
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Baru saja beberapa detik Hazel dan juga Kanaya pergi dari rumah Dirga Arifin datang. Dia langsung berlari setelah keluar dari mobil apalagi melihatmu pintu rumah Dirga menganga lebar.
"Nay, Nay!" Teriak Arifin seraya berlari dengan sangat kencang.
Tak ada pikiran bagaimana jika dia sampai jatuh atau mungkin terkena apapun tapi yang dia pikirkan adalah Kanaya, dia sangat khawatir dengan sepupunya itu.
Sampai dalam Arifin terus berlari, mencari Kanaya yang dia yakini ada di dalam.
"Nay! Nay!"
Arifin seketika menoleh, dia berhenti berlari setelah mendengar suara yang sangat tidak asing baginya dan terdengar begitu kesakitan.
"Dirga!" Arifin seketika menghampiri.
Melihat apa yang terjadi pada Dirga Arifin bukannya merasa simpati dia malah langsung penasaran dan juga ada amarah yang sudah muncul.
"Dimana Kanaya, katakan padaku, hah!" pertanyaan Arifin terdengar begitu menekankan, ada amarah di dalamnya.
Tangannya juga langsung mencengkram kerah baju Dirga yang sudah kesakitan. Arifin tak mempedulikan itu karena dia sangat khawatir dengan Kanaya.
"Katakan, dimana Kanaya, Hah!" Semakin tegas Arifin bertanya.
Dirga begitu pasrah, dia sudah kesakitan dan tak mungkin akan bisa melawan lagi. Hazel begitu kuat membuatnya remuk saat ini, jika sampai Arifin menambahnya bisa dipastikan kalau Dirga tak akan bisa apa-apa.
"Katakan, dimana Kanaya!" semakin geram Arifin karena Dirga tak kunjung bicara.
Bagaimana mau bicara kalau Arifin begitu kuat mencengkram kerah bajunya dan membuat lehernya seperti tercekik.
"Hazel, dia membawanya pergi." jawab Dirga dalam keadaan lemah, dia tak kuat berdiri dengan tegak dia bahkan berdiri dengan bersandar pada dinding dengan Arifin yang menekannya menjadi semakin menempel.
"Apa yang kamu lakukan padanya, hah!"
Arifin jelas saja akan berpikir kalau Dirga telah melakukan sesuatu pada Dirga hingga dia seperti ini. Dia lebih percaya dengan Hazel daripada dengan Dirga yang sudah lebih lama dia kenal.
Dia memang tidak mau berpikir buruk pada Dirga tapi semua yang selalu dia lakukan selalu saja menunjukkan hal seperti itu.
__ADS_1
Dirga tidak menjawab, dia terlalu takut untuk bicara dengan jujur, tapi dia menyeringai membuat Arifin sangat yakin ada hal buruk yang dia lakukan pada Kanaya.
Tangan satu Arifin diangkat tinggi, baru telunjuknya berdiri tepat dihadapan Dirga.
"Kamu akan menyesal jika kamu melakukan hal buruk pada Kanaya."
Dengan kasar Arifin melepaskan kerah Dirga bahkan tubuh Dirga terhuyung. Tubuh yang begitu lemah membuat Dirga jatuh di lantai.
"Awas kamu, Dirga. Aku tidak akan melepaskan kamu jika sesuatu terjadi pada Kanaya." Arifin semakin menegaskan.
Dirga diam menyandarkan punggungnya di dinding dengan tak kuat lagi melakukan apapun. Dia benar-benar tidak bisa bergerak, tak ada kuasa meski hanya sekedar menjawab ucapan Arifin.
Dengan langkah cepat Arifin keluar, dia ingin mencari keberadaan Kanaya yang di bawa oleh Hazel, entah dibawa kemana dia sekarang.
Setelah sampai di mobil Arifin kembali menghubungi rumah dan ternyata Kanaya belum sampai. Dia semakin khawatir sekarang, entah apa yang telah terjadi pada Kanaya sekarang.
Arifin begitu bingung, dia tidak bisa menghubungi Kanaya tapi juga tuduh bisa menghubungi Hazel karena tidak mempunyai nomornya.
"Arghh!" Arifin merasa frustasi, dia juga merasa bersalah pada mendiang suaminya Kanaya karena tak bisa menjaga Kanaya.
Arifin sangat yakin akan mendapatkan informasi Hazel dari temannya termasuk mendapatkan nomornya.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
"Kemana aku harus mengantarkan mu, apakah kamu mau pulang sekarang?" tanya Hazel, dia begitu bingung dari tadi.
Hazel menghentikan laju motornya, dia ingin bertanya pada Kanaya untuk pulang atau mungkin kemana tapi Kanaya masih saja tidak menjawabnya. Dia masih dalam keadaan syok bahkan dia masih terus menyandarkan dirinya pada punggung Hazel, bukan itu saja, tapi juga tangannya yang masih memeluk Hazel.
Apakah begitu nyaman posisi itu sampai-sampai Kanaya tak melepaskan diri dari Hazel?
"Nay?" panggil Hazel, Kanaya tetap diam tak menjawab.
"Haduh, bagaimana ini. Tidak mungkin aku bawa dia pulang, orang tuanya pasti sangat khawatir. Bagaimana kalau sampai mereka begitu syok dan juga akan mempengaruhi kesehatannya."
Hazel begitu berpikir keras. Dia menoleh sebentar tapi Kanaya sama sekali tidak bergerak.
"Aku bawa ke rumah saja lah. Kalau dia sudah sadar dan juga sudah tenang baru aku akan mengantarkannya pulang. Lagian di rumah juga ada bi Nani." gumam Hazel yang mengambil keputusan sepihak.
__ADS_1
"Maaf ya, Nay," ucap Hazel. Dia semakin mengencangkan tangan Kanaya pada tubuhnya, dia bukannya ingin mengambil kesempatan tapi itu dia lakukan karena Kanaya masih antara sadar dan juga tidak. Hazel tidak mau kalah sampai oleng dan Kanaya malah akan terjatuh nantinya.
Motor kembali berjalan, memecah jalanan kota dan akan segera membawa mereka berdua sampai pada rumah Hazel yang tak jauh lagi.
'Rasanya begitu tenang, Nay. Seandainya kamu dalam keadaan sadar pasti aku akan sangat bahagia.' batin Hazel.
Belum dua tau akan batasan laki-laki dan juga perempuan yang bukan muhrim. Dia memeluk agama yang sama dengan Kanaya juga baru beberapa hari jadi beliin begitu jauh dia tau.
'Semoga kelak kita bisa seperti ini ya, Nay. Dalam keadaan kamu sadar dan sudah bisa menerima ku.' kembali Hazel membatin.
Pelan namun pasti Hazel menjalankan motornya hingga setelah lima belas menit akhirnya dia sampai di rumah Hazel. Motor berhenti dan Hazel menoleh.
"Ternyata kamu tidur." Hazel tersenyum, dia semakin senang karena itu tandanya Kanaya tenang bersamanya.
Sangat pelan Hazel melepaskan jaket yang ada pada Kanaya dia juga turun perlahan dengan keadaan memegang Kanaya supaya tidak jatuh juga mempertahankan supaya bangun.
Dengan yakin dan hati-hati Hazel menggendong Kanaya, dia membawa masuk ke rumahnya.
"Loh, Den. Dia siapa?" Bi Nani menghampiri, dia menghentikan pekerjaannya yang sedang membersihkan dan merapikan ruangan tengah.
"Teman, Bi. Bi, tolong buatin bubur ya untuknya. Saya akan menidurkan dia dulu di kamar." ucap Hazel.
"Baik, Den." Bi Nani begitu nurut. Sementara dia belum melangkah untuk pergi ke dapur, dia masih memperhatikan Hazel membawa Kanaya.
Teman, tapi kenapa dibawa ke kamarnya sendiri dan bukan di kamar tamu?
"Sepertinya perempuan itu sangat spesial." gumam Bi Nani. Dia tersenyum sebelum melangkah masuk ke dapur dia merasa senang dan merasa cocok jika Hazel akan bersama Kanaya.
Meski belum melihat dengan jelas bagaimana wajah Kanaya tapi Dia sudah sangat yakin Hazel sangat cocok.
"Sepertinya Den Hazel juga sangat mencintainya." Bi Nani tersenyum sendiri.
Dengan melangkah Bi Nani terus tersenyum, jika benar maka rumah itu akan kian berwarna dan juga indah.
»»——⍟——««
Bersambung...
__ADS_1