Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Kemarahan Ziana


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Janda genit! Perebut calon suami orang! Keluar kamu!" teriak Ziana dengan sangat keras. Dia begitu tak terima karena pertunangannya yang gagal hingga kini dia malah mendatangi kantor Kanaya.


Entah darimana dia tau dimana keberadaan kantor Kanaya hingga sekarang dia bisa sampai. Bukan hanya berteriak-teriak tak jelas dan mempermalukan Kanaya, Ziana juga menghancurkan beberapa barang yang ada di sana.


"Apa yang anda lakukan, tolong jaga sikap Anda!" teriak pak penjaga. Dua penjaga itu masuk mengikuti Ziana yang terus saja berjalan masuk ke kantor Kanaya dengan berteriak-teriak.


Keduanya berusaha menyuruh Ziana untuk pergi atau paling tidak menjaga sikapnya tapi ternyata dia tetap kekeuh dan tak mau pergi.


"Dimana bos kalian itu! Dia kan yang telah menyembunyikan calon tunangan saya, hah! Katakan padanya, saya tidak terima! Dasar perebut laki orang. Udah janda tapi tidak tau diri!"


Begitu kasar Ziana mengatakan, menghina dan juga memfitnah Kanaya yang sama sekali tidak tau apa-apa.


"Ada apa ini?" Arifin yang lebih dulu keluar. Mendengar keramaian yang begitu membengkakkan telinga tentu saja Arifin sangat terganggu.


"Ini, Pak. Mbak ini terus berteriak memanggil ibu Kanaya." jawab pak penjaga.


"Apa maksud kedatangan_mu, apa yang kamu cari di sini." Arifin juga langsung geram karena perbuatan Ziana yang begitu tak ada rasa sopan santun.


"Saya mencari mas Hazel, calon tunangan saya. Saya yakin dia ada di sini kan? Dia tidak datang di acara pertunangan dan saya yakin janda itu yang menyembunyikannya." Tuduh Ziana.


"Jaga bicara mu ya, Kanaya tidak mungkin melakukan itu. Lagian di sini juga tidak ada orang yang kamu cari itu."


"Jika dia tidak datang di acara pertunangan seharusnya kamu pikir apa yang menjadi penyebabnya. Kamu lebih mengenalnya kan? Jadi kamu pasti tau alasannya."


"Alasannya karena mas Hazel telah di goda oleh janda itu! Janda itu yang menggodanya hingga mas Hazel tak mau datang."


"Jaga bicara mu," Arifin semakin geram. Tangan Arifin terangkat, jari telunjuknya sudah mengacung begitu tegak di hadapan wajah Ziana.


Seandainya yang ada di hadapan adalah seorang laki-laki tentu Arifin sudah menghajarnya, membuat dia babak belur karena pukulannya, tapi sayangnya yang ada di hadapannya adalah seorang perempuan.


"Terus kenapa kalau aku tak bisa menjaganya. Apa yang akan kamu lakukan, mau pukul, pukul sekarang, pukul!" Tantang Ziana.

__ADS_1


"Hey, janda genit! Keluar kamu!" teriaknya lagi.


Semua karyawan berkumpul, melihat kegaduhan yang terjadi yang di sebabkan oleh Ziana. Wanita yang marah karena pertunangannya yang gagal.


Dengan wajah terlihat sedikit bingung Kanaya keluar dari lift. Dia memang tidak mendengar karena di lantai yang lain, tapi salah satu penjaga yang menghubunginya.


"Nah, berani juga kamu keluar." Ziana terlihat begitu sinis, menyambut kedatangan Kanaya. Tatapannya begitu bengis, dengan tangan yang menyilang di depan dada.


"Mari masuk ke ruangan saya, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik. Saya yakin semua ini hanya salah paham, mari," ajak Kanaya. Dia tetap berbicara dengan sangat lembut karena Kanaya memang tidak suka dengan kata-kata yang kasar.


"Halah, nggak usah sok baik kamu ya! Sekarang katakan saja. Dimana mas Hazel, dia tidak datang ke acara pertunangan, saya yakin semua ini gara-gara kamu. Atau mungkin kamu sembunyikan dia di kantor ini."


"Mas, Mas Hazel! Mas aku datang. Mas!" teriak Ziana. Matanya berputar-putar begitu juga dengan tubuhnya, mencari-cari keberadaan Hazel yang dia yakini ada di sana.


"Maaf, mas Hazel tidak ada di sini. Dan apa yang kamu katakan itu tidak benar, saya tidak tau keberadaan mas Hazel."


"Halah, jangan sok deh kamu. Saya tau orang seperti kamu itu. Berlagak sok suci tapi kenyataan..., Bu_suk."


"Sebaiknya kita bicarakan ini berdua, mari ke ruangan saya," Kanaya dengan sabar masih terus berbicara dengan sangat lembut, dia memang selalu seperti itu pada siapapun. Entah itu pada orang yang sayang padanya atau mungkin yang sebaliknya.


"Tak sudi aku ke ruangan mu, palingan kamu hanya akan membohongi ku. Katakan saja, dimana mas Hazel berada sekarang."


Ziana tetap bersikeras, dia tetap yakin kalau Kanaya yang telah membuat Hazel pergi. Padahal Kanaya sendiri juga tidak tau apapun, dia tidak bertemu lagi semenjak dia datang ke rumahnya mengantarkan mobil, selain itu belum lagi.


"Tapi, Mbak. Mas Hazel tidak ada di sini. Saya tidak bohong," Kanaya berusaha menyakinkan.


"Halah, bohong!"


"Mas, Mas Hazel!" Ziana kembali berteriak, berjalan kesana-kemari untuk mencari Hazel yang memang tidak ada di sana.


"Mas Hazel tidak ada di sini, Mbak." Kanaya tetap berusaha meyakinkan Ziana, semoga saja berhasil.


Kesal tak menemukan Hazel Ziana kembali berdiri di hadapan Kanaya, tangannya terangkat dengan jari telunjuk mengacung di wajahnya.

__ADS_1


"Ingat ya, saya tidak akan pernah tinggal diam. Sampai kamu bohong, abis kamu!" Ancamnya.


Arifin yang geram, dia ingin sekali memukul Ziana namun Kanaya menghalanginya.


Kanaya hanya diam, dengan tangan yang mencegah Arifin yang ingin maju kearah Ziana. Sementara Ziana, dia tak lama di sana dan langsung melenggang pergi dengan sangat cepat.


"Nay, seharusnya kamu tidak menghentikan ku. Wanita seperti dia harus di kasih pelajaran. Aku tidak terima kamu di fitnah seperti ini."


"Sudah lah, Mas. Jaga amarah mas Arifin. Jangan berbuat kebodohan dan akan semakin memperkeruh suasana."


"Kamu tuh ya, selalu saja seperti itu. Kamu selalu saja diam kalau di musuhi orang, seharusnya kamu lawan."


"Sudah lah, Mas. Dia juga sudah pergi."


Meski berusaha tegar tapi hati tetap pasti akan sangat sakit. Di tuduh sebagai perebut calon orang dan di fitnah dan di permalukan di depan banyak orang, apalagi mereka adalah karyawannya sendiri.


Memang, tak akan ada yang percaya karena mereka lebih mengenal Kanaya daripada Ziana yang tak jelas, tapi tetap saja kan, malu.


"Semua bisa kembali kerja, maaf karena ketidaknyamanannya." ucap Kanaya.


Semua mengangguk, kembali ke tempat masing-masing dengan tertib.


"Nay, kamu mau kemana?" tanya Arifin.


"Saya mau keluar sebentar, Mas." Kanaya tersenyum dengan manis, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang.


'Aku tau, Nay. Kamu pasti sedih kan?' Arifin tau pasti, itulah yang terjadi namun dia hanya bisa memendamnya dalam hati saja.


Kanaya benar pergi, entah akan kemana dia.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2