Hati yang Patah

Hati yang Patah
Interogasi Oleh Adik Ipar


__ADS_3

Seminggu setelah berpulangnya almarhum Ibu Suri, Hana berusaha untuk iklas melepas mantan mertuanya yang sudah ia anggap sebagai Ibu sendiri.


Sedangkan Arlan, sangat frustasi dengan segala jalan hidupnya. Penampilannya yang biasanya klimis dan rapi, kini sangat tidak terurus. Rambut yang tidak lagi rapi dan brewok yang tumbuh di sekitar wajahnya tak ia cukur.


Setelah mengetahui tentang kebenaran yang sesungguhnya, Hana menjadi sangat gembira karena ternyata ia masih memiliki kedua orang tua ditambah seorang adik laki-laki tampan yang hanya berjarak dua tahun dibawahnya.


Rencananya malam ini, Revan dan keluarga kecilnya akan mengunjungi rumah Wiratama dan rencananya mereka akan menginap di sana.


Selama perjalanan berkali-kali Hana mendapatkan panggilan masuk dari Mama nya yang menanyakan dimana keberadaannya sekarang. Mama Faradilla sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak menantu dan cucunya.


Kali ini adalah kunjungan kedua mereka di rumah Wiratama. Namun pada kunjungan pertama, adik laki-lakinya itu tidak bertemu dengannya karena sedang ada perjalanan bisnis keluar negeri. Hana hanya melihat tampang adiknya itu di foto dan ia bisa menyimpulkan bahwa adiknya ini seorang lelaki yang sangat tampan.


30 menit kemudian akhirnya mereka sampai juga dikediaman Wiratama. Rumah orang tua Hana dua kali lebih besar dari rumah mertuanya. Tak heran, karena kedua orang tuanya itu termasuk jajaran orang terkaya di negerinya. Ia sebenarnya tidak menyangka bahwa ia adalah anak horang kaya, namun bukan itu yang ia fokuskan. Yang terpenting ia sekarang memiliki keluarga yang utuh.


Mobil Revan kini telah memasuki halaman rumah mertuanya. Dari depan rumah sampai ke halaman, membutuhkan waktu beberapa menit untuk bisa sampai tepat di depan rumah. Rumah mertuanya itu halamannya sangat luas dengan taman-taman bunga sepanjang jalan.


Mereka turun dari dalam mobil. Mama Faradilla dan suami yang menyadari kedatangan anak menantu dan cucunya, sudah membuka pintu dan melemparkan senyum merekah mereka.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Pa." Kata Mama saat anak menantu dan cucunya sudah berada di depannya.


"Assalamualaikum, Ma, Pa." Ucap Hana yang mencium punggung tangan dan memeluk secara bergantian kedua orang tuanya. Diikuti oleh Revan dan Jihan setelahnya.


"Assalamualaikum, kek, nek!" Ucap Jihan menyalami tangan Kakek dan Neneknya.


Pak Wiratama yang gemas melihat cucunya pun kini sudah menggendongnya dan membawanya masuk.


Semua orang berjalan masuk dan langsung di bawa menuju meja makan.


"Mama sama Papa siapin makanan yang banyak untuk kalian. Terutama untuk cucu oma yang satu ini." Ucapnya saat mereka semua sudah duduk di meja makan.


"Makasih, nek, kek." Jawab Jihan sambil tersenyum sumringah menatap banyak sekali menu makanan enak di depan matanya.


"Oh, iya, sayang. Malam ini adik kamu pulang ke rumah karena tahu kakaknya bakalan menginap di sini. Katanya, dia mau lihat saudara sama ponakannya."


Revan mengernyitkan kening mendengarnya, "Jadi aku enggak mau dilihat nih!" Gumamnya dalam hati.


"Untuk beberapa hari ini dia bakalan nginap di rumah. Seminggu kemudian baru dia balik ke apartemennya." Ucap Papa


"Terus Vano nya mana, Pa?" Tanyanya karena dari tadi ia belum melihat rupa dari saudaranya itu.


Namanya adalah Devano Wiratama lelaki tampan berusia 26 tahun. Menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan WT Corp yang nantinya akan menggantikan Papa nya sebagai pimpinan perusahaan.

__ADS_1


Jujur saja, Hana belum tahu bagaimana sifat asli dari saudaranya itu. Apakah akan sama dengan sifap kedua orang tuanya yang humble atau malah sebaliknya.


"Panjang umur anak itu. Baru aja dibicarain udah nongol orangnya." Ucap Mama saat melihat anak keduanya berjalan menuruni tangga dengan setelan santainya.


Dari jauh Vano sudah melempar senyum kepada semua orang namun tidak kepada Revan.


"Malam semuanya." Ucap Vano dengan tampang cool nya dan dijawab oleh semua orang. Ia duduk tepat dihadapan kakaknya. Sebelum duduk, ia menatap dengan datar kearah Revan. Revan hanya bisa mengerutkan kening melihat tingkah adik iparnya yang sepertinya tidak menyukainya.


"Kenalin sayang, di depan kamu ini kakak kamu. Cantik kan, mirip Mama!" Ucap Mama penuh percaya diri. Papa yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya.


Vano mengulas senyum tipis dan menjabat tangan kakaknya yang berada di depannya.


"Ternyata aslinya kakak cantik sekali!" Ucapnya memuji kakaknya.


"Terima kasih, dek. Kamu juga ternyata aslinya ganteng banget. Lebih ganteng daripada di foto."


"Jelaslah, kak. Ketampanan aku itu dua kali lipat dari foto."


Papa lagi-lagi geleng-geleng kepala mendengar ucapan penuh percaya diri anaknya yang sebelas dua belas dengan istrinya.


"Yang kecil cantik ini, siapa namanya?" Tanyanya pada Jihan yang dari tadi tersenyum melihatnya.


"Nama aku Jihan, om."


"Enggak mau. Om kan sudah tua." Tolak Jihan mentah-mentah. Seketika semua orang tertawa mendengar jawaban Jihan.


"Di samping kakak kamu itu namanya Revan. Kakak ipar kamu." Ucap Papa memperkenalkan menantunya pada anaknya.


"Oh." Jawab Vano singkat sambil menganggukkan kepalanya menilai kakak iparnya.


"Yasudah, sekarang mending kita makan aja dulu. Nanti dilanjut ngobrolnya. Makanannya enggak enak kalau udah dingin."


Setelah mendengar ucapan Papa, semua orang pun mulai menyantap hidangan makan malam yang sangat banyak itu di depannya. Tak lupa perbincangan hangat diantara semua orang.


Setelah selesai makan malam, semua orang kini telah berada di ruang keluarga. Duduk sambil bercengkerama di sana. Namun Revan sekarang mengikuti kemana adik iparnya ini menuntunnya. Ternyata Vano mengajak kakak iparnya ke halaman depan. Mereka duduk di gazebo.


Suasana menjadi hening saat mereka telah duduk di sana. Tak ada yang berani membuka pembicaraan. Vano kini memperhatikan kakak iparnya itu menilai dari atas sampai bawah.


"Pekerjaan Anda, apa?" Tanyanya dengan tatapan yang dingin. Ia ingin mencari tahu sedikit tentang kakak iparnya. Apakah memang suami dari kakaknya ini memang pantas mendampingi kakaknya. Jujur saja, walaupun ia baru kali ini bertemu dengan kakaknya, namun sebagai saudara satu-satunya ia tetap ingin memastikan bagaimana kehidupan kakaknya selama ini. Apakah memang lelaki di depannya ini pantas untuk kakaknya.


Selama ini, Vano hanya bisa mendengar curhatan Mama nya yang sangat ingin bisa bersama dengan anak pertamanya. Kadang, Mama menitikan air mata saat menceritakan mengenai lika-liku kehidupan anak pertamanya. Oleh karena itu, Vano sebagai laki-laki dan saudara dari kakaknya ingin memastikan kehidupan kakaknya bersama lelaki di depannya ini.

__ADS_1


"Aku mempunyai perusahaan sendiri dan menjabat sebagai direktur utama di perusahaan Bramana Corp. Walaupun perusahaanku tidak sebesar perusahaan WT Corp, tapi dari sana aku bisa menghidupi dan mencukupi keperluan anak dan istriku."


Vano pun menganggukkan kepalanya mendengar jawaban kakak iparnya.


"Anda cinta sama kakakku?" Tanyanya menelisik pada kakak iparnya.


Revan mengerutkan kening mendengar pertanyaan adik iparnya. Pertanyaan apa itu, gumamnya dalam hati.


"Aku bukan hanya cinta, tapi SANGAT CINTA," Jawabnya mempertegas ucapannya. "Kamu tidak perlu meragukanku, karena stok lelaki seperti aku ini hanya 1 diantara 1000 lelaki." Jawabnya tak kalah tegas pada adik iparnya. Revan tahu bahwa adik iparnya ini sedang menginterogasinya.


Vano menyunggingkan senyum tipisnya yang nyaris tidak terlihat.


"Percaya diri sekali, Anda."


"Ck, Anda baru tahu!"


"Ok, kali ini Anda, lolos. Aku hanya minta untuk menjaga kakak dan ponakanku. Aku berharap, Anda bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan tidak ringan tangan. Kalau sampai aku dengar, Anda melakukan kekerasan pada kakakku, aku pastikan saat itu juga Anda tidak akan lagi bisa bersama dengannya."


"Kamu meragukanku?" Tanya Revan menatap adik iparnya.


"Hey, bung. Dengar baik-baik ucapanku. Aku tidak meragukan Anda. Hanya saja, aku mempertegas apa yang seharusnya Anda lakukan."


"Untuk hal itu, jangan takut. Aku orang yang bisa dipercaya. Apa yang sudah aku miliki tidak akan aku sia-siakan. Walaupun aku bukan lelaki romantis, tapi jujur saja kakakmu itu sangat mencintaiku!"


"Ck..." Ucap Vano sambil tersenyum miring. Dari tadi kakak iparnya ini sangat percaya diri sekali.


"Baiklah. Walaupun Anda terdengar sangat percaya diri, tapi yang bisa aku tangkap dari cara bicara Anda tadi adalah Anda lelaki yang ya... bisalah dipercaya."


"Kalau bicara jangan setengah-setengah. Seharusnya kamu bilang, ANDA MEMANG LELAKI YANG BISA DIPERCAYA!" Ucapnya mengulang jawaban adik iparnya.


"Yasudah!" Jawab Vano ngegas.


"Yasudah!" Jawab Revan tak kalah ngegas.


Malam itu walaupun mereka selalu berdebat akan hal kecil, namun mereka cukup lama berbincang di gazebo sampai pada pukul 23 lewat beberapa menit, barulah Revan dan Vano masuk ke dalam rumah.


Intinya, sifat Revan dan Vano sebelas dua belas tidak jauh beda. Sama-sama dingin dan sama-sama tidak ingin kalah berdebat. Namun nilai plus dari kedua lelaki itu adalah, mereka sama-sama lelaki yang sayang pada keluarga.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Lumayan panjanglah up kali ini. Semoga mampu mengobati rasa rindu kalian pada Novel ini. Maap yak, kalau aku baru up lg. Akhir-akhir ini aku harus pintar-pintar membagi waktu antara real life dan nulis novel. Maap kalau aku curhat. Btw, jangan lupa yak, vote nya yang banyak. Dan tidak ketinggalan like dan komennya.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2