
"Hoekk...hoekkk" Suara yang terdengar di indera pendengaran Revan.
Suara itu semakin jelas. Revan perlahan membuka matanya dan menyesuaikan dengan sinar lampu yang mengilaukan penglihatannya. Saat ia duduk di atas ranjang, ia tak mendapati kehadiran istrinya. Revan melihat kearah jarum jam, ternyata masih jam 4 subuh. Dilihatnya pintu kamar mandi terbuka dan suara itu berasal dari sana.
Ia segera turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi. Ia mendapati istrinya sedang memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya di depan westafel. Dengan langkah cepat Revan menghampiri istrinya dan membenarkan ikatan rambutnya yang menjuntai ke bawah menutupi wajah istrinya. Ia lalu memijit belakang leher istrinya pelan.
Hana berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa pahit akibat muntah tadi, setelah itu ia membasuh wajahnya. Perutnya terasa mual, seperti diaduk-aduk di dalam sana, namun pada saat ia memuntahkannya yang keluar hanya cairan bening.
Hana terkulai lemah ke bawah dan menyandarkan dirinya ke dinding. Revan ikut berjongkok, setelah itu, ia menyentuh kening istrinya menggunakan punggung tangannya. Yang ia rasa, suhu tubuh istrinya normal-normal saja, namun mengapa istrinya muntah-muntah dan wajahnya terlihat pucat.
"Masih pengen muntah?" Tanyanya khawatir saat selesai mengecek suhu tubuh istrinya.
Dengan lemah Hana menggelengkan kepalanya.
Setelah mendapat jawaban istrinya, Revan segera mengangkatnya dan membawanya ke dalam gendongannya ala bridal style. Revan membawa istrinya menuju ranjang dan menurunkan badan istrinya dengan pelan di atas ranjang.
"Kamu kenapa?" Tanyanya khawatir saat istrinya sudah bersandar di sandaran ranjang.
"Aku juga enggak tahu, Mas. Tiba-tiba aja aku mual banget." Ucapnya pelan masih merasa lemas.
"Nanti kita ke dokter, yah, sayang. Kita periksa keadaan kamu." Ucapnya dan menggenggam tangan istrinya.
Hana menggelengkan kepalanya lemah menolak ajakan suaminya.
"Enggak usah, Mas. Mungkin Hana masuk angin aja. Minum teh hangat juga nanti bakalan sembuh."
"Tapi muka kamu pucat banget, sayang. Kamu harus di periksa."
"Enggak usah, Mas. Istirahat cukup nanti pasti bakalan sembuh."
"Yasudah, kalau begitu hari ini enggak usah masuk kantor. Istirahat aja di rumah. Aku juga enggak akan masuk kantor hari ini."
Mendengar jawaban suaminya dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya
"Mas Revan kan, banyak kerjaan di kantor."
"Iya, tapi kamu lagi sakit. Aku mau jagain kamu di rumah."
__ADS_1
"Enggak usah, Mas. Ada Ana yang bakalan jagain aku nanti. Mas Revan ke kantor aja."
Setelah beberapa kali menolak keinginan istrinya, dengan berat hati Revan menerima dan menuruti apa yang dikatakan istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Ana memilah-milih bahan makanan di supermaret sendirian setelah tadi mendapat perintah dari majikannya untuk berbelanja bulanan. Sebenarnya kalau masalah belanja bulanan, majikannya yang selalu melakukannya. Namun berhubung majikannya itu sedang tidak enak badan dan bahan makanan juga sudah menipis akhinya Ana yang melakukannya.
Setelah mendapatkan semua yang ada di dalam daftar belanjaan, Ana pun membawa belanjaannya di kasir dan setelah itu ia menenteng belanjaannya keluar untuk menunggu taksi lewat.
Di tengah jalan, tiba-tiba ia di tabrak oleh seseorang sehingga membuat semua belanjaannya jatuh dan keluar dari kantongnya.
Alhasil kantongnya pun rusak dan tidak bisa digunakan kembali. Semua belanjaannya pun sudah berserakan kemana-mana.
"Yah, rusak. Gimana, dong." Ucapnya saat melihat kantong kresek belanjaannya sudah tak bisa lagi digunakan.
Ana dibuat kesal oleh ulah lelaki tadi yang menabraknya dan berlalu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Setidaknya minta maaflah dan bantu Ana membereskan kekacauan yang telah dibuat lelaki itu, pikirnya. Namun lelaki tadi hanya menatap sebentar dan berlalu meninggalkannya. Dengan kesal Ana menarik nafas panjang dan berdiri meneriaki lelaki tadi dengan suara yang kencang.
Usahanya pun berhasil, lelaki tadi berhenti dan menatap dengan kesal kearahnya. Ana berjalan kearah lelaki tadi.
"Om ini orang dari planet mana? Bukannya nolongin malah langsung kabur aja kayak alien. Minta maaf kek, tolongin kek, ini malah lari dari tanggung jawab." Ucapnya menumpahkan kekesalannya kepada lelaki di depannya.
Raga merasa sangat kesal kepada gadis kecil di depannya karena telah membuatnya malu di depan umum. Semua mata kini memandang sinis kearahnya.
"Pelankan suaramu bodoh. Orang-orang sekarang menatap kearah sini." Ucapnya pelan dengan rahang yang mengeras kesal dengan ulah bar-bar gadis di depannya.
"Makanya, om harus minta maaf dan bantuin aku!"
"Jangan panggil aku, om, bodoh!. Sejak kapan aku nikah sama tantemu, hah?" Ucapnya kesal kepada gadis di depannya.
Umurnya masih muda namun sudah di panggil om oleh gadis kecil di depannya. Ia sungguh tidak terima. Apakah gadis kecil di depannya ini tidak melihat ketampanannya, cibirnya dalam hati menatap gadis kecil itu.
"Emang om udah tua kok." Ucapnya yang semakin membuat Raga kesal.
"Mau ditolongin apa, enggak?" Ucapnya sambil melototkan matanya menatap Ana. Kesabarannya sudah habis. Baru kali ini ada wanita yang tidak terpesona kepadanya dan parahnya lagi memanggilnya dengan sebutan om. Tapi tunggu dulu, ralat, maksud Raga itu ada dua wanita yang tidak terpesona kepadanya, yaitu Hana dan gadis kecil di depannya.
"Mau, om." Ucap Ana dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Raga semakin melototkan matanya menatap Ana.
Mendapat tatapan mengerikan seperti itu membuat nyali Ana menciut, segera ia ralat omongannya yang tadi.
"Maksudnya, iya, kak." Setelah mengatakan itu, mata Raga sudah bisa dikondisikan dan mulai mengikuti Ana untuk memungut belanjaan tadi.
Raga membantu Ana mengumpulkan belanjaannya tadi ke pinggir jalan, setelah itu ia menuju supermarket untuk membeli kantong kresek besar.
Setelah membayar di kasir, ia kembali berjalan menuju kearah gadis kecil tadi dan memasukkan barang belanjaannya ke dalam kantong kresek.
"Rumah kamu di mana?" Tanyanya saat selesai memasukkan semua barang ke dalam kantong.
"Emang, kenapa nanya-nanya rumah aku?" Ucapnya ketus.
Raga memutar bola matanya jengah mendengar jawaban gadis kecil di depannya.
"Aku mau minta izin sama mama kamu untuk nyulik kamu!" Ucapnya dengan kesal.
Mendengar itu, mambuat Ana melototkan matanya kearah om di depannya. Huh, lelaki ini sakit kali yah, cibir Ana di dalam hati mendengar jawaban ngaco plus menakutkan om-om di depannya.
"Aku mau nganterin kamu. Kamu sedang beruntung karena bisa ketemu sama aku dan dengan baik hati mau nganterin kamu."
"Enggak usah. Aku naik taksi aja." Ana beralih menjinjing kantong kresek di kedua tangannya dan berlalu dari sana.
Saat ia telah jalan jauh, ia menengok ke belakang dan meneriaki kata-kata yang berhasil membuat Raga kembali dibuat kesal.
"Mari, om. Makasih sama kantongnya, OM...." Ucapnya sengaja memperjelas akhir katanya tadi.
Ia tekekeh saat mendapati wajah kesal lelaki tadi. Namun detik berikutnya, jantungnya berdetak kencang saat Raga berjalan kearahnya dengan tatapan seakan ingin mengulitinya.
Dewi fortuna seakan berpihak padanya, ada taksi yang berhenti di depannya dan menyelamatkannya dari lelaki tadi. Karena terburu-buru dan ketakutan jangan sampai ia di dapat oleh lelaki tadi, ia pun tidak sempat menyimpan barang-barangnya di bagasi mobil dan menyimpannya di jok belakang pengemudi taksi.
"Selamat, selamat." Ucapnya saat taksi sudah jalan dan meninggalkan Raga di belakang.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading kakak" readers. Jangan lupa tinggalin jejak yah. Maafin karena beberapa hari ini enggak sempat up dikarenakan ada urusan kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Semoga kakak readers bisa memafkan author yang enggak up beberapa hari ini.
__ADS_1
Salam story from By_me