
Sudah seminggu lebih Jihan dipindahkan di ruangan perawatan namun tanda-tanda ia akan sadar itu belum juga ada. Hana dan juga Revan dengan setia menunggu dan menemani anak mereka di ruang perawatan. Bahkan Hampir dibilang sejak anaknya dipindahkan ke ruangan ICU sampai ke ruangan perawatan mereka belum pernah pulang ke rumah. Ana dan kedua orang tua Revan bergantian membawakan makanan dan pakaian ganti untuk mereka.
Selama Jihan masuk rumah sakit, Revan belum sekalipun masuk kantor. Untuk masalah pekerjaan di kantor, Revan serahkan sepenuhnya pada sekertaris barunya.
Setelah kepergian suaminya, Hana pun membersihkan badan anaknya menggunakan handuk basah yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat.
Semua peralatan dibadan anaknya itu sudah dilepas. Tersisa infus dan alat bantu pernapasan.
Hana selalu mengajak anaknya berbicara, gunanya untuk menstimulasi agar anaknya itu bisa segera terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Bunda kangen banget sama kamu, sayang. Cepat bangun, nak. Bunda sudah rindu dengan senyum Jihan, celotehan Jihan, rengekan Jihan dan manjanya Jihan. Bunda rindu semuanya, nak."
Hening. Tidak ada respon dari anaknya.
Hana menunduk dalam sambil menggenggam kedua tangan anaknya. Air matanya sudah lolos dari pelupuk matanya. Namun sebisa mungkin ia tahan agar suaranya tangisnya itu tidak terdengar.
"Jihan enggak kasihan sama, Bunda?! Bunda kesepian, sayang. Bangun ya, nak. Udah lama anak Bunda tertidur."
"Kalau Jihan enggak bangun-bangun juga..." Hana berhenti berbicara dan menatap dengan nanar anaknya yang tak juga merespon ucapannya. "Berarti Jihan memang enggak sayang sama Bunda." Itu kalimat terakhir Hana. Suaranya tercekat di tenggorokannya, sudah tidak tahan lagi menahan isakannya.
Hana menyandarkan kepalanya di ujung ranjang anaknya sambil menangis di sana. Kedua tangannya masih menggengam tangan anaknya. Ia menangis menumpahkan semua kesedihannya.
Cukup lama ia menangis. Tiba-tiba tangan anaknya bergerak saat masih ia genggam. Hana mampu merasakan tangan anaknya yang bergerak. Segera ia mengangkat pandangannya menatap tangan anaknya lalu setelah itu ia tatap wajah anaknya.
Mulut anaknya itu terlihat bergerak pelan mengucapkan sesuatu namun karena terdapat alat bantu pernapasan di sana, Hana tak mengetahui apa yang anaknya itu ucapkan.
Segera ia hapus air matanya dan berdiri lalu membungkukkan badannya menatap dengan dekat wajah anaknya.
Perlahan Jihan membuka matanya. Saat matanya itu sudah terbuka, orang pertama yang ia lihat adalah wajah Bundanya.
Hana gembira bukan main saat mendapati anaknya itu sudah sadar. Segera ia tekan tombol yang ada di samping anaknya.
"Bu-Bunda...." Ucap anaknya terbata-bata.
"Iya, sayang. Ini, Bunda, nak. Jangan banyak bicara dulu sayang. Tunggu dokter periksa Jihan ya, sayang."
Jihan mengedipkan matanya pelan sebagai jawaban karena ia susah dalam berbicara dan kepalanya belum bisa ia gerakkan.
Dokter pun datang bersama satu orang perawat di belakangnya. Segera dokter memeriksa tanda-tanda vital Jihan.
"Hasil pemeriksaan tanda-tanda vitalnya normal. Respon tubuhnya juga baik. Hanya saja anak Anda belum bisa terlalu banyak bergerak karena bekas benturan di kepalanya membuatnya kesakitan apabila nantinya ingin bergerak. Dalam waktu beberapa hari ini lebih baik anak Anda betress total agar proses penyembuhannya juga dapat bekerja optimal."
__ADS_1
"Terima kasih, dokter."
"Jangan terima kasih kepada saya, berterima kasihlah kepada Allah. Saya hanya perantara saja yang membantu agar anak Anda bisa sembuh."
"Baik, dokter."
"Yasudah, kalau begitu kami pamit ibu. Kalau ada apa-apa segera panggil kami."
Setelah dokter tadi keluar, Hana dengan hati bahagia segera mencium kening anaknya yang masih dibalut perban.
"Terima kasih, Ya Allah. Anak hamba bisa kembali bersama kami." Ucapnya penuh syukur berkali-kali ia ucapkan rasa syukur di dalam hatinya.
Ia menarik diri dan duduk di depan anaknya sambil terus menggenggam tangannya.
"Bu-nda!"
"Iya, sayang. Jihan kenapa, nak?"
"Ha-us!" Ucap anaknya terbata. Segera Hana mengambil air botol dan membukanya saat mengetahui ternyata anaknya ini ingin minum. Ia memasukkan sedotan panjang untuk memudahkan pada saat anknya itu ingin minum.
Saat anaknya sudah kembali tertidur, segera Hana menghubungi Kedua mertuanya memberitahukan perihal kondisi Jihan. Saat mengetahui kebar gembira itu, kedua mertuanya pun segera menuju rumah sakit tempat Jihan dirawat.
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Saat ia turun dari mobil, sudah ada berdiri di depan dua lelaki berseragam hitam dengan tubuh besar dan berotot menunggunya. Ia pun dibawa sampai ke dalam menemui pelaku penabrak lari anaknya.
Dari jauh sudah dapat ia kenali siapa orang tersebut. Seringai menakutkan Revan tampakkan diwajahnya. Berani-beraninya orang ini mengganggu ketenteraman hidupnya dan membuat anaknya mengalami kesakitan yang lama.
"Kau akan merasakan yang lebih sakit dari apa yang anakku rasakan!" Cibirnya dalam hati menatap orang itu.
Pelaku penabrak lari anaknya itu di ikat di atas kursi tepat dibawah sinar cahaya lampu yang tergantung diatasnya.
Revan berjalan mendekati orang itu. Di pegangnya rahang pelaku itu menggunakan satu tangannya dengan keras, lalu di tengadahkan untuk menatapnya.
"Gue engak nyangka ternyata lo pelakunya." Ujarnya sarkasme menatap pelaku penabrakan anaknya ternyata adalah sepupunya sendiri, Raga Bramana.
Bukannya merasa bersalah ataupun meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan, malah Raga tersenyum miring seakan mengoloknya. Revan jengah melihat kelakuan diluar batas sepupunya sendiri. Dengan sekali gerakan tangannya itu sudah menampar wajah Raga dengan sangat keras hingga membuat ujung bibir Raga berdarah.
"Hahahahaha...." Suara Raga yang tertawa seperti orang gila sangat membuat amarah Revan terpancing.
"Diam br*****k atau gue enggak akan segan-segan negebunuh lo malam ini juga!"
__ADS_1
Mendengar penuturan Revan seketika Raga berhenti tertawa dan menatap dengan tajam Revan yang berdiri sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Gue enggak nyangka ternyata lo yang sudah menabrak anak gue b*******n. Lo tega banget nabrak tubuh anak kecil kayak Jihan, hah. Dimana lo simpan otak lo?! Sekarang gue tanya atas alasan apa lo nabrak anak gue? Jawab?!" Revan berteriak dengan keras sehingga memekikan telinga yang mendengarnya.
Raga tak menjawab pertanyaan dari Revan, malah menatap Revan dengan tatapan tajam. Karena hal membuat Revan semakin tersulut emosi. Ia pun kembali melayangkan beberapa kali tinjuan di wajah Raga.
"Jawab b*****t!
"Karena gue cinta sama istri lo." Itu jawaban yang keluar dari mulut Raga. Raga menjawab dengan sekali teriakan membuat Revan terkesiap mendengarnya. Bagaimana Revan tidak kaget, karena ternyata sepupunya itu mencintai istrinya selama ini.
"Terus karena lo cinta sama istri gue, makanya lo tega melakukan hal gila itu sama anak gue. Benar begitu?" Ucapnya dengan rahang yang terlihat mengeras.
Raga tak lagi menjawab pertanyaan Revan karena memang apa yang sepupunya lontarkan itu tebakannya memang benar. Raga sengaja melakukan itu karena ia sangat mecintai istri dari sepupunya itu sudah dari sejak dulu. Karena sudah dibutakan oleh cinta membuatnya ingin memiliki Hana seutuhnya dan berbuat rencana gila dengan berniat menyingkirkan semua halangan yang akan menghambat jalannya. Yaitu menyingkirkan Jihan dan Revan dari sisi Hana. Setelah Rencananya nantinya berhasil, maka ia akan membawa Hana kabur ke luar negeri. Ternyata rencananya itu tidak berjalan mulus karena sekarang ia telah ketahuan.
Diamnya Raga membuat Revan semakin yakin bahwa tebakannya itu memang benar.
"Br*****k. Gue enggak akan ngebunuh lo, tapi malam ini gue akan ngebuat lo ngerasain yang namanya setengah mati."
"Lepasin ikatan talinya!" Perintahnya pada orang suruhannya. Dengan cepat mereka pun membuka lilitan tali di tangan dan kaki Raga.
"Gue mau lo lawan gue!" Ucap Revan kepada Raga.
Raga pun menerima ajakan bertarung dari sepupunya sendiri. Dengan postur tubuh yang sama-sama tinggi membuat pertarungan itu menjadi sengit. Namun karena emosi yang sudah tak tertahan membuat Revan dengan gampang mengalahkan Raga.
Raga sudah jatuh terkulai lemas di lantai yang dingin dan kotor dengan kondisi yang mengenaskan.
Revan berdiri di samping Raga. Ia menginjak tubuh Raga dibawahnya dan memperbaiki kemejanya yang sudah sangat kusut.
"Ini balasan atas apa yang lo lakuin pada istri gue di masa lalu dan atas hal gila yang sudah lo lakuin hingga membuat anak gue kesakitan."
"Ini peringatan yang terakhir kalinya buat lo. Ingat baik-baik gue enggak main-main dengan ucapan gue. Kalau sampai lo berani lagi ganggu kehidupan rumah tangga gue, maka detik itu juga gue yang akan ngebunuh lo dengan tangan gue sendiri. Camkan itu!"
Bu
Revan pun berbalik dan meninggalkan Raga sendirian. Sebelum sampai di pintu, ia berucap, "Gue mau kalian buat dia merasakan sakit seperti ditabrak mobil itu bagaimana. Biar dia rasa apa yang anak gue rasa! Setelah kalian sudah selesai langsung saja bawa dia ke rumah sakit! Bilang kalau dia habis ditabrak mobil, setelah itu langsung tinggalkan saja dia di sana." Ucapnya dengan tegas kepada orang suruhannya.
Revan tidak memandang walaupun Raga itu adalah sepupunya sendiri, karena perbuatan gilanya itu sudah merugikan banyak orang sehingga membuatnya tak tanggung-tanggung memberi pelajaran pada sepupunya itu.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading....
__ADS_1
Salam story from By_me