
»»————><————««
"Oma, Opa!" Syifa seketika berteriak kala pulang dan melihat oma dan opanya yang ternyata duduk di emperan rumah berdua dengan menikmati teh.
Bukan hanya berteriak saja, tapi Syifa juga langsung berlari untuk menghampiri dan malah meninggalkan Kanaya dan Hazel yang semula menuntunnya dan berada di tengah-tengah keduanya.
Oma juga Opa jelas saja bahagia melihat ketiganya yang seperti tadi, berjalan bertiga dengan berjejer selayaknya sebuah keluarga. Sungguh! itu adalah keinginan keduanya dan tentunya semua yang ada di sana.
Buka hanya karena serasi saja, tapi juga karena Hazel terlihat begitu bertanggung jawab juga sangat penuh dengan kasih sayang. Dan saat bersama, Kanaya juga terlihat nyaman meski dirinya masih tidak menyadarinya.
Tidak akan mudah bagi Kanaya menyadari hal itu karena di dalam hatinya terus berharap akan mendiang suaminya. Padahal dia taux sebesar apapun dia berharap dia mereka tidak akan pernah bersatu, tapi entah kenapa Kanaya seperti itu.
Apa yang terjadi pada Kanaya, itu bukankah Cinta yang terus datang karena dia kasih ingin tetap memiliki or yang sudah tiada, tapi semua itu terjadi karena Kanaya masih belum bisa ikhlas. Itulah yang benar.
"Assalamu'alaikum," sapa keduanya hampir bersamaan. Keduanya saling memandang dan jelas daja langsung bertemu netra hitam keduanya yang sedikit membulat.
"Wa'alaikumsalam," Opa dan juga Oma pun menjawab hanya selang beberapa detik saja, bahkan suaranya hampir sana begitu juga dengan mulutnya yang terbuka.
__ADS_1
Melihat Kanaya yang sudah kembali tersenyum membuat kedua orang tua itu sangat bahagia, sampai-sampai sang Oma beranjak dan langsung memeluknya saking begitu hari namun dia usahakan tidak mengeluarkan air mata.
"Kamu baik-baik saja kan Nay?" tanya Oma yang tadi sempat khawatir saat Kanaya pergi. Tapi melihat yang seperti sekarang, dia akan sangat yakin dan tak akan ada keraguan saat pergi bersama dengan Hazel.
"Alhamdulillah, Umi. Nay baik-baik saja," Jawab Kanaya. Dia kembali tersenyum dan kini kian melebar saat berlahan Oma jiga melepaskan pelukannya.
"Kita masuk?" Ajak Oma dan Kanaya mengangguk. Langsung Kanaya di tuntun oleh Oma, mereka masuk begitu juga dengan Syifa yang ikut masuk.
Sementara tidak dengan Hazel, dirinya berhenti di depan bersama dengan Opa yang juga tidak masuk.
"Silahkan duduk," pinta Opa.
"Apakah kami mencintainya?" Tanya Opa.
Wajah Hazel seketika terangkat, melihat Opa yang baru saja berbicara. Apakah Hazel tidak salah dengar? itulah yang terus Ada di dalam pikiran Hazel sekarang.
Hazel terus menatap tajam ke arah Opa Hasan, memberanikan diri untuk menatap matanya untuk mencari kebenaran di sana.
__ADS_1
"Apakah kamu mencintainya?" Tanya Opa lagi. Dia benar-benar mengatakan hal itu, dia menoleh ke arah Hazel dan sangat jelas perkara itu.
Hazel terlihat sedikit bingung, kalau di tanya cinta dia jelas saja mencintai. Tapi apakah perasaan itu sudah benar?
"Sa_ saya?!"
Hazel sangat ragu untuk mengatakan, dia juga sekaligus takut kalau apa yang di tanyakan tadi hanya ingin sebuah jebakan saja.
Hazel juga takut kalau sampai tak mendapatkan restu dan dia akan di larang untuk bertemu.
"Jika kaku mencintainya, maka buatlah dia bahagia selamanya. Buatlah dia nyaman ketika bersamamu dan bisa selalu tersenyum."
Kali ini Hazel percaya kalau ucapannya memang benar untuk tau dan akan mempertimbangkan restu untuk dirinya dan juga Kanaya.
"Sa_ saya akan berusaha, Om. Sebisa saya." Jawab Hazel.
»»————><————««
__ADS_1
Bersambung...