . Para orang tua yang seharusnya bisa menjadi guru terbaik untuk anaknya, menjadi penasehat untuk anaknya, malah menjadi penonton yang hanya bisa bungkam melihat tingkah buruk dari anak mereka. Seakan mereka menikmati aksi buruk anaknya.


Apakah mereka senang melihat perlakuan buruk anak mereka yang dengan terang-terangan menindas teman sebayanya. Sungguh didikan orang tua bodoh, pikirnya.


Revan beralih mengelus kepala Jihan yang masih menunduk. Jihan yang mendapatkan perlakuan seperti itu seketika mendongakkan kepalanya menatap calon ayahnya.


" Om Revan."


" Iya, sayang."


" Jihan harap om Revan jangan kasih tahu Unda tentang kejadian yang tadi, yah!"


Revan mengerutkan keningnya mendengar penuturan calon anaknya.


" Memangnya kenapa sayang?"


" Jihan tidak mau Unda ikut sedih kalau tahu Jihan diejek seperti tadi. Yah, om Revan Jihan mohon!"


Melihat calon anaknya yang memohon membuat Revan menganggukkan kepalanya menuruti kemauannya.


" Om Revan bakalan tutup mulut dan tidak akan memberitahukannya kepada Bundanya Jihan, asalkan..." Revan menggantungkan kalimatnya.


" Asalkan apa om?"


" Asalkan Jihan jangan bersedih lagi. Bagaimana? Deal?"


" Deal." Jihan kembali tersenyum.


"Mulai sekarang sebagai gantinya, Jihan bisa memanggil om dengan sebutan ayah."


" Ayah..." Katanya dengan mata berbinar.


" Iya, sayang. Mulai sekarang om adalah ayahnya Jihan. ok, princess."


" Ok, om... Maksudnya ayah." Katanya menampakkan senyumnya.


Revan ikut tersenyum hangat mendengar Jihan memanggilnya dengan sebutan ayah. Hatinya menghangat dipanggil seperti itu oleh calon anaknya. Revan mengelus-elus rambut Jihan.


" Kalau begitu, mending sekarang kita pulang. Pasti Bundanya Jihan sudah sampai di rumah."


" Ayo, ayah. Kita pulang." Katanya dengan antusias dan berjalan mendahului Revan menuju kearah sepedanya.


Revan sangat bahagia karena Jihan sudah kembali bisa tersenyum, ditambah dia sekarang dipanggil ayah oleh calon anaknya. Baru begini saja dia sudah sangat bahagia, bagaimana nanti saat mereka sudah menjadi keluarga. Memikirkan itu membuat Revan senyum-senyum sendiri.


" Ayah, enggak mau pulang?" Tanyanya karena ayahnya masih diam mematung dan senyum-senyum sendiri di sana.


Revan yang mendengarnya langsung menyahut dan berjalan kearah Jihan. Mereka pun pulang menggunakan sepeda.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Hana tadi diajak oleh Mama Ajeng untuk menemaninya ke suatu tempat. Hana yang penasaran bertanya kemana mereka akan pergi, namun Mama Ajeng tidak memberitahukan tujuan mereka, katanya rahasia.


Dia dibawa oleh Mama Ajeng ke sebuah restoran yang terletak di dalam mall xx. Mama Ajeng ternyata mengajak Hana menemaninya arisan bulanan sekalian ingin memperkenalkan Hana dengan teman-teman arisannya.


Selama di sana tak henti-hentinya Mama Ajeng memuji Hana di depan teman-teman arisannya. Hana hanya bisa tersenyum menanggapi pujian Mama Ajeng dan teman-teman arisannya kepadanya.


Setelah selesai pertemuan arisan bulanan, Mama Ajeng kembali mengajak Hana memutari mall dan melihat beberapa barang yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


Namun Hana hanya membeli beberapa baju untuk Ibu Suri, Jihan dan untuk Ana. Hana juga membeli buku novel yang saat itu menarik perhatiannya. Setelah dari sana akhirnya mereka pun pulang.


Hana yang saat itu sudah lama pulang duduk menunggu kepulangan anaknya di gazebo halaman rumahnya. Ia duduk menyandarkan punggungnya sambil membaca novel yang baru tadi ia beli saat berada di mall bersama Mama Ajeng.


Dari arah luar sudah terdengar suara tawa anaknya dan suara Revan. Tak lama kemudian Revan memberhentikan sepedanya tepat di depan gazebo.


Hana membuka kacamatanya dan menatap dua orang di depannya. Jihan terlihat terus menertawakan Revan yang masih ngos-ngosan dengan keringat bercucuran di dahinya.


" Kalian dari mana saja? sudah mau maghrib baru pulang?"


" Maafkan Jihan Bunda. Tadi Jihan ngajak ayah naik sepeda keliling kompleks, makanya baru pulang."


Selepas pulang dari taman, Jihan meminta Revan untuk bersepeda keliling kompleks untuk memamerkan Revan kepada teman-temannya.


Hana mengerutkan keningnya mendengar jawaban anaknya.


"Hana tidak salah dengar kan, tadi." Gumamnya dalam hati.


" Ayahnya Jihan?. Terus Ayahnya mana kok, nggak kelihatan?"


" Maksud Jihan tuh ayah Revan, Unda."


Hana mengerutkan keningnya mendengar anaknya memanggil Revan dengan sebutan ayah. Hana lalu menatap kearah Revan ingin meminta penjelasan.


" Yaudah, Jihan mau masuk dulu, Unda. Jihan mau mandi."


" Iya, sayang. Mandi gih, badannya bau keringat." Katanya dengan berpura-pura menutup hidungnya.


Jihan menerucutkan bibirnya dikatakan seperti itu oleh Bundanya.


" Ayah, Jihan masuk ke dalam dulu yah."


" Iya, sayang." Setelah itu Jihan berjalan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Bunda dan calon ayahnya di luar.


Revan turun dari sepeda dan langsung duduk di samping Hana.


Saat Jihan sudah pergi, barulah Hana meminta penjelasan kepada Revan.


" Aku yang nyuruh dia manggil dengan sebutan ayah. Lagian enggak apa-apa juga kan, sebentar lagi aku bakalan jadi ayahnya Jihan beneran."


Hana hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebenarnya bukan itu jawaban yang Hana mau.


" Mas Revan nggak bohong kan, sama Hana?"


Tanyanya penuh selidik.


" Enggak Hanaku, calon istriku." Revan menjawab dengan mulut di majukan saat menyebut kata (ku).


Ingin sekali Hana menampol mulut Revan yang diajak bicara serius malah bercanda.


" Itu mulut monyong amat, Mas."


Revan tertawa mendengarnya.


" Mulut aku nggak monyong Hana, tetapi seksi." Katanya menaik turunkan alisnya.


Hana hanya bisa memutar bola matanya.


" Mas Revan terlalu kepedean tahu nggak."


" Emang iya kan, ayo ngaku!" Revan berusaha menggoda Hana.


" Enggak."


" Bilang aja, aku nggak bakalan malu-malu kok."


" Enggak."

__ADS_1


" Kalau enggak, kenapa kamu mau sama aku hmm?"


Hana tak lagi menjawab pertanyaan Revan. Ia bungkam seketika.


" Mas Revan nggak kepanasan habis naik sepeda?" Hana berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Jawab dulu yang tadi."


" Ish, Mas Revan. Jawab aja dulu."


" Iya, iya. Emang kenapa?"


" Mas Revan bau keringat tau." Katanya menutup hidungnya.


Mendengar itu membuat Revan mencium bau badannya ingin memastikan apa benar kata Hana.


Badannya memang agak lengket tapi enggak bau sama sekali.


Hana mengangkat tangannya dan menunjuk jam di tangannya. Revan mengerti dengan maksud Hana.


" Aku masih mau di sini."


" Ini kan sudah mau maghrib Mas Revan. Mas Revan juga belum mandi. Klw Mas Revan belum mandi otomatis Mas Revan nggak sholat maghrib nanti dan bla bla bla..."


Hana menceramahi Revan panjang kali lebar.


" Katanya mau jadi imam keluarga yang baik, tapi kalau sholat lima waktu saja tidak dilaksanakan, bagaimana bisa menjadi pemimpin dalam keluarga?"


Revan memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Hana. Ia sangat suka saat di perhatikan seperti itu. Ingin rasanya ia segera meminang wanita di depannya dan membawanya pulang agar ada yang memperhatikannya.


" Siap calon istri. Kamu cerewet banget sih, aku kan jadi gemas pengen..." Revan menggantungkan kalimatnya. Kalimat itu justru membuat Hana jadi salah paham.


" Pengen apa?" Tanyanya galak.


" Pengen... pulang."


Revan tertawa melihat ekspresi Hana yang menurutnya sangat lucu.


Setelah itu Revan berdiri dan berniat ingin pulang. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik badan.


" Jadi, calon istri ngusir aku nih?"


Demi apapun Hana sangat ingin menjewer telinga Revan saat itu juga.


" Mas Revan pulang sekarang nggak. Kalau nggak mau yaudah aku..."


Revan langsung memotong ucapan Hana.


" Iya, calon istri. Ini mau pulang kok. Salam sama camer dan canak yah!. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatuh."


Saat Revan sudah pergi dari sana, entah mengapa Hana jadi senyum-senyum sendiri mengingat tingkah Revan.


" Mas Revan, Mas Revan. Awalnya aku kira kamu tuh lelaki cool yang tidak banyak bicara, tetapi aslinya kamu cerewet dan suka bikin orang kesal."


" Tapi aku akui walaupun begitu, kamu adalah lelaki sholeh yang mampu menjaga diri dan tidak gampang tergoda oleh rayuan duniawi. Semoga kamu adalah cinta terakhirku Mas." gumamnya dalam hati.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guysnya😘


Hari ini aku up lagi karena rencananya aku nggak bakalan up besok, karena udah mulai pada sibuk bantuin emak buat ini, buat itu, beres-beres rumah dll.


Author minta maaf apabila ada salah-salah kata. Semoga bulan puasa ini menjadi bulan berlipat pahala dan kebaikan bagi kita semua. Aamiin🤗


Minal aidhin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin readers semua🤗

__ADS_1


Salam story from By_me


eitss.. dan jangan lupa di like dan votenya kk


__ADS_2