Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Bimbang


__ADS_3

»»————><————««


Canggung, itulah yang Kanaya rasakan sekarang. Berhadapan dengan Hazel juga mamanya yang sangat baik juga sangat perhatian padanya.


Begitu besar kasih sayang yang di tunjukkan padanya hingga membuat Kanaya merasa tersanjung dan tentu sangat bahagia. Perhatian kecil selalu dia lakukan, juga senyuman tulusnya yang sangat jelas dan juga sangat Kanaya rasakan begitu besar.


"Ayo di makan, Nak. Semoga kamu suka ya dengan kue buatan tante," ucapnya dengan menyodorkan kue yang ada di atas piring keramik berwarna putih polos.


"Hem," Kanaya mengambil dengan malu. Jangankan untuk memakannya, sekedar untuk mengambil saja rasanya tangan tak sampai-sampai. Tapi Kanaya harus tetap mencicipi sebagai tanda menghargai.


"Bagaimana, enak?" tanyanya antusias. Matanya terus melihat ke arah Kanaya yang mengunyah dengan sangat pelan juga perlahan memahami setiap rasa yang ada.


"E_ enak, Tan." jawabnya kian gugup.


Hazel tersenyum, melihat tak berkedip wajah Kanaya yang malu-malu dan terlihat merona namun tetap sangat cantik.


'Ya Allah, izinkanlah dia sebagai pendampingku. Izinkan aku menjaga dan juga membahagiakannya,' batin Hazel.


Keheningan terjadi namun bukan berarti mereka diam tak melakukan apapun, mereka saling menikmati makanan yang Kristin buat dengan perasaan canggung.


"Umi," panggil Syifa.


Semua menoleh, melihat Syifa yang keluar dari salah satu kamar dengan tangan yang masih mengucek matanya sendiri, mungkin untuk membuat penglihatannya lebih jelas karena baru bangun tidur.


"Sayang, sini," Hazel yang memanggil. Tangannya melambai lalu mengulur maju menyambut Syifa yang semakin dekat dengannya.


Semakin dekat Syifa semakin berlari dan berhenti di hadapan Hazel. Tangannya juga langsung meraih satu tangan Hazel lalu berdiri di hadapannya.


"Om, kok Syifa tidak di bangunin sih." protesnya.

__ADS_1


"Maaf ya, tadi Syifa boboknya nyenyak banget jadi om nggak tega banguninnya." Tidak membiarkan Syifa berdiri saja di depannya tapi Hazel langsung mengangkat tubuh kecil itu dan memangkunya.


Dengan begitu anteng dan nyaman Syifa di atas pangkuan Hazel, kembali dia mengucek matanya sementara tangan Hazel juga bergerak dan membenarkan rambut Syifa. Menyisirnya menggunakan jari.


Tertegun Kanaya melihat keduanya. Matanya begitu terpana dengan kedekatan keduanya yang sangat dekat bagaikan ayah juga anak.


'Ya Allah, sungguh indah,' batin Kanaya.


Sementara Kristin dia melihat Kanaya yang tertegun tak berkedip. Senyum simpulnya keluar dengan perasaan yang sangat bahagia. Benarkah Hazel dan Kanaya akan bisa bersama suatu saat nanti?


Melihat bagaimana Syifa dan Hazel, bagaimana Kanaya dan tatapannya bisa saja semua itu akan terjadi meski entah kapan.


'Ya Tuhan, restui hubungan mereka.' batin Kristin.


"Hem, bagaimana kalau kita makan siangnya sekarang?" tanya Kristin membuyarkan semua lamunan.


"Om, dia siapa?" Syifa baru memperhatikan Kristin, mungkin sekarang penglihatannya sudah genap seratus persen.


"Dia nenek Kristin, mamanya Om. Salim dulu gih," pinta Hazel.


Syifa mengangguk dia juga langsung turun dan menghampiri Kristin yang ada di sebelah uminya.


"Hallo nenek, saya Syifa." katanya.


"Hallo Syifa cantik," jawab Kristin dengan menerima uluran tangan Syifa dan langsung mengelus wajahnya yang lembut.


"Kita makan sekarang?" Ajaknya dan Syifa mengangguk. Menerima genggaman tangan Kristin dan mengikuti dia menuntunnya hingga meja makan.


Kanaya berdiri, begitu juga dengan Hazel. Keduanya malah bingung, mau siapa dulu yang melangkah hingga akhirnya Hazel meminta Kanaya yang melangkah lebih dulu dan dia berjalan di belakangnya.

__ADS_1


»»————><————««


Begitu senang dan juga puas Syifa bisa bermain di rumah Hazel juga bisa makan siang di sana dengan menu makanan yang sangat enak yang Kristin masak.


Di perjalanan Syifa kembali berisik, dia terus bercerita dengan semua yang telah terjadi di sekolah bahkan juga di rumah Hazel saat bermain dengan Kristin.


"Om, kapan-kapan Syifa boleh main lagi kan sama nenek?"


"Boleh dong. Apa Syifa suka sama nenek?"


"Hem, nenek sangat baik. Hem umi kapan-kapan kita nginep di tempat om Hazel ya."


Semakin menjadi-jadi keinginan Syifa, apa yang selalu dia inginkan selalu saja membuat mata Kanaya terbelalak bersamaan dengan jantung yang berdegup kencang.


Bukannya menjawab Kanaya malah menoleh ke arah Hazel, pria itu tersenyum begitu manis. Sepertinya dia sangat senang dengan setiap kata yang Syifa keluarkan.


"Apakah kamu tidak akan mewujudkan keinginan Syifa?" tanyanya.


"Hem." Kanaya terlihat bingung. Tidak semudah itu juga kan?


"Nay, percayalah, aku benar-benar serius padamu. Aku tidak hanya main-main saja aku sangat mencintaimu. Aku berharap kamu akan bisa membuka hatimu untuk ku. Aku tidak meminta kamu melupakan masa lalumu karena itu juga bagian dari hidupmu, tapi aku hanya meminta kamu percaya padaku bahwa aku akan selalu menjaga dan membuat kamu bahagia, selamanya." ucap Hazel.


Kanaya tertegun, jantungnya semakin tak karuan sekarang. Dia bingung juga sangat bimbang.


Semakin hari Hazel semakin perhatian, menunjukkan akan keseriusannya juga dia yang selalu ada untuk Syifa. Hazel juga begitu sayang pada Syifa lalu apa yang masih Kanaya ragukan?


»»————><————««


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2