Hati yang Patah

Hati yang Patah
Pertanyaan Beruntun dari Jihan


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanan di mulutnya, Jihan segera minum dan menyimpannya kembali ke atas tikar. Setelah pamit pada Ayah dan Bundanya, Jihan segera berlari kearah Ayahnya dan Ibu tirinya.


Dari jauh Jihan sudah melihat tatapan berbinar Ayahnya saat melihatnya menghampirinya di sana. Namun berbeda dengan tatapan wanita yang duduk di samping Ayahnya, yang Jihan tahu wanita itu adalah istri dari Ayahnya yang telah menggantikan posisi Bundanya. Menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.


Namun Jihan mengabaikan wanita itu dan berlari memeluk Ayahnya yang sudah merentangkan tangannya meminta untuk segera didekap.


Jihan segera berlari ke pelukan hangat Ayahnya dan memeluknya dengan erat. Tak lupa Ayahnya memberinya beberapa kecupan di beberap bagian wajahnya yang membuatnya tertawa.


"Maafin, Jihan, Ayah, karena tadi tidak sempat ikut dengan Ayah. Tapi tenang saja, Jihan akan menemani Ayah dengan tante ini di sini." Tunjuknya pada Indah yang seketika melempar senyum terpaksa kearahnya.


"Terima kasih, sayang." Ucapnya dan membelai rambut hitam anaknya.


Jihan dan Arlan asyik berbincang-bincang dan sesekali tertawa, mengabaikan Indah yang sudah memasang wajah masamnya karena perhatian suaminya di rebut oleh ulah gadis kecil di sampingnya. Ia seperti tak terlihat dan tidak diikutsertakan dalam perbincangan Ayah dan anak di sampingnya.


"Ayah, Jihan, mau itu. Boleh?" Tanyanya menunjukkan puppy eyes nya menunjuk pada minuman mocca float yang terlihat sangat menggugah selera di saat terik seperti ini.


Arlan seketika memandang kearah Indah karena minuman itu adalah minuman istrinya. Memberinya kode agar minuman itu diberi pada anaknya. Dengan terpaksa Indah menganggukkan kepalanya dan memberikan minuman yang belum ia sentuh sedikitpun kepada anak tirinya.


Dalam hati ia merasa dongkol karena harus kehausan di saat seperti ini. Ia tidak minum- minuman suaminya karena ia tidak suka minum green tea.


Ya, dulunya Arlan tidak menyukai minuman satu itu namun karena Hana sangat menyukai jenis minuman satu itu, makanya ia mulai mencoba dan alhasil ia ketagihan. Sampai sekarang Arlan selalu membeli minuman satu itu ketika sedang keluar.


Jihan menyeruput habis minuman Ibu tirinya sambil memandang lekat wajah Ibu tirinya, menilai dari segala sisi wanita yang telah merebut Ayahnya dari Bundanya.


"Akhhh, segarnya. Makasih ya, tente, minumannya enak banget." Ucapnya menyimpan gelas minuman kembali ke atas tikar.


"Namanya, tante, siapa?" Tanyanya pada Ibu tirinya.


Indah menampakkan senyumnya namun Jihan dapat menilai bahwa senyum itu senyum terpaksa.


"Nama, tante, Indah, sayang." Ucapnya selembut mungkin.


Jihan yang mendengarnya seketika bergidik merinding mendengar suara Ibu tirinya.

__ADS_1


"Oh, nama tante, Indah!" Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau boleh tau, tente ketemu sama Ayahnya Jihan, dimana?" Tanyanya penasaran ingin tahu awal mula Ayah dan Ibu tirinya bersama.


Indah yang mendengarnya seketika menatap kearah suaminya. Mereka saling tatap selama beberapa detik. Setelah itu, ia kembali menatap anak tirinya.


"Tante ketemu sama Ayah kamu itu di perusahaan tempat Ayah kamu kerja. Dari situ tante sama Ayah kamu mulai dekat dan bisa bersama."


"Oh, gitu, yah. Memangnya tante enggak tahu kalau Ayahnya Jihan itu punya istri sama anak? Tante masih mau gitu, sama, Ayah?" Tanyanya polos.


Mendengar pertanyaan anak tirinya membuatnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil memandang kearah suaminya. Ia harus hati-hati dalam menjawab pertanyaan anak tirinya.


"Mmm tante udah tahu, sayang. Tapi, tuhan berkata lain. Ayah sama tante tetap bisa bersatu."


"Oh, gitu, yah, tante. Karena Allah, makanya sekarang tante sama Ayah bisa bersama?"


Arlan yang sedang menyeruput minuman green tea miliknya seketika tersedak mendengar ucapan polos anak gadisnya. Segera ia mengambil tisyu dan memersihkan tangannya karena ia tadi menutup mulutnya.


Sungguh Indah sangat malu mendengar ucapan anak tirinya. Ia kembali mengingat usahanya dulu agar bisa bersama dengan suaminya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sudah kehabisan kata-kata, kewalahan mau menjawab pertanyaan bertubi-tubi anak tirinya yang berfikir kritis.


Bukan karena Allah namun ia sendiri yang memilih jalan ini. Salahnya sendiri sehingga ia terjebak di dalam hubungan antara dirinya dan Indah. lupa dengan anak dan istrinya. Hingga akhirnya istrinya mengetahui tentang perbuatannya dan menghianati cintanya. Hana memberikan pilihan padanya untuk memilih, namun dengan bodohnya lagi ia tetap memilih Indah. Sekarang barulah ia menyesal telah melepaskan wanita yang dulu tulus mencintainya.


Salahnya, semua salahnya. Seandainya waktu dapat terulang, ia ingin memeperbaiki semuanya dari awal agar semua ini tidak terjadi namun seandainya tinggal seandainya. Ia harus menerima takdir yang telah Allah gariskan kepadanya.


Arlan seketika menangkap sosok yang sangat ia rindukan, mantan istrinya yang sedang bercanda dan tertawa riang bersama imam barunya. Ia seharusnya tidak boleh melakukan hal seperti ini, namun hatinya tak bisa berdusta bahwa ia masih menyimpan cinta untuk mantan istrinya itu.


Dulu ia sempat berada di posisi itu, dicintai oleh Hana, di puja dan di sayang dengan sepenuh hati, namun ia mematahkan hati dan perasaannya. Tak ada lagi tatapan cinta yang dulu Hana berikan kepadanya.


Arlan menghembuskan nafas kasar dan menundukkan kepalanya.


Arlan kembali tersadar dari lamunannya dan menatap anak gadisnya yang tak berhenti berceloteh dan memberi pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya membuat istrinya itu pusing.


Arlan menyuapi anaknya banana roll coklat agar anaknya itu bisa berhenti sejenak. Jihan yang disuapi banana roll seketika langsung bungkam dan mengunyah cemilan di mulutnya.

__ADS_1


Arlan membersihkan sisa coklat yang menempel di ujung bibir anaknya menggunakan tisyu. Jihan menunjuk seluruh wajahnya yang berkeringat agar Ayahnya itu mengelapnya. Dengan telaten Arlan melakukan apa yang anak gadisnya perintahkan. Ia juga memperbaiki ikat rambut anaknya yang sudah berantakan kesana-kemari karena keaktifannya.


"Udah. Anak, Ayah, sudah cantik lagi." Ucapnya sambil menciumi gemas pipi gembul anaknya.


Jihan seketika tertawa diperlakukan seperti itu.


"Ayah, udah dulu, ya! Jihan mau kembali ke, Bunda dan Ayah Revan. Udah lama juga Jihan disini temenin, Ayah."


"Yah, kok cepet banget sih, sayang. Ayah, kan, masih kangen sama, Jihan!"


Jihan memberikan senyum termanisnya kearah Ayahnya.


"Nanti kita lanjut lagi. Sekarang Jihan mau balik dulu. Kalau Ayah kangen sama Jihan, datang aja jemput Jihan di rumah, Ayah Revan, Ok!" Ucapnya menunjukkan jari jempolnya dan tersenyum menampampakkan gigi ompongnya.


Arlan dibuat gemas oleh tingkah anaknya yang sangat lucu di matanya. Ingin rasanya, ia membawa anaknya pulang ke rumahnya, mewarnai dan menemani kehampaan hidupnya. Tapi itu tidak mungkin, Hana pasti tidak akan mengizinkannya.


Dengan lemah ia pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Jihan mendekati Ayahnya, memeluknya dan memberi ciuman di pipi.


Sekarang ia beralih memeluk Indah. Indah dengan kaku membalas pelukan anak tirinya.


"Tante cantik banget." Ucapnya pada Ibu tirinya saat pelukannya terlepas. Indah yang mendengarnya seketika menampakkan senyumnya di puji oleh Jihan.


"Tapi sayang... Muka tante terlalu putih, kayak tepung kobe!" Wajah Indah berubah drastis karena dikatai seperti itu oleh anak tirinya. Baru kali ini ada seseorang yang mengatainya seperti itu, apalagi ini adalah anak dari suaminya.


"Bercanda doang, tante." Ucapnya nyengir dengan polosnya, "Tante cantik, kok. Cocok sama Ayah."


"Jihan pergi dulu, yah. Assalamualaikum." Ucapnya riang dan berlari kembali kearah Ayah dan Bundanya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading😘


Jangan lupa di vote, like dan komen yak kk readers yang baca. Jangan jadi silent readers, ok boscuu

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2