
┅┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅┅
Betapa nyamannya Syifa bisa mendapatkan pelukan dari Hazel. Dia tidak mengenalnya tapi hatinya terasa sudah sangat dekat dengan pria tampan yang memiliki kaki begitu jenjang itu.
Syifa bahkan tak ingin melepaskan dan ingin tetap berada dalam pelukannya, rasanya tak bosan meski harus berlama-lama. Syifa pun rasanya ingin selalu dalam posisi saat ini.
Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan dalam diri Syifa hanya rasa bahagia saja yang terlihat lebih besar dan terlihat lebih mendominasi dari semua perasaan yang muncul.
Kehangatan yang tak pernah dia dapat sebelumnya seakan dia dapat untuk saat ini, dan rasanya mampu menghilangkan rasa dahaga akan kasih sayang yang tak pernah dia dapat, kasih sayang dari seorang ayah.
Di dalam dekapan Hazel Syifa merasa di peluk oleh Abinya sendiri. Saking hangatnya Syifa sampai menutup mata seperti orang yang sudah dewasa dan mengerti akan semua ini.
'Abi, Syifa memang sangat merindukan abi. Tetapi, kenapa di peluk om ini rasanya seperti Syifa mendapat pelukan dari abi. Apakah abi berada di dalam om ini?' batin Syifa yang mengada-ada. Bagaimana mungkin Abi_nya akan berada di dalam tubuh orang lain sekarang, mungkin itu hanya perasaan atau mungkin keinginan Syifa saja.
"Syifa!!" teriak Kanaya memanggil putrinya yang masih setia berada di dalam pelukan Hazel.
Sontak pelukan itu pudar di saat Hazel melihat Kanaya yang berhenti tepat di belakang Syifa dan di depan Hazel.
Melihat wajah Syifa juga Kanaya secara bergantian, apakah benar gadis kecil yang baru saja mendapatkan pelukannya itu adalah anak dari istri dan juga mendiang pasiennya lima tahun yang lalu?
Hazel memandangi lekat-lekat wajah Syifa, sangat sama dengan mendiang pasiennya itu, apalagi di tambah dengan kehadiran Kanaya.
"Syifa?" lirih Hazel memastikan.
Syifa mengangguk mengiyakan, wajahnya begitu berbinar penuh semangat karena Hazel sudah tau namanya sekarang tanpa harus dia yang memperkenalkan diri.
Tangan Hazel terangkat, membelai lembut wajah Syifa yang begitu lembut. Hatinya bergetar ketika itu juga matanya yang perlahan mulai merasa pedih.
'Ada apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?' batin Hazel yang bingung sendiri akan respon yang hati dan jantungnya tunjukkan padanya. Ini bukan hal yang biasa, ini sangat luar biasa karena Hazel memang belum pernah mendapatkan perasaan ini sebelumnya.
Di tengah-tengah rasa tak percaya yang hadir tiba-tiba saja Syifa kembali memeluknya dan memanggil Hazel dengan sebutan abi, semakin menambah daftar rasa aneh dan menambah rasa asing muncul di dalam hatinya.
"Abi, Syifa merindukan abi," katanya dengan memeluk Hazel dan kedua tangan sudah melingkar di leher Hazel.
Hazel terdiam tak bisa berkata-kata, dia hanya terperangah dengan tangan yang tertahan mengudara di belakang tubuh Syifa. Matanya tertuju pada Kanaya yang juga sama terdiam seperti dirinya.
__ADS_1
Naluri hadir membuat Hazel kembali membalas pelukan itu dari Syifa dia juga memejamkan mata, merasakan setiap perasaan yang hadir di dalam hatinya dan semakin besar.
Aneh, tapi itulah kenyataannya.
"Eh, lepas-lepas! Jangan kamu peluk-peluk calon suami saya!"
Gerakan kasar dari Ziana berhasil memisahkan dua tubuh yang semula melekat dalam erat. Bahkan Ziana juga sedikit memberikan dorongan pada tubuh kecil Syifa hingga membuatnya hampir terjatuh, untung Hazel segera menarik tangannya hingga membuat Syifa kembali ke arahnya.
"Ziana!" bentak Hazel tiba-tiba.
Jelas Hazel tidak menyukai perilaku Ziana yang sangat kasar ini. Meski Ziana tidak menyukai Syifa dan apa yang dia lakukan seharusnya dia tidak melakukan hal itu dan bisa bertingkah lebih dewasa dalam menghadapi kepolosan anak kecil berusia lima tahun itu.
"Kamu jangan keterlaluan ya!" imbuh Hazel lagi yang amarahnya sontak meledak tadi. Dia memang belum mengenal Syifa dengan baik dan benar tapi dia merasa Syifa tidak pantas mendapat hal yang sekasar itu karena apa yang telah dia lakukan.
"Mas, mas membelanya!" Ziana gak habis pikir dengan jalan pikiran Hazel, dia memang tak pernah mengerti karena dia selalu tidak bisa memahami bagaimana Hazel sebenarnya.
Yang di pahami oleh Ziana adalah Hazel sangat tampan dan juga mapan, tidak akan malu jika di gandeng dan di pamerkan pada teman-temannya juga dengan para orang-orang yang berpapasan dengannya.
Hazel diam tak menggubris apa yang Ziana katakan lagi dia lebih memilih menghadap ke arah Syifa dan melihat wajah gadis kecil itu yang terlihat takut juga syok karena pergerakan cepat dan kasar dari Ziana.
Syifa mengangguk sekali dia masih diam karena rasa takutnya yang lebih besar. Wajahnya yang ceria tadi entah sudah lari kemana karena sekarang sudah tidak terlihat lagi. Hazel jadi merasa bersalah karena secara tidak langsung dia yang mengakibatkan senyum itu hilang.
"Syifa, kamu tidak apa-apa sayang?" Kanaya yang melihat Ziana berbuat kasar pada anaknya langsung menghampiri, dia juga tentu sangat khawatir dengan keadaan Syifa.
"Umi, Syifa takut. Dia jahat," rengeknya dan mengadukan Ziana pada Kanaya.
Syifa beralih ke arah Kanaya tanpa melepaskan tangan yang ada di tangan Hazel, dia masih ingin tetap mempertahankan Hazel supaya tidak pergi dari sana.
"Oh, jadi dia anak kamu!" mata Ziana membulat tak suka ke arah Kanaya, dia masih ingat betul siapa perempuan berhijab yang sekarang ada di hadapan Hazel, calon suaminya itu.
Kedua tangan yang semula menyilang di depan dada sekarang sudah langsung turun dengan memperjelas kalau dia tidak suka dengan Kanaya apalagi sekarang bertambah dengan anaknya.
"Anak dan emak sama-sama saja, sama-sama suka menggoda calon suami orang. Atau jangan-jangan memang itu yang emaknya ajarkan," semakin sinis Ziana berbicara.
Merendahkan bahkan meragukan didikan Kanaya kepada anaknya. Didikan Kanaya sudah benar bahkan dia sendiri juga tidak mengerti kenapa Syifa bisa melakukan hal ini. Melakukan pada orang lain yang sama sekali belum di kenal bahkan Kanaya yakin ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.
__ADS_1
"Ziana!" kembali Hazel yang bersuara dan kali ini suaranya lebih tinggi dari sebelumnya.
Hazel yang semula berjongkok di hadapan Syifa kini dia berdiri membawa tubuhnya menghadap pada Ziana.
"Kamu jaga batasan_mu, Zi. Atau aku benar-benar tidak akan respect lagi padamu," ancam Hazel.
Kemarahan Hazel kepadanya membuat Ziana akan semakin membenci Kanaya juga anaknya, jelas dia akan melakukan hal itu karena merasa Kanaya juga Syifa akan menjadi ancaman terbesarnya untuk bisa bersanding dengannya.
"Kamu lihat saja mas Hazel, kamu tidak akan pernah bisa lari dariku," dengan kesal Ziana pergi dari sana. Wajahnya begitu besar akan semburat kekecewaan dan juga amarah sedangkan bibirnya monyong dengan sesekali pipi yang menggembung besar.
'Lihat saja, Mas. Kamu akan secepatnya menjadi milikku. Akan aku adukan semua ini pada orang tua kita kalau kamu mengulur-ulur waktu pertunangan kita karena kamu menyukaimu wanita lain.' batin Ziana.
Sementara di tempat, Hazel membalik dengan pelan dia menjadi tidak enak kepada Syifa juga Kanaya.
"Hem..., tolong maafkan Ziana. Dia memang suka seperti itu." ucapnya.
"Hem," Kanaya hanya mengangguk kecil.
"Syifa sudah memaafkan tante itu kok, Om." ucap Syifa sembari memegangi kedua tangan Kanaya.
Hazel mengangkat wajah dari Syifa dan menemukan Dirga yang berjalan dan berhenti di sebelah Kanaya. Hazel terdiam sejenak, memikirkan siapa laki-laki yang bersama mereka.
'Apakah dia pengganti Tuan Dirga dalam hidup mereka?' batin Hazel.
"Om, om mau kan ikut main dengan Syifa?"
Hazel terkesiap dan saat itu wajahnya terlihat mengangguk sekali dan membuat Syifa tersenyum karena mengira Hazel setuju. Cepat Syifa melepaskan tangannya dari Kanaya dan berganti menggandeng tangan Hazel.
"Ayo om kita main di sana," ajak Syifa antusias.
"Syifa!" panggil Kanaya dan Dirga bersamaan namun Syifa seolah tak mendengar karena dia lebih fokus dengan kebersamaannya pada Hazel.
┅┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅┅
Bersambung....
__ADS_1