Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Tak mudah diwujudkan


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Umi, hari ini semua teman-teman pergi jalan-jalan dengan papa dan mama mereka, apakah Umi tidak akan jalan-jalan dengan Syifa hari ini?"


Bocah kecil itu terlihat begitu berharap, wajahnya terlihat sangat memohon. Dia tau Uminya sangat sibuk dan tidak seharusnya dia akan mengatakan hal ini.


"Sayang, Umi ada meeting pagi ini. Kamu pergi sama Oma dan Opa ya? Hem..., nanti sore Umi janji akan pulang cepat dan kita jalan-jalan," ucap Kanaya. Tangannya berhenti sejenak dari sarapannya, menoleh kearah Syifa yang jelas saja sangat kecewa karena perkataannya.


Syifa tidak lagi menjawab, wajahnya terlihat lesu tak semangat. Padahal dia sudah bilang dengan teman-temannya kalau dia juga akan jalan-jalan tapi nyatanya semua itu tidak bisa terjadi.


"Seandainya saja Syifa punya Abi, pasti Syifa akan bisa jalan-jalan dengan Abi kalau Umi pas sibuk," ucapnya. Syifa langsung beranjak, meninggalkan sarapannya dan berlari keluar rumah.


Huff...


"Sayang, Syifa sayang!" panggil Kanaya, dia menoleh setelah dia juga mengeluarkan nafasnya yang panjang. Ada apa yang terjadi pada Syifa, dia tidak biasa seperti ini.


Dia tidak biasa mengungkit-ungkit Abinya, dia tidak pernah mengatakan kalau dia juga menginginkan Abi, dia selalu cukup hanya dengan Umi_nya saja, lalu sekarang?


Syifa terus berlari keluar, sepertinya dia sangat kecewa, jelas saja dia merasakan hal itu. Masa-masa anak di usianya sedang ingin-inginnya bisa bermain dan berjalan-jalan dengan orang tuanya, tapi Syifa tidak mendapatkan hal itu.


Oma Uswah juga Opa Hasan saling diam dalam tatapan mata yang penuh dengan kebingungan. Mereka juga bingung bagaimana akan menjelaskan lagi pada Syifa.


"Nay permisi dulu," Kanaya langsung berdiri, berniat menyusul Syifa yang mungkin tengah sedih atau mungkin malah menangis di luar rumah.


"Hem, bicaralah dengan Syifa," jawab Oma Uswah.


"Apa yang harus kita lakukan, Abi, kita sudah melakukan segalanya untuk membuat Syifa selalu bahagia. Tapi kenyataannya, dia tetap menginginkan sesuatu yang sudah semestinya."


"Dia hanya anak kecil yang tetap menginginkan hal yang teman-temannya punya. Seandainya saja Dirga...," ucap Oma Uswah.


Matanya sudah berkaca-kaca, mengatakan hal itu membuat dia mengingat anaknya yang telah pergi lebih dulu dan meninggalnya.


"Sudahlah, Umi. Semuanya adalah takdir. Dirga sudah tenang di sana," Opa Hasan berusaha menghibur istrinya itu, menghapus air matanya yang tetap saja mengalir meski sudah di tahan.


"Kadang Umi masih saja berharap semua ini hanya mimpi buruk, mimpi yang akan hilang ketika bangun tidur. Tapi ternyata tidak, Umi memang benar sudah kehilangan Dirga," ucapnya pilu.


"Sudah, Mi. Ikhlas, Umi harus Ikhlas. Semua yang hidup pasti akan mati, begitu juga dengan kita."

__ADS_1


Opa Hasan tetap berusaha menghibur meski tetap saja tak bisa menghentikan air mata Oma Uswah yang sudah terlanjur keluar.


"Ikhlas," imbuhnya lagi. Tangannya menyentuh bahkan mengelus pundak istrinya yang begitu berduka setiap kali mengingat akan Dirga anaknya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Sayang," panggil Kanaya. Melihat anaknya yang duduk di depan dengan wajah sedih juga tangan yang bersedekap dada membuat Kanaya langsung duduk di sebelahnya.


Kanaya harus bisa menjelaskan juga bisa menghibur Syifa sebelum dia pergi ke kantor. Dia tidak akan bisa bekerja dengan baik nantinya kalau Syifa masih seperti ini.


Meski di tuntut harus pergi ke kantor setiap hari tapi Kanaya tidak akan bisa jika Syifa seperti sekarang. Dia harus tetap meyakinkan Syifa lebih dulu.


"Sayang, maafkan Umi ya. Umi ada meeting pagi ini, tapi Umi janji akan pulang lebih awal dan akan mengajak Syifa jalan-jalan," Kanaya mulai bicara.


Syifa tetap memalingkan wajahnya dengan begitu sedih, tak memperhatikan Kanaya sama sekali yang tengah berbicara padanya.


Syifa memang anak yang tak banyak menuntut, tapi tetap saja kan dia adalah anak kecil yang ada kalanya selalu menginginkan sesuatu yang sama seperti yang di lakukan teman-temannya.


Dia juga ingin merasakan apa yang teman-temannya rasakan.


Mendengar kata apapun Syifa langsung menoleh, kedua tangan yang ada di depan dada juga langsung dia turunkan.


"Apapun?" tanya Syifa. Matanya begitu lekat menatap Kanaya, sepertinya dia menginginkan sesuatu dari Kanaya.


"Iya, apapun. Umi janji akan berikan pada Syifa," jawab Kanaya. Kanaya tersenyum, dia berpikir caranya akan berhasil membuat hati Syifa luluh, dia akan bisa pergi ke kantor dengan tenang setelah ini.


"Kalau begitu, beri Syifa Abi. Apakah Umi akan memberikannya."


Kanaya melongo, tak mampu berkata-kata lagi. Dia sangat bingung untuk menjawab. Bagaimana mungkin dia akan memberikan permintaan Syifa yang satu ini, dia tidak mungkin.


"Kenapa, apakah Umi tidak bisa berikan?"


"Umi, Syifa tidak akan pernah minta apapun lagi, Syifa hanya ingin Abi. Syifa mohon," rengek Syifa. Tangannya beralih memegangi kedua tangan Kanaya dan terus menarik ulurnya. Syifa sungguh mengharapkan akan hal itu.


"Syifa sayang, Umi..."


"Kenapa, Umi tidak akan memberikannya? Katanya Umi janji akan memberikan apapun yang Syifa minta, tapi mana! Syifa tidak minta macam-macam, tidak minta mainan ataupun makanan yang susah, Syifa hanya ingin Abi saja Umi."

__ADS_1


Bagaimana cara Kanaya menjelaskan, bahkan mencari makanan ataupun mainan yang susah itu akan lebih mudah baginya daripada memberikan seorang Abi untuk Syifa.


"Sayang..."


"Umi memang selalu seperti itu, Syifa kesel sama Umi!"


Tangan Syifa terlepas, dia juga langsung turun dari tempat duduknya yang sekarang dan kembali masuk dengan berlari, itupun juga dengan tangis.


"Syifa, Syifa sayang! Dengerin Umi dulu, Nak!" Kanaya menoleh tapi Syifa sudah jauh darinya.


"Astaghfirullah hal adzim, cobaan apa ini," Kanaya mulai pusing jika sudah seperti ini. Apalagi hal yang di minta Syifa adalah sesuatu yang sangat susah untuk di terima.


"Sudah, kamu berangkat saja. Ini sudah siang kamu akan terlambat meeting nanti. Untuk Syifa, biar Umi dan Abi yang menghiburnya. Dia akan mengerti, kamu jangan khawatir," ucap Oma Uswah.


Meski sebenarnya hatinya sendiri juga terasa tercabik-cabik ketika mendengar keinginan Syifa tapi Oma Uswah harus tetap bisa tabah. Dia tidak mungkin akan membiarkan Kanaya akan bersedih dengan berlarut-larut seperti ini.


"Nay, sudah lima tahun Dirga pergi, dan ini bukan waktu yang sebentar. Umi dan juga Abi tidak masalah jika kamu bisa melanjutkan hidupmu, Syifa juga sangat membutuhkan kasih sayang seorang Abi, Nay."


Kanaya yang terus bergeming dan tidak beranjak membuat Oma berani mengatakan akan hal itu setelah ikut duduk di sebelahnya. Memang benar kan? Kanaya seharusnya bisa melanjutkan hidupnya.


"Apa sih yang Umi katakan. Kanaya tidak bisa, Umi. Tidak akan bisa," Kanaya menolak dengan cepat.


"Tapi, Nay. Syifa sangat membutuhkan..."


"Tidak Umi, Syifa tidak butuh siapapun selain kita."


"Nay, Umi tau kamu masih sangat mencintai Dirga tapi kamu tidak boleh egois seperti ini. Jangan menutup hati pada siapapun, Nay. Siapa tau Allah masih menyiapkan jodoh untuk mu, kamu masih muda, dan tidak menutup kemungkinan kamu akan kembali mendapatkan cinta."


"Buka perlahan hati kamu, Nay. Jika bukan untuk kamu setidaknya untuk kebahagiaan Syifa."


Kanaya menggeleng, dia seakan tidak setuju dengan apa yang Oma Uswah katakan. Dia masih sangat nyaman dengan keadaannya yang seperti sekarang, dan akan selalu seperti ini pikirnya.


"Maaf, Nay harus pergi," ucap Kanaya. Tentu itu Kanaya lakukan karena dia tidak mau berlama-lama berada dalam pembicaraan yang tidak bisa di sambut oleh hatinya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2